02/09/2017
Saya mau cerita tentang bola Adidas Jabulani.
Pagi ini setelah baca buku milik Doni Swadarma, saya ingat kembali tentang bola resmi gelaran Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Saya bukan mau membahas tentang asal-usul nama bola atau bahan penyusunnya. Namun, hal pertama yang saya ingat tentang Jabulani adalah karakternya. Dari sekian banyak portal berita olahraga tentang Jabulani, selalu berisi keluhan dari banyak pemain bahwa bola ini sulit dikendalikan. Sebagian keluhannya adalah jika ditendang sedikit keras, Jabulani cenderung melintir dan tak bisa diprediksi kemana ia akan mengarah
Jabulani dan karakternya, saya tahu dengan jelas. Kreatifnya, Doni melalui metode sainspirasinya (begitu dia menyebut) menganalogikan Jabulani dengan karakter seorang karyawan di tempat kerja. Jika kita mau perhatikan, bisa juga kita rasakan, selalu ada tipe-tipe Jabulani diantara deretan karyawan pengisi tempat kerja. Pola pikir tidak linier, sulit diprediksi, dan punya jangkauan visioner. Tidak jarang, karyawan Jabulani sering tidak nyambung ketika diajak ngomong, atau sebaliknya, ketika dia berusaha menyampaikan gagasannya. Ya, karena sebenarnya dia terlalu visioner dan lawan bicaranya terlalu linier
Namun, sulit diprediksi dan cenderung semaunya membuat karyawan Jabulani dianggap marginal, tidak santun, dan tidak sesuai etika kerja. Ironi. Padahal, lompatan-lompatan ide antimainstream milik karyawan Jabulani bisa sangat terpakai jika berada di kaki maestro. Sebut saja Iker Casillas maupun Andres Iniesta. Sang kiper mampu mengendalikannya dari dua peluang face to face dengan Arjen Robben. Belum lagi tendangan voli Iniesta justru tak tertebak arahnya oleh Stekelenburg, kiper Belanda. Sifat liar dan tak mudah tertebak milik Jabulani justru antarkan Spanyol jadi juara dunia.
Pesan moralnya bagi pemegang tampuk kekuasaan dan pimpinan tempat kerja, mainkan Jabulani selayaknya Anda maestro, bukan sebagai pemain bola tarkam (antarkampung). Anda punya amunisi berharga
Jurnal, 2 September 2017