Kata.Q

Directions Website

Kata.Q Puisi, refleksi, dan kisah batin yang lahir dari rindu dan harapan.

14/02/2026

Qhairull Muttaqin

12/02/2026

Puisi ini menceritakan perasaan kehilangan yang baru ia sadari setelah perpisahan dengan seseorang.
Qhairull Muttaqin

10/02/2026

# Qhairull Muttaqin

27/01/2026

Hari ini memang tak sama, seperti langit yang mendungnya tak bisa ditebak. Seperti rindu yang tak bisa ditakar dan seperti kamu yang tak pernah benar-benar pergi meski tak lagi di sini
Qhairull Muttaqin

21/01/2026

Andai kamu tahu ke adaanku mungkin kamu takan pernah menaruh rindu itu padaku. Andai aku tahu bahwa rasa ini masih milik kita mungkin aku takan semenderita ini.


18/01/2026

Antara Bogor, Tangerang, dan Bisikan yang Tak Pernah Padam
​Pukul lima pagi. Saat dunia masih berselimut embun, aku sudah memulai langkah. Perjalanan dari Bogor menuju Tangerang hari ini bukan sekadar perpindahan jarak, melainkan sebuah misi untuk menyaksikan kebahagiaan seorang sahabat.
​Di sepanjang jalan, pikiranku sempat beradu. Apa yang harus kubawa untuk pernikahannya? Hadiah apa yang cukup pantas untuk merayakan hari besarnya? Pertanyaan-pertanyaan itu sempat buntu, hingga akhirnya sebuah kesadaran lembut muncul: Kehadiranku adalah kado yang paling jujur. Maka, aku bergegas menjemput pagi agar tak melewatkan satu pun momen penting darinya.
​Bogor ternyata sudah terjaga lebih awal dariku. Kota ini begitu riuh. Aku menyaksikan orang-orang yang mencari nafkah dengan urat-urat semangat yang seolah tak mengenal lelah. Namun, segala kebisingan itu mendadak luruh saat aku memasuki satu titik spesifik: Ciomas.
​Di sanalah, waktu seolah melambat.
​Mataku terpaku pada sebuah gang kecil, deretan warung sederhana, dan sebuah halte bus yang tampak sunyi. Di luar sana, angin berembus kencang—seolah sedang bernegosiasi dengan awan agar menunda hujan turun. Namun di dalam sini, di balik jendela angkutan yang kutumpangi, aku justru "tertabrak" oleh kesunyian yang tiba-tiba.
​Kebisingan kota digantikan oleh gemuruh ingatan.
​Lisanku mendadak kelu, namun pikiranku justru berlari kencang. Hatiku mulai membisikkan baris-baris kalimat yang menuntut untuk segera dituliskan. Di titik inilah aku menyadarinya: meski aku sedang menuju sebuah perayaan kebahagiaan, memoriku tetap setia menyusuri setiap sudut jalan yang pernah menjadi saksi lukamu.
​Otakku merekap setiap kejadian perkara yang terjadi padamu di tiap sudut jalan ini. Instingku menganalisis segalanya—mulai dari hal kecil yang membuatmu tersenyum, hingga perkara pahit yang membuatmu terluka. Aku melihat gambar-gambar yang tak bersuara, klip-klip bisu dari masa lalu yang pesannya terus mengetuk telingaku.
​Meski kini kau hanya menggenggam luka, dan aku pun tak sepenuhnya rela, aku tetap menulis. Bukan untuk terjebak, tapi untuk merayakan bahwa aku pernah peduli sedalam ini.
​Untukmu, atau siapapun yang membaca ini: Jangan pernah membiarkan dirimu terpenjara oleh masa lalu. Meski aku masih menyimpan rasa, doaku adalah agar kebahagiaan segera menjemputmu kembali.
Catatan Refleksi Di tulis oleh Qhairull Muttaqin

Elegi di Ruang Sunyi: Sebuah Pengakuan yang TerlambatCatatan Refleksi Di tulis oleh : Qhairull Muttaqin / Nama Pena   ​D...
17/01/2026

Elegi di Ruang Sunyi: Sebuah Pengakuan yang Terlambat
Catatan Refleksi Di tulis oleh : Qhairull Muttaqin / Nama Pena
​Di ruang sunyi ini, aku akhirnya duduk berhadapan dengan hal yang selama ini paling takut kulihat: bayangan diriku sendiri.
​Aku menulis ini bukan untuk meminta kembali, bukan p**a untuk menuntut rasa. Aku menulis karena di antara dinding-dinding bisu ini, hanya tulisan inilah satu-satunya tempat aku berani jujur. Setiap kali ingatan tentangmu datang mengetuk pintu memori, yang kurasakan bukan hanya rindu, melainkan rasa bersalah yang mencekik.
​Aku menyadari sekarang, aku adalah seorang pecundang.
​Seorang pecundang yang bersembunyi di balik diam, yang tak mampu mengakui apa yang sebenarnya bergemuruh di dalam dada. Aku membiarkan ketakutan membungkamku, sementara matamu selalu menawarkan harapan akan masa depan yang baik di depan sana. Aku terlalu sibuk menjaga segalanya agar tetap "aman", sampai aku lupa bahwa keberanian adalah syarat utama untuk memiliki.
​Dan kini, realitas menghantamku tanpa ampun. Kau telah pergi bersamanya.
​Ada kejujuran yang pahit yang harus kutelan hari ini: Dia pemenangnya.
​Dia yang berani melangkah ketika aku diam. Dia yang menawarkan kepastian ketika aku hanya menawarkan harapan dalam diam. Seharusnya, logika berkata aku tak perlu memikul luka ini seorang diri. Bukankah aku yang memilih untuk tidak berjuang? Namun, hati manusia tidak bekerja dengan logika sesederhana itu. Aku tahu aku akan semakin kehilangan diriku sendiri jika membiarkan luka ini menguap begitu saja tanpa dimaknai.
​Terima kasih. Terima kasih untuk semua kebahagiaan yang sempat kita ciptakan, di kala kita—atau setidaknya aku—tak pernah menyangka bahwa akhir cerita kita akan sesakit ini.
​Di ruangan ini, sebuah lagu terus berputar. Lagu yang sebenarnya adalah pisau bermata dua. Melodinya memicuku untuk terus mengingatmu, menyeret setiap detail tawa dan tatapanmu kembali ke permukaan. Aku sadar, mengingatmu hanya akan menorehkan luka baru di ventrikulus jantungku. Rasanya fisik, nyata, dan menyiksa.
​Namun, di sinilah letak ironi terbesarku.
​Jika dengan mengingat kebahagiaan itu aku tak lagi bisa merasakanmu karena kau sudah menjadi milik orang lain, maka biarlah rasa sakit ini yang kupegang. Jika bahagia tak bisa lagi menjadi jembatan untuk mengenangmu, biarlah luka yang menyakitkan ini menjadi hal berharga yang kusimpan. Rasa perih ini adalah bukti bahwa apa yang kurasakan itu nyata, bahwa kau pernah ada, dan bahwa aku pernah sangat mencintaimu dalam diamku yang bodoh.
​Perang di kepalaku sudah usai, dan hasilnya seri dengan cara yang menyedihkan.
​"Sudahlah," otakku berkata dengan tegas, mencoba menyelamatkanku dari kehancuran lebih lanjut. Ia ingin aku menutup buku, berdiri, dan berjalan menjauh.
​Tapi "Kenanglah," hatiku meminta dengan lirih. Ia memohon agar bayanganmu tidak dihapus, meski konsekuensinya adalah aku harus terus berdarah.
​Maka untuk kali ini, aku berserah. Aku menerima kekalahanku. Aku menerima kepergianmu. Dan aku menerima bahwa di ruang sunyi ini, namamu akan tetap bergema sebagai kenangan terindah yang tak pernah sempat kumiliki.

16/01/2026

"Ada yang tak pernah terkirim, tapi tetap terasa. Surat ini… untukmu, yang tak pernah tahu."
💌
.Q Qhairull Muttaqin

14/01/2026

Puisi ini lahir dari ruang sunyi yang tidak lagi bisa diisi oleh harapan yang dipaksakan.
Tentang batas yang dipilih dengan sadar. Tentang luka yang tidak perlu disentuh lagi.
Tentang keberanian untuk berjalan, meski harus meninggalkan peta yang dulu pernah dibagi.

“Tak Apa” adalah refleksi tentang melepaskan tanpa dendam, tentang berdiri di tengah dinginnya dunia tanpa harus mengetuk tembok yang tak ingin terbuka.
Dengan visual gelap dan atmosferik, video ini mengajakmu menyelami ruang batin yang tenang, tegas, dan penuh batas.

📌 Puisi & Konsep oleh Qhairull
🎥 Video bertema tone gelap, minimalis, dan emosional

Jika kamu sedang mencari puisi tentang kehilangan, batas, atau proses melepaskan, semoga video ini bisa menjadi ruang sunyi yang menemanimu.

​ ​ ​ ​ ​ ​ ​ ​ ​ ​ Qhairull Muttaqin

Address

Bogor

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kata.Q posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category