28/08/2026
“Ndan, bantuan medis belum datang, sedangkan kondisi korban sudah semakin memprihatinkan. Apa yang harus kita lakukan?”
Suara Serda Bimo terdengar bergetar, menyiratkan keputusasaan yang sama besarnya dengan yang diam-diam kurasakan. Aku menatapnya sekilas, seragam lorengnya sudah tak lagi tampak warnanya, tertutup lapisan tanah liat tebal yang mengering. Di belakangnya, suara rintihan tertahan dari tenda darurat terdengar silih berganti dengan gemuruh guntur yang masih setia menggantung di langit.
Aku mengusap wajah kasar, aroma lumpur memenuhi udara, bahkan genangan air belum sepenuhnya surut. Rasanya lengket dan dingin. Bau amis tanah basah bercampur dengan aroma anyir d4 r4 h samar-samar tercium, menciptakan mual yang harus kutelan bulat-bulat. Korban semakin bertambah, bahkan evakuasi masih terus kami lakukan, hanya saja belum ada tenaga medis yang dikirim kemari. M4 y4 t-m4 y4 t yang baru ditemukan harus kami sisihkan di area terpisah, sementara yang se k4 r4 t hanya bisa kami baringkan dengan alas seadanya. Ketidakberdayaan ini lebih menyakitkan daripada kelelahan fisik manapun.
“Tetap lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Selamatkan siapapun yang bisa kita selamatkan secepatnya. Saya akan menghubungi pusat untuk segera mengirim bantuan medis,” jawabku tegas.
Meskipun dalam hati, aku tidak yakin seberapa cepat "segera" itu akan terwujud. Akses jalan putus, jembatan hancur. Kami benar-benar sendirian di sini.
Kami hanya memiliki kemampuan dasar pertolongan pertama, dan itu tidak cukup membantu korban-korban yang mengalami cedera serius. Perban kami sudah habis sejak pagi tadi. Kini kami hanya menggunakan kain kaos bekas atau apapun yang bersih untuk membebat l u k a r o b e k atau p4 t4 h tulang terbuka. Sudah tiga hari kami bekerja tanpa henti, tak ada yang namanya istirahat apalagi tidur. Mataku terasa panas dan berpasir, sementara otot-otot kaki rasanya sudah menjerit minta diistirahatkan. Masih terlalu banyak korban yang tertimbun dan lokasi ini terisolir. Belum ada bantuan yang datang, jadi kami hanya memaksimalkan apa yang ada saja, sambil menunggu tenaga medis yang seharusnya datang hari ini.
Setiap detik yang berlalu terasa seperti huk u m4 n m4 t i bagi mereka yang tertimbun di bawah sana.
Korban selamat sudah berhasil dievakuasi ke lokasi yang lebih aman, namun sayangnya dapur umum belum bisa kami dirikan, pasokan logistik pun terbatas, hanya ada ransum yang juga mulai menipis untuk mereka dan tim bertahan beberapa hari lagi. Aku melihat seorang ibu memeluk anaknya yang menggigil kedinginan, berbagi sekerat biskuit ransum TNI yang keras dengan air mata berlinang. Pemandangan itu menampar egoku sebagai pemimpin yang seharusnya bisa menjamin keselamatan mereka.
Tiba-tiba, seseorang menghampiriku dengan langkah tergesa namun wajahnya sedikit lebih cerah.
“Selamat siang Kapten Arshaka, tadi kami sempat mendapat sedikit sinyal dan ada info baik jika tim medis dari Yogyakarta sudah diberangkatkan kemari. Mereka masih dalam perjalanan,” lapor salah seorang pejabat daerah yang ikut bersama kami dalam mengevakuasi korban-korban ini.
Langkahku terhenti sejenak.
“Dari Jogja?” ulangku.
Kota itu "Jogja". Dua suku kata yang memiliki daya magis untuk membekukan waktuku sejenak. Di tengah kekacauan bencana ini, nama kota itu menyeruak masuk, membawa serta memori tentang jalanan yang basah oleh hujan, lampu jalan yang temaram, dan sebuah perpisahan yang belum tuntas.
“Iya, Kapt. Kabarnya dari Royal International Hospital. Mereka membawa beberapa tim dokter dan juga peralatan yang semoga bisa membantu kita di sini.”
Uhuk.
Aku tersedak ludahku sendiri mendengar nama rumah sakit itu. Dadaku mendadak berdebar tanpa alasan. Rasa lelah yang tadi menghimpit tubuhku mendadak tergantikan oleh ketegangan jenis lain. Bukan karena takut pada m4 u t, tapi pada masa lalu.
Ada banyak dokter di sana, bisa saja dia tidak ikut. Logikaku berusaha menenangkan diri. Ini misi kemanusiaan berat, medannya sulit, mungkin dia tidak ditugaskan ke lapangan seekstrem ini. Namun kemungkinan itu tetap ada.
Suara gemerisik statis dari Handy Talkie di pinggangku memecah keheningan.
Tak lama kemudian, aku mendapat informasi resmi dari pusat. Tim medis dari Yogyakarta akan tiba sekitar satu jam lagi. Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat saat manifes kedatangan dibacakan. Mereka sudah mendarat di Medan dan akan melanjutkan perjalanan dengan helikopter TNI.
Suara baling-baling itu sebentar lagi akan terdengar, membawa harapan bagi para korban, sekaligus badai bagi perasaanku yang lama terkubur.
Aku menggeleng kuat, memaksa fokus. Ini bukan waktu yang tepat untuk kenangan. Sekop di tanganku kembali terayun, membelah tanah basah. Kami satu-satunya harapan mereka saat ini.
Setiap detik aku melamun, n y4 w4 seseorang bisa saja melayang.
“Tim medis tiba jam berapa, Ndan?” tanya Bimo.
“Sebentar lagi,” balasku singkat.
Namun Bimo menatapku lebih lama dari biasanya. “Saya lihat Anda gelisah. Ada seseorang yang bikin Kapten Arshaka segusar ini?”
Aku mendengus kesal.
“Fokus, Bimo!”
“Siap, Ndan!”
🍃🍃🍃
Daun dan ranting beterbangan liar saat suara helikopter mulai mendekat. Medan terlalu becek untuk pendaratan sempurna, sehingga tim medis harus diturunkan dengan cara ekstrem. Satu per satu mereka turun dengan tali. Ada yang tegang, ada yang berteriak ketakutan, bahkan sempat terdengar jerit4 n his t e r i s sebelum akhirnya berhasil diamankan.
Hingga tiba giliran seseorang berjilbab hitam dengan rompi medis.
Aroma parfumnya membuat jantungku seakan meloncat. Di tengah bau lumpur dan bahan bakar, aroma vanilla lembut bercampur antiseptik itu begitu familiar. Saat kakinya menyentuh tanah dan tubuhnya oleng, refleks tanganku menahan lengannya.
Tatapan kami terkunci. Dunia seakan sunyi. Hanya ada kami dan masa lalu yang kembali bangkit tanpa permisi. Aku memaksakan senyum profesional, menekan gemuruh di dada.
“Selamat siang, Dokter…” sapaku pelan.
Selanjutnya di KBM APP
Judul: Dokter, Izinkan Aku Kembali
Penulis: nayyukii_