24/08/2026
Di saat anak-anak lain dibangunkan oleh pelukan hangat kasih sayang orang tuanya, Marna kecil terbangun oleh tetesan air hujan yang jatuh tepat di wajahnya.
Atap tua rumah kakeknya tak lagi mampu menahan derasnya hujan di pagi buta itu.
Dengan tas lusuh berisi buku seadanya dan sebotol air putih sebagai bekal, ia melangkahkan kaki kecilnya menelusuri jalan kampung yang becek dan sepi menuju sekolah.
Di setiap fajar yang sunyi, di setiap langkah yang dingin itu, air matanya sering jatuh tanpa suara. Bukan karena lelah, tapi karena rindu... rindu yang begitu dalam kepada kedua orang tuanya yang telah tiada.
Marna bukanlah anak yang kuat.
Tapi ia tahu, ia tidak boleh berhenti.
Ia terus berjuang dalam doa-doa lirihnya, dalam setiap langkah kecilnya yang penuh luka, demi satu cita-cita sederhana yang ia genggam erat: ingin menjadi seorang guru, dan ingin melihat satu hal saja di dunia ini... senyum bahagia dari kakek tercintanya.