Common Room

Common Room Common Room adalah sebuah platform terbuka untuk kegiatan seni, budaya dan pemanfaatan teknologi media.

Common Room Networks Foundation (Common Room) merupakan sebuah wadah dari berbagai aktifitas yang dikembangkan oleh Bandung Center for New Media Arts (est. 2001). Memulai aktivitas pada 2003, saat ini Common Room menjadi platform terbuka untuk kegiatan seni, budaya dan pemanfaatan ICT/ Media. Common Room merupakan wahana yang mempertemukan beragam individu, komunitas dan organisasi, seiring dengan

berkembangnya berbagai bentuk kerjasama dan budaya kolaborasi. Selanjutnya lembaga ini menjadi semacam wadah dimana berbagai kalangan dapat merancang dan merealisasikan berbagai ide dan gagasan berdasarkan ketertarikan dan tujuan mereka, dengan fokus kepada aktifitas riset dan pengembangan di bidang pengetahuan publik, kreativitas dan inovasi berbasis internet dan platform digital. English Translation
Common Room is a non profit platform for art, culture, and media organisation that was initially being established by Bandung Center for New Media Arts in 2001. Since 2003, Bandung Center for New Media Arts has been utilizing Common Room as an anchor that facilitates dialogue and collaboration. Later on, it becoming an open hub were people could add, edit and execute activities based on their own ideas, purpose and interest, which mainly focus in developing public knowledge, creativity and innovation in Bandung - Indonesia.

Halo, teman-teman.Pernah kepikiran enggak, ketika karya seni rupa dipamerkan, didokumentasikan, lalu fotonya beredar di ...
07/08/2026

Halo, teman-teman.

Pernah kepikiran enggak, ketika karya seni rupa dipamerkan, didokumentasikan, lalu fotonya beredar di media sosial atau digunakan untuk kepentingan lain, siapa sebenarnya yang memegang hak atas karya tersebut? Atau ketika karya seni direproduksi, dijual ulang, hingga dimanfaatkan di ruang digital, sejauh mana hak pencipta tetap terlindungi?

Bertepatan dengan momentum revisi UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, Koalisi Seni mengundang kamu berdiskusi di agenda “Diam-Diam Merugikan: Situasi Hak Cipta Seni Rupa di Indonesia.” Diskusi ini menjadi ruang bagi Koalisi Seni untuk membagikan temuan dan rekomendasi riset mengenai hak cipta di bidang seni rupa, sekaligus mengajak teman-teman berdiskusi tentang berbagai tantangan yang dihadapi para pelaku seni, berbagi pengalaman, serta merumuskan strategi untuk melindungi karya dan memperkuat posisi pencipta dalam ekosistem seni.

🗓️ Sabtu, 15 Agustus 2026
⏰ 15.30–17.30 WIB
📍 Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Jawa Barat

Dipandu oleh Heru Hikayat, kita akan berdiskusi bersama Chabib Duta Hapsoro, Syagini Ratna Wulan, Dr. Agung Damarsasongko, Hermansyah Siregar, S.H., M.H., dan Aminudin TH Siregar.

Kuota terbatas untuk 50 peserta.

Khusus buat kamu yang hadir, ada kesempatan mendapatkan versi cetak laporan Diam-Diam Merugikan: Situasi Hak Cipta Seni Rupa di Indonesia.

Daftar di bit.ly/hakciptadiselasar

Sampai bertemu di Selasar!

Bagaimana jika internet komunitas tidak hanya menghadirkan koneksi, tetapi juga memperkuat ketahanan iklim, melestarikan...
06/08/2026

Bagaimana jika internet komunitas tidak hanya menghadirkan koneksi, tetapi juga memperkuat ketahanan iklim, melestarikan budaya, hingga mendorong kemandirian warga?

Gagasan inilah yang dibawa Direktur Common Room, Gustaff H. Iskandar, saat mempresentasikan program event Rural ICT Camp 2026 sekaligus menyerahkan Policy Brief Regulatory Sandbox untuk Pengakuan dan Registrasi Internet Komunitas di Indonesia kepada Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta pada Selasa (4/8/2026). Pertemuan ini menjadi ruang dialog untuk memperkuat arah kebijakan yang mendukung pengembangan internet komunitas sebagai bagian dari pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam presentasinya, Gustaff menegaskan bahwa internet komunitas bukan sekadar menghadirkan akses, melainkan membangun ekosistem yang memberi manfaat nyata bagi pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, respons kebencanaan, hingga adaptasi terhadap perubahan iklim. Policy brief yang diserahkan juga mengusulkan pendekatan regulatory sandbox agar inovasi layanan broadband berbasis komunitas dapat diuji, dikembangkan dan diakui melalui kebijakan yang adaptif serta kolaboratif lintas sektor.

Pada kesempatan yang sama, Common Room turut memaparkan rencana penyelenggaraan Rural ICT Camp 2026 di Maros, Sulawesi Selatan, yang mengangkat tema “Internet Komunitas yang Bermakna untuk Ketahanan Iklim dan Kemandirian Warga”. Berbagai kegiatan seperti pelatihan jaringan internet, pengembangan konten budaya, demonstrasi weather station berbasis AI untuk prakiraan iklim mikro, hingga dialog kebijakan akan mempertemukan komunitas, pemerintah, akademisi, dan mitra internasional dalam satu ruang kolaborasi. Harapannya, Rural ICT Camp 2026 menjadi langkah bersama untuk memperluas dampak internet komunitas sekaligus memperkuat masa depan digital yang lebih tangguh dan bermakna bagi masyarakat.


Webinar Nasional: Karya Bernilai, Hak Tak Selalu Terlindungi: Mengurai Perlindungan Hukum atas Hak Ekonomi Karya Seni Ru...
04/08/2026

Webinar Nasional: Karya Bernilai, Hak Tak Selalu Terlindungi: Mengurai Perlindungan Hukum atas Hak Ekonomi Karya Seni Rupa & Konten Visual

Pekerja seni rupa, termasuk creator di media sosial, memiliki peran penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif Indonesia. Melalui karya-karya yang dihasilkan, pekerja seni rupa dan karya visual tidak hanya berkontribusi terhadap perkembangan kebudayaan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi yang terus berkembang.

Agar kontribusi tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan, diperlukan sistem perlindungan hukum yang memberikan kepastian terhadap hak-hak pencipta sekaligus menjamin keberlangsungan profesi pekerja seni.

Lantas, bagaimana situasi perlindungan hak ekonomi karya seni rupa dan visual di Indonesia hari ini? Apa saja langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi hak ekonomi atas suatu karya?

Mari ikuti webinar ini untuk mengupas tantangan perlindungan hak pekerja kreatif & seniman, sekaligus mengenal program konsultasi hukum gratis bagi seniman, pekerja kreatif, dan creator dari Justika yang didukung Yayasan AHP.

Catat waktunya!
🗓️ Jumat, 7 Agustus 2026
🕝 14.30 WIB–selesai
💻 Zoom Meeting

Terbuka untuk seniman, pekerja kreatif, kreator, praktisi hukum & mahasiswa hukum di seluruh Indonesia, dengan e-sertifikat.

Scan QR untuk registrasi!

Bagaimana jika suara kita tidak hanya didengar, tetapi juga diubah menjadi sebuah karya visual?Pengalaman itulah yang di...
02/08/2026

Bagaimana jika suara kita tidak hanya didengar, tetapi juga diubah menjadi sebuah karya visual?

Pengalaman itulah yang ditawarkan melalui instalasi The Proof Space: Muted Chronicles di booth ICT Watch pada acara Jagongan Hak Digital “Unmute Your Rights” yang berlangsung di Lodji Paris, Jalan Parangtritis, Yogyakarta, Sabtu (1/8/2026). Pengunjung diajak menyampaikan cerita, aspirasi, maupun pandangan mereka melalui sebuah perangkat yang memadukan telepon kuno sebagai medium perekam suara dan tablet yang dilengkapi aplikasi kecerdasan buatan. Dalam waktu maksimal dua menit, setiap rekaman suara diproses menjadi karya visual dua dimensi yang merepresentasikan pesan yang disampaikan.

Hasil visual tersebut kemudian dapat dipindai melalui kode batang (QR code) untuk diunduh, disimpan sebagai koleksi pribadi, maupun dibagikan melalui media sosial. Pendekatan ini menghadirkan pengalaman interaktif yang memperlihatkan bagaimana teknologi dapat menjadi sarana untuk mendokumentasikan dan mengomunikasikan beragam suara masyarakat dalam bentuk yang kreatif, sekaligus membuka ruang refleksi mengenai pentingnya kebebasan berekspresi di era digital.

Di sisi lain, instalasi ini juga menampilkan sebuah linimasa yang mengingatkan pengunjung pada berbagai peristiwa yang berkaitan dengan pembatasan kebebasan berekspresi di Indonesia, mulai dari karya seni dan sastra yang pernah dianggap sebagai bentuk makar, lagu dan pertunjukan teater yang mengalami represi, pembredelan media cetak, dominasi lembaga sensor, hingga tantangan yang berkembang saat ini seperti peretasan akun media sosial dan komunikasi pribadi. Melalui ruang ini, publik diajak untuk melihat perjalanan tersebut sebagai bahan pembelajaran bersama sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga hak digital dan kebebasan berekspresi secara bertanggung jawab.



Senin (27/7/2026), Common Room Networks Foundation menerima kunjungan tim Institute for Social Entrepreneurship in Asia ...
28/07/2026

Senin (27/7/2026), Common Room Networks Foundation menerima kunjungan tim Institute for Social Entrepreneurship in Asia (ISEA) dalam kegiatan diseminasi Development Index (DI) Scorecard hasil Social Return on Investment (SROI) program Community-Centered Connectivity Initiatives di Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi. Paparan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk melihat sejauh mana investasi sosial yang dilakukan mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat, mulai dari penguatan kapasitas komunitas, pengelolaan sumber daya digital, hingga peningkatan kesejahteraan dan ketahanan lingkungan.

Melalui pendekatan SROI, dampak program tidak hanya diukur dari infrastruktur atau teknologi yang dibangun, tetapi juga dari nilai sosial yang tumbuh di tengah masyarakat. Hasil evaluasi ini menjadi dasar penting untuk memahami praktik-praktik baik, tantangan yang dihadapi, serta peluang pengembangan program agar manfaatnya semakin luas dan berkelanjutan bagi komunitas.

Bagi Common Room, sesi diseminasi ini menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi lintas organisasi dalam mendorong transformasi digital yang berpusat pada masyarakat. Pembelajaran dari Kasepuhan Ciptagelar diharap dapat menginspirasi lebih banyak inisiatif yang mengedepankan konektivitas, kearifan lokal dan pembangunan yang inklusif di berbagai wilayah Indonesia.



*Dari Adat dan Darurat ke Geliat: Ragam Daya Komunitas Menuju Inklusi Digital Desa*Inklusi digital tidak berhenti ketika...
25/07/2026

*Dari Adat dan Darurat ke Geliat: Ragam Daya Komunitas Menuju Inklusi Digital Desa*

Inklusi digital tidak berhenti ketika sinyal hadir dan perangkat tersedia. Keberlanjutannya justru ditentukan oleh kemampuan warga dan komunitas dalam mengadaptasi teknologi sesuai kebutuhan, nilai, serta struktur sosial setempat.

Dalam sesi *Diskusi Lesehan Santai* di Jagongan Hak Digital 2026, kita akan berbagi pengalaman tentang:

🏡 *ADAT* - bagaimana konektivitas dinegosiasikan tanpa mengabaikan tatanan sosial warga.
🚨 *DARURAT* - bagaimana ruang komunal dan internet menjadi bagian dari pemulihan pascabencana.
🌱 *GELIAT* - bagaimana komunitas menggerakkan komunikasi warga, UMKM, kesetaraan gender, dan teknologi secara swadaya.

Bersama:

Putri Khatulistiwa — Siklus Indonesia
Heru Tjatur — ICT Watch
Gustaff H. Iskandar — Common Room
Ambar Sari Dewi — UIN Sunan Kalijaga
Valens Riyadi — Citraweb

Dimoderatori oleh Donny Utoyo — ICT Watch.

🗓 *Sabtu, 1 Agustus 2026*
⏰ *15.30–17.30 WIB*
📍 *Ruang Diskusi #4, Lodji Paris, Yogyakarta*
💻 *Daring melalui Zoom:* s.id/jhd-rembuknusa

Acara terbuka untuk umum dan dapat diikuti secara luring maupun daring. Mari bertukar cerita, praktik baik, serta gagasan tentang inklusi digital yang bertumbuh dari kekuatan komunitas.

Jagongan Hak Digital 2026 diselenggarakan pada 1–2 Agustus 2026 sebagai ruang kolaborasi masyarakat sipil, komunitas, pegiat media rakyat, praktisi teknologi informasi, dan masyarakat umum.

Hari ketiga pelatihan Perakitan dan Pemasangan OSPIT (Open Source Solar Power Irrigation Tools) dan Transfer Pengetahuan...
25/07/2026

Hari ketiga pelatihan Perakitan dan Pemasangan OSPIT (Open Source Solar Power Irrigation Tools) dan Transfer Pengetahuan di BLK Don Bosco, Sumba Barat Daya pada Rabu (22/7/2026) menjadi langkah penting dalam memastikan sistem dapat beroperasi secara mandiri. Tim Common Room, Pakebun dan peserta melanjutkan pemasangan panel surya dan sensor kelembapan tanah, kemudian melakukan uji coba menyalakan OSPIT menggunakan sumber energi dari panel surya. Meskipun sempat ditemukan kendala pada sistem atau bug saat pengujian, tim berhasil melakukan penyesuaian sehingga OSPIT kembali beroperasi dengan baik.

Setelah sistem kembali berjalan, tim melakukan pembacaan data melalui antarmuka OSPIT dan dashboard berbasis web untuk memastikan informasi dari sensor dapat diterima dengan baik. Pengaturan jaringan juga dilakukan agar sistem dapat diakses melalui koneksi Wi-Fi, sehingga proses pemantauan maupun pengendalian irigasi dapat dilakukan dari jarak jauh. Tahapan ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan sistem Smart Irrigation yang tidak hanya bekerja secara otomatis, tetapi juga mudah dipantau dan dikelola sesuai kebutuhan di lapangan.

Catatan: Tangkapan layar pengaturan penyiraman irigasi jarak jauh terlampir pada slide terakhir.


Teknologi akan lebih bermakna ketika pengetahuan tentang cara menggunakannya turut dimiliki oleh masyarakat. Setelah sis...
24/07/2026

Teknologi akan lebih bermakna ketika pengetahuan tentang cara menggunakannya turut dimiliki oleh masyarakat. Setelah sistem OSPIT (Open Source Solar Power Irrigation Tools) mulai terpasang dan diuji, rangkaian kegiatan pelatihan di Desa Sukadana, Lombok Utara berlanjut pada sesi transfer pengetahuan, Rabu (22/7/2026). Didampingi tim teknis yaitu Chief Executive Officer Pakebun, Toni Prabowo, Program Admin Common Room, Ilfani Auliya dan Staf Lapangan Common Room, Kiky Andhika peserta mengikuti pelatihan operasional sistem yang membahas pengenalan komponen OSPIT, prinsip kerja Smart Irrigation berbasis Internet of Things (IoT), cara membaca data sensor, pengoperasian dashboard monitoring, hingga operasional harian sebagai bekal dalam mengelola sistem secara mandiri.

Pelatihan ini menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa teknologi yang telah dibangun dapat dimanfaatkan secara optimal oleh komunitas. Seluruh materi disampaikan melalui praktik langsung sehingga peserta dapat melihat bagaimana setiap komponen saling terhubung dan bekerja sebagai satu kesatuan sistem. Dengan memahami cara kerja sistem secara menyeluruh, peserta diharapkan mampu mengoperasikan OSPIT secara mandiri, melakukan pemantauan kondisi lahan secara berkala, serta memanfaatkan data sebagai dasar pengelolaan air yang lebih efisien, tepat sasaran dan berkelanjutan.


Membangun pertanian yang berkelanjutan membutuhkan kolaborasi lintas pihak. Pada Selasa (21/7/2026), tim Common Room Net...
22/07/2026

Membangun pertanian yang berkelanjutan membutuhkan kolaborasi lintas pihak. Pada Selasa (21/7/2026), tim Common Room Networks Foundation bertemu dengan tim Bina Swadaya di Depok, Jawa Barat untuk membahas rencana pendampingan kelompok petani di Desa Gondel, Blora, Jawa Tengah. Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam merancang pengembangan sistem pertanian yang lebih sehat, mandiri, dan ramah lingkungan melalui pemanfaatan teknologi yang selaras dengan pengetahuan lokal.

Salah satu hal yang menarik dari Desa Gondel adalah para petaninya yang hingga kini masih berpedoman pada “Pranata Mangsa”, pengetahuan tradisional yang telah lama menjadi acuan dalam menentukan musim tanam, waktu panen, hingga memprediksi cuaca dan potensi hama. Melalui rencana program ini, kearifan lokal tersebut akan dipadukan dengan teknologi seperti sensor irigasi otomatis, weather station dan konektivitas internet untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat tanpa meninggalkan nilai-nilai yang telah diwariskan turun-temurun.

Inisiatif ini juga bertujuan mendorong pengembangan pertanian organik yang berkelanjutan, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Saat ini, kelompok petani Desa Gondel mengandalkan padi sebagai komoditas utama. Di tengah tingginya permintaan pasar terhadap beras organik, Desa Gondel memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi contoh bagaimana inovasi teknologi dan kearifan lokal dapat berjalan berdampingan demi masa depan pertanian yang lebih tangguh.


Perakitan dan Pemasangan OSPIT (Open Source Solar Powered Irrigation Tool) dan Transfer Pengetahuan resmi dimulai Senin ...
21/07/2026

Perakitan dan Pemasangan OSPIT (Open Source Solar Powered Irrigation Tool) dan Transfer Pengetahuan resmi dimulai Senin (20/7/2026) di dua lokasi, yaitu Balai Latihan Kerja (BLK) Don Bosco, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur dan Desa Sukadana, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan ini menjadi langkah awal implementasi sistem Smart Irrigation berbasis Internet of Things (IoT) yang dikembangkan secara kolaboratif bersama anggota Sekolah Internet Komunitas (S*K) di dua lokasi tersebut.

Pada hari pertama di BLK Don Bosco, Sumba Barat Daya, dengan didampingi tim teknis yaitu IoT Engineer Pakebun, Agus Budiantoro, Koordinator Program Common Room, Andriani Kesa Alivia, dan Staff Finance Common Room, Putri Firdausya melaksanakan pre-test untuk menguji kemampuan peserta serta mengulas ulang hasil survey di waktu sebelumnya, penjelasan singkat mengenai OSPIT, pengenalan alat dan fungsi, serta perakitan dan pemasangan perangkat OSPIT. Tahapan awal ini menjadi fondasi penting untuk memastikan peserta siap mengoperasikan perangkat secara optimal sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pertanian di masing-masing wilayah.

Lebih dari sekadar memasang teknologi, kegiatan ini juga menjadi ruang belajar bersama. Melalui pendekatan learning by doing, komunitas lokal dilibatkan secara aktif dalam setiap proses agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengoperasikan, merawat, serta mengembangkan sistem secara mandiri. Harapannya, OSPIT dapat menjadi solusi irigasi cerdas yang mendukung pertanian yang lebih efisien, adaptif terhadap perubahan iklim dan berkelanjutan.



Address

Jalan Cigadung Asri I No. 3
Bandung
40191

Opening Hours

Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Common Room posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category