Mari Saya Bacakan Sebuah Puisi

Mari Saya Bacakan Sebuah Puisi Di beranda ini saya mencoba mengapresiasi karya-karya Penyair Indonesia dengan membacakannya. Video yang ada di sini bebas untuk dibagikan ke mana saja.

Membaca puisi bagi saya serupa menikmati karya lukis. Ada kalanya saya harus mendekat, melihat helai-helai imaji yang digoreskan si seniman di sudut karyanya. Ada waktunya saya juga harus berdiri menjauh agar bisa melihat karya itu secara utuh. Yang pasti, di depan setiap lukisan, atau puisi, saya pasti akan membiarkan diri tenggelam dalam emosi yang tersiar, tunduk dalam jenjam.

21/04/2018

PUKUL 4 PAGI

karya M Aan Mansyur

Tidak ada yang bisa diajak berbincang.
Dari jendela kau lihat
bintang-bintang sudah lama tanggal.
Lampu-lampu kota
bagai kalimat selamat tinggal.
Kau rasakan seseorang di kejauhan
menggeliat dalam dirimu.
Kau berdoa: semoga kesedihan
memperlakukan matanya dengan baik.

Kadang-kadang, kau pikir,
lebih mudah mencintai semua orang
daripada melupakan satu orang.
Jika ada seseorang
yang terlanjur menyentuh inti jantungmu,
mereka yang datang kemudian
hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan.

Dirimu tidak pernah utuh.
Sementara kesunyian
adalah buah yang menolak dikupas.
Jika kaucoba melepas kulitnya,
hanya akan kau temukan
kesunyian yang lebih besar.

Pukul 4 pagi. Kau butuh kopi segelas lagi.

23/02/2018

PUISI TAKUT ‘66, TAKUT ‘98

Karya Taufiq Ismail

Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa.

1998

10/02/2018

MENIKMATI AKHIR PEKAN

karya M. Aan Mansyur

Aku benci berada di antara orang-orang yang
bahagia. Mereka bicara tentang segala sesuatu,
tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa.
Mereka tertawa dan menipu diri sendiri
menganggap hidup mereka baik-baik
saja. Mereka berpesta dan membunuh anak kecil
dalam diri mereka.

Aku senang berada di antara orang-orang yang
patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan
berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari.
Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah
dicuri.

09/09/2017

PEMANDANGAN SENJAKALA
Karya WS Rendra

Senja yang basah meredakan hutan yang terbakar.
Kelelawar-kelelawar raksasa datang dari langit kelabu tua.
Bau mesiu di udara. Bau mayat. Bau kotoran kuda.
Sekelompok anjing liar
memakan beratus ribu tubuh manusia
yang mati dan yang setengah mati.
Dan di antara kayu-kayu hutan yang hangus
genangan darah menjadi satu danau.
Luas dan tenang. Agak jingga merahnya.
Dua puluh malaikat turun dari surga
menyucikan yang sedang sekarat
tapi di bumi mereka disergap kelelawar-kelelawar raksasa
yang lalu memperkosa mereka.
Angin yang sejuk bertiup sepoi-sepoi basa
menggerakkan rambut mayat-mayat
membuat lingkaran-lingkaran di permukaan danau darah
dan menggairahkan syahwat para malaikat dan kelelawar.
Ya, saudara-saudaraku,
aku tahu inilah pemandangan yang memuaskan hatimu
kerna begitu asyik kau telah menciptakannya.

10/08/2017

TUAN

karya Sapardi Djoko Damono

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang keluar.

1980

09/08/2017

KUNTI

karya Gunawan Maryanto

Maka bernyanyilah ia kepada udara
yang kering kerontang
Kepada langit kosong
yang menggambarkan isi dadanya
-dada muda yang begitu mudah
terbaca dan tergoda
-dada ranum yang membuat kagum
para lelaki dan pendaki

Perempuan itu tak tahu apa-apa
Ia hanya hanyut ke dalam nada
Seperti mata air ia tak tahu
ke laut mana ia mengalir
Ia bahkan tak sadar
matahari telah berhenti beredar
Waktu berhenti. Angin mati
Dan seorang lelaki
Menantinya di sebuah sepi

Jogja, 2012

08/08/2017

NYANYIAN AKAR RUMPUT

Karya Wiji Thukul

Jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang
kami rumput
butuh tanah
dengar!
Ayo gabung ke kami
Biar jadi mimpi buruk presiden!

Juli 1988

07/08/2017

AKULAH SI TELAGA

karya Sapardi Djoko Damono

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya

02/08/2017

CELANA

Karya: Joko Pinurbo

Ia ingin membeli celana baru
buat pergi ke pesta
supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan.

Ia telah mencoba seratus model celana
di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.

Bahkan di depan pramuniaga
yang merubung dan membujuk-bujuknya
ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya.

“Kalian tidak tahu ya,
aku sedang mencari celana
yang paling pas dan pantas
buat nampang di kuburan?”

Lalu ia ngacir
tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan,
“Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu bayi dulu?”

(1996)

Address

Batam

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mari Saya Bacakan Sebuah Puisi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share