09/06/2026
Viralll.. Ditinggal Wafat Kedua Orang Tua, Remaja ini Jualan Kerupuk Sambil Sekolah Demi Nafkahi 4 Adiknya
Sejak hari itu, hidup Nurul berubah selamanya. Di usia 16 tahun, saat teman-temannya sibuk mengejar mimpi dan tertawa bersama keluarga, Nurul justru belajar menjadi orang dewasa terlalu cepat. Ayah dan ibunya telah pergi, meninggalkan pesan terakhir yang kini menjadi beban sekaligus kekuatan dalam hidupnya,
“Jaga adik-adikmu, Nurul…”
Rumah kecil mereka kini terasa sepi, namun sekaligus penuh tanggung jawab. Lima adik yang masih kecil menggantungkan hidup pada Nurul. Dua di antaranya hidup dalam kegelapan. Yang satu tak pernah melihat dunia sejak kecil karena sakit, yang satu lagi kehilangan penglihatan akibat kecelakaan. Setiap hari, mereka hanya bisa menggenggam tangan kakaknya, berharap Nurul selalu ada, selalu kuat.
Pagi hari, Nurul mengenakan seragam sekolah yang mulai pudar warnanya. Ia berangkat dengan perut kosong dan hati penuh kecemasan. Ia tahu, sekolah adalah satu-satunya harapan agar hidup mereka kelak berubah. Namun setiap kali bel berbunyi, pikirannya tetap tertinggal di rumah, memikirkan apakah adik-adiknya sudah makan, atau masih menahan lapar.
Sepulang sekolah, tanpa sempat menarik napas panjang, Nurul mengganti tasnya dengan kerupuk dagangan. Ia berjalan berkeliling, menahan lelah dan panas, berharap ada yang membeli. Jika hari itu ramai, ia bisa membawa pulang dua lembar uang sepuluh ribu. Jika sepi, lima ribu rupiah pun terasa seperti rezeki besar. Uang sekecil itu harus cukup untuk makan, kebutuhan rumah, dan keperluan sekolah adik-adiknya.
Malam hari sering menjadi waktu paling berat. Saat nasi hanya cukup dicampur singkong rebus, Nurul menunduk menahan air mata. Adik-adiknya makan sambil tersenyum, berkata mereka sudah kenyang. Senyum kecil itu justru membuat hati Nurul hancur. Banyak maaf yang ingin ia ucapkan, karena belum mampu memberi lebih, namun ia simpan semua tangisnya sendiri.
Di balik wajah yang selalu berusaha tegar, Nurul menyimpan doa yang tak pernah putus. Ia ingin sekolah setinggi mungkin, ingin suatu hari bisa memberi adik-adiknya makanan yang layak, pakaian yang pantas, dan masa depan yang tak penuh kekurangan. Doa itu sering ia bisikkan dalam sunyi, sambil menahan sesak di dada.
Saat rindu dan lelah tak lagi bisa ditahan, Nurul mendatangi makam ibunya. Ia duduk diam, berbicara pelan seolah ibunya masih bisa mendengar.
“Nurul capek, Bu… tapi Nurul enggak boleh menyerah. Adik-adik cuma punya Nurul,”
ucapnya dengan suara gemetar.
Hari-hari Nurul adalah perjuangan tanpa jeda. Seorang remaja yang memikul beban terlalu besar untuk usianya. Berdiri sendiri, mempertaruhkan mimpi dan masa depan demi lima adik yang ia cintai sepenuh hati.
Ia tidak meminta banyak, hanya berharap ada tangan yang mau membantu, agar ia dan adik-adiknya tak harus terus bertahan dalam gelap dan kekurangan.