02/10/2013
Pasar Seni Jakarta: Membuka Ruang Manusia Ibu Kota
Oleh Andi Hakim
Setelah kehilangan Pekan Raya Jakarta yang semakin lama mirip pameran industri otomotif, dan berbiaya masuk semakin tak terjangkau, warga ibu kota boleh berharap PSJ akan membuka kembali ruang manusia –solace- yang lama hilang.
Seperti ditulis Langdon Winner, bahwa watak dasar kapitalisasi kota telah memeras manusia dan menumpaskan sampai ke ampas-ampasnya nilai sosial untuk sekedar mendapatkan apa yang dinamakan; keuntungan.
Sebab perasan tadi, manusia menjadi kering (Hosn Nasr), dan mereka jatuh pada penderitaan kota besar (Campbell) seperti keterasingan (i-solace), sendiri2 menikmati macet dalam ruang2 mobil pribadi, kehilangan rasa kemanusiaan (in-huminae), rutinitas masinal hidup demi duit (Neil Smith).
Atau bagi mereka yang sial, jatuh dalam disparitas kemiskinan (Ravi Kanbur), berikut penyakit-penyakit sosial seperti kriminalitas, illeterasi baca dan hukum, (Vincent Ponte) terperosok dalam pembebasan-pembebasan ilusif melarikan dana rumah tangga bagi dugem, hang-out, mabok maning, dan obat terlarang (Hanning T. Jensen). Akibatnya ibu kota dari tempat yang menjanjikan peradaban (Trevor Boddy) berubah menjadi ibu tiri (Koes Plus), sehingga mudahlah orang-orang terjatuh dalam mirasantika (Rhoma Irama). Jika sudah begini maka pening pala ku dibuatnya(Ruhut Sitompul).
Cropping pattern atau pola tanam yang seperti ini lalu menumbuhkan kota menjadi grain-grain (Acustic Alchemy) tetesan-tetesan kemakmuran yang hanya menyentuh orang-orang tertentu dan menyisihkan lebih banyak orang lainnya.. Bagi si kaya mereka hanya mengejar kota bagi provisi dari layanan-layanan yang mereka terima (Zhang dan Zhang). Bagi si miskin mengharapkan sandman (Metalica) menaburkan bubuk pasir agar mata lelap dan lupa nasib susah.
Pasar Seni Jakarta, sepertinya bukan satu dari apa yang disebut Gwendolyn Wright sebagai pioneering to profit, sekedar hura-hura mencari duit mirip PRK Kemayoran atau pameran otomotif atau computer di Hilton.
PSJ membuka kanvas ruang manusia, dimana di tengah hiruk pikuk masih ada mereka-mereka yang menyimpan potensi berkesenian dan mengajak kembali orang-orang melukiskan Jakarta sebagai tempat dimana kemanusiaan di representasikan kembali dalam ruang manusia. Bukan ruang-ruang capital,mall-supermarket, atau taman hiburan mahal. Juga bukan melulu ruang-ruang politik yang menjemukan, membodohi, dan mempertakutkan labilisasi akal seihat.