26/08/2024
Bab 2
“Asma, ini rumahku dan kita akan tinggal di sini sekarang,” ucap Arsen pada sang istri.
Setelah Melinda meninggal, Arsen memutuskan untuk membawa istrinya pindah ke rumahnya sendiri yang lebih besar. Dan ia membiarkan rumah peninggalan kedua orangtuanya kosong. Namun, ia tetap membayar seseorang untuk mengurus rumah itu agar tetap terawat.
Arsen tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan karena meninggalnya sang mama tercinta. Hingga akhirnya, ia pun memutuskan untuk membawa istri dan juga asisten rumah tangganya. Dan Mbok Ju adalah asisten rumah tangga yang sudah bertahun-tahun mengabdi pada keluarganya. Karena itu, Arsen juga memboyong wanita paruh baya itu untuk tinggal bersamanya.
“Rumah ini memiliki empat kamar. Dua kamar di lantai bawah dan dua kamar di lantai atas. Kamu bisa memilih salah satu kamar yang kamu s**a untuk menjadi kamarmu,” tambahnya lagi dan Asma mengangguk.
“Iya Mas,” jawabnya dengan menunduk. Lalu ia pun mulai melangkahkan kakinya untuk memilih kamar seperti yang suaminya katakan. Namun baru dua langkah, suaminya kembali memanggilnya.
“Asma,” panggilannya dan Asma pun menoleh.
“Iya Mas?”
“Aku belum bisa mencintaimu! Tapi aku akan berusaha mencintaimu, hanya saja aku butuh waktu,” kata Arsen dengan jujur, “kamu tahu kan, kita menikah tanpa saling mengenal satu sama lain? Jadi, ku harap kamu tidak tersinggung karena kita tidur di kamar yang berbeda.”
“Iya Mas,” jawabnya singkat. Jawaban yang kadang membuat Arsen kesal. Bagaimana tidak? Ia bicara panjang lebar namun istrinya itu hanya menanggapi dengan dua kata.
“Baiklah, sekarang kamu pilihlah kamarmu.”
“Aku pilih kamar di lantai bawah saja, Mas,” balasnya masih dengan menundukkan kepala.
Apa aku terlihat begitu garang sampai menatapku saja dia tidak berani? Arsen bergumam.
“Baiklah. Kamar yang di depan adalah kamar utama. Berarti itu kamarmu dan kamar di belakang adalah kamar Mbok Ju.”
“Iya Mas.”
“Meskipun kita tidur di kamar yang berbeda, tetapi aku akan tetap memberimu nafkah lahir dan batin. Aku akan mendatangimu saat aku akan memberikan nafkah batin untukmu,” ucapan Arsen berhasil membuat Asma melayang. Namun, dia hanya mengangguk malu.
Setelah Arsen tak lagi bicara, Asma pun segera memasuki kamar utama yang ada di lantai bawah yang telah ia pilih untuk menjadi kamarnya.
Sedangkan Arsen melangkahkan kakinya menuju kamar atas yang akan ia tempati sebagai kamarnya. Sebenarnya Arsen bisa saja meminta Asma untuk tidur di kamar atas yang berdekatan dengan kamarnya agar ia tidak kejauhan menuju kamar Asma saat ia ingin mendatanginya. Akan tetapi, ia tidak mau memaksakan kehendaknya dan ia mebiarkan Asma untuk memilih pilihannya sendiri. Sedangkan kamar atas yang masih kosong akan Arsen gunakan untuk ruang kerjanya.
Meskipun sikap Arsen dingin terhadap istrinya tetapi ia tidak pernah berkata kasar padanya. Sedari kecil Melinda selalu mendidiknya dengan baik. Maka dari itu, Arsen tidak pernah berkata kasar apa lagi berbuat kasar pada seorang wanita sekalipun ia sedang marah.
Hari-hari sepesang pengantin baru itu menghabiskan waktunya dengan kesibukkan masing-masing. Arsen sibuk dengan pekerjaannya sebagai pemilik perusahaan. Sedangkan Asma sibuk dengan pekerjaannya sendiri sebagai seorang pengajar.
Walau sudah satu bulan menikahi Asma, nyatanya Arsen belum juga mendatanginya untuk memberikan nafkah batin. Arsen masih belum menginginkanya, terlebih Asma pun tidak pernah melayangkan protes kepadanya.
Tokk ... tokkkk
“Mas sarapan sudah siap,” ucap Asma dari balik pintu.
Ketukan pintu dan suara lembutnya menyadarkan Arsen dari lamunan. Seperti biasa Asma mengingatkan suaminya untuk segera sarapan setelah selesai bersiap mengenakan pakaian kantor.
Arsen pun segera turun menuju meja makan di mana Asma sudah menunggunya di sana.
Setelah sampai di meja makan, Arsen duduk di bangku yang biasa ia duduki dan seperti biasa Asma pun segera melayani suaminya dengan baik. Asma dengan cekatan mengambilkan nasi beserta lauknya ke dalam piring suaminya. Lalu setelah piringnya terisi lengkap dengan semua menu, ia pun segera mengisi piringnya sendiri. Dan seperti biasa, mereka makan dalam diam tanpa obrolan hangat.
Dalam diamnya Arsen sesekali mencuri pandang dan menelisik penampilan istrinya. Wajahnya terlihat lumayan dengan balutan seragam PDH berwarna khaki. Badannya terlihat bagus saat memakai pakaian yang ngepas di badan dan itu membuat lek√k tub√hnya sedikit terlihat. Namun, jilbab yang menutupi dada membuat Arsen tak bisa melihat ukuran da da nya.
“Asma berapa nomor rek3n1ngmu?” tanya Arsen setelah selesai sarapan. Asma mendongak menatap wajah suaminya lalu menyebutkan lima belas digit nomor r3k3n1ng miliknya.
“Aku sudah transfer dua puluh juta di r3k3n1ngmV untuk kebutuhan rumah ini juga kebutuhan pribadimu. Jika ada yang kurang bilang saja tak usah sungkan.” katanya tanpa menatap sang istri.
“Iya Mas, terima kasih,” sahut Asma dengan lembut.
“Aku berangkat!”
“Hati-hati, Mas."
Seperti biasa sebelum Arsen benar-benar meninggalkan rumah, ia membunyikan klakson pada Asma tanda ia berpamit dan Asma pun mengangguk sambil mengulas senyum. Meskipun Arsen tak pernah membalas senyumannya.
***
Setelah pulang dari kantor Arsen menuju sebuah Mall untuk membeli parfum dan keperluan yang pribadi lainnya. Akan tetapi, saat ia melewati toko yang menjual pakaian wanita pandangannya langsung tertuju pada ling eri se k si yang terpajang rapi di sana dan entah mengapa rasanya ia ingin sekali membelinya untuk sang istri. Namun, setelah memilih, ia malah menjadi ragu mengingat istrinya yang tidak pernah memakai pakaian se k si.
Apa dia mau memakainya? Batinnya ragu.
“Mau yang mana, Pak?” tanya salah satu pegawai toko membuyarkan lamunan Arsen.
“Tolong pilihkan ukuran untuk wanita yang badannya perawakannya besar tinggi,” pintanya pada pelayan toko karena memang ia tidak tahu berapa ukuran baju yang pas untuk wanita yang bergelar istrinya.
Dia hanya tahu badannya besar tinggi tetapi ia tidak tahu pasti berapa ukurannya. Kata temannya ia beruntung memiliki istri seperti Asma dan cocok dengan dirinyanya yang juga memiliki perawakan besar dan tinggi. Akan tetapi, sayangnya Arsen tidak merasa begitu.
“Berapa tinggi badan dan berat badannya, Pak” tanya pegawai toko itu.
“Tinggi badannya sekitar 170 cm dan berat idealnya sekitar 57 kg.”
“Em, baiklah tunggu sebentar!” ucap pelayan toko itu lalu segera mengambil beberapa model baju se k si dan segera membawanya untuk diperlihatkan pada Arsen.
“Ini Pak. Semuanya cantik-cantik dan bahannya juga sangat nyaman bila dipakai. Pasti dijamin ini sangat cocok untuk istri Bapak dan istri Bapak pasti s**a. Apalagi jika suami yang membelikannya,” ucapnya lagi dengan ramah dan panjang lebar namun Arsen tak terlalu menanggapinya.
Arsen mengambil tiga lembar baju se k si yang disodorkan pelayan toko itu lalu Arsen memilihnya mulai dari model yang paling se k si, sedang dan yang lebih panjang agar Asma bisa memilih sendiri model yang ia mau andai ia mau memakainya.
Setelahnya Arsen langsung membayarnya dan ia pun segera membeli barang kebutuhannya sendiri. Lalu ia segera menuju ke tempat biasa yang sering ia kunjungi. Dan setelah semua barang sudah berada di tangan, ia pun segera membayar dan pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, seperti biasa Asma menyambutnya dengan penampilan seadanya seperti biasa. Ia mengenakan pakaian serba longgar dan lengkap dengan jilbab instan yang menjuntai menutupi bagian da da nya.
“Mas mau makan dulu atau mandi dulu biar aku siapkan?” tanyanya dengan lembut setelah mencium punggung tangan milik suaminya.
“Aku mau mandi dulu,” jawabnya lalu ia pun segera pergi menuju kamar. Asma segera menyusul suaminya untuk menyiapkan baju ganti.
Setelah selesai menyiapkan semua keperluan suaminya, ia segera melangkah kaki meninggalkan kamar. Namun, sebelum ia sampai pintu, Arsen menghentikan langkahnya.
“Asma!”
“Iya Mas!”
“Malam ini aku akan tidur di kamarmu,” ucapnya seketika membuat jantung Asma hampir melompat dari tempatnya.
“Siapkan dirimu dan aku mau kamu memakai ini!” Arsen mengulurkan paper bag yang berisi ling eri. Arsen sengaja memberinya yang paling se k si karena Arsen ingin tahu bagaimana reaksi istrinya dan jika Asma menolak ia pun tak akan memaksanya.
“Iya Mas,” sahutnya lalu mengambil paperbag dari suaminya.
Dalam hati Asma pun membatin. “Duh, gimana ini?” pikirannya tak tenang. Asma takut rahasianya terbongkar.
Bersambung...
Judul : Wanita Pilihan Mama
Penulis : Yuliana
Baca di KBM app