14/02/2026
Valentine lagi, timeline mendadak penuh warna merah. Bunga, cokelat, caption sok puitis, dan pasangan yang mendadak terlihat baik-baik saja. Sehari sebelumnya berantem soal “kok kamu berubah”, hari ini posting “thank you for always being there”. Konsisten? Nggak penting. Yang penting estetik.
Generasi kolot bilang, “yang penting cinta.” Gen Z bilang, “yang penting vibes.” Dua-duanya lupa satu hal: hubungan bukan mitos, bukan p**a filter Instagram. Cinta doang tanpa komunikasi itu bukan romantis - itu nekat. Vibes doang tanpa tanggung jawab juga bukan modern - itu kabur terencana.
Valentine nunjukin satu kebiasaan berbahaya: percaya bahwa perasaan cukup buat nutup semua kekurangan. Padahal cinta tidak bisa bayar kuota, tidak bisa ganti perilaku toxic, dan jelas tidak bisa jadi alasan untuk malas berubah. Mau sekuat apa pun cintanya, kalau ego lebih gede, ya siap-siap patah - bukan coklatnya, tapi hubungannya.
Gen Z sering dituduh baper dan gampang cabut. Generasi lama dituduh bertahan demi “status” walau tiap hari capek batin. Dua generasi, satu kesalahan klasik: mengira cinta adalah tujuan, bukan kerja harian tanpa cuti.
Jadi ya, silakan rayakan Valentine. Posting bunga, kasih coklat, pakai caption "love melulu". Tapi ingat: cinta tanpa usaha itu cuma perasaan musiman - datang setahun sekali, hilang begitu tagihan realita muncul.