02/08/2026
"Kolagana dalam Tagar Kesultanan Buton" bagian 1 dari 2 tulisan
Kolagana hampir hilang dalam ingatan kolektif kita semua, bahkan suatu ketika bapak wali kotapun saat itu AS Thamrin tidak mengetahuinya, yapai Kolagana yitu, tuturnya dalam pogau wolio.
Mari dan masuklah, kita mulai membaca kolagana dari pintu gerbang peradabannya. Dari struktur pemerintahan Kesultanan Buton, kolagana masuk dalam sebuah limbo 72 kadie yang dipimpin satu orang Bonto dari kalangan Walaka. Sebut saja satu nama, Sangia Bulu Muncu yang mempunyai nama asli La Ode Laumane. Nama ini sangat disakralkan dan maqamnya tiap tahun di tuturangia oleh masyarakat Kolagana, artinya layak dihormati. Kolagana sengaja dirancang untuk menjadi basis perjuangan rakyat untuk memantau pergerakan musuh sebelum mencapai pusat pemerintahan di Wolio, selat lautnya yang sempit sudah cukup untuk menjepit semua musuh yang mencoba masuk dari sisi utara selat buton. Posisi Buton yang strategis menjadikan Kesultanan Buton menjadi rebutan oleh 3 kekuatan negara; Belanda, Kerajaan Gowa, dan Kesultanan Ternate. Oleh sebab itu buton memasang strategi "labu wana labu rope" yang membuat Buton susah untuk ditaklukan.
Suatu saat Kesultanan Ternate mencoba mengekspansi Buton lewat ekspedisi maritimnya yang dipimpin langsung oleh Sultan Baabullah dengan membawa pasukan tidak terlalu besar. Mendengar itu Sultan Buton langsung mengaktifkan milisinya. Selat Buton yang diapit oleh Baruta dan Kolagana adalah jalur yang akan dilewati oleh pasukan Ternate. Maka Baruta dan Kolagana yang dipimpin oleh 2 sangia yang sama² cucu sultan murhum ini mengadakan rapat untuk memasang strategi yang dianggap paling pas untuk menghadapi Ternate. Baruta yang dipimpin oleh sangia wambulu dengan menyamar sebagai nelayan memilih menghadang langsung di laut sedangkan sangia bulu muncu dan sejumlah pasukannya memilih memantau dari darat menunggu kode apabila dibutuhkan.
Saat waktu yang ditunggu itu tiba, maka Sangia Wambulu langsung menghadang kapal dan naik lewat buritan kapal dan mempertanyakan tujuan dan maksud kedatangannya, namun dijawab oleh sultan Baabullah dengan nada yang cukup keras, mana sultanmu? Bersambung..