13/06/2025
"Sepotong Senja di Taman Kota"
Di sebuah kota kecil yang tak pernah benar-benar sunyi, tinggal seorang pemuda bernama Raka. Ia seorang fotografer jalanan yang gemar mengabadikan momen-momen sederhana—seorang anak kecil yang tertawa, pasangan tua yang bergandengan tangan, atau burung merpati yang terbang di antara bangku taman.
Suatu sore, saat matahari hendak p**ang dan langit memerah keemasan, Raka duduk di bangku taman kota seperti biasanya. Kamera tergantung di leher, matanya mencari-cari subjek yang menarik. Saat itulah ia melihat seseorang yang tak biasa.
Gadis itu duduk di bangku sebelah, membaca buku dengan tenang. Rambutnya tergerai lembut, terkena sinar senja yang membuatnya tampak seperti lukisan. Raka, tanpa sadar, mengangkat kameranya dan membidik. Tapi sebelum sempat menekan tombol, gadis itu menoleh dan tersenyum. "Kalau mau ambil gambar, setidaknya bilang dulu," katanya lembut.
Raka gugup. "Maaf, aku... terbiasa memotret diam-diam. Tapi kamu terlihat... seperti bagian dari senja itu sendiri."
Gadis itu tertawa pelan. Namanya Lira. Sejak hari itu, mereka sering bertemu di taman. Kadang mengobrol, kadang hanya diam menikmati sore bersama. Raka mulai jatuh cinta—bukan pada gadis yang sempurna, tapi pada cara Lira membuat waktu terasa lebih lambat dan hangat.
Namun suatu hari, Lira tak datang. Juga esoknya. Dan minggu-minggu berikutnya. Raka menunggu di bangku yang sama, setiap senja, dengan kamera yang tak lagi digunakan.
Beberapa bulan kemudian, saat hujan turun ringan, sebuah surat datang ke alamat email Raka—dari Lira.
"Maaf aku pergi tanpa pamit. Aku harus kembali ke negara tempat aku dirawat. Penyakitku kambuh, dan aku tak ingin kau melihatku melemah. Tapi percayalah, senja-senja yang kita lewati akan selalu jadi lukisan terindah dalam hidupku. Jangan berhenti memotret, Raka. Dunia perlu tahu bahwa cinta bisa sesederhana duduk berdua tanpa berkata-kata."
Raka menangis sore itu. Tapi sejak hari itu p**a, setiap senja, ia kembali memotret. Dan di setiap hasil jepretannya, selalu ada ruang kosong di sebelah kiri—tempat di mana Lira dulu duduk.