02/04/2026
Pernah kebayang nggak, kalau di bawah Laut Jawa sebenarnya tersembunyi potongan dunia yang hilang?
Ribuan hingga puluhan ribu tahun lalu, wilayah ini bukan laut, melainkan bagian dari daratan luas yang disebut Sundaland. Pada masa zaman es terakhir (sekitar 20.000 tahun lalu), permukaan laut bisa lebih rendah hingga ±120 meter dibanding sekarang. Artinya, pulau-pulau seperti Jawa, Sumatra, dan Kalimantan terhubung langsung dengan daratan Asia, membentuk satu wilayah besar yang dipenuhi hutan tropis, sungai, dan kehidupan liar. Ketika iklim bumi menghangat, es di kutub mencair secara bertahap. Proses ini menyebabkan kenaikan permukaan laut yang cukup cepat dalam skala geologi, menenggelamkan Sundaland sedikit demi sedikit hingga akhirnya menjadi laut yang kita kenal sekarang, termasuk Laut Jawa.
Bukti dari masa lalu ini bukan sekadar teori karna ditemukan fosil hewan darat seperti gajah purba dan badak di dasar laut dan wilayah pesisir, ditemukan alat batu yang menunjukkan aktivitas manusia purba, studi geologi dan batimetri menunjukkan adanya lembah sungai purba yang kini berada di bawah laut. Semua ini menguatkan bahwa wilayah tersebut dulunya memang dihuni, meskipun oleh manusia prasejarah, bukan peradaban maju.
Lalu kenapa sering dikaitkan dengan Atlantis? Kisah Atlantis berasal dari tulisan Plato, yang menggambarkan sebuah peradaban besar yang tenggelam dalam satu bencana. Beberapa ilmuwan seperti Stephen Oppenheimer berpendapat bahwa kisah tersebut mungkin terinspirasi dari kejadian nyata seperti naiknya permukaan laut di Sundaland yang memaksa manusia bermigrasi dan meninggalkan tanah leluhur mereka. Ditambah lagi, wilayah Indonesia memang punya sejarah bencana besar. Salah satu yang paling ekstrem adalah Letusan Gunung Toba, yang diperkirakan berdampak global terhadap iklim dan populasi manusia saat itu.
Namun penting untuk diingat, hingga sekarang belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan adanya kota maju atau peradaban setara Atlantis di bawah Laut Jawa. Temuan yang ada lebih mendukung keberadaan manusia purba dan ekosistem kuno, bukan peradaban teknologi tinggi.