Ranting NU Bukit pemuatan

Ranting NU Bukit pemuatan Ranting NU desa Bukit pemuatan baru berdiri dan masih
dalam pengembangan

๐ƒ๐ž๐Ÿ๐ข๐ง๐ข๐ฌ๐ข ๐Š๐ฒ๐š๐ข, ๐Œ๐ž๐ง๐ฎ๐ซ๐ฎ๐ญ ๐Š๐ฒ๐š๐ข๐ง๐ฒ๐š ๐๐š๐ซ๐š ๐Š๐ฒ๐š๐ข (๐Œ๐›๐š๐ก ๐‡๐š๐ฌ๐ฒ๐ข๐ฆ ๐€๐ฌ๐ฒ'๐š๐ซ๐ข)Belakangan ini, hati kita disayat oleh kasus asusila yang ...
10/06/2026

๐ƒ๐ž๐Ÿ๐ข๐ง๐ข๐ฌ๐ข ๐Š๐ฒ๐š๐ข, ๐Œ๐ž๐ง๐ฎ๐ซ๐ฎ๐ญ ๐Š๐ฒ๐š๐ข๐ง๐ฒ๐š ๐๐š๐ซ๐š ๐Š๐ฒ๐š๐ข (๐Œ๐›๐š๐ก ๐‡๐š๐ฌ๐ฒ๐ข๐ฆ ๐€๐ฌ๐ฒ'๐š๐ซ๐ข)

Belakangan ini, hati kita disayat oleh kasus asusila yang mencoreng institusi pesantren. Masyarakat pun bingung dan rancu: siapa sebenarnya yang layak disebut Kiai? Kita sering terjebak bungkusโ€”melihat orang punya pesantren, punya status sosial tinggi di masyarakat, atau fasih berceramah, langsung otomatis kita sematkan gelar "Kiai"

Padahal, tidak semua orang yang memiliki pondok atau berstatus ketokohan di masyarakat itu adalah Kiai. Gelar Kiai bukanlah pangkat struktural, bukan jabatan warisan, dan jelas bukan sekadar legalitas kepemilikan sebuah lembaga.

โœ… Kiai itu identik dengan orang alim yang lurus, yang perilakunya mencerminkan kedalaman ilmunya ('amilina bi'ilmihim), dan menjadi pengejawantahan nyata dari predikat warasatul anbiyaโ€”pewaris para nabi.

Karena mewarisi sifat-sifat nabi inilah, seorang Kyai sejati memiliki otoritas moral dan ruhani yang membuatnya berhak dan layak dimuliakan oleh umat.

Untuk menjernihkan kerancuan ini, mari kita buka kembali kitab Adabul โ€˜Alim wal Mutaโ€™allim karya Hadlratussyaikh Mbah KH M Hasyim Asyโ€™ari. Beliau menegaskan :

ุฌูŽู…ููŠู’ุนู ู…ูŽุง ุฐููƒูุฑูŽ ู…ูู†ู’ ููŽุถู’ู„ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ู ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ูููŠู’ ุญูŽู‚ูู‘ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู ุงู„ู’ุนูŽุงู…ูู„ููŠู’ู†ูŽ ุจูุนูู„ู’ู…ูู‡ูู…ู ุงู„ู’ุฃูŽุจู’ุฑูŽุงุฑู ุงู„ู’ู…ูุชูŽู‘ู‚ููŠู’ู†ูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู’ู†ูŽ ู‚ูŽุตูŽุฏููˆู’ุง ุจูู‡ู ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู’ูƒูŽุฑููŠู’ู…ู ูˆูŽุงู„ุฒูู‘ู„ู’ููŽู‰ ู„ูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ุจูุฌูŽู†ูŽู‘ุงุชู ุงู„ู†ูŽู‘ุนููŠู’ู…ูุŒ ู„ูŽุง ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุตูŽุฏูŽ ุจูู‡ู ุฃูŽุบู’ุฑูŽุงุถู‹ุง ุฏูู†ู’ูŠูŽูˆููŠูŽู‘ุฉู‹ ู…ูู†ู’ ุฌูŽุงู‡ู ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽุงู„ู ุฃูŽูˆู’ ู…ููƒูŽุงุซูŽุฑูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุชู’ุจูŽุงุนู ูˆูŽุงู„ุชูŽู‘ู„ูŽุงู…ููŠู’ุฐู

"Semua keutamaan ilmu dan pemiliknya... sesungguhnya hanya berlaku bagi para ulama yang mengamalkan ilmunya, yang baik perilakunya, lagi bertakwa, yang mengharapkan ridho Alloh... Bukan bagi orang yang berniat mencari tujuan-tujuan duniawi, seperti kedudukan, harta, atau memperbanyak pengikut dan murid."

Menurut Mbah KH M Hasyim Asy'ari : Kemuliaan ilmu dan penghormatan terhadap ahlul Ilmi, dibatasi oleh dua syarat utama:

1. Al- Aโ€™milina biโ€™ilmihim & Al-Abrar Al-Muttaqin: Mengamalkan ilmunya, memilki perilaku yang baik menurut "Syari'at" serta bertakwa (menjalani perintah Alloh dan menjauhi larangannya). Antara ucapan, pengetahuan, dan tindakan harus selaras.

2. "Li wajhillahil Karim".. Niat dan tujuannya murni hanya mencari ridho Alloh, bukan demi kepentingan duniawi.

Mbah KHM Hasyim Asy'ari dengan tegas mengatakan "Laa!" (Bukan!) bagi mereka yang menggunakan jubah agama atau statusnya demi aghrodh dun_yawiyyahโ€”mengejar tujuan-tujuan duniawi, baik berupa jabatan (jah), menumpuk harta (mal), atau sekadar bangga karena punya banyak santri/pengikut (mukatsaratan fil atbaโ€™).

Jadi, jika ada oknum tokoh atau pemilik pesantren yang justru merusak kehormatan santrinya (berbuat asusila) dan melanggar syariat, Dia "Bukanlah Kiai !". Dia hanyalah orang yang cuma memiliki pesantren, majelis taklim atau status di masyarakat, tetapi jiwanya kosong dari hakikat pewaris nabi.

Jangan kaburkan keluhuran definisi Kiai yang "Menjadi Panutan dan berhak dimuliakan" akibat ulah segelintir oknum yang menuruti syahwat kebinatangannya sendiri.

Yuk, kita lebih cerdas !. Jangan mudah silau oleh kemegahan fisik pesantren, majunya manajemen atau seabrek prestasi duniawi belaka.

Kiai sejati itu menuntun dan mengayomi dengan ilmu dan ketakwaan, bukan memanfaatkan santri demi kepentingan duniawi, apalagi untuk penyaluran Nafsu Birahi,

"Wal 'Iyaadzu Billaah".

SANAD KE ILMUAN NAHDLATUL ULAMA (NU) Keilmuan dalam Islam terbagi menjadi 3 yaitu:1. Aqidah(tauhid)2. Syariah (fiqh)3. A...
09/06/2026

SANAD KE ILMUAN NAHDLATUL ULAMA (NU)

Keilmuan dalam Islam terbagi menjadi 3 yaitu:
1. Aqidah(tauhid)
2. Syariah (fiqh)
3. Akhlak (Tasawuf)

Kesemuanya itu mempunyai sanad yang tsiqah sampai ke Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Nahnu ashhabul haq fiddini wassiyasi.

SANAD AQIDAH ASY'ARIYYAH ANNAHDLIYYAH

Para ulama Tanah Air, seperti Khadrotussyeh KH. M. Hasyim Asyโ€™ari Jombang, KH. Nawawi bin Nur Hasan Pasuruan, KH. Muhammad Baqir Yogyakarta, KH. Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH. Bisri Syansuri, KH. Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Maโ€™shum bin Ahmad Lasem, KH. Muhammad Dimyathi Termas, KH. Shiddiq bin Abdullah Jember, KH. Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang, KH. Abbas Buntet Cirebon dan lain-lain. Para beliau ini berguru kepada:
Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tarmasi (1285-1338 H/1868-1920 M), dari gurunya
Syaikh as-Sayyid Abubakar Utsman bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi al-Husaini asy-Syafiโ€™i (w. 1310 H/1892 M), dari gurunya
Syaikh as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304 H/1816-1886 M), dari gurunya
Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Ali asy-Syanawani asy-Syafiโ€™i (w. 1233 H/1818 M), dari gurunya
Syaikh Isa bin Ahmad al-Barawi az-Zubairi asy-Syafiโ€™i (w. 1182 H/1768 M), dari gurunya
Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad ad-Dafari asy-Syafiโ€™i (w. setelah 1161 H/ M), dari gurunya
Syaikh Salim bin Abdullah al-Bashri asy-Syafiโ€™i (w. 1160 H/1747 M), dari gurunya
Syaikh Abdullah bin Salim al-Bashri al-Makki asy-Syafiโ€™i (1048-1134 H/1638-1722 M), dari gurunya
Syaikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin al-โ€˜Alaโ€™ al-Babili asy-Syafiโ€™i al-Azhari (1000-1077 H/1591-1666), dari gurunya
Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Ghunaimi (964-1044 H/1557-1634 M), dari gurunya
Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M), dari gurunya
Syaikh al-Islam, Qadhi al-Qudhat Zainuddin Abu Yahya Zakariya bin Muhammad al-Anshari (826-926 H/1423-1520 M), dari gurunya
Al-Hafidz Taqiyyuddin Muhammad bin Muhammad bin Fahad al-Makki asy-Syafiโ€™i al-โ€˜Alawi al-Hasyimi (787-871 H/1385-1466 M), dari gurunya
Syaikh Majduddin Abu Thahir Muhammad bin Yaโ€™qub al-Lughawi asy-Syirazi al-Fairuzabadi (729-817 H/1329-1415 M), dari gurunya
Al-Hafidz Sirajuddin Umar bin Ali al-Qazwini (683-750 H/1284-1349 M), dari gurunya
Al-Qadhi Abubakar Muhammad bin Abdullah al-Taftazani, dari gurunya
Syarafuddin Abubakar Muhammad bin Muhammad al-Harawi, dari gurunya
Syaikh Fakhruddin Muhammad bin Umar ar-Razi (544-606 H/1150-1210 M), dari gurunya
Syaikh Dhiyauddin Umar bin al-Husain ar-Razi (hidup sebelum 559 H/1164 M), dari gurunya
Syaikh Abu al-Qasim Salman bin Nashir bin Imran al-Anshari al-Arghiyani (w. 512 H/1118 M), dari gurunya
Imam al-Haramain Dhiyauddin Abu al-Maโ€™ali Abdul Malik bin Abdullah al-Juwaini (419-478 H/1028-1085 M), dari gurunya
Al-Ustadz Abu al-Qasim Abdul Jabbar bin Ali bin Muhammad bin Haskan al-Asfarayini al-Iskaf (w. 452 H/1034 M), dari gurunya
Ruknuddin al-Ustadz Abu Ishaq al-Asfarayini (w. 418 H/1027 M), dari gurunya
Syaikh al-Mutakallimin Abu al-Hasan al-Bahili, dari gurunya
Syaikh as-Sunnah, Imam al-Mutakallimin Abu al-Hasan al-Asyโ€™ari (270-330 H/883-947 M), dari gurunya
Al-Hafidz Zakariya as-Saji (220-307 H), dari gurunya
Imam Rabiโ€™ al-Muradi (w. 270), dari gurunya
Imam al-Muzani (w. 264 H), dari gurunya
Imam Muhammad bin Idris bin Syafiโ€™ (w. 204), dari gurunya
Imam Malik bin Anas, dari gurunya
Imam Nafiโ€™, dari gurunya
Sahabat Ibnu Umar Ra., dari
Sayyidina Rasulullah Saw.
Ibnu Qadhi Syuhbah menjelaskan bahwa Imam al-Asyโ€™ari berguru kepada Syaikh Zakariya as-Saji, beliau dari Rabiโ€™ dan al-Muzani, keduanya adalah murid Imam asy-Syafiโ€™i. Dari al-Hafidz Zakariya as-Saji inilah Imam al-Asyโ€™ari mengutip riwayat dalam madzhab Ahlussunnah. (Lihat dalam Thabaqat asy-Syafiโ€™iyyah juz 1 hal. 7)

SANAD AQIDAH MATURIDIYYAH ANNAHDLIYYAH

Para ulama Tanah Air, seperti Khadrotussyeh KH. M. Hasyim Asyโ€™ari Jombang, KH. Nawawi bin Nur Hasan Pasuruan, KH. Muhammad Baqir Yogyakarta, KH. Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH. Bisri Syansuri, KH. Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Maโ€™shum bin Ahmad Lasem, KH. Muhammad Dimyathi Termas, KH. Shiddiq bin Abdullah Jember, KH. Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang, KH. Abbas Buntet Cirebon dan lain-lain. Para beliau ini berguru kepada:
Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tarmasi (1285-1338 H/1868-1920 M), dari gurunya
Syaikh as-Sayyid Abubakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi (w. 1310 H/1892 M), dari gurunya
Syaikh as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304 H/1816-1886 M), dari gurunya
Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Ali asy-Syanwani (w. 1233 H/1818 M), dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Hasan al-Munir as-Samanudi asy-Syafiโ€™i (1099-1199 H/1688-1785M), dari gurunya
Burhanuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Budairi al-Husaini ad-Dimyathi al-Asyโ€™ari asy-Syafiโ€™i, populer dengan sebutan Ibn al-Mayyit (w. 1131 H/1719 M), dari gurunya
Burhanuddin Abu al-โ€˜Irfan al-Mulla Ibrahim bin Hasan al-Kurani (1025-1101 H/1616-1690 M), dari gurunya
Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Yunus al-Qusyasyi ad-Dajani al-Husaini (991-1071 H/1583-1661 M), dari gurunya
Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M), dari gurunya
Syaikh al-Islam Zakariya al-Anshari (826-926 H/1423-1520), dari gurunya
Al-Hafidz Ibn Hajar al-โ€˜Asqalani (773-852 H/1372-1449 M), dari gurunya
Syaikh Syamsuddin Muhammad al-Qurasyi, dari gurunya
Syaikh Abu Muhammad Abdullah bin Hajjaj al-Kasyqari, dari gurunya
Syaikh Hisyamuddin Husain bin Ali as-Saghnaqi (w. 711 H/1311 M), dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Nashr an-Nasafi (w. 693 H/1294 M), dari gurunya
Al-Hafidz Najmuddin Umar bin Muhammad an-Nasafi (461-537 H/1068-1142 M), dari gurunya
Al-Qadhi Shadrul Islam Abu al-Yusr Muhammad bin Muhammad bin Husain al-Bazdawi (421-493 H/1030-1100 M), dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Husain al-Bazdawi, dari gurunya
Syaikh Husain bin Abdu Karim al-Bazdawi, dari gurunya
Syaikh Abu Muhammad Abdul Karim bin Musa bin Isa al-Bazdawi (w. 390 H/1000 M), dari gurunya
Imam Abu Manshur al-Maturidi (w. 333 H/945 M).
Demikian mata rantai sanad madzhab al-Asyโ€™ari dan madzhab al-Maturidi yang sampai kepada guru-guru kita, para tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama. Selain sanad di atas, masih banyak jalur-jalur lain yang menyambungkan mata rantai akidah Ahlussunnah wal Jamaโ€™ah kepada para ulama terdahulu, hingga kepada Rasulullah Saw.

Alhamdulillah bisa ketemu beliau Ustadz khomsin. Di acara rutinan selapanan NU di Desa pinang belai.
09/06/2026

Alhamdulillah bisa ketemu beliau Ustadz khomsin. Di acara rutinan selapanan NU di Desa pinang belai.

Repost kegiatan.
28/05/2026

Repost kegiatan.

20/05/2026

Banyak yang bertanya tentang masalh ini.

20/05/2026

KH. Zulfa Mustofa

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
20/05/2026

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Address

Desa Bukit Pemuatan Kecamatan Serai Serumpun Kabupaten Tebo
Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ranting NU Bukit pemuatan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category