Ali Tuyyos

Ali Tuyyos اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين

Mbah Mangli: Meneladani Kedalaman Spiritual di Tengah Riuhnya Zaman​Dalam dunia yang serba cepat dan sering kali terobse...
04/07/2026

Mbah Mangli: Meneladani Kedalaman Spiritual di Tengah Riuhnya Zaman

​Dalam dunia yang serba cepat dan sering kali terobsesi dengan citra serta popularitas, sosok KH Hasan Asy'ari, atau yang akrab disapa Mbah Mangli, hadir sebagai oase yang menyejukkan sekaligus pengingat yang tajam. Bagi saya, beliau bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan manifestasi dari kualitas ulama Nusantara yang langka.

​Mengapa Beliau Begitu Istimewa?

​Ada beberapa poin refleksi yang menurut saya sangat relevan untuk kita renungkan saat ini:

​Otoritas yang Lahir dari Batin, Bukan Jabatan:
Di zaman sekarang, pengaruh sering kali diukur dari jabatan atau seberapa aktif seseorang di media sosial. Mbah Mangli mengajarkan kebalikannya. Pengaruh beliau lahir dari kedalaman spiritual, keteguhan ibadah, dan akhlak yang memancar alami. Beliau membuktikan bahwa ketika seseorang telah "selesai" dengan dirinya sendiri dan benar-benar dekat dengan Sang Pencipta, maka dunia akan datang dengan sendirinya.

​Keajaiban dalam Kesederhanaan: Kisah-kisah karomah seperti 'melipat bumi' atau pengajian tanpa pengeras suara yang tersebar di kalangan santri memang memukau. Namun, bagi saya, karomah yang sesungguhnya adalah kestabilan jiwa. Kemampuan beliau memegang teguh prinsip hidup di lereng Gunung Andong—jauh dari pusat kekuasaan—menunjukkan kemerdekaan batin yang luar biasa.

​Jejak yang Tak Pernah Putus: Fakta bahwa hingga tahun 2026 ini makam beliau tetap ramai diziarahi adalah bukti bahwa "warisan sejati" seorang ulama bukanlah bangunan fisik, melainkan kesan mendalam di hati umat. Beliau telah menanamkan benih nilai yang terus tumbuh subur di dalam diri para pengikutnya.

​Sebuah Catatan untuk Kita

​Mbah Mangli adalah pengingat bagi kita semua—terutama generasi yang hidup di era digital—bahwa spiritualitas tidak perlu berteriak untuk didengar. Kedekatan dengan Tuhan adalah urusan privat yang, jika dilakukan dengan tulus, akan menghasilkan dampak publik yang nyata.

​Di tengah hiruk-pikuk kehidupan saat ini, meneladani sikap kesederhanaan dan kemandirian spiritual beliau mungkin adalah cara terbaik agar kita tidak kehilangan arah. Mbah Mangli menunjukkan bahwa menjadi orang besar tidak harus tampak besar di mata manusia, cukup jadilah besar di hadapan-Nya.

​"𝙈𝙗𝙖𝙝 𝙈𝙖𝙣𝙜𝙡𝙞 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙠𝙩𝙞 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙢𝙗𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙩𝙤𝙩𝙖𝙡𝙞𝙩𝙖𝙨 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙥𝙪𝙡𝙖 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙨𝙚𝙢𝙚𝙨𝙩𝙖."

• Ali Tuyyos

Al-Fatihah ❤️
28/06/2026

Al-Fatihah ❤️

Salah satu pesantren unik yang ada di Jawa Timur, tepatnya di kota Tulungagung adalah pesantren PETA atau Pasulukan Tarekat Agung. Pesantren ini unik karena santrinya adalah pengikut tarekat. Perkembangan pesantren tidak luput dari nama KH. Abdul Djalil Mustaqim.

Selain masyhur sebagai mursyid tarekat, beliau juga dikenal salah satu ulama kharismatik dari yang berpengaruh dalam pendidikan pesantren di Indonesia.

Pria kelahiran 20 Juni 1943 ini berasal Desa Nawangan, Tulungagung, Jawa Timur. Mustaqim kecil tumbuh dalam lingkungan keluarga religius yang kuat. Ayahnya, Kiai Mustaqim Husain, adalah seorang mursyid tarekat sekaligus pejuang kemerdekaan.

Tentang kelahirannya ini ada beberapa peristiwa unik. Sebelum kelahirannya, sejumlah ulama telah memberi isyarat tentang masa depannya. Salah satunya adalah KH. Abdul Fattah dari Mangunsari, Tulungagung. Kiai Fattah pernah berpesan kepada ibu Kiai Jalil bahwa anak dalam kandungannya kelak akan menjadi “paku tanah Jawa.” Ungkapan tersebut sebagai pertanda akan lahirnya sosok ulama besar yang kokoh memegang peran penting bagi masyarakat.

Dan apa yang dikatakan oleh kiai Fattah ternanya terbukti kemudian hari. Pada usia lima tahun, KH. Abdul Djalil Mustaqim telah dibaiat tarekat oleh Syekh Abdur Rozaq at-Tarmasi dari Pacitan, Jawa Timur. Dalam sebuah kisah yang banyak dituturkan para murid, ia dipanggul sang syekh mengelilingi alun-alun Tulungagung sebelum prosesi baiat dilangsungkan. Momen itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya di dunia tasawuf dan tarekat.

Dari sosok ayah KH. Abdul Djalil Mustaqim mewarisi tradisi keilmuan dan perjuangan spiritual. Didikan itu yang kemudian membentuk jati diri Kiai jalil menjadi pemimpin umat yang disegani dan penuh teladan. Sedari usia dini beliau belajar agama langsung dari ayahnya. Selain itu juga mendapat pendidikan Al-Qur’an, fiqih, akhlak, dan tauhid dari KH. Ahmad Suja’i yang rumahnya tidak jauh dari lingkungan pesantren. Adapun pendidikan formalnya ditempuh hingga lulus SMPD Tulungagung pada 1958.

Setelah itu menjadi mondok di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, yang kala itu masih dalam asuhan KH. Achmad Djazuli Utsman. Di Ploso, Kiai Abdul Jalil terkenal sebagai santri yang tawaduk dan tekun. Setelah itu berlanjut nyantri ke Pesantren Mojosari, Nganjuk sebagai murid KH. Manshur. Selain nyantri, ia juga sempat kuliah di IAIN Tulungagung jurusan Bahasa Arab, meski tidak sampai selesai.

Di masa mudanya juga berguru kepada Ajengan Khudlori di Malangbong, Garut, Jawa Barat untuk memperdalam ajaran tarekat. Selain itu juga melakukan latihan-latihan spiritual yang berat seperti puasa panjang dan riyadhah. Pengalaman nyantri di berbagai pondok pesantren inilah yang juga membentuk kedalaman spiritualnya sebagai calon mursyid.

Menjadi Mursyid dan Pengasuh PETA Tulungagung

Pada 1970, di usia 28 tahun, KH. Abdul Djalil Mustaqim menjadi mursyid sekaligus pengasuh Pondok Pesulukan Tarekat Agung (PETA) Tulungagung. Tugas ini adalah bagian dari melanjutkan estafet kepemimpinan ayahnya dan mengembangkan pesantren. Sebagai mursyid Tarekat Syadziliyah, ia dikenal berwibawa, bijaksana, dan dermawan.

Kepemimpinannya tidak hanya berfokus pada pembinaan spiritual, tetapi juga pemberdayaan sosial. Hal ini terlihat dengan mendirikan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) PETA untuk membantu masyarakat kecil. Selain itu juga menyekolahkan banyak murid hingga menjadi sarjana di berbagai bidang. Kiai Jalil juga aktif dalam program sosial seperti santunan yatim, Prokasih (Program Kali Bersih), dan Prokubsih (Program Kuburan Bersih).

Pergaulan Kiai Jalil sangat luas mulai kalangan pejabat nasional hingga masyarakat biasa. Hal tersebut terlihat dari tokoh penting pernah bersilaturahmi atau berdiskusi dengannya, yang menunjukkan pengaruh dan wibawanya di tingkat nasional. Namun dalam kesehariannya, KH. Abdul Djalil Mustaqim adalah sosok sederhana namun rapi. Beliau kerap mengenakan sarung, kopiah hitam, dan baju putih. Beliau selalu memakai minyak wangi yang tersimpan dalam sakunya. Sikapnya ramah, murah senyum, dan tidak membeda-bedakan tamu yang datang. Meski memiliki jaringan luas, ia tetap membumi dan dekat dengan masyarakat kecil. Kepeduliannya terhadap yatim piatu, janda, dan kaum dhuafa menjadi bagian penting dari dakwahnya.

KH. Abdul Djalil Mustaqim wafat pada Jumat Wage, Januari 2005, sekitar pukul 01.30 dini hari. Jenazah beliau dimakamkan di kompleks Pondok PETA Tulungagung, berdampingan dengan ayahnya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun warisan perjuangannya tetap hidup. Hingga kini Pondok PETA Tulungagung terus menjadi pusat pembinaan tarekat dan pendidikan Islam. Nama KH. Abdul Djalil Mustaqim dikenang sebagai ulama besar, mursyid tarekat, dan tokoh yang memadukan kedalaman spiritual dengan kepedulian sosial secara nyata.

Sumber Penulis: Nurul Huda, yang berjudul " Kiai Abdul Djalil Mustaqim Ulama Berpengaruh dari Tulungagung " Score ngopibareng

28/06/2026

🌟 Biografi KH. Abdul Djalil Mustaqim, Ulama Besar di Tulungagung

KH. Abdul Djalil Mustaqim lahir di Tulungagung 20 juni 1943. Tepatnya di desa Nawangan, Kecamatan Keras, putra dari KH. Mustaqim Husain yang merupakam seorang mursyid dan pejuang kemerdekaan. Sejak masa kanak-kanak, beliau belajar agama pada ayahandanya sendiri. Beliau juga seorang penerus garis kemursyidan Tarekat Sadziliyah sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren PETA Tulungagung.

Sebelum kelahirannya, banyak ulama yang sudah memprediksi bahwa beliau akan menjadi ulama besar. Salah satunya adalah KH. Abdul Fattah Mangunsari Tulungagung yang mengatakan kepada ibunya, Nyai Halimah Sa’idiyah;

“Nyai, anak yang ada di dalam kandunganmu kelak akan menjadi pakunya tanah Jawa.”

Ternyata benar perkataan beliau, tepat di tahun 1947, ketika KH. Abdul Djalil berusia 5 tahun, beliau telah di bai’at tarekat oleh Syekh Abdur Rozaq at-Tarmasi Pacitan Jawa Timur.

Menurut cerita, beliau dipanggul oleh Syekh Abdur Rozaq berjalan mengelilingi alun-alun Tulungagung

Di sanalah ia dibaiat. Sebelumnya, pada saat itu Syekh Abdur Rozaq ingin mengadopsinya sebagai anak, namun sang ibu merasa keberatan. Karena tidak diizinkan untuk mengadopsi, beliau tetap meminta izin agar KH. Abdul Jalil dibawanya ke suatu tempat yaitu sekitar alun-alun Tulungagung.

Setelah dibaiat oleh Syekh Abdur Rozaq, ketika memasuki usia yang ke-11 tahun. KH. Abdul Djalil Mustaqim sudah diajari dan disuruh oleh Ayahandanya yaitu Hadlratus Syaikh Mustaqim bin Husain untuk menggantikannya membaiat santri-santrinya. Padahal saat itu, beliau masih hobi bermain layangan dengan memakai celana pendek. Hal tersebut terus berlangsung hingga ayahandanya wafat pada tahun 1970 M.

PENDIDIKAN

KH. Abdul Djalil Mustaqim sejak kecil sudah dididik langsung oleh kedua orang tuanya. Di samping itu, beliau juga belajar ilmu dasar-dasar agama seperti mengaji al-Qur’an, Fiqih, Akhlak bersama dengan KH. Ahmad Suja’i, seorang tokoh agama yang bertempat tidak jauh dari rumahnya.

Beliau juga menempuh pendidikan di SMPD Tulungagung dan lulus sekitar tahun 1958. Pada tahun 1959 di usianya yang mencapai 16 tahun, KH. Abdul Djalil Mustaqim memperdalam studi bidang ilmu agama di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Mojo Kediri selama dua tahun di bawah asuhan KH. Achmad Djazuli Utsman.

Tak hanya itu, beliau juga pernah nyantri di Pesantren Mojosari Nganjuk, tepatnya pada tahun 1961. Semasa nyantri di bawah asuhan KH. Manshur yang mana beliau merupakan pengganti dari KH. Zainuddin Mojosari yang terkenal menjadi wali agung, KH. Abdul Djalil Mustaqim juga sempat nyambi kuliah di jurusan Bahasa Arab IAIN Tulungagung. Namun, semasa perkuliahannya tidak sampai tuntas karena hanya berlangsung selama dua tahun. Ketika kuliah di IAIN Tulungagung, kakaknya, KH. Arif Mustaqim menjadi salah satu dekan di kampus tersebut.

Guru-guru Beliau

Guru-guru beliau saat menuntut ilmu, di antaranya:

KH. Mustaqim Husain
KH. Ahmad Suja’i
KH. Achmad Djazuli Utsman
KH. Manshur Mojosari Nganjuk

KARIR

Karir beliau sesuai dengan bidang keilmuannya, yakni pengasuh pesantren PETA Tulungagung dan Mursid Tarekat.

Penampilan Sehari-hari KH. Abdul Djalil Mustaqim

Dalam kehidupan sehari-hari, beliau selalu berpenampilan rapi, bersih, segar dan ceria. Rambutnya selalu tersisir rapi.

Beliau juga senang sekali memakai pewangi yang berbau harum, sebab di sakunya selalu terdapat botol minyak wangi yang biasanya diusapkan ke kedua telapak tangannya.

Penampilan kesehariannya begitu sederhana, bersarung, berkopiah hitam dan kaos oblong warna putih atau berbaju koko apabila menemui tamu. Sedangkan saat bepergian, biasanya beliau mengenakan celana panjang berwarna hitam lengkap dengan ikat pinggangnya, kemeja lengan panjang atau pendek yang dimasukkan ke dalam celana serta mengenakan kopiah hitam.

WAFAT

KH. Abdul Djalil Mustaqim kembali ke hadirat Allah Swt. sekitar pukul 01.30 dini hari, pada hari jumat Wage, Januari 2005. Sebelum wafat, beliau mengalami sakit selama tujuh hari dan dirawat di Rumah Sakit ORPEHA Tulungagung.

27/06/2026

Alhamdulillah hadir di Haul Peta

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh selamat hari Senin semuanya. Semoga hajat kita dikabulkan dan diridhoi oleh A...
23/06/2026

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh selamat hari Senin semuanya. Semoga hajat kita dikabulkan dan diridhoi oleh Allah SWT. Aamiin 🤲

14/06/2026

Apasih mengagungkan Allah itu?

Abah Jamal Lover's

13/06/2026

Muqaddimah setiap Kyai memulai ngaji kitab

10/06/2026

Saat saya menghadiri acara Halal bihalal-nya HIKAM KOTA SURABAYA, panitia menampilkan vidio Abah Jamal dengan backsound suara Abah saat memberikan nasehat. Sebuah acara yang berkesan mendalam! Semoga para keluarga ndalem dan alumni bisa meneruskan perjuangan beliau menyebarkan agama. 🤲




Meneladani salah satu kebiasaan Abah Jamal menziarahi penyebar Islam Jejak Sunyi di Puncak Giri Kedaton​Langkah kaki mem...
09/06/2026

Meneladani salah satu kebiasaan Abah Jamal menziarahi penyebar Islam

Jejak Sunyi di Puncak Giri Kedaton

​Langkah kaki membawa kami mendaki, menyusuri undakan bukit yang menjadi saksi bisu kejayaan spiritual masa lalu. Di puncak Giri Kedaton, angin berembus lirih, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa kejayaan kerajaan santri yang pernah digdaya di abad ke-15.

​Seperti yang terlihat pada salah satu foto ini, jemari ini seolah ditarik oleh magnet waktu untuk menyentuh langsung permukaan batu kuno yang kokoh namun meranggas dimakan zaman. Batu berukir ini bukan sekadar pembatas atau fondasi purbakala, melainkan sebuah prasasti bisu yang merekam untaian doa, keringat, dan pemikiran luhur para wali. Ada rasa takzim yang menjalar saat telapak tangan merasakan tekstur kasarnya—sebuah jembatan fisik yang menghubungkan masa kini yang bising dengan masa lalu yang penuh ketenangan spiritual.

​Mengurai Makna dalam Guratan Batu

​Jika diamati lebih dekat, seperti yang terekam dalam salah dua foto tersebut, struktur batu tersebut menampilkan guratan motif kuno yang menyerupai sulur atau simbol sayap (lar) yang distilir. Karakter batunya yang berpori dan diselimuti lumut kering menegaskan usianya yang telah melewati ratusan pergantian musim. Di latar belakang, tampak para peziarah lain berdiri dengan khidmat, terdiam dalam kekaguman yang sama terhadap warisan Sunan Giri ini.

​Ziarah ke Giri Kedaton hari ini bukan sekadar ritual mendatangi makam atau situs bersejarah. Ini adalah sebuah perjalanan kontemplasi. Di balik retakan batu yang menganga di bagian bawah strukturalnya, ada pesan mendalam yang tersampaikan: bahwa segala yang megah di dunia ini akan menua dan rapuh, namun nilai-nilai luhur dan perjuangan spiritual yang ditanamkan di tanah ini akan tetap abadi, mengakar di hati generasi setelahnya.

Untuk Abah Yai Jamal dan para Shohibul maqbaroh Giri Kedaton. Lahumul Fatihah 🤲

Address

Bangkalan
69156

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ali Tuyyos posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Establishment

Send a message to Ali Tuyyos:

Shortcuts

Share