04/12/2025
Empat Pemburu Harta
Bab 11
Arthur Conan Doyle
Polisi tadi datang membawa kereta, dan dengan menggunakan kereta inilah aku mengantar Miss Morstan p**ang ke rumahnya. Sesuai sifat mulia wanita, ia menghadapi masalah ini dengan ekspresi tenang, selama masih ada orang lain yang lebih lemah daripada dirinya yang harus dihibur, dan aku mendapatinya bersikap cerah dan tenang di samping pengurus rumah yang ketakutan. Tapi di kereta ia mula-mula berubah pucat pasi, lalu terisak-isak hebat—begitu menyakitkan ujian yang dihadapinya selama petualangan di malam hari ini. Kelak ia memberitahuku bahwa sepanjang perjalanan malam itu, ia merasa aku bersikap dingin dan menjauh. Ia tak bakal bisa menebak kebingungan dalam diriku, atau usaha menahan diri yang mencegahku. Aku bersimpati dan jatuh cinta kepadanya, bahkan sewaktu kami berpegangan tangan di kebun. Aku merasa bahwa pengenalan bertahun-tahun dengan cara konvensional tidak akan bisa mengajariku betapa manis dan beraninya wanita ini, sebagaimana pengalaman-pengalaman aneh yang kami alami sekarang.
Sekalipun begitu, ada dua pemikiran yang mencegah terlontarnya kata-kata penuh perasaan dari bibirku. Ia sedang dalam keadaan lemah dan tak berdaya, terguncang benak dan sarafnya. Menyodorkan cinta dalam keadaannya sekarang jelas merupakan pengambilan kesempatan dalam kesempitan. Yang lebih buruk lagi, ia kaya. Kalau penyelidikan Holmes berhasil, ia akan menjadi jutawan. Apa adil, apa terhormat, bagi seorang ahli bedah dengan gaji minim untuk mengambil keintiman menguntungkan yang bisa diraihnya dari kesempatan ini? Apa tak mungkin ia akan menganggapku sekadar mengejar harta? Aku tidak berani mengambil risiko ia jadi punya pemikiran seperti itu. Harta karun Agra ini turut campur bagaikan sebuah penghalang yang tak tertembus di antara kami.
Hampir jam dua sewaktu kami tiba di rumah Mrs. Cecil Forrester. Para pelayan telah tidur berjam-jam yang lalu, tapi Mrs. Forrester begitu tertarik oleh surat aneh yang diterima Miss Morstan, sehingga ia masih terjaga menunggu kep**angan Miss Morstan. Ia sendiri yang membukakan pintu, seorang wanita setengah baya yang anggun, dan aku sangat senang melihat betapa ia memeluk pinggang Miss Morstan dengan lembut, dan betapa keibuan suaranya saat menyambut.
Jelas Miss Morstan lebih dari sekadar karyawan, tapi juga teman yang dihormati. Aku diperkenalkan, dan Mrs. Forrester dengan tulus memintaku mampir dan menceritakan petualangan kami kepadanya. Tapi kujelaskan akan pentingnya tugasku, dan berjanji untuk melaporkan perkembangan apa pun yang mungkin kami raih dalam kasus ini. Saat melaju pergi aku berpaling, dan aku masih melihat keduanya di tangga—kedua sosok yang anggun dan saling memeluk tersebut, pintu yang separuh terbuka, cahaya dari ruang dalam menerobos kaca jendela mosaik, barometernya, tangga. Pemandangan rumah Inggris yang tenang benar-benar menenangkan di tengah-tengah urusan liar dan gelap yang tengah meliputi kami.
Dan semakin kupikirkan apa yang terjadi, semakin rumit kasusnya. Kupikirkan kembali seluruh rangkaian kejadian luar biasa saat melaju melewati jalan-jalan yang sunyi dan diterangi lampu-lampu gas. Masalah awal itu, paling tidak, sekarang sudah cukup jelas. Kematian Kapten Morstan, pengiriman mutiara-mutiaranya, iklannya, suratnya—kami sudah memahami seluruhnya dengan jelas. Tapi semua itu hanya membawa kami menghadapi misteri yang jauh lebih dalam dan lebih tragis. Harta karun India, rancangan yang ditemukan di antara barang-barang Morstan, adegan aneh saat kematian Mayor Sholto, penemuan kembali hartanya yang segera diikuti pembunuhan terhadap penemunya, keanehan kejahatan ini, jejak-jejak kakinya, senjata yang luar biasa, tulisan di kertas, yang sesuai dengan peta milik Kapten Morstan—ini benar-benar sebuah labirin, dan orang yang tidak sehebat temanku pasti sudah putus asa untuk menemukan petunjuk-petunjuknya.
Pinchin Lane merupakan sederetan rumah bata dua tingkat yang kumuh di kawasan bawah Lambeth. Aku harus mengetuk beberapa lama di rumah No. 3 sebelum berhasil menarik perhatian. Tapi akhirnya tampak cahaya lilin dari balik tirai, dan seseorang memandang ke luar dari jendela atas.
”Pergi, pemabuk,” katanya. ”Kalau kau membuat keributan lagi, akan kubuka kandangnya, agar kau diserang empat puluh tiga ekor anjing.”
”Kalau kau mau mengeluarkan satu ekor saja, aku memang datang untuk itu,” kataku.
”Pergi!” teriaknya. ”Aku membawa ular dalam kantong ini, dan akan kujatuhkan ke kepalamu kalau kau tidak minggat!”
”Tapi aku mau mengambil anjing,” seruku.
”Aku tidak mau berdebat!” teriak Mr. Sherman. ”Sekarang mundur, kalau tidak, begitu kuhitung ’tiga’ akan kujatuhkan ularnya.”
”Mr. Sherlock Holmes...” Betapa ajaibnya kata-kata tersebut, karena jendelanya seketika dibanting menutup, dan semenit kemudian pintunya telah terbuka lebar. Mr. Sherman seorang pria tua yang kurus, dengan bahu bungkuk, leher kurus panjang, dan berkacamata kebiruan.
”Teman Mr. Sherlock selalu diterima,” katanya. ”Masuklah, Sir. Hati-hati dengan anjingnya, dia menggigit. Ah, nakal, nakal, apa kau mau menggigit tuan ini?” Ia mengatakan itu pada seekor anjing yang menjulurkan kepala dan matanya yang merah ke sela-sela jeruji kandangnya. ”Jangan pedulikan, Sir, dia hanya seekor cacing yang lamban. Tidak ada taringnya, jadi kubiarkan dia berkeliaran bebas untuk mengurangi gangguan kutu. Harap jangan tersinggung dengan sikapku tadi, karena aku sering diganggu anak-anak kecil, dan banyak yang datang kemari hanya untuk mengetuk pintuku. Apa yang diinginkan Mr. Sherlock Holmes, Sir?”
”Dia menginginkan salah satu anjingmu.”
”Ah! Pasti Toby.”
”Ya, Toby namanya.”
”Toby tinggal di No. 7, sebelah kiri tempat ini.”
Ia melangkah maju perlahan-lahan, sambil membawa lilin di antara berbagai jenis hewan yang dikumpulkannya. Dalam cahaya remang-remang, aku bisa melihat ada mata-mata tengah memandang kami dari setiap sudut dan ceruk. Bahkan balok penopang di atas kepala kami dipenuhi jajaran unggas, yang dengan malas memindahkan berat tubuh mereka dari satu kaki ke kaki yang lain, karena tidur mereka terganggu suara-suara kami.
Toby ternyata seekor makhluk jelek berbulu panjang, dengan telinga menjuntai, campuran spaniel dan anjing kampung, berwarna cokelat dan putih, dengan langkah sangat ceroboh dan terhuyung-huyung. Setelah ragu-ragu sejenak, ia menerima sebongkah gula yang kudapat dari pencinta hewan tua tersebut. Dan setelah mendapatkan kepercayaan Toby, hewan tersebut mengikutiku ke kereta dan dengan senang hati menemaniku. Jam Istana baru berdentang tiga kali saat aku kembali ke Pondicherry Lodge. McMurdo, si mantan petinju bayaran, telah ditangkap atas tuduhan membantu melakukan kejahatan, dan baik ia maupun Mr. Sholto telah dibawa ke kantor polisi. Dua orang petugas sekarang menjaga gerbangnya yang sempit, tapi mereka mengizinkan aku masuk membawa anjing begitu kusebutkan nama Holmes. Holmes tengah berdiri di tangga pintu, dengan tangan di dalam saku, mengisap p**anya.
”Ah, kau membawanya!” katanya. ”Anjing yang baik! Athelney Jones sudah pergi. Di sini ada pameran kekuasaan yang cukup besar sewaktu kau pergi. Dia bukan saja menangkap Thaddeus, tapi juga penjaga gerbang, pengurus rumah, dan pelayan Indian-nya. Tempat ini kosong, hanya ada seorang sersan di lantai atas. Tinggalkan anjingnya di sini dan ikut aku ke atas.”
Kami mengikat Toby di meja ruang depan dan menaiki tangga. Kamarnya masih tetap sebagaimana sewaktu aku pergi, hanya saja sekarang ada selimut yang menutupi si korban. Seorang sersan polisi yang tampak bosan tengah duduk di sudut.
”Tolong pinjami aku lenteramu, Sersan,” kata temanku. ”Sekarang tolong ikatkan tali ini di leherku, sehingga menjuntai di depanku. Terima kasih. Sekarang aku harus menanggalkan sepatu bot dan kaus kakiku. Tolong bawa turun, Watson. Aku mau memanjat sedikit. Celupkan saputanganku ke dalamcreosote itu. Cukup. Sekarang ikut aku ke atas sebentar.”
Kami memanjat melewati lubang. Holmes mengarahkan lenteranya ke jejak-jejak kaki di debu sekali lagi.
”Tolong perhatikan jejak-jejak ini dengan lebih teliti,” katanya. ”Apa ada hal-hal penting yang kautemukan di sana?”
”Jejak itu,” kataku, ”milik seorang anak atau seorang wanita yang kecil.”
”Selain ukurannya. Apa ada yang lain?”
”Tampaknya sama seperti jejak-jejak kaki lainnya.”
”Sama sekali tidak. Lihat ini! Ini jejak kaki kanan di debu. Sekarang aku akan membuat jejak kakiku sendiri di sampingnya. Apa perbedaan utamanya?”
”Jemarimu semuanya rapat satu sama lain. Jejak yang itu masing-masing jarinya terpisah cukup lebar.”
”Benar. Itu intinya. Ingat itu baik-baik. Sekarang, apa kau tidak keberatan ke pintu atap dan mencium tepi bingkainya? Aku akan tetap di sini, karena aku membawa saputangan ini.”
Aku melakukan permintaannya, dan seketika menyadari bau aspal yang tajam.
”Kakinya menginjak itu saat dia keluar. Kalau kau saja bisa melacaknya, kupikir Toby tidak akan menemui kesulitan untuk itu. Sekarang turunlah ke bawah, lepaskan anjingnya, dan hati-hati terhadap penyusup itu.”
Saat aku keluar di bawah, Sherlock Holmes telah berada di atap, dan aku bisa melihatnya bagai seekor ulat raksasa yang bercahaya, merayap perlahan-lahan di sepanjang tepi atap. Aku tak bisa melihatnya sewaktu ia berada di balik cerobong, tapi kemudian ia muncul dan kembali menghilang di sisi seberang. Sewaktu aku berputar, kulihat ia duduk di salah satu sudut rumah.
”Itu kau, Watson?” serunya.
”Ya.”
”Ini tempatnya. Benda apa yang berwarna hitam di bawah itu?”
”Tong air.”
”Ada tutupnya?”
”Ya.”
”Tidak terlihat ada tangga di sana?”
”Tidak.”
”Benar-benar hebat! Ini tempat yang paling berbahaya. Kurasa aku bisa turun melalui jalur naiknya. P**a airnya mungkin cukup kuat. Pokoknya, ini dia.”
Terdengar kaki-kaki bergeser, dan lenteranya mulai turun dengan mantap di dinding. Lalu dengan loncatan ringan Sherlock Holmes mendarat di tongnya, dan dari sana melompat ke tanah.
”Mudah mengikutinya,” katanya, sambil mengenakan kaus kaki dan sepatu botnya. ”Banyak bata yang kendur di sepanjang jalurnya, dan karena tergesa-gesa dia tanpa sengaja menjatuhkan ini. Ini mengonfirmasi diagnosaku, sebagaimana istilah kalian para dokter.”
Benda yang diacungkan kepadaku adalah sebuah kantong kecil yang dianyam dari rerumputan berwarna-warni, dengan beberapa butir manik-manik diikatkan di sekelilingnya. Bentuk dan ukurannya sangat mirip kotak rokok. Di dalamnya terdapat setengah lusin kayu hitam, tajam di satu ujungnya dan bulat di ujung yang lain, seperti duri yang menancap di Bartholomew Sholto.
”Ini benda-benda jahat,” kata Holmes. ”Hati-hati, jangan sampai tertusuk. Aku gembira menemukannya, karena kemungkinan hanya ini miliknya. Kemungkinan kita menemukan salah satunya menancap di kulit kita sudah berkurang. Aku sendiri lebih s**a berhadapan dengan peluru Martini. Kau siap berjalan sejauh sepuluh kilometer, Watson?”
”Jelas,” jawabku.
”Kakimu mampu bertahan?”
”Oh, ya.”
”Ini dia, doggy Toby tua yang baik! Cium, Toby, cium!” Holmes mengulurkan saputangan yang terendam creosote ke bawah hidung anjing tersebut, sementara makhluk tersebut berdiri dengan kaki terpentang, sambil memiringkan kepala dengan cara sangat lucu, seperti seorang pakar hidangan mengendus anggur terkenal. Holmes lalu melemparkan saputangan tersebut, mengaitkan tali ke kalung anjingnya, dan membawanya ke kaki tong air. Makhluk tersebut seketika menyalak-nyalak dan, dengan hidung menempel ke tanah dan ekor menunjuk ke atas, mengikuti jejaknya dengan kecepatan yang menyebabkan talinya menegang dan kami berlari-lari sekuat tenaga.
Kaki langit timur perlahan-lahan mulai terang, dan sekarang kami bisa melihat lebih jauh dalam keremangan yang dingin. Rumah persegi yang besar, dengan jendela-jendelanya yang hitam dan kosong, dindingnya yang tinggi dan telanjang, menjulang menyedihkan dan terpencil di belakang kami.
Bersambung...