27/02/2020
BANTU USAHA TEMAN
Suatu hari saya p**ang ke rumah membawa t-shirt bergambar tengkorak penuh darah. Dengan kening berkerut, Rizqa bertanya, “Apa-apaan Pi beli kaus kayak gini?” Tanyanya heran, sambil melihat-lihat kaus itu dari dalam paper bag yang saya bawa.
Saya nyengir. “Oh itu. Ada temen jualan. Kaus pengingat siksa neraka.” Jawab saya.
Rizqa tertawa. Kaus itu kini masih ada di lemari pakaian saya.
Di lain waktu, saya datang membawa berkaleng-kaleng rendang yang dikeringkan—mirip dendeng.
“Pi, banyak banget? Emang habis kita makan?”
“Oh itu, si A sekarang jualan rendang kering, aku beli aja. Enak soalnya. Tadi aku coba. Kalau kebanyakan, kasih aja ke tetangga juga.” Jawab saya.
Ke rumah kadang saya membawa kue, biji kopi, kain batik, air kangen, abon sapi, madu sumbawa, habbatussauda, mainan anak dari kayu, atau apa saja. Barang-barang yang akan membuat Rizqa bertanya-tanya kenapa saya membelinya—kadang dalam jumlah banyak p**a.
Hingga suatu hari saya jelaskan pada Rizqa:
“Mi, kalau seleb ngeluarin produk, orang-orang ngantre beli. Mereka bikin kue, langsung jadi oleh-oleh wajib satu kota. Mereka buka tempat tertentu, kita berbondong-bondong ke sana.
“Tapi kadang kalau temen atau sodara sendiri yang punya produk, kita ragu buat beli. Kita mikir-mikir. Kita bilang kemahalan. Kita bikin banyak banget alesan yang intinya, nanti aja, males beli, belum tentu bagus produknya.
“Kalau kita bersikap sama kayak orang-orang itu, kita cuma bakal bikin orang kaya makin kaya sementara temen dan sodara kita yang lagi berjuang dengan berwirausaha buru-buru gulung tikar. Padahal temen dan sodara kita itu bener-bener butuh pembeli, mereka sedang bangun bisnis dan reputasi produknya. Di sana ada rejeki buat anak-istri mereka, buat keluarga mereka.
“Jadi aku akan tetep kayak gini. Beli produk temen-temen apapun itu. Aku gak mau mereka nyerah. Aku mau mereka tumbuh. Aku mau mereka besar. Kalau aku ada rejeki, apapun itu, pasti aku beli. Aku support. Aku juga pernah kayak mereka.”
Rizqa terdiam mendengar penjelasan saya. Lalu tersenyum, sambil langsung memeluk saya.
Sejak saat itu, rumah kami sering kedatangan kurir pengantar barang. Ternyata Rizqa ikut-ikutan: Kini berdatangan ke rumah kami sambal dalam kemasan, kerudung, baju, kue kering, makanan ringan, seblak, bacil, cireng banjur, dan lain-lain.
Cara dan daya juang Rizqa membantu teman-temannya ternyata dua kali lipat lebih besar dari saya. Rumah kami menjadi semacam sentra UMKM. Rizqa selalu membeli produk teman-temannya, bahkan kalau bisa jadi pembeli pertamanya! Tapi karenanya saya bangga pada istri saya itu.
Mari support produk dan usaha teman-teman dan saudara kita sendiri. Mereka lebih butuh kita daripada orang lain!
Jakarta, 24 Juli 2018
Fahd Pahdepie