Cerita Malam Wajib Plus 21

Cerita Malam Wajib Plus 21 Cerita malam wajib dijamin buat betah say

𝐉𝐚𝐧𝐝𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐧𝐝𝐚CeritaNakal kali ini memberikan cerita asik karena bertemakan Janda single mom yang bodynya aduhai, simak...
08/09/2025

𝐉𝐚𝐧𝐝𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐧𝐝𝐚
CeritaNakal kali ini memberikan cerita asik karena bertemakan Janda single mom yang bodynya aduhai, simak ceritanya,

Kejadian ini berlangsung sekitar 4 tahun lalu ketika saya berumur 22 tahun. Saat itu saya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Saya berkenalan via internet dengan seorang janda keturunan chinese sudah berumur 40 tahun bernama Jeniffer,
Dia mempunyai 2 orang anak berumur 6 dan 10 tahun. Mulanya saya hanya tertarik karena orangnya ramah dan asik diajak ngobrol dan cukup bisa mengikuti gaya anak muda alias lumayan trendy lah. Hampir setiap malam dia telepon ke saya. Sampai kadang anak-anaknya ikutan bercanda lewat telepon.

Suatu saat Jeniffer akan ada tugas dari kantornya ke Surabaya dia menelepon minta tolong dijemput di Bandara katanya, wah asik nih aku bisa ketemu sekalian bisa ngobrol bareng dan bercanda. Pada saat hari H dia telpon saya lagi dia bilang dia pake baju warna pink dan celana panjang hitam.

Hmm sesampainya di airport aku bingung sekali waktu aku lihat-lihat di kedatangan airport yang pakai baju pink dan celana hitam cuman ada satu orang itupun kira-kira masih sekitar kelihatannya umur 30 tahun menurutku. Aku beranikan diri untuk menyapa.

“Hmm selamat siang bu, maaf ibu yang bernama Jenny?” dengan senyum yang manis dia langsung merespons, “Apakabar Ibra”.

Saya langsung bengong karena melihat tampangnya yang masih cantik dengan badan langsing tapi berisi pada bagian yang penting tentunya.

Tiba-tiba Jenny langsung mencium p**iku..
“Mmmuuaachh jangan pake ibu kali.. Panggil Jeniffer aja!”
Wah-wah saya langsung rada gimana gitu.. He.. he..he..

Seharian saya antar dia keliling ke kantor klien-kliennya, saya tunggu sampai jam kerja usai, lalu kita makan malam dan saya antar lagi dia ke airport. Di perjalanan tiba-tiba dia minta berhenti di pinggir jalan.

Saya tanya, “Kenapa kok berhenti?”
Tanpa banyak bicara dia langsung mencium bibir saya dan membuka retsleting celana saya, p***s saya langsung menegang tanpa basa-basi. Sambil mengelus-elus batangku dia bergumam,

“Hmm mantap juga batang kamu ini”
Ukuran p***sku tidak terlalu besar sih sekitar 18 cm panjangnya, tapi menurut Jeniffer, “helm proyek”-nya ini bisa bikin nyesek.. He.. he.. he.. he.. Setelah puas melumat bibirku dia langsung menyedot batang kemaluanku yang dari tadi sudah menunggu hisapan mulut sexynya,

Tak ketinggalan lidahnya menjilat-jilat batang p***sku, aku tak mau tinggal diam tanganku berusaha meremas dadanya yang cukup kenyal, tapi dia menepis, “Sudah deh kali ini biar Jeniffer yang kerja,” ya.. aku pasrah saja sambil menikmati sedotan bibirnya,
Tak lama kemudian aku serasa melayang-layang dan kepala p***sku serasa makin besar akhirnya “Oughh.. ahh..” Crott!! Spermaku keluar di mulut Jeniffer, Dia makin gila menyedot semua batangku masuk ke mulutnya seakan gamau ada spermaku yang tersisa dari mulutnya. Kepala p***sku masih berdenyut saat Jeniffer menyedotnya.

“Ahhmm enak banget batang kamu, makasih ya,” kata Jeniffer, sambil tersenyum dan menciumku, dia sangat s**a dengan p***sku, sementara aku hanya bisa diam termelongo dan masih terheran-heran melihat kebinalannya,” Ayo jalan yuk, ntar ketinggalan pesawat nih.”

Tiba-tiba Jeniffer protes melihat aku hanya terdiam dan membiarkan celanaku terbuka. Pada saat aku tiba di parkiran airport Jeniffer berkata,” Kamu masih utang ya sama aku” hmm aku hanya bisa senyum sambil kali in aku yang mencium bibir sexy-nya. Jenny memelukku erat, kami seperti pasangan kekasih aja.

Sudah 1 bulan berlalu, kami tetap menjaga komunikasi berhubungan via telepon, hubungan kami semakin akrab, lalu saya memutuskan untuk pergi ke Jakarta untuk bertemu Jeniffer. Kebetulan anak-anaknya sedang liburan sekolah, sekalian saya mengajak anaknya jalan-jalan.

Saat tiba di Jakarta saya menginap di sebuah hotel yang cukup terkenal di daerah Selatan. Lalu kami bertemu dan jalan-jalan bersama kedua anaknya, “Hmm udah kayak keluarga aja nih” pikirku dan Jeniffer terlihat makin cantik, lebih cantik dari sebelumnya.

Sepulang dari jalan-jalan, tiba-tiba anak Jenny yang berumur 6 tahun meminta saya untuk menginap di rumahnya, agar kita bisa main PS berdua. Asik juga nih pikirku, karena memang aku juga sering main game. Saya dan Doni (anak sulung Jeniffer) sudah 2 jam main PS. Saat itu sudah jam 11 malam, Doni sudah mau tidur sementara Jeniffer masih sibuk membereskan kamar yang akan saya tiduri. Selesai main PS dengan Doni, saya langsung mandi karena sejak tadi saya belum mandi. Selesai mandi saya lihat Jeniffer sudah selesai beres-beres dan duduk di sofa ruang keluarga sambil nonton TV.

Cantik sekali Jeniffer saat itu, dengan baju tidur warna ungu, wah.. yang bikin saya deg-degan dadanya yang berukuran 34B menyembul dibalik gaunnya, dan setelah aku curi-curi pandang ternyata dia tidak memakai bra.

“Kamu masih hutang ama aku lho Ibra”, Jeniffer berkata begitu dengen senyum manisnya. Ya aku langsung jawab aja, “Iya deh pasti aku lunasin kok” wah kebeneran nih ngerasain va**na janda.. Hehehehe biarpun sudah umur 40-an tapi badannya sangat sexy karena memang hobbynya berenang.

“Kita sambil nonton bokep yuk Wan,” kata Jeniffer.
Sewaktu Jeniffer mengambil remot di depan TV dia rada sedikit nungging, Hmm.. pahanya terlihat mulus den belahan pantatnya terlihat sangat bersih, aku tak tahan langsung aja aku samperin dan menjilat belahan pantatnya dari belakang sampai turun ke selangkangan.

“Ahh sayangg.. Sabar d**g.. Aku udah lama gak diginiin” Jeniffer mendesah sambil kakinya gemetaran.
Aku gend**g saja ke sofa terus aku ciumin bibirnya, Jeniffer merespon ciumanku dengan ganasnya, “Jago juga nih ciumannya”, pikirku.

Sementara kedua tanganku mulai menyelusup ke dadanya yang sejak tadi membusung karena menahan nafas, “Oughh ahh.. Terusin sayang,” desahnya.

Tangan Jenny mulai berusaha meraih batang p***sku yang sudah menegang dengan helm yang memerah,

“Eittsss ini giliranku bayar hutang” tanganku menepis tangan Jeniffer dengan lembut, dia hanya tersenyum. Sementara mulutku mulai menjilat-jilat puting Jeniffer yang berwarna pink. Jemarinya mendekap erat kepalaku, sambil mendesah dan kakinya memeluk erat pinggulku,

Jeniffer mendorong kepalaku ke arah va**nanya yang dari tadi cairannya membasahi dadaku. Hmm asik benar nih pikirku dalam hati. Saat aku mulai menyapukan lidahku dari bagian bawah ke atas hipnya aku merasakan cairan yang sangat nikmat yang aku impikan sejak pertama kali bertemu Jeniffer.

Aku hisap clitorisnya dia makin mengejang dan aku merasakan va**nanya seperti menghisap bibirku.

“ciuman ama bibir atau va**na sama enaknya nih,” pikirku. “Oughh sayangghh enak,” gumamnya.

Lidahku mulai bergerak konstan di clitorisnya semakin cepat, pantatnya bergerak naik turun mengikuti irama lidahku, tiba tiba dia berteriak histeris. “F**k.. Ahh ahh oughh ah ahh ahh.. Ibra eghh.,” badan Jeniffer mengejang, tangannya menekan kepalaku ke va**nanya hingga hidung dan hampir semua wajahku basah karena cairan va**nanya.

Nafasnya tersengal-sengal dadanya makin membusung (ini pengalaman perdanaku menjalat va**na, sekarang aku s**a sekali menjilat va**na sampai lawan main-ku mencapai klimaks karena jilatanku). Aku jilati terus dan aku telan semua cairan va**nanya, rasanya enak banget!!

Sementara nafas Jeniffer masih tersengal-sengal aku angkat kedua pahanya sehingga lobang pantatnya pas berada di bibirku. Aku jilati lagi sisa-sisa cairan yang meleleh di lobang pantat Jeniffer sambil aku teruskan jilatanku ke atas dan turun lagi berulang-ulang.

Tangan Jenny makin menekan kepalaku, aku makin menikmati permainan ini dan aku lihat kepala Jeniffer menegadah pertanda dia sangat menikmati jilatanku, sampai akhirnya aku berbalik lagi menjilat bagian lubang va**nanya yang masih berdenyut.

“Sayang terusinn aku hampir sampai lagi nihh,” gumamnya sambil menggerak-gerakan pantatnya. Aku makin enjoy dengan rasa va**nanya yang seperti sayur sop.. Hehehehe. Aku hisap clitorisnya sampai akhirnya dia mulai mengejang-ngejang.. “Oughh enakk sayangku..” Kuku jemarinya terasa perih di belakang leherku.

Jeniffer mencapai klimaks untuk kedua kalinya, tanpa menunggu-nunggu lagi aku tancapkan saja batang p***sku yang dari tadi sudah menunggu untuk bersarang, Ternyata tak semudah itu, lubang va**nanya memang cukup sempit pertama kali hanya kepala p***sku aja yang bisa masuk, lalu setelah aku keluarkan dan aku masukkan lagi beberapa kali akhirnya. BLESS.. “Eghh.. Enak banget Wan,” gumamnya Jeniffer langsung menciumi bibirku dengan penuh nafsu.

Aku mulai memompa va**nanya secara beraturan sambil menjilati puting susunya yang merah dan menegang, enak benar va**na Jeniffer, pikirku. Selama 15 menit aku memompa, perlahan tapi pasti va**na Jeniffer makin terasa makin menyempit, aku makin merasa enak.

“Ahh.. Ahh oughh” mendesah sambil tangannya mencengkeram pinggiran sofa. Tiba-tiba cengkeramannya pindah ke punggungku sambil setengah berteriak Jeniffer mencapai klimaks yang ketiga kalinya,

“Aghh ahh I LOVE THE WAY YOU F*CK ME!!” Aku makin mempercepat gerakanku.. Jeniffer makin menggila.

“F**K.. F**K.. F**K ME.. Oughh ahh ahh,” Jenny benar meracau tak karuan, untung jarak kamar tidur dengan ruang tengah cukup jauh sehingga teriakannya tidak mengganggu tidur anaknya. Setalah Jeniffer menikmati sisa-sisa klimaksnya aku ciumin bibrnyai dia dan dia tersenyum, “Makasih ya, hutangmu lunas, tapi kamu belum keluar sayangku,” dia berkata sambil membalikkan badannya dan kedua tangannya memegang sandaran sofa.
( gabung game bonus di link ini " https://wajahtoto.me/ " )
“F**k me from behind,” dia mengarahkan p***sku yang masih menegang ke arah lubang va**nanya yang sudah basah kuyup.
Langsung aja aku p***a va**nanya karena aku sudah tak tahan ingin cepat-cepat keluar, baru sepuluh kali keluar masuk, Jeniffer mendesah berat dan va**nanya berdenyut pertanda dia mencapai klimaksanya, badannya seperti kehilangan tenaga, aku tahan pantatnya sambil terus aku p***a va**nanya.

Denyutan va**nanya membuat aku merasa makin nikmat. Dengan mata sayu Jeniffer berkata, “Keluarin di mulutku sayangku, aku haus spermamu”.

Aku tidak memperdulikan aku tetap focus mengejar kenikmatanku sendiri sampai akhirnya aku akan mencapai puncak kenikmatan aku cabut p***sku,

Dengan sigapnya Jeniffer meraih batang p***sku dan mengocok-ngocok di dalam mulutnya. “Oughh.. Isepin p***sku sayanghh ahh..” Crott!! Crott.. Crott.. Cairan spermaku meleleh di dalam mulutnya sampai keluar dari tepi bibir Jeniffer.

Tiba-tiba ada suara lenguhan yang cukup mengagetkanku”ahh ahh ahh oughh..,” kami berdua terkaget-kaget ketika aku lihat pembantu Jeniffer yang bernama Dita sudah telentang sambil mengejang di lantai, jemarinya terlihat berada di dalam va**nanya, sementara bajunya sudah tidak karuan. Ternyata dia melihat aksi kami dari jauh lalu sambil memainkan kemaluannya sendiri sambil menyaksikan aksi kami.

𝐏𝐞𝐧𝐠𝐡𝐮𝐧𝐢 𝐁𝐚𝐫𝐮 𝐝𝐢 𝐊𝐨𝐬𝐭CeritaNakal kali ini bertemakan tentang di kost-an, apalagi dengan kejadian tidak terduga yang dial...
08/09/2025

𝐏𝐞𝐧𝐠𝐡𝐮𝐧𝐢 𝐁𝐚𝐫𝐮 𝐝𝐢 𝐊𝐨𝐬𝐭
CeritaNakal kali ini bertemakan tentang di kost-an, apalagi dengan kejadian tidak terduga yang dialami sang narasumber cerita ini, simak ceritanya sekarang juga.

Sebelum bercerita, aku pengen perkenalkan diri terlebih dahulu. Nama ku Rosa, campuran ambon manado. Aku ingin menceritakan kisahku ketika aku masih berumur 15 thn dan belum terjamah oleh lelaki manapun. Tinggi 161 cm,berat 50 kg, Buah dada ukuran 34B, rambut panjang kulit sawo matang.

Tampangku sih biasa2 aja, cuma yang menonjol adalah buah dada dan bodyku yang bisa menggiurkan angan2 para pembaca sekalian. Penilaian ini aku ambil dari pendapat teman2ku yg sering memuji akan ukuran buah dadaku maupun bodyku (karena udah berbentuk ketika aku masih berumur 15 thn). Oke, lanjutke cerita ku yah…
Aku yg ingin mendapatkan pendidikan lebih baik terpaksa harus melanjutkan sekolah di luar daerah setelah aku lulus SMP.

Akhirnya satu kota pun menjadi pilihanku,dan orangtuaku setuju agar aku bersekolah di daerah itu.
Setelah segala urusan untuk masuk sekolah selesai, mamaku yg mengantar kembali ke daerah asalnya, tinggalah aku sendiri di tempat kostku. Hari-hari aku lewati dengan penuh perkenalan,baik di sekolah maupun tempat aku tinggal.

Salah satunya aku berkenalan dengan Budi, keponakan pemilik kost. Kostku semi permanen dan 2 tingkat, kamarkupun terletak di lantai 2. Tempat favoritku di teras atas, karena kalau udah duduk di situ, pasti mata ini menjadi sayup terkena hembusan angin sepoi2.

Ketika aku duduk2 diatas, aku sering dapatin mata si Budi merhatiin aku klo pas dia juga lagi nyantai disitu. Sebagai cewek, naluriku mengatakan aku harus waspada terhadap Budi, karena tatapannya itu bagaikan singa yg ingin menerkam mangsanya.

Aku hanya pura2 gatau aja klo sering di lihat napsu ma si Budi, kalo dia ajak cerita aku ladenin aja, daripada ga ada kerjaan di kost dan takut di anggap sombong sama si Budi. Kalo lagi ngobrol2 gitu sama Budi, matanya sering curi2 pandang ke arah buah dadaku yang membusung.

Walaupun umurku baru 15thn, aku udah punya susu yang besar dan aku ga malu2 untuk membusungkan dadaku, ga seperti kebanyakan cewek2 lain yg sering ga pede dan membungkuk untuk menutupi buah dada mereka yg besar.

Suatu malam, ketika aku pulang dari acara ulangtahun temenku, karena gerah aku pun memutuskan untuk mandi walaupun sebenarnya pada saat itu waktu sudah menunjukan pukul 9 malam.

Satu persatu kain yg menutupi badan aku lepaskan, perlahan kupegang pengait tali Bra ku untuk melepaskannya, ketika Bra ku terlepas dan susuku langsung mekar indah tanpa ada penghalang lagi, tiba2 ada bunyi mencurigakan di atas loteng, sejenak aku lihat keatas kemudian akhirnya aku berjalan menuju kamar mandi tanpa menghiraukan lagi bunyi tersebut.

Segera handuk kulepas dan juga celana dalamku yg belum sempat ku buka tadi. Aku mulai menyirami tubuhku dengan air yg dingin, terlebih dahulu bagian kepala yg aku siram, katanya sih supaya tubuh dapat menyesuaikan suhu air dan bisa mencegah flu akibat mandi malam.

Setelah itu barulah ku guyur seluruh badanku dengan air. Kurasakan setiap alur air yg merambat mengikuti lekuk2 tubuhku, menuruni leher sampai ke sela2 susuku, turun lagi sampai va**naku yg sudah di tumbuhi bulu2 halus.

Aku mulai menggosok badan dengan sabun hingga ke ujung2 kaki, tidak lupa tanganku singgah sebentar di va**naku untuk membersihkannya, ku gosok2 belahan va**naku sampai terkadang rasa geli menghampiriku. Setelah mandi aku pun kembali ke kamar.

Malam ini kurasakan hawa nya berbeda sekali, panas dan seperti biasanya kalo begini, aku tidur hanya menggunakan CD dan Bra. Bra yang aku ambil dan pakai kali ini udah agak kekecilan atau mungkin susuku yang udah bertambah besar sehingga pengait Bra ini sudah susah untuk aku kaitkan, akhirnya karena kesal aku pun melepaskan Bra itu.

Akhirnya aku pun tidur hanya menggunakan CD aja. Dalam asiknya2 tidur, aku merasakan seperti ada yang sedang menggoyang-goyang tubuhku… namun karena rasa ngantuk yg sangat berat, maka aku ga langsung bangun, hanya membuka mata perlahan-lahan.

Samar2 ga ada yg terlihat karena gelapnya kamarku, namun ketika mata mulai menyesuaikan dengan keadaan gelapnya kamar,di bantu dengan cahaya yg berpancar lewat venitlasi, kudapati ada sesosok tubuh di ujung tempat tidurku, karena kaget aku langsung bangun sambil menutup badan dengan selimut.

Lelaki yang berada dalam kamar itupun sudah tidak mengenakan apa2 lagi, serasa aku ingin teriak sekencang-kencangnya namun tidak ada tenaga seakan di terhipnotis oleh keadaan ini. Mataku mulai melihat sesuatu yang nampak menonjol dr pria itu, tonjolan yang selama ini belum pernah aku lihat secara langsung.

Terdiam seakan dihipnotis, aku hanya melihat lelaki itu mengitari tempat tidurku, perlahan mulai naik dan sekarang dia dekat skali dengan ku sehingga aku dapat mengenalinya, dia menutupi mulutku dan mengatakan bahwa kalo aku sampai teriak maka kita akan sama-sama tanggung malunya.

Aku hanya terdiam tidak menyangka akan terjadi seperti ini, air matakupun mulai menetes satu demi satu, Budi melihatku yang hanya diam saja mulai melepaskan tangannya dari mulutku, dan mulai menurunkan selimut yang menutupi leher hingga ujung kakiku.

Aku hanya pasrah ketika tangannya mulai menyentuh susuku, di remas susuku secara perlahan, di usap2 hingga ke ujung pentil, kemudian tanggannya mulai turun ke perut sampai ke celana dalamku. Di usap2nya va**na ku dari luar celana dalam, dari celahnya dia mulai memas**an tangannya untuk menyentuh langsung va**naku.

Bagaikan tersengat listrik ketika ujung jarinya mulai menyentuh bibir va**naku. Tiba2 ada keinginanku untuk melepaskan diri, mempertahankan kehormatan yang aku punya, aku dorong Budi sekuat tenaga, Budi yg badannya besar dan tinggi itupun terjatuh dari tempat tidur.

Secepatnya aku menutup badanku dengan selimut dan lari menuju pintu, namun Budi sudah menangkap dan memelukku dari belakang kemudian membantingku kembali ke tempat tidur. Aku tergeletak tak berdaya, selimut yang menutupi tubuhku sudah di pindahkan, Aku terlentang.

Susuku kini mengacung tinggi ke atas menunggu hisapan dari Budi, celana dalamku kini sudah di lepas, dan aku siap untuk di setubuhi oleh Budi, Namun ternyata Budi bukanlah orang yang ingin cepat2 menghabiskan hidangannya, dia perlahan mulai menjilati kakiku sampai ke pahaku.

Budi terdiam sejenak memandangi va**naku yang sudah ada di depan matanya, tiba2 bagaikan singa yang lapar, mulutnya langsung menerkam va**naku, dijilatinya dengan rakus, sela2 va**naku di hisap dan di tarik-tarik menggunakan mulutnya, kelent*tku di hisap.

Aku mulai merasakan suatu kenikmatan yg belum pernah aku rasakan, ini adalah kejadian pertama dalam hidupku, aku mulai menutup mata merasakan setiap jilatan liar di va**naku, tiba2 Budi berdiri kemudian menyuruhku untuk menghisap p***snya. Perlahan aku bangun dari posisi tidurku.

Budi menyodorkan tonjolan yang pertama aku lihat tadi, sambil tutup mata, kubuka mulut dan menerima p***s Budi yang besar dan panjang itu di dalam mulutku, mulutku terasa sesak oleh p***snya, Di dorong-dorong p***snya di dalam mulutku sampai terasa kena di dinding tenggorokanku.

Di maju mundurkannya secara perlahan kepala ku hingga susuku pun ikut bergoyang, Setelah Budi puas, dia mulai menindih ku, ujung p***snya kini diarahkan di depan va**naku.

Karena va**naku sudah licin akibat hisapan Budi di tambah dengan cairan dari va**naku sendiri, Budi menggosok-gosokan kepala p***snya yg sudah di sunat itu di va**naku, kemudian perlahan di memas**an p***snya yang besar dan panjang itu, Aku hanya bisa menggigit bibirku dan menutup mata, aku rasakan p***snya mulai merobek setiap inci dalam va**naku, masuk secara perlahan-lahan hingga akhirnya tembuslah perawanku, aku merasakan perih yg luar biasa di dalam va**naku.
( gabung game bonus di link ini " https://wajahtoto.me/ " )
Darah mulai menetes keluar dari dalam va**naku, Budi terlihat senyum penuh kemenangan karena sudah berhasil menjebol pertahananku, Budi mulai menggenjot perlahan p***snya, sedangkan aku masih bertahan dengan rasa perih yg kurasakan.
Terasa va**naku akan sobek untuk kedua kalinya ketika Budi menus**an sepenuhnya p***snya didalam va**naku, terasa ujung p***snya menyentuh rahimku, mataku membelalak ke atas hingga hanya putihnya yg terlihat sambil tanganku meremas bahu Budi.

Perlahan-lahan aku mulai terbiasa dengan sodokan Budi, aku mulai merasakan kenikmatan ketika p***snya masuk penuh ke dalam va**na ku.

“ohhhh… terus sayangggg…. enak banget…. ” ucapku perlahan di tepi telinganya. Kedua kakiku kini mulai menekan pantatnya agar bisa menus**an lebih dalam lagi p***snya. “aaaahhhhh….. sayanggggg….” suaraku mulai agak serak menandakan aku udah mendekati klimaks. “Iya sayaaaannnggg… bentar lagi kita keluarin bareng2 yaaaaggghhh…” balas Budi tanpa mengurangi tempo goyangan p***snya.

Mendadak sodokan p***s Budi menjadi cepat, aku yg sudah sangat kenikmatan sontak langsung meremas rambut Budi, dan Budi kembali mencumbuiku dengan ganasnya, telinga dan leherku dijilatinya dengan buas. Tempat tidur berderak derik bagaikan sedang di pacu.

Tiba-tiba aku merasakan kenikmatan tiada taranya dan seperti ada yg akan meledak dari dalam tubuhku, p***s Budi pun kurasakan bertambah besar dan panjang menambah kenikmatan klimaksku. Hingga akhirnya keluarlah air kenikmatanku dan kedutan2 va**naku, Aku hanya bisa melenguh kenikmatan… “ooooohhhhh oooooohhhh oooooohhhhh”

Dengan mata tertutup sambil meremas-remas rambut, bahu dan bagian belakang tubuh Budi, sungguh kenikmatan tiada tara yang kurasakan pertama kali ini. Tak lama kemudian Budi mencapai klimaksnya di dalam va**naku sambil meremas susuku yang udah kenceng banget.

Kurasakan semburan yg hangat keluar dari ujung p***s Budi sambil dia menciumku liar, tanpa kusadari pantatku ikut bergoyang menerima klimaksnya Budi. Kami berdua terdiam sejenak sambil menikmati sisa-sisa klimaks kami.

Hingga akhirnya p***s Budi terasa mengecil di dalam va**naku. Budipun bangun dan menyalakan lampu kamar. Karena malu aku hanya bisa menutup muka dengan kedua tanganku seakan tak percaya dengan kejadian ini. Seakan mengetahui kegalauanku, Budi menghampiriku dan berbisik bahwa dia mencintaiku dan akan bertanggung jawab atas perbuatannya.

𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐃𝐚𝐧 𝐄𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠 𝐈𝐧𝐝𝐚𝐡CeritaNakal kali ini ada sebuah cerita seru dari pemuda-pemuda yang agak maniak tentang hal ini...
07/09/2025

𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐃𝐚𝐧 𝐄𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠 𝐈𝐧𝐝𝐚𝐡
CeritaNakal kali ini ada sebuah cerita seru dari pemuda-pemuda yang agak maniak tentang hal ini

Sebelom keceritanya menurut kalian beberapa cerita dari narasumber ini ada yang ngalamin juga ga ya?

Langsung ke inti ceritanya aja kali ya,

……..

Disuatu sekolah daerah Jakarta, banyak murid bandel yang sering nongkrong.

“lo akrab banget keknya Don sama Fikri.” Ucap Dipa teman sebaya Doni.

(Doni dan Dipa kelas 3, sedangkan fikri masih kelas 2.)

“Soalnya kaya doi bro hehehe, baek juga lagi bocahnya.” Balas Doni kala mereka sedang nongkrong di warung basecamp sekolah itu nongkrong.

Dipa yang tau kalo temennya itu tukang boongin orang. Tertawa sambil berkata, “menang banyak d**g lo.”

“yoi, tapi tujuan gue mah ada yang lain pa.” Celetuk Doni sambil menghisap rokok.

“Apa tuh?” tanya Dipa.

“Pembantu doi cakep, nah si Fikri cuman tinggal bertiga sama kakaknya yang cewe sama pembantunya.” Terang doni menjabarkan.

Dipa yang duduk disebelah doni dan tak terlalu akrab dengan Fikri pun melontarkan pertanyaan, “lah orang tuanya kemane d**g?”

Mereka nongkrong di warung ada sekitar 13 orang, dan ada Fikri juga sama beberapa teman angkatannya. Tapi duduk mereka tak saling berdekatan.

“Kan Fikri perantauan boy, kakaknya juga gawe balik malem. Pembantunya kek orang polos gitu tapi gue yakin sih bisa dipake hahaha.” Balas Doni.

“Ah tai omongan lo mah semua cewe juga bisa dipake.” Timpal Dipa menyangkal.

“Beneran pa pakaiannya aja masih sopan banget tuh, gue juga udah ngobrol sih sama pembantunya. Gue yakin pasti bisa di pake.” Doni meyakinkan omongannya.

“Ajak gue kalo gitu Don kalo lo main kerumah Fikri hahahaha.” Dimas tampak ingin melihat pembantu Fikri.

“nanti ye kalo si Fikri mau.” Ujar Doni.

……

2 hari setelah itu, Doni yang bete dirumah mengajak Fikri untuk nongkrong. Fikri pun mau.

“nongkrong dimana Don?” tanya Fikri yang lagi dirumah.

“minum aja asik tuh dirumah lu don sambil cerita cerita.” Balas Doni yang sedang dirumah juga.

“Menarik tuh, yauda sokin (kemari) dah” Fikri.

Doni : “gue ajak Dipa boleh ga Fik biar gak beduaan banget kita nongkrongnya kan rada bosen kalo berdua doang.”

Fikri : “ajak aja dia.”

Doni : “tapi duit gue cuman gocap doang lagi buat beli minuman, entar juga besok bisa gak jajan gue dikantin.”

Fikri : “yaudah nanti gue yang beli minuman, deket komplek ada ko.

Doni : “emang paling top lo Fik, okedeh gue kesitu ngajak Dipa.”

Doni segera memberitahukan Dipa, dengan senang hati Dipa pun mau apalagi minuman dibeliin.

(Btw Doni ini orangnya jago ngomong dan bisa bikin orang akrab sih sama dia. Kalo ditongkrongan karakter kek Doni gini kuat banget.)

…….

Sekitar jam 8 malam, Dipa dan Doni tiba di rumah Fikri.

“Kakak lo kemane Fik?” tanya Doni kala mereka bertiga duduk diruang tamu rumah Fikri.

Sambil bercanda Fikri menjawab, “yah elu malah nanyain kaka gue. Lo harusnya nanya Ani don.” (Ani itu pembantunya fiki.)

“kalo Ani mah gausah ditanya, dia pasti ada dimari nungguin kedatangan gue kan.” Timpal doni yang duduk santai melebarkan tangannya disofa dan mengangkat kedua alisnya belagu.

“anjir emang lo siapa ditungguin pembantunya Fikri hahaha.” Celetuk Dipa ikut mengobrol.

Dengan sombongnya Doni melihat Fikri, “kasih tau Fik kalo gue udah masuk ke dalam kk (kartu keluarga) Lo”

Fikri tertawa dengan celetukan Doni, “iya Dip dia udah diangkat anak sama bokap gue.”

Doni menepuk paha Dipa yang berada disampingnya sambil berkata, “tuh dengerin kata die.”

Dipa tertawa dan berkomentar, “enak juga lo Don.”

“btw, lo tinggal sama siapa aja Fik dirumah gede gini.” Sambung Dipa melirik kearah Fikri.

Fikri menuturkan kalo dia tinggal bertiga sama kakaknya dan pembantunya.

Lantas Fikri mengambil minuman yang udah dibelinya mereka pun minum bertiga sambil mengobrol becanda penuh tawa.

Sebotol sudah berjalan abis.

“tenang masih ada sebotol lagi anggur.” Celetuk Fikri dan berjalan mengambil.

Dipa dan Doni berbisik, “baek kan dia.” Ujar doni

“mane pembokatnya doi?” tanya Dipa.

“Dikamar kali, kalem aja nunggu moment kita.” kata Doni.

…….

Mereka minum kembali setelah Fikri membuka anggur, saat di pertengahan minum tiba tiba Doni membuka obrolan dengan pedenya. “tapi nih ya Fik, pembokat lo keknya bisa dipake ya.”

Fikri yang lagi menengak minuman digelas langsung tersenyum. “kagatau don, cobalah kalo lo mau coba.”

“Anjir.” Hanya itu respon yang keluar dari mulut Dipa.

Doni pun berdiri dari sofa membetulkan pakaiannya.

“mau ngapain Lo?” tanya Dipa melihat gelagat sobatnya.

“lo gak denger tadi disuruh coba ahahahha. Lo liat nih Doni beraksi.” Dengan sombongnya Doni berbicara menepuk pede dadanya.

“Gue intip ya nanti.” Balas Dipa becanda.

Doni tersenyum, “kamarnya Ani yang di atas kan Fik?” Doni melihat kearah Fikri.

Dengan santainya sambil merokok Fikri membalas, “ah elu udah sering kesini juga masih pake acara nanya-nanya aja.”

Doni pun berjalan tak lupa menoleh kebelakang melempar senyum kepada Dipa.

Dipa lanjut minum dengan Fikri berdua sembari mengobrol ringan seputar sekolah dan kehidupan Fikri.

……

“Aniiiii ohhh Aniiiii.” Doni yang sedikit mabuk mengetok kamar Ani beberapa kali

Pintu kamar pun terbuka memperlihatkan ani yang sedang memakai tanktop putih dengan celana hotpants. “Seksi banget ni.” Komentar Doni sedikit takjub.

“ah mas Don bisa aja, Ani kalo mau tidur emang gini pakaiannya. Ngomong2 ngapain mas Don kesini?” tanya Ani.

(Sebelom lanjut gue mau lurusin yak, jadi Fikri tuh pindah ke Jakarta waktu kelas 1 SMP. Makanya dia udah lancer sama daerah sini udah gapake Bahasa daerah dia.)

“Emmmm ini ni, bosen aja ngobrol sama Fikri mulu. Masa batang ketemu batang hahaha.” Canda khas Doni sambil tersenyum.

Ani tersenyum tipis mendengar celotehan Doni.

“Boleh masuk ga ni?” tanya Doni yang lagi tinggi berbau anggur dimulutnya.

“Emm boleh deh mas Don, tapi Ani haus mau ngambil minum dulu.” Balas Ani yang memang genit juga.

(Ani hanya beda 1 tahun dengan Fikri. Tapi Ani putus sekolah karena gatau dengan alesan apa ya.)

“abang Doni aja yang ngambil ni.” Ucap Doni mengambil air putih dan melempar senyumnya ke ani.

…….

Setelah itu mereka duduk di lantai yang beralaskan kasur tipis gitu sambil menonton tayangan tv yang disediakan oleh keluarga Fikri untuk Ani.

“matiin lampu aja ya ni silau.” Seru doni berujar.

Ani menganggukan kepala.

Doni mematikan lampu dan duduk disampingnya Ani lagi menonton tv.

……..

Tampak suasana canggung terjadi, tapi bukan Doni namanya kalo dia gabisa mencairkan suasana.

“Ani udah lama ya ikut keluarga Fikri?”

Ani : “ya pas mas Fikri tinggal dijakarta.”

Doni : “gimana sih ni ceritanya bisa kerja sama Fikri?”

Ani : “ya waktu itu di kampung, bapaknya mas Fikri lagi nyari pembantu buat di Jakarta karena mas Fikri mau sekolah SMP di Jakarta. Terus yaudah tiba tiba bapak aku nyuruh aku kerumah mas Doni.” Ani menjelaskan sambil sedikit menunduk.

Doni : “emang kamu putus sekolah dari kapan ni?” tanya Doni memperhatikan Ani dengan mata sedikit sayup efek alkohol.

Ani : “ko mas Doni tau aku putus sekolah? Pasti mas Fikri yang cerita ya.” Ani sedikit melepaskan senyumnya.

Doni hanya tersenyum seraya berkata, “iya. Aku sih yang duluan nanya sama Fikri, soalnya pas liat kamu. Aku penasaran sama wanita cantik ini.” Doni mencubit sedikit dagu Ani.

Ani menunduk tersipu malu sambil tersenyum lebar. “bisa aja mas Doni.” Dan memukul pelan pundak Doni. “ya gitu aku sekolah cuman sampe kelas 3 (SD) bapak aku utangnya banyak mas dikampung.” Lanjut Ani menjelaskan

“oalah bisa gitu yak.” Respon Doni menyimak cerita.

“bisa lah bapak aku kan s**a judi.” Seru Ani membuang muka kearah tv ketika menjelaskan itu.

Sontak Doni memeluk Ani dan mengelus punggung Ani perlahan, “sabar yak ni. Semoga kamu kuat. Kamu hebat.” Doni masih memeluk Ani terlihat nafsunya sudah sedikit naik.

Ani membalas pelukan itu dengan mengalungkan tangannya dipunggung Doni, “makasih ya mas Doni.”

Doni melepaskan pelukan dan memandang wajah Ani lalu beberapa detik kemudian melayangkan ciuman tepat dibibir Ani.

Ani yang mendapat perlakuan dari Doni awalnya kaget terdiam, tapi lama kelamaan dia membalas ciuman Doni dengan melumatnya. Mereka pun beradu ciuman dan beradu lidah dengan nafsu menggebu gebu.

Asik berciuman, Doni pun melepaskan bibirnya lalu tangannya menjalar ke bagian baawah tanktop Ani untuk melepaskannya. “Ani malu mas.” Respon Ani memandang Doni.

“Sssssttttt. Gapapa ni, gue pengen banget.” Bisik Doni diatas Ani, dimana posisi Ani dibawahnya tiduran. Suara Doni pun sedikit serak.

Mereka berdua sebenarnya diawasi dari jendela sama Dipa dan Fikri. Sejenak Fikri mengajak Dipa kebawah.

“anjir edan emang doni.” Ujar Dipa yang udah duduk dilantai bawah dan meminum minuman di gelasnya.

Fikri yang meroko tersenyum, “ya namanya juga pembantu Dip.”

Dikamar Ani

Tampak Ani sudah memakai cd dan bra, mereka berciuman sambil tangan kiri doni menggerayangi toket Ani masuk dalam bh.

Suara ciuman yang berisik terdengar dikamar itu “cellpppppp celpppppp.”

Doni melepaskan ciuman dan melepaskan baju serta celana pendeknya menyisakan cd nya sambil tersenyum ke Ani yang berada dibawahnya.

Lalu Doni melepaskan bh Ani dan melepaskan cdnya. Selama Doni melepaskan bh dan cd Ani, Ani menengok kesamping tak berani melihat ke arah Doni.

Dan terpampang lah tokett Ani berukuran 34c dengan puting pink yang membuat Doni makin sange, serta bulu kemaluan di memek Ani hanya sedikit aja. Saat Doni menjamah memek Ani, memek Ani sudah basah.

Doni menurunkan wajahnya menjilati memek Ani menggunakan lidahnya. “eeeehhhhh emmmmphhhhhhh.” Dengus Ani merem dan menggenggam seprei sangat kuat saat Doni menjilat memeknya.

“massss Ddoniiiii ahhhhhhhhh jangannn digituin massss.” Ani sedikit berteriak.

Doni melepaskan jilatannya, “jangan berisik ni.” Dan lanjut naik ke toket Ani mengisap puting Ani yang pink. Kadang Doni juga sedikit menggigitnya.

“awwwwwwwww.” Ucap Ani saat Doni mengigit putingnya.

“Emmmphhh uhhhhhhh awwww.” Ani bersuara ketika putingnya diisap dan memeknya dimasukin 2 jari Doni.

Setelah puas, Doni duduk diatas kasur dengan kedua lutut sebagai tumpuannya dan melepaskan cdnya dengan cepat. Ani hanya bengong tiduran melihat kearah kontol Doni yang berukuran 14 cm dengan diameter sedikit besar.

“Sepong d**g ni.” Ucap Doni pelan.

Ani sedikit bangkit dan menggenggam kontol Doni dengan tangan kirinya lalu mengulumnya, “slurppppbslurrppppp.” Suara yang keluar saat Ani menghisap kontol Doni, kadang bola mati Ani melirik kearah wajah Doni sambil tetap menyepong.

Doni hanya menikmati sambil meraba punggung Ani mengelusnya.

“Udah ni.” Ucap Doni saat Ani mengisap. Lalu Ani menghentikan aktivitasnya. Doni pun merebahkan tubuh Ani kekasur dan mengarahkan kontolnya kememek Ani dan “blessssssss.” kntol Doni masuk. “auwwwww.” Teriak Ani sedikit lalu menutup mulutnya dengan permukaan tangan kanannya.

“Plokkkkkkkkkk ppppplllllokkkkkkkk.” Suara ketika Doni menggoyang kontolnya didalam memek Ani.

Doni juga sedikit berkeringat di sekitar dahinya .

“Uhhhhhh massssss donniiiiiii peee…laaa..n massss.” Dengus Ani dengan suara pelannya.

Doni asik mencumbu Ani sambil meremas remas toket Ani dengan tangannyaaaa.

Ani merem nampak menikmati, “empphhhh empphhhhh.”

“mauuuu keluarrr ni.” Seru Doni yang asik bergoyang lalu beberapa detik kemudian mencabut kontolnya dan mengarahkan kontolnya ke wajah Ani dan memuntahkan cairan sperma menyempoti wajah dan area seprei.

“Ahhh mas Doniiiiii.” Lenguh Ani saat cairan Doni sudah keluar semuaaa.

“Enakk banget ni.” Komentar Doni yang duduk lemas ditepi ranjang.

Ani hanya tersenyum sambil tiduran mengelap cairan Doni dengan tengtopnya.

“ko dielapnyaa pake gituan ni?”

“Gapapa mas, aku juga yang nyuci.”

Beberapa menit kemudian setelah berpakaian Doni turun kelantai bawah. Terlihat kedua temennya itu tersenyum lebar dan Dipa bersuara, “edan emang lo.”

Doni hanya tersenyum lalu duduk, “lo coba d**g.” Dia mengambil minuman yang sisa segelas dan meminumnya.

“bolehhhh.” Tanpa basa-basi Dipa langsung berjalan keatas.

……

Pintu kamar Ani masih terbuka, Ani masih memakai bh dan cd aja terlihat dia sedang mengelap beberapa cairan di sekitar seprei dan “ehhhhh.”

Muncul sosok Dipa di pintu, “gue temennya Doni sama Fikri. Gue juga udah ngeliat lo sama Doni ngapain aja ko tadi.” Celoteh Fikri berjalan masuk dan duduk disampingnya Ani.

Ani hanya diam berusaha menutupi dirinya dengan tangannya sambil menunduk.

Dipa yang agresif langsung meraba tokett Ani dari luar bh berwarna hitam.

Dan memainkan tangannya menjamah mmek Ani yang terbungkus cd merah.

Mendapati perlakuan seperti itu Ani hanya terdiam menunduk sambil merem seperti takut.

Dengan cepet Dimas membuka bh dan memainkan tokett Ani sambil duduk berdampingan. Rabaan secara bergantian dari toket sebelah kiri dan kanan.

“gue mah cuman minta disepong ni.” Ucap Dimas lalu melepaskan celana dan sempaknya masih memakai kaos.

Ani diam saja duduk.

Dimas pun berjalan dikit dan mengarahkan kontolnya dekat dengan bibir ani.

Ani masih tak merespon.

Lalu Dipa tiduran, “isep doang daripada gue bilangin kakanya Fiki.” Dimas memberi sedikit ancaman.

Rasa malu dan sedikit takut terlihat dari raut wajah Ani yang sudah telanjang. Ia pun berjalan dan mengocok kontol Dipa malu sambil membuang muka.

“Sepong ni, gue cepet ko keluarnya.” Dengus Dimas tiduran.

Ani menuruti dan memasukkan kontol Dipa yang panjangnya sekitar 11 cm dan diameter nya juga kecil.

Ani menyepong dengan pelan kadang juga melepasnya untuk membenarkan rambutnya.

“Terussss niii.”

“slurpppp slurrppppp.”

Dan beberapa menit kemudian Dipa mengeluarkan spermanya di mulut Ani.

Ani melepeh spermaa itu tissue. “wueeeee.” Suara Ani seperti jijik karena gapernah ada yg mengeluarkan sperma didalam mulutnya.

Dimas membersihkan sisa peju di kontolnya dengan tissue yang tersedia dan memakai pakaian kembali.

Sebelom keluar Dipa tersenyum dan “makasih ya ni.”

Sambil memakai pakaian Ani memandang jutek ke Dipa tak menjawab ocehan Dipa.

……

“Bentar banget bro.” Ledek Doni sambil sedikit tertawa.

“Hahaha emang cepet gue mah.” Balas Dipa santai.

Mereka pun ngobrol sambil merokok.

Tiba tiba Doni, “jangan jangan lo pernah yak Fik sama Ani.” Sambil tersenyum.

Dipa juga curiga, “iya nih.”

“Anjir enggalah bukan level gue.” Sangkal Fikri duduk santai menghisap rokok.

Sekitar pukul 11 malam, Doni dan Dipa pun pulang dari rumah Fikri.

Di jalan pulang, sambil beriringan dengan mengendarai motor masing masing. “jangan cerita cerita ke bocah lo.” Ucap doni

“Yaiyalah ceritain aja rejeki kudu dibagi2.” Balas Dipa tersenyum.

Doni : “Kasian Ani egeeeee.”

Dimas : “sama pembokat aja kasian, s**a lo ya?”

Doni : “anjirrr engga lahhh. Yaudah sih seterah.”

Lalu mereka pun pulang kerumah masing masing.

Walaupun yang mengingatkan untuk tidak membocorkan kejadian semalam. Tapi ketika Dipa di sekolah, kabar terlalu cepat menyebar.

Dipa tau kalo sobatnya itu Doni pasti bocor mulutnya apalagi tentang cewe, behhh Doni gacornya.

“Gede gak toketnya?”

“Memeknya tembem gak?”

“Hahaha lo ngape cepet keluar?” Beberapa pertanyaan dari teman nongkrong Dipa dan Doni. Dipa dan 3 orang lainnya sedang dikantin, nampak Doni belom terlihat.

“Buseh satu satu anjim nanyanya!!” Sewot Dipa risih.

“lo pada main dah kerumahnya, biar pada percaya.” Celetuk Dipa membenarkan cerita tersebut.

……

“ikut lagi Dip?” Fikri bertanya ketika Dipa baru tiba di warung tongkrongan.

Disana, Doni dan Toni sudah diatas motor lagi manasin motor. Ada juga Fuad dan Teddy.

“Mau pada kemana?” Dipa heran mereka semua sedang mau pergi.

Si raja gombal Doni berujar, “biasa kerumah Fikri.”

Dipa membeli roko dahulu setelah itu, “duluan deh gue mau jalan sama cewek gue.”

“yaudah.” Balas Doni.

Mereka pun berangkat Kerumah Fikri. Entah kenapa walaupun Fikri masih kelas 2 tapi dia senang bergaul dengan seniornya.

……

“ohhh itu orangnyaaa.” Sahut Fuad ketika melihat Ani lagi menaruh pakaian kotor dilantai bawah. Sejenak Ani yang melihat teman majikannya lagi pada kumpul, ia memberi senyuman sembari berjalan kembali keatas.

“Manteppp sih bodynya tapi mukanya B aja!” teriak Toni yang mengangkat kaki satunya ke sofa.

“lah kakak lo mana Kri? Katanya lo tinggal bertiga?” Tanya Teddy menyulut rokok di mulutnya.

“ada le tapi lagi kerja.” Pungkas singkat Fikri.

“kerja dimana?” tanya Fuad mulai kepo.

“Di bank ###x.” Balas Fikri.

Lagi asik berbincang bincang. “Doni kemana ya?” tanya Toni celingak celinguk dari arah dapur.

Fuad : “Katanya boker?”

Teddy : “lagi ngentt kali coba cek.”

Tonny berjalan cepat kelantai atas kemudian turun kembali, “engga ah pembokat Fikri aja lagi jemur pakaian.”

“yaudah palain lah pel.” Seru Fuad tersenyum.

“gak pede gue. Minum dulu dah.” Balas Tonny.

Singkat cerita mereka patungan untuk membeli minuman sekembalinya Doni ke perkumpulan.

…….

Hari yang semakin sore, ditambah dengan hangatnya alkohol didalam tubuh para pemuda ini menjadi sange karena cerita Doni. Tonny pun mengambil kudakuda stretching.

“Set pemanasan lo, mau ikut PON Lo?” canda dari Fuad terlontar.

“Lebih ke lomba renang sih doi hahahha.” Timpal Teddy menambahkan.

Tiba tiba, “gue tinggal dulu ya, cewe gue didepan komplek.” Seru Fikri berdiri mengambil jaketnya.

“Lah tuan rumah masa cabut.” Kata Fuad.

“Selow sih paling makan gue, santai aja ad. Kaka gue juga jarang pulang.” Ujar Fikri bergegas ke arah motornya yang terparkir diluar rumah.

“anggap aja rumah sendiri ad!!” seraya Tonny berkata.

“Enak juga sih punya rumah gini mah.” ujar Fuad

“buru, lama geraknya!” terlihat Doni mengompori temannya untuk segera beraksi ke kamar Ani.

“temenin yuk!!” minta Tonny ke Fuad.

Fuad pun berdiri dan mereka berdua kelantai atas.

……

Beberapa menit kemudian, Fuad dan Tonny turun kebawah sambil tertawa puas.

“Lah kocak turun lagi.” Doni menimpali melihat mereka berdua tertawa.

Fuad : “anjir tompel beringas banget. Masa pembantunya Fikri disekep.”

Teddy : “lah gitu dah!”

Tonny : “bukannya gitu bege, gue baru mau meluk dia eh peler gue malah ditendang. Yauda gue bekep aja mulutnya biar dia gak ngelawan. Eh peler guee malah ditendang lagi.”

Sontak mereka semua tertawa.

“biar gue palain dah.” Tutur Doni berjalan keatas.

“ini baru pahlawan kita.” Fuad menyambar dan melihat doni melangkah kelantai atas.

…..

15 menit berlalu, Tonny yang mabok parah nampak tak sabar. “buset lama juga gabisa didiemin nih.” Langsung Tonny ke lantai atas.

Sesampainya diatas tompel melihat kamar ani yang tertutup rapat, hordeng menutupi jendela dan gelap juga menunjukkan suasana tempat itu.

Lalu Tonny mengambil minuman, “tok… tok….” “Don, minum nih kali lo haus.” Berulangkali Tonny melakukan hal itu. Akhirnya ia capek sendiri dan turun kebawah.

……

“Siapa sih tadi ngetok ngetok.” Sapa Doni ketika di lantai bawah.

“Lo sih lama banget.” Balas Tonny dengan mimik muka jengkel.

“Udah tuh gantian dah.” Doni membakar roko.

Tonny dan Fuad pun naik berbarengan.

Kali ini Ani diam saja, tampak tompel menggrepe toket Ani sebelaah kanan dan Fuad mengemut puting Ani sebelah kiri.

Ani hanya merem lemas tak berdaya, sejenak Fuad yang asik mengemut puting langsung menggerayangi tokett sebelah kanan. Karena Tonny membuka celana Ani dan cdnya. “crekkkkk crekkkkk.” Tonny memasukkan tiga jari ke va**na Ani yang basah.

“Empphhhhh eeeemmmmnppppp.” Suara Ani kecil tak kuat akan perlakuan teman majikannya.

Tonny melepaskan celana dan sempaknya. Lalu mengarahkan kontolnya ke arah mulut Ani. Fuad agak menjauh melihat tingkah tompel.

“Eeeeeeee eeeeeeeee.” Suara Ani dengan tak mau membuka mulutnya dimana letak kontol Tonny sangat dekat sekali berjarak 1 cm dan ditempelkan di mulut Ani.

Dengan wajah sangenya, “ni isep ni.” Ujar Tonny.

Fuad yang melihat wajah Tonny pun menahan tawa.

Ani masih menolak.

“isep d**g Ani sayang.” Seru Tonny sambil memaksa masuk kontolnya dengan menekan kepala belakang Ani.

Tapi bukannya diisep, kontol Tonny malah digigit. “anjing.” Dengus Tonny yang kaget akan aksi Ani.

Fuad yang tak kuat menahan tawa, berlari kecil kebawah sambil tertawa terbahak – bahak.

“Lah kenapa lo?” tanya Teddy yang rebahan di sofa, sedangkan Doni sudah tertidur pulas disofa.

Belom sempet menjawab Tonny turun kebawah sambil tertawa juga.

Fuad menceritakan kejadian diatas dan Teddy juga ketawa. Lalu Doni terbangun dan bertanya tanya. Fuad menjelaskan lagi.

“Yaudah ke atas lagi lah.” Celetuk Doni.

“udah ga napsu.” Balas Tonny tersungkur lesu di sofa.

“Biar Abang yang turun tangan.” Teddy mematikan rokoknya dan berdiri membetulkan celana lalu naik keatas.

……

Diatas Ani sedang membuka hordeng, lalu mengisi air di ember kamar mandi atas. Teddy mengajak Ani berkenalan.

“parah ya dua orang tadi.” Teddy membuka topik obrolan memerhatikan Ani yang sedang dikamar mandi.

“tau ih.” Balas Ani singkat karena ia melihat Teddy yang ramah dan sedikit ganteng.

“Kalo pada mabok emang gitu, susah ngontrol napsu padaan..” balas Teddy.

“Termasuk kamu?” tanya Ani menoleh ke Teddy.

Lalu Ani berjalan keluar kamar mandi dan masuk ke kamarnya.

“Jujur aku sih juga, tapi kalo cewek itu gamau ya aku gamaksa sih orangnya.” Rayu Teddy sambil berdiri didepan kamar Ani.

“oh bagus deh.” Ani tiduran di kasur menonton tv.

Teddy masuk kekamar Ani dan duduk dibawah.

“ni, kalo aku minta gituan. Kamu bakal nolak gak?” tanya Teddy duduk diatas tepi ranjang Ani.

Ani yang masih tiduran memandang wajah Teddy tidak menjawab sepatah katapun.

Melihat respon Ani, Teddy mencium lembut bibir Ani.

Ani juga membalas lembut perlakuan Teddy dengan melumat bibirnya.

“Boleh aku buka baju kamu?” tanya Teddy mereka berjarak dekat sekali.

Ani dengan mata yang sayu mengganggukan kepala.

Teddy melepas baju Ani dengan pelan selanjutnya bh kuning Ani.

Lalu memajukan tangan kirinya untuk meremas toketnya Ani dan mencium bibir Ani dengan sambil lembut. Nafas Ani yang tak teratur membuat Teddy makin bernafsu. Ia pun melepas celana dan cd Ani, lalu menggosokkan tangan kanannya di permukaan mmek Ani.

“Uhhhhhh emmmmmm.”

“Emmmmmmm.”

“Ohhhhhh.”

Desah Ani ketika Teddy memasukkan jarinya kedalam memeknya dan memaju mundurkan dengan perlahan.

Teddy juga mengemut puting Ani secara bergantian.

“masukkkinnnnn masss.” Dengus Ani tak tahan akan perlakuan Teddy..

Teddy tersenyum dan melepas sempaknya. Ani sedikit terbelalak melihat kontol Teddy yang diameternya gak gede tapi panjangnya hampir 17cm.

“maassss tolongggggg goyangnyaaa jangan kencengggg kencenggg.” Ucap Ani ketika Teddy memasukkan kontolnya dengan lembut sekali.

Teddy memajumundurkan kontolnya pelan sekali. Iaa memasukkan setengah kontolnya tapi Ani tampak menikmatinya dengan merangkul leher Teddy dan memejamkan mata seraya berdesahhhh “ahhhhh enakkkkkk ohhhhhh yaampunnnnn.”

“Uhhhhhhhh uhhhhhhee heeeheeeh.” Rancau Ani ketika Teddy menaikan sedikit goyangan kontolnya.

Lagi asik bercumbuu tiba tiba pintu terbuka, karena Teddy tak mengunci pintu hanya menutupnya.

Teddy yang melihat sosok itu kaget dan menarik kontolnya lalu menggeser pantatnya kebelakang sudut ranjang.

“ohhh bagus.” Suara sosok tersebut berkata.

Ani yang mengenali suara tersebut segera menoleh kedepan pintu dan kaget menutupi tubuhnya “Kak Lia.” Dan Ani mencari bajunya untuk memakainya. Teddy juga menutupi selangkangann dengan sempak tapi belom dipakai.

“GAUSAH PAKE BAJU, SINI KALIAN BERDUA BERDIRI!!!!” teriak kakaknya Fikri marah sekali melipat kedua tangannya didadanya.

Ani dan Teddy berjalan sedikit ke depan Kak Lia, Ani menundukkan kepala sambil bertelanjang. Ia menangis sambil berdiri. Terlihat Teddy disampingnya memandang Ani sambil menutupi kontolnya dengan sempak.

“NGAPAIN NANGIS!!! TADI LO NIKMATIN!!” teriak Kak Lia kembali didepan wajah Ani. Entah suara itu menggelegar sampai keluar rumah atau tidak. Tapi dengan kondisi rumah yang besar dan sepinya suasana komplek mungkin tak terdengar.

Lalu kakanya Fikri memelototi muka Teddy sembari teriak, “TADI GAKK MALU LU!!!” dan menarik sempak Teddy serta membuangnya ke asal aja.

“DUDUK LO BERDUA!!”

Mereka duduk ditepi ranjang.

“LO PEMBANTU MANA? UDAH SEJAK KAPAN LO SERING SAMA ANI!!!” dan “plakkkkkk.” Suara tamparan mendarat di p**i kanan Teddy.

Teddy mengusap p**inya sambil memasang muka kesel, “saya bukan pembantu ka. Saya temennya Fikri.” Teddy berkata santai.

Seketika Teddy berdiri, “saya tau saya salah, saya siap dihukum dipanggil polisi juga siap.”

Kakanya Fikri hanya diam memandang Teddy dengan muka marahnya.

“OKE!! GUE TERIAK YA BIAR WARGA KESINI TERUS NYERET LO BERDUA KELUAR!!!” menunjuk jari telunjuknya ke arah muka Teddy.

Dengan beraninya Teddy menjawab, “ka maaf sebelumnya. Kita melakukan ini atas dasar s**a sama s**a. Dan untuk hal seperti ini, mungkin udah bukan jamannya main hakim sendiri. Kekantor polisi aja ka, itu lebih pantas.”

Tampak kakanya Fikri seperti berfikir, lalu “ngelawan mulu lo bocah. Kalian pake dah baju kalian, gue tunggu dibawah.” Dia lalu bergegas turun kebawah.

Teddy dan Ani memakai bajunya masing masing terlihat Ani masih tersedu sedu, air matanya tidak keluar tapi ia sedih.

Teddy yang sudah berpakaian melihat Ani merenung, “kenapa diem aja ni?” Ucap Teddy lalu duduk disampingnya.

Ani yang malang hanya, “aku takut dibalikin kekampung.”

Teddy yang mendengar itu tak bisa berkata apa-apa dan berusaha menguatkan Ani, lalu mengajaknya turun kebawah. Tapi Ani menolaknya. “Kamu aja yang turun, aku takut.” Seru Ani yang mengambil pakaian nya lalu dipakainya.

Teddy memperhatikannya tapi setelah baju dipake, Ani malah memilih tiduran di ranjang dan menutupi wajahnya dengan guling sambil terisak tangis.

Dengan perasaan bersalah Teddy berjalan perlahan ke arah tangga, dan baru beberapa saja melangkahi anak tangga ia mendengar suara sayup orang dimarahi dan tiba tiba hening.

Teddy berjalan kebawah, ternyata disana sudah ada Fikri yang duduk dihadapan kakanya dengan mukaa lesu. Sedangkan kakanya Fikri menatap Teddy dengan penuh amarah.

“MANA ANI!!!”

Teddy : “takut ka dia, masih nangis dikamar.” Terang Teddy menjelaskan.

“OH LO SENIOR ADEK GUE, DUDUK SITU!”

Teddy duduk di samping Fikri, karena kakanya menunjuk kesitu.

“lo ketempat Pak Syukur, ajak kesini!” perintah kakanya kepada Fikri.

“Pak Syukur kan masih kerja ka jam segini, pulang jam 9 paling.” Jawab Fikri yang melihat jam dinding masih pukul setengah 7.

“ya lo tungguin lah, perlu dikasih hukuman nih senior kek gini.” Ujar Kak Lia duduk menyilang sambil melipat tangan didada.

Dengan terpaksa Fikri mengambil kunci motor ninjanya dan berjalan keluar.

(Pak Syukur adalah saudara sekampung mereka yang tinggal di Jakarta juga.)

…….

Teddy menundukkan kepala menunjukkan rasa bersalahnya.

“KENAPA LO? NGERASA BERSALAH? PENGEN NANGIS?LO TETEP HARUS DIHUKUM BIAR KAPOK.”

“iya ka.” Jawab Teddy lemas.

“LO SIKAT TUH KAMAR MANDI SAMPE BERSIH!!”

Teddy mengangguk dan bersiap berdiri.

“HEH!! ENTAR DULU”

Teddy duduk kembali.

“BIAR MAKIN KAPOK GUE MAU VIDEOIN LO, LO BUKA CELANA SAMA BAJU LO TERUS LO SIKAT!!” perintah Kak Lia dengan muka tegasnya.

“jangan divideoin ka, malu.” Pinta Teddy dengan muka memelas.

“LO PILIH ITU APA GUE PANGGIL WARGA!”

Pemuda itu terdiam lalu melepaskan celana serta bajunya dan berdiri dengan wajah yang nyolot tanda kalo Teddy kesal dengan Kak Lia. Kemudian Teddy berjalan kekamar mandi dan mengambil sikat untuk disikat lantai.

“srokkkkkk srokkkkkk.” Teddy terlihat butiran butiran keringat menempel di wajahnya, diusaplah dengan tangan sambil tetap menyikat.

Ka Lia datang dan mengvideokan aktivitas Teddy sambil berujar, “nihhh orang yang ngentt di rumah orang. Aduin apa gimana yak.” Ledek Kak Lia sambil tertawa.

Teddy menarik nafas agar menerima keadaan.

Saat asik menyikat suara Kak Lia tak terdengar lagi.

“emmm jam 7 lewat lagi.” Ucap Teddy melirik jam tangannya.

Dia duduk untuk beristirahat.

“HEH ENAK LO DUDUK.” Teriak Kak Lia yang muncul dari pintu.

Sejenak Teddy mengambil sikat kembali dan lanjut.

Suara Kak Lia tak terdengar, Teddy coba menoleh kebelakang arah pintu tapi Kak Lia masih berdiri disana. Teddy kaget, pandangan Teddy seketika turun ke arah dada Kak Lia. Dimana Kak Lia yang memakai kemeja hitam panjang terbuka kancingnya 3 memperlihatkan gundukan toketnya sedikit.

“HEH!! LIAT APA LO? HA?SANGE? NGACENG?” tutur Kak Lia dengan melipat tangannya.

“eng..ga ka…” Teddy tampak gugup dan melanjutkan aktivitas nya.

Beberapa menit kemudian Teddy pikir Kak Lia sudah tak ada, dia menoleh lagi kearah pintu dan sangat kaget melihat Kak Lia yang hanya memakai bra krem dengan bawahan masih rok.

Teddy menelan ludah melihat ukuran tokett kak Lia yang gede.

“KENAPA?NGACENG?” Kak Lia bersikap sinis.

Teddy tak menjawab hanya membuang muka kembali.

“yaudah kalo gak ngaceng, gue tutup lagi.” Tutur Kak Lia yang membuat Teddy menoleh kembali.

“jangan ka.” tutur Teddy, Kak Lia yang memegang kemejanya berkata, “kenapa?”

“Terserah deh ka gue nyikat wc sampe jam berapa. Tapi boleh gak gue nyikat nya sambil ngeliat ke arah Kaka.” Teddy berkata sambil berjongkok dengan pedenya.

Ka lia tak menjawab hanya menyenderkan badannya ke pintu dan membuang kemejanya kebawah.

Teddy lanjut menyikat sambil melihat Kak Lia yang memakai bh, beberapa kali tampak Teddy gelisah dan menelan ludah. Dan tak terasa kontol Teddy ngaceng membuatnya resah, karena kepala kontolnya keluar dari sempaknya. Dia pun membenarkan sempaknya agar posisi kontolnya tak terlihat.

“Udah?udah ngaceng?ha?” Kak Lia berujar dengan wajah serius.

Teddy tak menjawab dan memilih menunduk sambil tetap menyikat.

Tiba tiba Kak Lia masuk kamar mandi dan “berdiri Lo!”

Teddy berdiri perlahan.

Ka Lia memandangi wajah Teddy sambil tangannya masuk kedalam sempak Teddy meremas kntol Teddy.

“Kaaa.” Lenguh Teddy.

“diem.” Ucap Kak Lia.

( mainkan game cuan di https://wajahtoto.me )

Teddy berinisiatif mendekatkan tangannya ke toket kanan Kak Lia yang masih terbungkus bra.

(Ka Lia tingginya mungkin 165 cm, dengan body-nya seperti artis boyen tapi kulit Kak Lia putih.)

“heh mau ngapain lo?” suara Kak Lia mengangetkan Teddy dan menarik tangannya menjauh.

“maaf ka.” Teddy menatap keatas kontolnya masih digenggam dan dikocok oleh Kak Lia.

“kalo mau megang, ngomong d**g.” Ujar Kak Lia dengan wajah datarnya.

Teddy menatap wajah ka Lia, dan “kaaa aku boleh membuka bra Kaka gak dan memainkan tangan ku di p******a Kaka?” Teddy berkata sopan sambil tersenyum.

“emmm boleh gak ya? Emmm boleh deh.” Balas ka lia.

Teddy pun langsung membuka bh kak lia dari belakang dan sepasang t***t berukuran 36 b dengan p****g coklat yang gede terlihat.

Teddy meremas dan memainkan p****g ka Lia dengan pelan sekali.

Tarikan nafas ka Lia dalam sekali dan panjang.

“kenapa ka? Sange?” tanya Teddy balik menggoda.

Ka Lia diamm dan terus mengocok k****l Teddy dengan tangan yang lain.

“aku boleh mengisap p****g Kaka gak?” tanya Teddy kembali.

“ehhmmm bo..Leh” suara ka Lia pelan dan terserak, nafasnya juga sudah terdengar tak beraturan.

Teddy memilin p****g kak lia dengan lembut dan melirik ke wajah ka lia. Ka Lia masih dengan muka datarnya dan menurunkan sempak Teddy tetap mengocok kontolnya.

Saat asik mengisap p****g sebelah kiri sedangkan tangan kanan Teddy memilin p****g kanan kak lia yang Sudah keras sekali. Tangan ka lia tampaak sudah tak mengocok k****l Teddy lagi, “ohhhhhh plisssssss terusssss maininnn tokeeeet gueee deeeee.” Racau ka lia menatap keatas dengan mata tertutup.

Teddy melepaskan, Kak Lia membuka matanya. “ka aku boleh gak buka rok dan cd Kaka terus ma….” Ujar Teddy yang langsung disumpal oleh bibir Kak Lia.

Mereka pun beradu ciuman, “sleerprpp ….slerrppppp.” tampak Teddy melumat bibir ka lia dengan buas sambil tangan membuka rok ka Lia dan diloloskan kebawah.

Ka Lia juga menjamah kntol Teddy sambil mengocoknya.

Teddy melepaskan bibirnya, “jangaann dikocok muluuu kaa nanti cepeet keluar.” Lalu Teddy menunduk dan membuka CD ka Lia.

Terlihat mmek ka Lia dengan bulu kemaluan yang rimbun.

Ka Lia mendorong kepala Teddy ke memeknya. Teddy lalu menjilati mmek ka Lia, “ohhhhhhhh uhhhhhhhhh …..”

“eiimmmmmmm.. ohhh… Jilat… Terusss….. Sayang…….” Teriak Kak Lia yang tak kuat klitorisnya dijilat Teddy.

Teddy melepaskan dan memasukkan dua jarinya ke memek ka Lia lalu dikocok cepet.

“deeeee….. Emphhh……..ka…kaa….ohhhhh…”

Tiba tiba cairan keluar dari memek Kak Lia mengenai wajah Teddy.

“Banyak banget ka ngencritnyaaa.”

Ka Lia yang berkeringat pun menarik badan Teddy keatas dan menyepong kntol Teddy dengan cepett…

“Mannnteeppp ka…..”

“Slurppppp….. Slurp……….” suara mulut Kak Lia mengocok kontol Teddy dan menjilat dengan lidahnya .

“plukkk….. Slurrppppp..” Kak Lia masih mengulum kontol Teddy

Beberapa saat kemudian. Teddy juga menyemburkan spermanya.

Ka Lia menengok keluar seperti melihat sesuatu.

“Kenapa ka?” tanya Teddy yang ingin memakai sempaknya.

“Jangan dipake dulu, ayo kekamar masih jam 8 lewat.” Ka Lia mengambil pakaiannya dan menggandeng tangan Teddy ke kamarnya.

…….

Mereka pun lanjut satu ronde lagi dan duduk disofa kembali menunggu Pak Syukur dan Fikri kembali. Tapi yang kembali hanya Fiki aja.

“mana pak syukur?” tanya kakanya.

“gabisa ka, katanya mau keluar kota malem ini.” Jawab Fikri yang duduk disamping Teddy.

“yaudah, lo pulang deh! Gue eneg ngeliat muka lo.” Timpal Kak Lia kembali ngomel ke Teddy.

Teddy dengan wajah menunduk salim dan minta maaf atas perbuatannya dengan Ani.

Lalu memacu motor satrianya meninggalkan rumah fiki.

Begitulah ending cerita yang sangat mind blowing kan, cerita yang sangat amat membuat kepala bingung dan makin menjadi-jadi dari narasumber CeritaNakal kali ini.

Address

Bali
Denpasar

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cerita Malam Wajib Plus 21 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share