26/05/2026
Biografi Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari tidak bisa dipisahkan dari fondasi dua pilar utama yang ia bangun: Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai landasan teologis, dan akulturasi dengan budaya lokal yang melahirkan corak Islam Nusantara yang moderat, toleran, dan damai.
๐ค Garis Hidup Sang Maha Guru
Beliau lahir pada 14 Februari 1871 (24 Dzulkaidah 1287 H) di lingkungan Pesantren Gedang, Jombang, dari keluarga bangsawan dan ulama berpengaruh. Panggilan "Hadratussyaikh" (Mahaguru) menggambarkan otoritas keilmuannya yang diakui luas.
โจ Perjalanan Intelektual
ยท Pengembaraan Ilmu (1886-1892 M): Sejak 15 tahun belajar di pesantren-pesantren besar di Jawa dan Madura seperti Bangkalan, Langitan, hingga Siwalan Panji.
ยท Studi di Makkah (1893 M): Selama 7 tahun berguru pada ulama ulung Haramain, seperti Syekh Mahfudz at-Tarmasi (periwayat hadis) dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (fiqih).
ยท Pendiri Pesantren Tebuireng (1899 M): Mendirikan pesantren yang menjadi pusat studi kritis dan basis kaderisasi perjuangan bangsa, tempat santri belajar ilmu agama dan strategi pergerakan.
โ๏ธ Kiprah, Pendirian NU, dan Akhir Hayat
ยท Pendiri NU (1926): Mendirikan organisasi Islam terbesar di Indonesia untuk merespons serbuan paham ekstrem dan menjaga tradisi Aswaja. Beliau juga menjadi Rais Akbar (pimpinan tertinggi) pertama NU.
ยท Fatwa Resolusi Jihad (1945): Seruan perang suci melawan sekutu yang menjadi cikal bakal peringatan Hari Pahlawan 10 November.
ยท Wafat & Pahlawan Nasional: Meninggal pada 25 Juli 1947 dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1964 atas jasanya bagi agama dan bangsa.
๐ง Pemikiran: Aswaja dan Islam Nusantara
ยท Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja): Menekankan moderasi dalam akidah (mengikuti Al-Asy'ari), fikih (mengikuti 4 mazhab), dan tasawuf (mengikuti Al-Ghazali). Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah adalah manifesto penting yang masih dirujuk hingga kini untuk melawan pemikiran ekstrem yang tekstual.
ยท Islam Nusantara: Berpijak pada "al-muhafadhotu 'alal qodimis sholih" (menjaga tradisi baik) dan "wal akhdu bil jadidil ashlah" (mengambil hal baru lebih baik).
ยท Ini memungkinkan akulturasi Islam dengan tradisi lokal (tahlilan, selamatan) selama tidak bertentangan syariat.
ยท Mendorong sikap toleran (tasamuh) dan cinta tanah air (hubbul wathan).