23/05/2025
Di balik megahnya Candi dan kerajaan jawa, ada tanah yang lebih dulu bersinar: inilah TANAH SUNDA. baca sampai selesai agar kita tahu fakta sejarah yang selama ini tersembunyi dan luput di buku-buku sejarah yang di ajarkan di sekolah.
SEJARAH AWAL TANAH SUNDA
Sunda merupakan suku yang ada di Tanah Jawa bagian barat. Dalam naskah-naskah yang selama ini dilacak, telah ditemukan istilah Sunda di Pulau Jawa. Kemunculan suku Sunda kemudian membentuk peradaban kerajaan-kerajaan di Nusantara, yang diawali dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia yakni Kerajaan Salakanagara, Tarumanegara, Galuh, Pakuan Pajajaran, dan Sumedang Larang.
Secara bahasa "Sunda" memiliki arti bagus, baik, bersih dan cemerlang atau bisa diartikan sebagai segala sesuatu yang mengandung kebaikan. Secara historis, ahli ilmu bumi dari bangsa Yunani bernama Ptolemaeus adalah orang pertama yang mengungkapkan bahwa Sunda sebagai nama tempat. Dalam buku karyanya yang terbit sekitar tahun 150 M, ia menyebutkan di daerah India ada tiga daerah yang diberi nama Sunda. Berdasarkan informasi Ptolemaeus inilah, para ahli ilmu bumi Eropa kemudian menggunakan kata Sunda untuk menamai wilayah dan beberapa pulau yang letaknya di sebelah timur India. Hal ini sesuai dengan R, W. van Bemmelen, seorang ahli geologi Belanda menjelaskan Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai suatu daratan bagian barat laut India Timur, sedangkan dataran bagian tenggara dinamai Sahul.
Rouffair (1905: 16) menyatakan istilah Sunda berasal dari pinjaman kata asing yang memiliki kebudayaan Hindu. Kata Sunda berasal dari kata Sund atau Suddha dalam bahasa Sanskelta mempunyai pengertian bersinar, terang, putih, dan bersih. Sedangkan dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali terdapat juga kata Sunda memilikî makna bersih, suci, murni, tak tercela, air, tumpukan, pangkat dan waspada.
Menurut Gonda (1973) pada mulanya kata Sud-dha dalam bahasa Sanskerta digunakan untuk menyebut sebuah gunung yang menjulang tinggi di bagian barat Pulau Jawa, dari jauh tampak putih bercahaya karena tertutup oleh asap putih yang berasal dari letusan Gunung Tangkuban Parahu. Kemudian nama tersebut diterapkan pada wilayah Pulau Jawa bagian barat. Gonda menegaskan istilah Sunda wilayah barat Pulau Jawa terinspirasi oleh nama kota dan atau kerajaan di India yang terletak di pesisir barat India antara kota pelabuhan Goa dan Karwar. Selanjutnya Sunda dijadikan nama kerajaan di bagian barat Pulau Jawa yang ibu kotanya berada di Pakuan Pajajaran (sekarang berada di daerah Bogor). Kerajaan Sunda ini telah diketahui berdiri pada abad ke-7 M dan berakhir pada tahun 1579 M.
Dari zaman dahulu, orang Sunda diyakini memiliki etos Kasundan sebagai jalan menuju hakikat hidup. Etos Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), Singer (terampil), dan Pinter (pandai) sudah ada sejak Kerajaan Salakanegara tahun 150 hingga ke Sumedang Larang abad ke-17 M, Suku Sunda tidak seperti suku kebanyakan Iainnya, suku Sunda tidak memiliki tentang penciptanya atau kepercayaan yang menjelaskan asal mula suku ini. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kedatangan mereka dan cikal bakal keturunannya.
Namun pada abad awal masehi, ada kelompok kecil suku Sunda berjalan menjelajahi hutan-hutan pegunungan dan melakukan tebang pohon. Daerah itu kemudian dijadikan tempat tinggal bagi kelompoknya. Mitos yang paling awal mengatakan orang Sunda bekerja sebagai penggarap ladang daripada petani padi.
Hidup berada di tengah-tengah hutan, akhirnya mereka memiliki kepercayaan yang membentuk fondasi yang sekarang disebut sebagai agama asli orang Sunda. Meskipun tidak dapat diketahui seperti apa kepercayaan tersebut, tetapi petunjuk terbaik yakni dengan ditemukan puisi-puisi epik Sunda (wawacan) dan suku Badui yang berada di daerah terpencil. Walau keberadaan suku Badui minoritas, mereka mampu bertahan dan merawat budaya nenek moyang hingga sekarang. Orang Badui menyebut agamanya sebagai Sunda Wiwitan (orang Sunda yang paling awal). Bukan hanya orang Badui Yang tidak memeluk agama Islam, tetapi suku Sunda kebanyakan telah memperlihatkan karakteristik budaya Hindu sedikit sekali. Jika mengutip dari bahasa Sanskerta, Hindu memiliki hubungan dekat dengan mitos dan nenek moyang. Seperti monografnya antropolog berkebangsaan Belanda, Robert Wessing mengungkapkan bahwa suku Sunda secara umum adalah "The Indian belief system did not totally displace the indigenous beliefs, even at the court centers" (Sistem kepercayaan India tidak sepenuhnya menggantikan kepercayaan adat, bahkan di pusat pengadilan). Berdasarkan pada sistem kepercayaan, agama suku Badui memiliki sifat animistik. Kepercayaan ini menjadi dasar orang Badui untuk menciptakan masyarakat yang madani. Mereka hidup layaknya manusia biasa, tetapi memiliki prinsip tidak membuat kerusuhan terhadap manusia dan sumber daya alam. Mereka meyakini setiap pohon, sungai, batu besar dan sebagainya terdapat roh halus. Jika mereka tidak mengganggu, maka roh halus akan membantu dengan tidak pernah terjadi bencana alam, tetapi jika alam tersebut diganggu, maka roh-roh halus murka dan bisa saja menciptakan bencana besar.
Tidak seperti masa Jawa Kuno, keberadaan benda peninggalan dan naskah-naskah kuno tidak banyak ditemukan dalam masa Sunda Kuno. Dalam karya sastra Jawa Kuno, penyebutan bangunan suci sering dijumpai walaupun tidak memiliki deskripsi lengkap, akan tetapi dalam naskah Sunda ditemukan hanya Skala kecil saja. Seperti data arkeologi dalam "Bangunan Suci pada Masa Kerajaan Sunda: Data Arkeologi dan Sumber Tertulis" penyebutan masyarakat Sunda Kuno sebenarnya memiliki tempat suci yang digunakan sebagai menyembah para dewa dan para agamawan yang menarik diri dari dunia keramaian (Wiku). Sedangkan dalam bergama, mereka seperti orang Jawa yakni memeluk agama Hindu-Buddha.
Sasakala muncul dalam kitab Bujangga Manik menjelaskan perjalanan sang pendeta Sunda berkeliling Pulau Jawa pada akhir abad ke-15 M. Di Arega Jati (Gunung Sejati) disebutkan terdapat Petirtaan Jalatundra sebagai monumen peringatan Sasakala Silih Wangi. Dalam Sunda Kuno terdapat juga istilah kabuyutan yang 'berarti tempat atau bangunan suci sebagai tempat persemayaman para nenek moyang. Tempat suci ini disebut dalam naskah Amanat Galunggung.
Naskah Iain, Bujangga Manik memberikan fakta Iain mengenai bangunan suci yang terdapat di Sunda Kuno. Sekarang dinamakan Gunung Gede, terdapat kabuyutan yang dipuja dan menjadi tempat keramat bagi masyarakat Sunda. Letak Gunung Gede di wilayah Kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Di sana telah ditemukan bahwa Kerajaan Pakuwan pada abad ke-15 terdapat kabuyutan Yang menjadi pusat kabuyutan kerajaan, Sumber Iain Yang menjelaskan Sunda Kuno adalah Prasasti Kabentenan, dengan jelas menyebutkan adanya wilayah beragama yang diresmikan oleh Raja Sunda, Jayadewanta (Sri Baduga Maharaja) berkedudukan di Pakuan Pajajaran.
Prasasti tersebut menceritakan tentang sang raja memberi pesan kepada siapa saja untuk tidak mengganggu gugat permukiman Jayagiri dan Sundasembada, serta tanah dewa sasana yang ada di Gunung Samaya. Di situ adalah tempat suci khusus untuk beribadah, siapa saja tidak punya hak untuk menarik pajak. Sedangkan yang melanggar aturan akan dibunuh.
note : jika baraya semua senang dengan artikel sejarah seperti ini silahkan komen "lanjutkan". baraya juga bisa membantu mengirimkan bintang di postingan ini agar admin semakin smangat lagi dalam mengungkap sejarah di tatar sunda yang sudah mulai terlupakan.