23/04/2024
Pengaruh Kritik
—Andiart
Ada begitu banyak hal yang sangat unik di dalam diri manusia. Salah satunya, kita semua pernah terdorong untuk mencapi tujuan atau sesuatu yang kita pahami sangatlah penting, misalnya kita ingin menjadi seseorang yang kreatif, mendapatkan lebih banyak apresiasi, menyembuhkan lebih banyak penyakit dan mungkin menjadi seorang penulis yang berhasil. Namun satu permasalahnya, jika orang lain ingin membantu dan mewujudkan potensi dalam diri dengan menilai dari apa-apa yang kita kerjakan dan menunjukkan kekurangan di dalam diri yang bisa kita tingkatkan; adalah jika mereka ingin menawarkan kalimat-lalimat penuh hangat dan penuh kebijaksanaan—juga segala kritik konstruktif atau mas**an yang berguna, kebanyakan dari kita memilih atau lebih s**a tidak mau untuk mendengarkannya. Bisa jadi demikian
Mungkin itu dikarenakan ego kita yang masih/sedang rapuh. Kita semua ingin mencapai harapan akan diri sendiri dan dikritik atau bahkan hanya kemungkinan untuk dikritik, itu dapat menjadi ancaman paling besar untuk sebuah harga diri dan perasaan positif akan identitas diri. Namun seperti yang ditunjukan beberapa teori dan riset, bahwa orang selalu punya taktik cerdas untuk tetap positif dalam menghadapi serangan kritik yang dapat menjatuhkan mental.
Karena alasan tersebut, daripada menyambut kritik dengan tangan terbuka, respon pertama paling cepat dan akurat kita adalah berupa tanggapan-tanggapan yang mid—defensif. Karena tindakan refleks ini berguna untuk membuat kita merasa lebih aman, tetapi di saat waktu yang sama, ia mengungkapkan rasa tidak nyaman, cacat karakter, dan sikap tidak menyenangkan di dalam hati.
“Karena untuk bisa menerima kritik, kita harus menjadikan diri sendiri lebih kritis terhadap kritik-kritik yang akan datang.”
Ialah salah satu seni mengelak dari kritik selalu membutuhkan perhatian yang selektif dan kepiawaian dalam teknik membohongi diri sendiri. Ada begitu banyak orang secara hati-hati hanya ingin mencari pujian. Misalnya: meminta kritik hanya dari teman yang suportif dan hanya tentang masalah yang menjadi basic keahliannya tersebut. Akan tetapi, mungkin teknik mengelak yang paling sederhana adalah menghindari kritik atau tidak sama sekali. Setuju?
Adalah bukan saya tapi Anda.
Meskipun ketidaktahuan salah satu dari berkah, sepenuhnya menghindari atau barangkali mengabaikan kritik tidaklah selalu bisa dimungkinkan. Dalam banyak kasus dan situasi misalnya, kita perlu mencari cara lain untuk melindungi ego. Salah satu cara yang berguna dalam membohongi diri sendiri adalah mengalihkan perhatiannya; menjauhkan fokus dari kekurangan kita, salah satunya membesar-besarkan masalah terlebih dahulu. (ini sih semoga tidak)
Sebagai contohnya, ketika seseorang telah mengetahui bahwa pencapaian kita lebih buruk dari orang lain, umumnya kita akan bereaksi dengan merinci kekurangan mereka lalu membandingkan dengan kelebihan kita. “Kamu mungkin lebih berprestasi dari saya” — Anda berpendapat — “tetapi saya punya lebih banyak relasi teman, juga kepribadian yang lebih baik.”
Sebenarnya, sikap melebih-lebihkan kualitas baik di dalam diri dan kekurangan lawan memang hal yang wajar, tetapi riset menunjukkan, bahwa kita jauh lebih kuat melakukannya ketika kita mengetahui bahwa lawan telah melampaui kita. Meskipun itu terkesan jahat, tapi sikap ini dapat menjadi cara yang mangkus untuk menjaga dan menguatkan harga diri di hadapan kritikus.
Tampaknya bahkan kritik paling membangun pun dapat memunculkan sisi terburuk dalam diri kita. Namun, apakah reaksi defensif terhadap kritik ini tidak dapat dihindari?
Ialah sangat masuk akal jika kita dapat melakukannya, kita akan semakin siap untuk mencapai tujuan. Betapa pun, kritik ialah salah satu pengaruh terkuat bagi perkembangan diri, tapi kita hanya dapat mengambil manfaat dari nasihat motivator dengan sungguh-sungguh yang hanya ingin kita dengarkan.
Masalahnya kadang tidak satu pun pilihan terlihat menarik: gagal dalam mencapai tujuan dapat membuat kita merasa buruk, tapi begitu p**a mendengarkan kritik yang dapat membantu kita mencapai tujuan tersebut. Namun jika kita begitu takut untuk melukai kepercayaan diri bahkan menyangkut idealisme itu, maka mungkin solusi bagi dilema ini adalah memikirkan kenapa kita merasa begitu positif akan diri sendiri pada awalnya?
Jadi jika kita ingin lebih reseptif akan informasi yang tidak diinginkan, mungkin semuanya akan lebih mudah jika kita memasang 'tameng emosi' terlebih dahulu, memastikan harga diri ini tetap positif dan kita tetap utuh terlepas dari apakah berita itu baik atau pun buruk. Bahkan bisa jadi, bagian lain dari masalah ini ialah kita pada awalnya membiarkan diri untuk memperlakukan kritik sebagai sesuatu yang tidak kita inginkan.
“Lantas, apakah ego itu patut disalahkan atas ketidakmampuan kita menerima kritik, meskipun kritik itu bersifat konstruktif?”