Yeyu Story

Yeyu Story 🎭 Drama Manhwa AI
📖 Cerita singkat penuh plot twist
🎬 Episode baru setiap hari 👇

28/08/2026

“Ndan, bantuan medis belum datang, sedangkan kondisi korban sudah semakin memprihatinkan. Apa yang harus kita lakukan?”

Suara Serda Bimo terdengar bergetar, menyiratkan keputusasaan yang sama besarnya dengan yang diam-diam kurasakan. Aku menatapnya sekilas, seragam lorengnya sudah tak lagi tampak warnanya, tertutup lapisan tanah liat tebal yang mengering. Di belakangnya, suara rintihan tertahan dari tenda darurat terdengar silih berganti dengan gemuruh guntur yang masih setia menggantung di langit.

Aku mengusap wajah kasar, aroma lumpur memenuhi udara, bahkan genangan air belum sepenuhnya surut. Rasanya lengket dan dingin. Bau amis tanah basah bercampur dengan aroma anyir d4 r4 h samar-samar tercium, menciptakan mual yang harus kutelan bulat-bulat. Korban semakin bertambah, bahkan evakuasi masih terus kami lakukan, hanya saja belum ada tenaga medis yang dikirim kemari. M4 y4 t-m4 y4 t yang baru ditemukan harus kami sisihkan di area terpisah, sementara yang se k4 r4 t hanya bisa kami baringkan dengan alas seadanya. Ketidakberdayaan ini lebih menyakitkan daripada kelelahan fisik manapun.

“Tetap lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Selamatkan siapapun yang bisa kita selamatkan secepatnya. Saya akan menghubungi pusat untuk segera mengirim bantuan medis,” jawabku tegas.

Meskipun dalam hati, aku tidak yakin seberapa cepat "segera" itu akan terwujud. Akses jalan putus, jembatan hancur. Kami benar-benar sendirian di sini.

Kami hanya memiliki kemampuan dasar pertolongan pertama, dan itu tidak cukup membantu korban-korban yang mengalami cedera serius. Perban kami sudah habis sejak pagi tadi. Kini kami hanya menggunakan kain kaos bekas atau apapun yang bersih untuk membebat l u k a r o b e k atau p4 t4 h tulang terbuka. Sudah tiga hari kami bekerja tanpa henti, tak ada yang namanya istirahat apalagi tidur. Mataku terasa panas dan berpasir, sementara otot-otot kaki rasanya sudah menjerit minta diistirahatkan. Masih terlalu banyak korban yang tertimbun dan lokasi ini terisolir. Belum ada bantuan yang datang, jadi kami hanya memaksimalkan apa yang ada saja, sambil menunggu tenaga medis yang seharusnya datang hari ini.

Setiap detik yang berlalu terasa seperti huk u m4 n m4 t i bagi mereka yang tertimbun di bawah sana.

Korban selamat sudah berhasil dievakuasi ke lokasi yang lebih aman, namun sayangnya dapur umum belum bisa kami dirikan, pasokan logistik pun terbatas, hanya ada ransum yang juga mulai menipis untuk mereka dan tim bertahan beberapa hari lagi. Aku melihat seorang ibu memeluk anaknya yang menggigil kedinginan, berbagi sekerat biskuit ransum TNI yang keras dengan air mata berlinang. Pemandangan itu menampar egoku sebagai pemimpin yang seharusnya bisa menjamin keselamatan mereka.

Tiba-tiba, seseorang menghampiriku dengan langkah tergesa namun wajahnya sedikit lebih cerah.

“Selamat siang Kapten Arshaka, tadi kami sempat mendapat sedikit sinyal dan ada info baik jika tim medis dari Yogyakarta sudah diberangkatkan kemari. Mereka masih dalam perjalanan,” lapor salah seorang pejabat daerah yang ikut bersama kami dalam mengevakuasi korban-korban ini.

Langkahku terhenti sejenak.

“Dari Jogja?” ulangku.

Kota itu "Jogja". Dua suku kata yang memiliki daya magis untuk membekukan waktuku sejenak. Di tengah kekacauan bencana ini, nama kota itu menyeruak masuk, membawa serta memori tentang jalanan yang basah oleh hujan, lampu jalan yang temaram, dan sebuah perpisahan yang belum tuntas.

“Iya, Kapt. Kabarnya dari Royal International Hospital. Mereka membawa beberapa tim dokter dan juga peralatan yang semoga bisa membantu kita di sini.”

Uhuk.

Aku tersedak ludahku sendiri mendengar nama rumah sakit itu. Dadaku mendadak berdebar tanpa alasan. Rasa lelah yang tadi menghimpit tubuhku mendadak tergantikan oleh ketegangan jenis lain. Bukan karena takut pada m4 u t, tapi pada masa lalu.

Ada banyak dokter di sana, bisa saja dia tidak ikut. Logikaku berusaha menenangkan diri. Ini misi kemanusiaan berat, medannya sulit, mungkin dia tidak ditugaskan ke lapangan seekstrem ini. Namun kemungkinan itu tetap ada.

Suara gemerisik statis dari Handy Talkie di pinggangku memecah keheningan.

Tak lama kemudian, aku mendapat informasi resmi dari pusat. Tim medis dari Yogyakarta akan tiba sekitar satu jam lagi. Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat saat manifes kedatangan dibacakan. Mereka sudah mendarat di Medan dan akan melanjutkan perjalanan dengan helikopter TNI.

Suara baling-baling itu sebentar lagi akan terdengar, membawa harapan bagi para korban, sekaligus badai bagi perasaanku yang lama terkubur.

Aku menggeleng kuat, memaksa fokus. Ini bukan waktu yang tepat untuk kenangan. Sekop di tanganku kembali terayun, membelah tanah basah. Kami satu-satunya harapan mereka saat ini.

Setiap detik aku melamun, n y4 w4 seseorang bisa saja melayang.

“Tim medis tiba jam berapa, Ndan?” tanya Bimo.

“Sebentar lagi,” balasku singkat.

Namun Bimo menatapku lebih lama dari biasanya. “Saya lihat Anda gelisah. Ada seseorang yang bikin Kapten Arshaka segusar ini?”

Aku mendengus kesal.

“Fokus, Bimo!”

“Siap, Ndan!”

🍃🍃🍃
Daun dan ranting beterbangan liar saat suara helikopter mulai mendekat. Medan terlalu becek untuk pendaratan sempurna, sehingga tim medis harus diturunkan dengan cara ekstrem. Satu per satu mereka turun dengan tali. Ada yang tegang, ada yang berteriak ketakutan, bahkan sempat terdengar jerit4 n his t e r i s sebelum akhirnya berhasil diamankan.

Hingga tiba giliran seseorang berjilbab hitam dengan rompi medis.

Aroma parfumnya membuat jantungku seakan meloncat. Di tengah bau lumpur dan bahan bakar, aroma vanilla lembut bercampur antiseptik itu begitu familiar. Saat kakinya menyentuh tanah dan tubuhnya oleng, refleks tanganku menahan lengannya.
Tatapan kami terkunci. Dunia seakan sunyi. Hanya ada kami dan masa lalu yang kembali bangkit tanpa permisi. Aku memaksakan senyum profesional, menekan gemuruh di dada.

“Selamat siang, Dokter…” sapaku pelan.

Selanjutnya di KBM APP

Judul: Dokter, Izinkan Aku Kembali
Penulis: nayyukii_

27/08/2026

"Kita perlu bicara dulu," ucapku sebisanya, mencoba mencari celah untuk bernegosiasi.

Namun, Ayah langsung mengangkat telapak tangan dan menggeleng tegas.

"Ini bukan keputusan tiba-tiba, Sabda. Dua tahun itu waktu yang sangat lama untuk kamu mengabaikannya," saut Ayah telak.

"Aku tidak akan mengabaikannya lagi! Aku janji akan penuhi kewajibanku, lahir dan batin," balasku cepat.

Memangnya kata-kata apa lagi yang bisa kuucapkan sekarang selain janji manis itu? Aku sendiri merasa bimbang dan ketakutan secara bersamaan.

"Lila akan tinggal di sini mulai sekarang. Ayah akan memindahkannya ke kantor lain," ucap Ayah dingin. "Kata Hana, kamu ingin menggeser posisi Lila dengan Zaskia. Ya, baguslah. Semoga biro haji yang kamu kelola semakin jaya setelah ada Zaskia di dalamnya. Kalau mau menikah, silakan saja. Tapi urusanmu dengan Lila harus selesai lebih dulu."

Aku hendak membela diri, tapi tatapan sinis Ibu membuat nyaliku menciut. Beliau hanya menggeleng, memberi isyarat agar aku diam.

"Tidak ada pembicaraan lagi. Lila butuh istirahat. Dia tidak perlu menjelaskan apa pun karena dia tidak berada di pihak yang salah," tegas Ibu.

"Aku ingin tidur di sini malam ini," kataku akhirnya. Ibu memutar bola matanya dengan jengah, tapi tidak melarang. Bagaimanapun, ini rumah orang tuaku.

Malam ini, aku tidak bisa tenang. Alih-alih masuk ke kamar yang biasa kugunakan, aku memilih kamar tamu yang kedap suara. Begitu pintu tertutup, aku berteriak sekencang-kencangnya. "Arghhh!"

Aku menjambak rambutku sendiri.

Kenapa bisa jadi begini? Aku sungguh tidak menyangka Lila punya keberanian sebesar itu. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata melepaskan dia tidak semudah yang kubayangkan.

Tiba-tiba, ponselku berdering. Nama Zaskia muncul di layar. Aku menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.

"Assalamualaikum, Mas ...." Suaranya mendayu seperti biasa. Tapi aneh, getaran rasa yang biasanya menggebu di dadaku kini menghilang entah ke mana.

"Waalaikumsalam, Zaskia. Ada apa?"

"Enggak apa-apa. Hanya mau tanya, kapan aku bisa mulai kerja di kantor? Apa Lila sudah bisa diajak bicara soal posisinya yang akan aku gantikan?"

Aku terdiam. Lidahku kelu. Ucapan tajam Ibu tadi masih terngiang-ngiang di telingaku.

"Tiga hari lagi, Zaskia. Besok aku ambil cuti," jawabku singkat.

"Berarti aku serahkan berkas ke HRD ya, Mas? Aku menempati posisi Lila, kan?" tanyanya memastikan.

"Ya," balasku pendek. Aku menahan diri untuk tidak mengatakan bahwa Lila sudah mundur secara s**arela. Egoku terlalu tinggi untuk mengakui kekalahanku di hadapan Zaskia.

"Kalau nanti kita menikah, sepertinya harus diam-diam dulu, Mas. Aku takut Abah dan Umi kaget, apalagi mereka sayang banget sama Lila. Lila sudah setuju, kan? Nanti aku ingin dia datang di acara ijab kabul kita sebagai bukti kalau dia ikhlas," cerocos Zaskia panjang lebar.

Mendengar itu, hatiku mendadak tidak nyaman.

Judul: Akad Tanpa Rasa
Penulis: Olivia Shea

Selengkapnya baca di KBM App...

25/08/2026

"Ceraikan istrimu hari ini juga. Pernikahan kalian sudah tidak sehat, dan kami menyesal baru mengetahuinya sekarang. Lila berhak bahagia. Dia masih muda, dan di luar sana banyak pria yang akan dengan senang hati menerima jandanya!"

Bukan Ayah yang menjawab, melainkan ibuku. Aku menatap wajah perempuan yang biasanya selalu bersikap dingin dan tenang itu.

Aku pikir beliau akan membelaku, atau setidaknya tidak langsung berpihak pada Lila. Namun, kenyataannya telak menghantam egoku.

"Tidak," ucapku sambil menggelengkan kepala. Aku memasukkan kembali ponsel ke dalam kantong, menatap tajam ke arah Lila.

"Kamu bicara apa pada orang tuaku? Pembicaraan kita di kantor tadi masih mentah! Kenapa kamu sudah mengadu ke sini?"

Jujur, aku kaget melihat keberaniannya. Selama ini, aku hanya mengenal Lila sebagai pendamping Zaskia yang kalem, penurut, dan selalu mengalah.

Dia tidak pernah memprotes apa pun.

Tapi kenapa hari ini dia memiliki nyali sebesar ini?

"Saat suamiku berani keluar rumah untuk menemui mantan kekasihnya, lalu merencanakan pernikahan yang bisa membawa kalian dalam dosa sementara aku menjadi saksinya ... hal terbaik yang bisa kulakukan adalah memuluskan rencanamu, Mas. Aku tidak ingin terjebak dalam dosa yang kamu buat," jawab Lila dengan suara yang stabil, namun menusuk.

"Itu hanya sebatas rencana!" bentakku. Aku tidak peduli lagi jika asisten rumah tangga di rumah ini mendengar keributan kami.

Aku melangkah maju, berniat menarik lengan istriku untuk bicara empat mata, tapi Ibu langsung menghadangku.

Sebelum aku sempat bereaksi lebih jauh ....

Plak! Plak!

Dua tamparan keras mendarat di pipiku, membuat wajahku terasa panas dan berdenyut.

"Kurang ajar kamu, Sabda! Kamu membuat malu orang tuamu sendiri. Pantaskah kamu bersikap begitu? Di mana otakmu? Apa yang membuatmu berubah menjadi pria labil dan tidak berperasaan seperti ini?" Suara Ibu merendah, namun penuh penekanan yang mengerikan.

Aku membeku, tak mampu menjawab. Melihat sudut mata Ibu yang memerah justru membuat hatiku terasa nyeri.

Judul: Akad Tanpa Rasa
Penulis: Olivia Shea

Selengkapnya hanya di KBM

24/08/2026

Niat suamiku mengancam agar aku tidak menggugat cerai berakhir dengan tendanganku tepat mengenai aset berharganya. Aku tidak tahu dari mana keberanian itu datang. Yang kutahu, setelah dua tahun diperlakukan seperti istri yang keberadaannya tidak penting, aku tidak akan membiarkan Mas Sabda merendahkan tubuhku juga.

"Akhhh!"

Mas Sabda mengerang tertahan sambil membungkuk. Kedua tangannya refleks menutupi bagian yang baru saja kutendang.

Aku mundur beberapa langkah. Napasku memburu, telapak tanganku dingin, tetapi kemarahan yang memenuhi dada jauh lebih besar daripada rasa takutku.

"Kurang ajar kamu!" geramnya.

"Aku pikir kamu laki-laki terhormat, Mas Sabda. Ternyata aku salah besar." Suaraku bergetar hebat. "Kamu tidak lebih dari seorang pecundang!"

Dia menatapku dengan wajah merah menahan sakit sekaligus murka. Aku tidak memberinya kesempatan membalas. Aku segera keluar dari ruangannya dan membanting pintu.

Brak!

Aku terus berjalan meskipun lututku terasa lemas.

Ancaman Mas Sabda masih terngiang di kepalaku. Dua tahun dia bahkan tidak sudi melihat wajahku tanpa niqab, tetapi ketika aku meminta cerai, tiba-tiba tubuh yang selama ini tak pernah diinginkannya hendak dijadikan alat untuk menahanku.

Sakit sekali menyadari bahwa harga diriku ternyata serendah itu di matanya.

Beberapa jam kemudian, aku terpaksa duduk satu meja dengannya di ruang rapat. Putra pemilik Pondok Pesantren Al Hikmah sudah datang bersama dua orang perwakilan, sehingga apa pun yang terjadi di antara kami harus kusimpan sementara.

"Jika diizinkan, kami meminta Mbak Lila menjadi pendamping umrah bagi santri di pondok kami," ujar laki-laki itu setelah pembicaraan mengenai keberangkatan selesai. "Orang tua santri juga meminta hal yang sama."

Aku belum sempat menjawab ketika Mas Sabda menyela.

"Kami bisa mengirim staf lain yang lebih berpengalaman."

Laki-laki di hadapan kami tampak sedikit heran. "Kami memahami itu, Pak Sabda. Tapi orang tua santri sudah terlanjur percaya kepada Mbak Lila. Ini kloter pertama kami tahun ini, jadi kami ingin orang yang selama ini berkomunikasi dengan mereka tetap mendampingi."

Aku melirik Mas Sabda. Wajahnya tetap tenang, tetapi rahangnya mengeras.

"Nanti akan saya pikirkan," jawabnya akhirnya.

Setelah tamu-tamu kami pergi, aku langsung membereskan berkas. Aku tidak mempunyai tenaga untuk kembali bertengkar dengannya.

"Nanti malam aku tidak makan di rumah."

Aku tetap memasukkan dokumen ke dalam map.

Mas Sabda rupanya belum puas karena beberapa detik kemudian dia menambahkan, "Aku mau makan malam dengan Zaskia. Kami akan membahas rencanaku."

Tanganku berhenti.

Aku mengangkat wajah dan menatapnya. Kalau dia berharap melihat kecemburuan, dia akan kecewa.

"Silakan. Tapi satu hal yang perlu Mas tahu, aku tidak bisa menjamin Abah dan Umi akan berpihak pada Ning Zaskia kali ini."

"Kamu bukan anak mereka!"

Kalimat itu menghantam bagian diriku yang paling rapuh.

Aku memang bukan anak mereka. Hanya gadis yang dulu ditampung, disekolahkan, dan diperlakukan dengan baik oleh keluarga Ning Zaskia. Aku selalu tahu tempatku. Namun, mendengarnya keluar dari mulut laki-laki yang menjadi suamiku sendiri tetap terasa menyakitkan.

"Zaskia butuh suaminya," lanjut Mas Sabda. "Anaknya sedang sakit. Pengobatan terbaik untuk anaknya adalah melalui stem cell dari saudara sedarah. Zaskia harus punya anak lagi dari suaminya, dan untuk bisa kembali kepada laki-laki itu, dia harus menikah dengan orang lain lebih dulu."

"Dan orang lain itu harus Mas?"

"Aku sudah mencari tahu semuanya. Aku juga sudah berkonsultasi dengan dokter. Kalau ada jalan untuk menyelamatkan anaknya, kenapa tidak dilakukan?"

Aku menatap wajahnya lama. Andai aku tidak mengenalnya sejak dulu, mungkin aku akan percaya seluruh tindakannya murni karena ingin menolong seorang anak yang sakit.

Sayangnya, aku pernah melihat bagaimana Mas Sabda mencintai Ning Zaskia.

Aku pernah menjadi orang ketiga yang berjalan beberapa langkah di belakang mereka, membawa barang-barang Ning Zaskia dan pura-pura tidak melihat ketika Mas Sabda menatap perempuan itu seolah tidak ada perempuan lain di dunia.

"Tapi aku tahu niat Mas sebenarnya bukan hanya itu."

"Jangan sok tahu, Lila!"

"Aku tahu karena sejak dulu, ketika Mas masih pacaran dengan Ning Zaskia, aku selalu ada di samping kalian. Aku tahu seperti apa Mas memandangnya."

Tatapannya berubah tajam.

"Tahu apa kamu tentang hubungan orang dewasa? Saat itu kamu masih remaja ingusan!"

Aku tersenyum getir.

Mungkin benar. Dulu aku terlalu muda untuk memahami cinta mereka. Namun, aku cukup dewasa sekarang untuk memahami bahwa suamiku sedang mencari jalan agar bisa memiliki kembali perempuan yang tidak pernah berhasil dia lupakan.

Aku tidak menjawab lagi. Semua barang kumasukkan ke dalam tas, lalu aku meninggalkan ruangan sebelum air mata yang sejak tadi kutahan mempermalukanku di depannya.

Malam harinya, aku berada di kamarku.

Orang-orang mengira aku dan Mas Sabda tidur dalam satu kamar seperti pasangan suami istri pada umumnya. Kenyataannya, kamar utama itu memiliki ruang lain yang dipisahkan sekat. Di sanalah aku tidur selama dua tahun.

Dua tahun hidup begitu dekat dengan seorang laki-laki, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi istrinya.

Aku sedang menyelesaikan sesuatu ketika suara pintu terdengar.

Tidak ada ketukan.

Mas Sabda langsung masuk mengenakan kemeja abu-abu. Penampilannya begitu rapi hingga aku tidak perlu bertanya untuk siapa dia berdandan malam ini.

"Jika Ibu menghubungimu ...."

Kalimatnya tiba-tiba terputus. Aku menoleh.

Mas Sabda berdiri kaku di ambang pintu. Tatapannya terpaku padaku. Wajah yang beberapa detik lalu terlihat tenang mendadak berubah.

Tangannya masih menggenggam gagang pintu, tetapi tidak satu pun kata keluar lagi dari mulutnya ketika melihatku membuka cadar yang bertahun-tahun aku pakai.

Selengkapnya baca di aplikasi KBM
Judul : Akad Tanpa Rasa
Penulis : Olivia Shea

23/08/2026

"Mohon maaf, Mas. Tapi kalau Mas tetap melakukan kesepakatan gila dengan Ning Zaskia, aku juga punya hak menentukan jalan hidupku."

"Orang tua Zaskia sudah merawatmu sejak dulu. Mereka menganggapmu anak sendiri! Apa tidak ada rasa balas budi di hatimu? Anaknya sedang sakit!"

Aku terpaku sesaat. Jadi sekarang rasa terima kasihku kepada keluarga Ning Zaskia hendak dipakai untuk membenarkan semua ini?

"Aku tahu anak Ning Zaskia sedang sakit. Aku juga tidak pernah melupakan kebaikan keluarganya kepadaku."

"Lalu kenapa kamu malah mempersulit semuanya?"

"Karena aku tidak mengerti alasan mendesak apa yang membuat Mas harus menjadi muhallil."

Wajahnya berubah.

"Itu tindakan dosa, Mas. Aku hanya tidak ingin Mas menyeret Ning Zaskia ke dalam lubang yang sama."

"Jangan halangi niatku!"

"Aku tidak menghalangi." Aku menahan sakit di pergelangan tanganku. "Kalau Mas memang ingin menolong Ning Zaskia, suruh suaminya menceraikannya secara hukum. Setelah itu kalau Mas ingin menikahinya dengan sungguh-sungguh, lakukan secara resmi. Itu baru namanya laki-laki."

"Jaga mulutmu, Qalila." Suaranya melengking. Aku tahu kali ini sudah banyak bicara. Tapi selama dua tahun aku memang memilih diam. Sekarang tidak bakal aku tetap diam.

"Aku sedang menjaga rumah tangga ini dari sesuatu yang sejak awal memang tidak benar. Jika Mas memang ingin menikah dengannya, talak saya. Jadi apapun yang Mas lakukan nanti sudah tidak ada kaitannya dengan saya."

Tatapan Mas Sabda semakin gelap.Aku melanjutkan sebelum keberanianku hilang.

"Anaknya sedang sakit leukemia. Dia membutuhkan tali pusat sedarah untuk pengobatannya sementara suaminya sudah memberikan talak tiga padanya. Aku hanya ingin menjadi muhalilnya saja agar dia bisa kembali dengan suaminya dan membuat anak lagi."

Kepalaku sampai menggeleng beberapa kali mendengar kalimat itu. Sudah kehilangan kata-kata.

"Dia perempuan yang tahu agama. Putri seorang pemilik pondok pesantren. Mas sedikit banyak juga tahu bahwa itu berdosa. Tapi aku tahu niat Mas yang sebenarnya. Mas tidak akan melepaskan Ning Zaskia setelah menikahinya nanti. Jadi besok, aku tetap akan mengajukan cerai ke Pengadilan Agama."

Cengkeraman tangannya pada pergelangan tanganku mendadak menguat.
Dalam satu gerakan, tubuhku ditarik hingga punggungku membentur sisi meja kerjanya. Napasku tercekat ketika Mas Sabda mengurungku dengan kedua tangannya.

"Jangan main-main denganku! Kamu tidak punya alasan kuat untuk menggugat cerai. Kalaupun kita berpisah, aku yang akan menjatuhkan talak!"

Rasa takut sempat menjalar di dadaku, tetapi aku menolaknya. Aku sudah terlalu lama hidup dengan menunggu belas kasih laki-laki ini.

"Tidak ada nafkah batin selama dua tahun pernikahan. Apa itu belum cukup kuat?" ucapku dengan suara bergetar.

Mas Sabda tersenyum sinis.

"Siapa yang akan percaya?"

Aku menatap matanya.

"Kenapa tidak? Teknologi sudah canggih, Mas. Dokter bisa membuktikannya dengan mudah."

Dia masih menatapku seolah aku sedang menggertak. Aku menelan ludah sebelum mengucapkan sesuatu yang selama ini tidak pernah kubicarakan kepada siapa pun.

"Aku masih suci."

Tubuh Mas Sabda mendadak kaku. Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran kami dimulai, aku melihat keterkejutan nyata di wajahnya.

Dia perlahan menjauh, tetapi pandangannya tidak lepas dariku.

"Kamu masih perawan?" Nada suaranya terdengar mencemooh, tetapi aku tahu dia sedang menutupi keterkejutannya.

Aku tidak menjawab. Tidak perlu. Namun, kalimat berikutnya yang keluar dari mulutnya membuat seluruh tubuhku membeku.

"Kalau begitu, akan kuambil semuanya darimu sekarang juga, agar kamu tidak punya alasan lagi untuk menggugatku!"

Selanjutnya baca di aplikasi KBM

Judul : Akad Tanpa Rasa
Penulis : Olivia Shea

22/08/2026

Suamiku malah ingin menikahi mantan kekasihnya, lalu berharap aku tetap diam di sisinya. Kenapa aku harus menangis untuk laki-laki yang bahkan tidak pernah benar-benar menganggapku sebagai istri?

"Kamu bicara apa?" protes Mas Sabda sambil melangkah maju hingga berdiri tepat di hadapanku.

Aku menatapnya tanpa mundur. Kalau ini terjadi setahun lalu, mungkin aku sudah menunduk, takut dianggap melawan. Namun, setelah mendengar sendiri bagaimana dia membicarakan rencana menikahi Ning Zaskia seolah aku tidak memiliki perasaan, sesuatu dalam diriku akhirnya runtuh.

"Lepaskan aku. Bukankah itu hal paling masuk akal yang bisa Mas lakukan?" Aku menjaga suaraku tetap tenang. "Aku tidak ingin terlibat dalam urusan Mas dan Ning Zaskia."

"Sembarangan kamu! Tidak ada yang bisa mengaturku, Qalila."

"Aku juga tidak sedang mengatur Mas. Aku hanya menentukan apa yang akan kulakukan terhadap hidupku sendiri. Demi Allah aku tidak apa-apa, Mas jika Itu membuatku bahagia."

Rahangnya mengeras. Aku tahu kata-kataku melukai egonya.

"Aku akan melakukan apa pun yang kuinginkan. Setelah rencanaku berhasil, mungkin baru kita akan berpisah."

Aku hampir tertawa mendengar kata mungkin.

"Kenapa harus mungkin? Talak saja aku sekarang. Aku bisa keluar dari rumah yang selama ini kita tempati. Mas juga bisa memakai alasan istri pembangkang agar nama Mas tetap bersih di pengadilan."

Mas Sabda menatapku lama.

Aku tidak tahu apa yang sedang dia cari di mataku. Mungkin air mata. Mungkin permohonan. Selama ini dia terlalu terbiasa melihatku mengalah sehingga mengira aku akan terus begitu selamanya.

"Kamu tidak berhak mengaturku!"

"Dan Mas tidak berhak meminta aku bertahan dalam pernikahan sementara Mas merencanakan kehidupan dengan perempuan lain."

Belum sempat dia membalas, pintu diketuk. Aku segera menarik napas dan mengalihkan wajah ketika adiknya Mas Sabda masuk ke ruangan.

"Mas, salah satu perwakilan pondok pesantren yang mau daftar umrah berjamaah ingin bertemu Mbak Qalila."

Mas Sabda terlihat masih menahan emosi. "Pondok mana?"

"Al Hikmah. Ada sekitar dua ratus tujuh puluh orang yang mau daftar."

"Banyak sekali."

"Iya." Hana tersenyum kepadaku. "Putra pemilik pondok bilang mereka yakin mendaftar setelah berkomunikasi langsung dengan Mbak Qalila. Katanya penjelasan Mbak jelas dan jamaahnya merasa nyaman."

Aku melihat sekilas ke arah Mas Sabda. Dia diam.

Selama bekerja di biro perjalanan haji milik keluarganya, aku memang berusaha melakukan tugasku sebaik mungkin. Bukan agar dipuji suamiku, melainkan karena aku tahu setiap jamaah datang membawa uang yang mereka kumpulkan bertahun-tahun. Aku tidak ingin mempermainkan kepercayaan mereka.

"Aku akan menemui mereka," jawabku.

"Sip! Mbak, nanti makan siang bareng aku, ya? Sudah lama kita tidak ngobrol," kata Hana.

Aku tersenyum kecil. "Boleh."

Hana kemudian keluar. Aku ikut berbalik hendak meninggalkan ruangan. Baru dua langkah, tiba-tiba tangan Mas Sabda mencekal pergelangan tanganku.

Aku tersentak. Cengkeramannya terlalu kuat.

"Lupakan keinginanmu untuk minta cerai, Qalila."

Aku menatap tangannya sebelum mengangkat wajah.

Judul: Akad Tanpa Rasa
Penulis: Olivia Shea

Selengkapnya di KBM App

21/08/2026

"Ini laporan jama'ah bulan ini." Aku meletakkan map di mejanya. Jari kami sempat bersentuhan.

Dulu, sentuhan sesingkat itu cukup membuatku memikirkan Mas Sabda sepanjang malam. Sekarang aku hanya merasa bodoh.

"Taruh saja," katanya.

Aku mengangguk. Tidak bertanya. Tidak menuntut penjelasan. Ketika aku hendak berbalik, suara Mas Sabda menghentikanku.

"Qalila."

Aku menoleh.

"Antar Ning Zaskia ke apartemennya."

Zaskia langsung berdiri. "Tidak perlu, Mas. Aku bisa pulang sendiri."

Aku tersenyum tipis kepadanya.

"Kalau Ning mau, saya antar."

Entah mengapa dia justru tampak semakin tidak nyaman.

"Tidak usah, Lil. Terima kasih."

Untuk sesaat mata kami bertemu. Aku mengenal perempuan ini. Sangat mengetahuinya.

Namun, mengetahui itu ternyata tidak membuat sakitnya berkurang. Setelah Zaskia pergi, aku masih berdiri di depan meja Mas Sabda. Dia memanggilku lagi.

"Mulai besok Zaskia akan menjadi sekretaris utama menggantikan Dewi."

Aku mengangguk.

"Ya."

Alisnya sedikit berkerut, mungkin karena aku tidak bereaksi seperti yang dia perkirakan.

Lalu dia mulai menjelaskan. Tentang perceraian Zaskia. Tentang anak Zaskia yang sedang sakit. Tentang keinginannya membantu. Sampai akhirnya kalimat itu keluar dari mulutnya.

"Aku berniat menikahi Zaskia sebagai muhallil."

Walaupun sudah mendengarnya dari luar, mendengar kalimat itu langsung dari mulut suamiku tetap terasa berbeda.

Seperti pisau yang sebelumnya hanya diletakkan di kulit, lalu sekarang benar-benar ditekan masuk. Aku menatapnya.

"Mas ingin menjadi muhallil-nya?"

"Ya."

Tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Tidak ada permintaan maaf. Bahkan tidak ada keraguan.

"Kenapa harus Mas?"

"Karena hanya aku yang bisa dipercaya."

Aku hampir tidak percaya pada jawabannya. Laki-laki yang baru saja berniat merahasiakan pernikahan dari istrinya sedang berbicara tentang kepercayaan.

Aku menelan rasa pahit di tenggorokan.

"Bagaimana denganku?"

Judul: Akad Tanpa Rasa
Penulis: Olivia Shea

19/08/2026

"Beneran nggak mau diantar dulu?" tanya Athan pada Akbar.

"Nggak deh mas, gue sendiri aja, lo juga mau ngajar kan?" jawab Akbar seraya mengangkat tas berisi pakaian Meyra.

"Nggak papa, biar nanti aku minta Gus Aziz untuk menggantikan," ucap Athan.

"Nggak usah."

"Ya sudah, kalau begitu kalian berdua hati-hati ya, kalau ada apa-apa langsung bilang saja," pesan Athan merangkul Akbar.

"Oke mas. Lo juga, kalau ada apa-apa jangan lupa bilang sama gue!" ucap Akbar menepuk pelan lengan Athan.

"La, titip mas gue!"

"Siap!" sahut Qila tersenyum dibalik cadarnya.

"Pak dokter, kak Qila.... Mey pamit ya, terima kasih banyak untuk semuanya, terima kasih juga karena sudah dikenalkan sama jodoh Mey," ucap Mey tersenyum memeluk Qila.

"Saya kakak kamu Mey, berhenti panggil saya dengan panggilan seperti itu!" protes Athan.

Akbar menoyor kepala Meyra membuat Meyra memberengut. "Panggil mas Athan!"

"Iya, mas Athan..."

"Tangan kamu kasar sekali sama Meyra, Bar!" omel Athan memukul tangan Akbar.

"Iya, om Akbar s**a kdrt," lapor Meyra memberengut. "Baru menikah saja sudah kdrt, gimana kalau udah lama menikah nanti?"

"Ya nggak lah, gue bukan banci yang berani kasar sama perempuan," ucap Akbar merangkul pundak Meyra sambil cekikikan.

"Bar... Dijaga tangan kamu, jangan terlalu ringan, kasihan Meyra, kalau kamu kebiasaan kaya gitu!" omel Athan.

"Iya, iya...." sahut Akbar.

"Udah? Ayo..."

"Mey, kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang sama kakak ya," pesan Qila. "Meyra simpan nomor kakak kan?"

"Iya kak."

Qila mengangguk. "Selamat menempuh hidup baru dek..." ucap Qila kembali memeluk Meyra.

"Kalau Akbar nakal langsung bilang sama kakak ya, jangan dipendem sendiri nanti kamu bisa stress," ucap Qila setengah bercanda.

"Asem!" Akbar menatap Qila dengan tajam membuat Qila dan Athan langsung terkekeh.

Qila terkekeh melepaskan pelukan mereka. "Sesekali menginaplah di sini, biar kita bisa bercerita."

"Insya Allah kak."

"Udah ah, ayo!" Akbar segera menarik tangan Meyra dan menjauh dari sana dengan membawa koper dan tas.

"Assalamu'alaikum!" ucap Meyra setengah berteriak.

"Waalaikum salam wa rahmatullah wa kompak.

"Om Akbar ih! Mey kan belum selesai pamitan sama kak Qila sama mas Athan, kenapa sudah ditarik pergi?!" ketus Meyra menghempas tangan Akbar.

"Udah di tunggu sama pakde!" ucap Akbar kembali menarik Meyra masuk ke dalam mobil.

Ya, mereka memang diantar oleh sopir pribadi dari rumah Sam tadi, Akbar tidak ingin membawa mobil dan barang berharga apapun dari rumah Sam kecuali motornya yang sudah lebih dulu sampai di rumahnya.

"Ini mobilnya mau ditinggal atau saya bawa pulang nanti mas?" tanya pakde pada Akbar.

"Bawa pulang aja de, ini kan mobil rumah bukan mobil gue," ucap Akbar.

"Tapi tadi pak Sam bilang suruh tanya sekali lagi sebelum saya pulang mas, takutnya mas Akbar berubah pikiran," ujar Pakde.

"Nggak, saya kuat iman!" jawab Akbar membuat sopir itu terkekeh.

Mereka segera melajukan mobilnya menuju ke arah rumah yang dimaksud oleh Akbar. Rumah sederhana seperti yang diminta oleh Akbar sebelumnya.

Satu jam perjalanan dari rumah Athan akhirnya mereka sampai di rumah yang dimaksud oleh Akbar.

"Ini beneran mobilnya nggak mau ditinggal saja mas Akbar?" tanya pakde setelah membantu mengeluarkan barang bawaan Akbar dan Meyra.

"Iya, bawa aja. Pakde lihat sendiri nggak ada tempat untuk parkir mobil juga disini," ucap Akbar menunjuk ke arah teras rumahnya yang bisa dibilang kecil.

"Oh baik mas baik mas..." Laki-laki itu tak pernah berhenti tersenyum membuat Akbar memutar bola matanya. Akbar jelas tahu apa yang membuatnya terus tersenyum.

"Ada apa de? Katakan saja!" ucap Akbar kesal.

Judul: Brandal Kampus Is My Husband
Penulis: Elsa_Asakamore
Platform: Fizz0

18/08/2026

"Mbak, terima kasih sudah datang kembali ke hidup suami saya. Sejak Mbak kembali padanya, dia lebih bahagia dan semoga secepatnya mencer4ikan saya."

Mengetahui suamiku punya rencana m3nikah s!ri diam-diam dengan mantan kekasihnya, aku justru menant4ngnya mengucap c3rai di hadapan kedua orang tuanya. Tapi saat aku pergi, dia justru menggil@ mencariku setelah tahu ternyata mantan kekasihnya ....

Judul: Akad Tanpa Rasa
Penulis: Olivia Shea
Platform: KBM App

Bab.1
Suara perempuan dari dalam ruang kerja suamiku membuat langkahku terhenti tepat di depan pintu.

"Aku sudah bilang, jangan lakukan ini, Mas ...."

Aku mengenali suara itu.

Ning Zaskia.

Tanganku yang memegang map laporan jamaah mendadak dingin.

Sudah hampir tiga tahun aku tidak bertemu dengannya. Terakhir kali kami benar-benar dekat adalah ketika masih sama-sama tinggal di pondok. Bedanya, dia seorang ning yang dihormati banyak orang, sedangkan aku hanya santri biasa yang sering diminta mendampinginya.

"Ini satu-satunya cara," terdengar suara suamiku, Mas Sabda. Nada suaranya berbeda.

Selama dua tahun menjadi istrinya, aku nyaris lupa bahwa suamiku bisa bicara selembut itu kepada seorang perempuan. Kepadaku, jawabannya lebih sering pendek. Kadang hanya anggukan. Kadang tatapan dingin yang membuatku memilih diam daripada memperpanjang percakapan.

Aku seharusnya mengetuk. Namun, kalimat Zaskia berikutnya membuat tanganku membeku sebelum sempat menyentuh pintu.

"Kamu sudah men!kah dengan Lila, Mas."

Namaku disebut. Jantungku berdetak semakin ker4s. Lalu aku mendengar jawaban yang mungkin akan kuingat sampai mati.

"Aku sama sekali tidak mencintainya."

Aku menunduk. Jari-jariku mencengkeram map hingga bagian pinggirnya tertekuk.

"Yang ada di pikiranku hanya kamu," lanjut Mas Sabda. "Dari dulu sampai sekarang. Kalau Lila tidak menjeb4kku waktu itu, aku tidak mungkin menikah dengannya."

Menj3bak? Aku hampir tertawa. Kalau saja mereka tahu bagaimana sebenarnya pernikahan itu terjadi.

Bagaimana Umi menangis karena malu setelah orang-orang mulai membicarakan aku dan Mas Sabda.

Bagaimana Mas Sabda sendiri berdiri di depan Abah dan berkata bersedia bertanggung jawab.

Bagaimana aku bahkan sempat memohon agar pernikahan dibatalkan karena tahu hatinya bukan untukku.

Tetapi dua tahun kemudian, rupanya semua cerita itu telah berubah. Kini aku adalah perempuan l!cik yang menj3baknya. Perempuan yang merampas laki-laki dari cinta sejatinya.

Aku menarik napas pelan agar air mataku tidak jatuh. Dari dalam terdengar suara Zaskia lagi.

"Aku tidak mau menjadi alasan kamu menyakiti orang lain."

"Dia tidak perlu tahu."

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

"Abah dan Umi kamu juga tidak perlu tahu," kata Mas Sabda. "Ini urusan kita."

Aku menatap daun pintu di depanku. Jadi beginilah rupanya rasanya berdiri hanya beberapa langkah dari suami sendiri sambil mendengarkan dia merencanakan pernikahan dengan perempuan lain.

Tanpa berniat memberitahuku. Tanpa memikirkan perasaanku.

Seolah dua tahun aku berada di sisinya hanyalah kesalahan administrasi yang bisa dihapus kapan saja.

"Tapi kalau aku ingin kembali kepada suamiku, pernikahan kita tidak bisa cuma ijab kabul," ucap Zaskia lirih. "Kamu tahu itu, Mas."

"Aku tahu."

Ada jeda singkat. Lalu suara Mas Sabda terdengar begitu mantap.

"Aku akan menjalankan kewajibanku sebagai suami. Setelah itu aku menceraikanmu supaya kamu bisa kembali kepadanya."

Mataku terpejam.

Muhallil. Akhirnya aku mengerti.

Beberapa waktu lalu aku memang mendengar Zaskia sudah bercerai dari suaminya setelah pertengkaran besar. Anaknya juga sedang sakit leukemia. Aku tak pernah menyangka masalah keluarganya akan menyeret suamiku sejauh ini.

Lebih menyakitkan lagi, Mas Sabda terdengar seolah rela melakukan apa saja untuknya.

Hal-hal yang tidak pernah dia lakukan untukku. Aku menatap map di tanganku, kemudian mendorong pintu.

"Aku masuk, Mas."

Dua orang di dalam ruangan itu serentak menoleh. Aku sempat melihat wajah Zaskia berubah pucat.

Mas Sabda justru cepat sekali mengembalikan ekspresinya menjadi dingin, seperti seorang suami yang tidak sedang membicarakan rencana menikahi perempuan lain beberapa detik sebelumnya.

Aku berjalan masuk.

"Ini laporan jamaah bulan ini." Aku meletakkan map di mejanya. Jari kami sempat bersentuhan.

Dulu, sentuhan sesingkat itu cukup membuatku memikirkan Mas Sabda sepanjang malam. Sekarang aku hanya merasa bodoh.

"Taruh saja," katanya.

Aku mengangguk. Tidak bertanya. Tidak menuntut penjelasan. Ketika aku hendak berbalik, suara Mas Sabda menghentikanku.

"Qalila."

Aku menoleh.

"Antar Ning Zaskia ke apartemennya."

Zaskia langsung berdiri. "Tidak perlu, Mas. Aku bisa pulang sendiri."

Aku tersenyum tipis kepadanya.

"Kalau Ning mau, saya antar."

Entah mengapa dia justru tampak semakin tidak nyaman.

"Tidak usah, Lil. Terima kasih."

Untuk sesaat mata kami bertemu. Aku mengenal perempuan ini. Sangat mengetahuinya.

Namun, mengetahui itu ternyata tidak membuat sakitnya berkurang. Setelah Zaskia pergi, aku masih berdiri di depan meja Mas Sabda. Dia memanggilku lagi.

"Mulai besok Zaskia akan menjadi sekretaris utama menggantikan Dewi."

Aku mengangguk.

"Ya."

Alisnya sedikit berkerut, mungkin karena aku tidak bereaksi seperti yang dia perkirakan.

Lalu dia mulai menjelaskan. Tentang perceraian Zaskia. Tentang anak Zaskia yang sedang sakit. Tentang keinginannya membantu. Sampai akhirnya kalimat itu keluar dari mulutnya.

"Aku berniat menikahi Zaskia sebagai muhallil."

Walaupun sudah mendengarnya dari luar, mendengar kalimat itu langsung dari mulut suamiku tetap terasa berbeda.

Seperti pisau yang sebelumnya hanya diletakkan di kulit, lalu sekarang benar-benar ditekan masuk. Aku menatapnya.

"Mas ingin menjadi muhallil-nya?"

"Ya."

Tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Tidak ada permintaan maaf. Bahkan tidak ada keraguan.

"Kenapa harus Mas?"

"Karena hanya aku yang bisa dipercaya."

Aku hampir tidak percaya pada jawabannya. Laki-laki yang baru saja berniat merahasiakan pernikahan dari istrinya sedang berbicara tentang kepercayaan.

Aku menelan rasa pahit di tenggorokan.

"Bagaimana denganku?"

Mas Sabda bersandar di kursinya.

"Kamu jangan membuat ini lebih rumit, Lila."

Aku tersenyum. Aku benar-benar tersenyum. Bukan karena lucu. Aku hanya baru menyadari bahwa selama dua tahun ini aku terlalu sibuk mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak pernah dianggap sebagai pernikahan oleh laki-laki di depanku.

Belajar menjadi istri yang tidak banyak menuntut karena kupikir suatu hari kesabaranku akan membuat hatinya terbuka. Ternyata dia bukan tidak mampu mencintai.
Dia hanya tidak pernah ingin mencintaiku.

"Kenapa kamu tersenyum?" tanyanya.

Aku mengangkat wajah.

Air mataku sudah memenuhi pelupuk, tetapi aku menolak membiarkannya jatuh di depan laki-laki yang bahkan menganggapku sebagai jebakan.

"Mas benar."

Ekspresinya berubah.

"Maksudmu?"

"Aku tidak ingin membuat semuanya rumit."

Aku menarik napas panjang.

"Kalau Mas begitu ingin menikahi Ning Zaskia, tidak perlu melakukannya diam-diam. Tidak perlu menjadikanku istri yang menunggu di rumah sementara suaminya menjalankan kewajiban lahir dan batin kepada perempuan yang dicintainya."

"Lila."

Aku mengangkat tangan, menghentikannya.

Cukup. Dua tahun aku diam. Malam ini, aku tidak mau lagi.

"Jatuhkan talak tiga padaku sekarang, Mas."

Wajah Mas Sabda seketika menegang. Aku menatap lurus ke matanya.

"Silakan melenggang bersama Ning Zaskia. Nikahi perempuan yang selama ini Mas cintai."

Satu tetes air mata akhirnya jatuh ke pipiku. Aku mengusapnya cepat.

"Lepaskan juga beban berat bernama Qalila yang selama dua tahun ini terpaksa Mas panggil istri."

Aku benar-benar akan membuatnya menceraikanku kemudian pergi darinya. Setelah itu aku pastikan dia akan menyesal ketika mengetahui siapa perempuan yang sudah diagung-agungkannya ini.

Selengkapnya baca di aplikasi KBM.

Judul : Akad Tanpa Rasa
Penulis : Olivia Shea

Address

Banjarmasin

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yeyu Story posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share