24/08/2020
Tujuh puluh tujuh anak tangga berbahan batu alam tersusun rapi. Anak tangga yang sudah termakan usia hingga ratusan tahun itu masih terlihat kokoh dan kuat sekalipun dibangun tanpa campuran semen. Menjulang dengan kemiringan lebih dari 45 derajat siap menyambut siapa saja yang berkunjung di Desa Adat Bawomataluo, Kecamatan Fanayama, Telukdalam, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.
Bawomataluo adalah bahasa Nias yang berarti bukit matahari. Sebuah desa di atas bukit yang telah ada sejak berabad-abad lalu dan masih terpelihara dengan baik. Desa ini adalah ibu kota desa-desa adat yang tersebar di Nias.
Desa yang dihuni 1.310 kepala keluarga ini masih teguh memegang adat istiadat nenek moyang. Tak ayal berbagai warisan budaya peninggalan leluhur orang Nias ada di desa adat ini. Sebut saja bangunan rumah adat tradisional (omo hada) dengan konstruksi material berbahan kayu tanpa paku, situs-situs megalitikum, tari-tarian, hingga atraksi hombo batu (lompat batu) yang terkenal itu.
Desa Bawomataluo menjadi ikon utama Pulau Nias. Di sinilah c***r budaya dan adat Nias dipelihara
Kampung bukit matahari terletak di atas sebuah bukit dengan ketinggian 270 meter di atas permukaan laut. Konon para leluhur orang Nias memilih tinggal di atas bukit untuk bersembunyi dari serangan musuh. Mengingat latar belakang masyarakat Nias yang sering berperang guna memperluas serta mempertahankan teritorial kampung mereka. Pemilihan di atas bukit dirasa sangat tepat karena musuh pasti sulit menjangkaunya.
Tiba di ujung anak tangga, tepatnya di gerbang desa kita dapat menyaksikan pemandangan dengan latar belakang Desa Orahili dan pemandangan Pantai Sorake serta Teluk Lagundri di kejauhan. Pantai Lagundri dan Pantai Sorake dikenal sebagai surga surfing bagi para pecinta olah raga selancar.
Tak jauh dari gerbang desa adat Bawomataluo, deretan omo hada mulai terlihat di sisi kanan kiri jalan. Sekilas deretan omo hada tampak sama, namun jika diperhatikan akan terlihat perbedaannya, yakni pada ukuran rumah, tinggi rumah, serta jalan masuk (tangga) ke dalam rumah. Perbedaan ini didasarkan pada perbedaan golongan sosial/ tingkat strata pemilik rumah.
Semakin dalam menapaki perkampungan Bawomataluo, terlihat sebuah batu setinggi 2,15 meter yang menjadi tempat untuk lompat batu (Fahombo atau Hombo Batu dalam bahasa Nias) dan rumah adat dengan atap tinggi menjulang yang disebut Omo Sebua (Rumah Raja) di sebelah kiri dan Omo Bale (Balai Desa) di sebelah kanan.