02/06/2026
Seniman street art Yogyakarta, Digie Sigit, menghadirkan karya bertajuk aku cuma mau maen (kenapa kamu bully aku?) melalui pameran tunggal “Sayangi Teman” yang dipasang di baliho kawasan eks Bioskop Permata, Jalan Sultan Agung, Yogyakarta. Karya berukuran 8 × 4 meter tersebut menampilkan seorang anak bertelanjang kaki yang berdiri sambil memegang bola kuning, tanpa menampilkan adegan kekerasan maupun sosok pelaku bullying.
Menurut Digie, karya itu berangkat dari keprihatinannya terhadap berbagai bentuk kekerasan yang masih dialami anak-anak. Kalimat aku cuma mau maen dipilih karena dianggap mewakili suara sederhana banyak korban bullying yang pada dasarnya hanya ingin menjalani masa kecil mereka dengan aman. Melalui karya tersebut, ia mengajak publik kembali memberi perhatian pada situasi tumbuh kembang anak di tengah masyarakat.
Secara visual, bola kuning menjadi satu-satunya elemen berwarna dalam karya yang didominasi hitam-putih. Digie menjelaskan bahwa bola merupakan simbol dunia anak-anak, sementara kaki telanjang dan absennya warna hijau merepresentasikan semakin terbatasnya ruang bermain yang nyaman bagi mereka. Baginya, ruang bermain bukan sekadar tempat beraktivitas, melainkan ruang penting bagi anak untuk belajar empati, solidaritas, dan kehidupan sosial.
Digie mengatakan bahwa karya tersebut tidak dibuat untuk memberikan jawaban atas persoalan bullying. Ia memandang seniman sebagai pencatat yang merekam realitas di sekitarnya melalui bahasa visual. “Seniman buatku hanyalah pencatat. Aku membuat notulensi visual,” ujarnya saat menjelaskan gagasan di balik karya tersebut.
Pameran ini menjadi kali pertama Digie menggunakan baliho sebagai medium pameran tunggal. Karya dipasang selama satu bulan hingga 25 Juni 2026 dengan tujuan menjangkau publik yang lebih luas di luar ruang galeri. Menurutnya, semakin banyak karya seni hadir di ruang publik, semakin besar p**a peluang ruang kota menjadi tempat yang lebih manusiawi bagi masyarakat.