28/12/2022
DALAM PISAU KAMI BERSAUDARA
Siapa sangka jika di bangunan bekas pabrik penggilingan padi ini justru malah tercipta pisau-pisau seni buatan Iin Suhendi. Sejak satu dekade terakhir pria yang akrab disapa Kang Iin melabuhkan kecintaannya pada profesi perajin pisau. Sempat bekerja di salah satu pabrik pisau kenamaan di Kota Bandung, hingga memutuskan untuk keluar dan berpindah bengkel produksi. Saat ini Kang Iin beraktivitas di bengkelnya sendiri di kawasan Cihanjuang,Kabupaten Bandung Barat.
Kang Iin menamai pisau buatannya dengan "череиаховыйнож" ditulis dalam ejaan bahasa Rusia yang artinya Nozh-The Turtle atau Pisau Kura-kura. Di kalangan komunitas, kolektor dan pecinta kegiatan outdoor, "Peso Si Kuya" berbahan baja dan sejenisnya ini kian diminati. Buktinya, pesanan pisau berderet di dinding bengkelnya siap menanti pemiliknya.
Dibanderol dengan harga antara Rp 450 ribu hingga jutaan rupiah, pisau buatan Kang Iin ini dibuat dengan benar-benar mengandalkan keterampilan tangan dan dibantu mesin seadanya. Butuh 2 hingga 3 hari untuk menyelesaikan sebilah pisau dengan bahan baja jenis D2 hingga siap pakai. Menurut Kang Iin, bahan baja jenis D2 lebih tajam dan awet, serta mudah diasah bila tumpul. Salah satu yang menjadi pembeda dengan pengrajin pisau lainnya, pisau yang dibuat Kang Iin harus dipanaskan dengan suhu sampai 250 derajat selama satu jam. Alasannya, pisau berbahan baja D2 harus melalui proses Heat Treatment (HT). Jika tidak melalui proses HT yang benar, pisau bisa patah bila digunakan terus menerus untuk memotong benda seperti pohon, kurang awet bagi pemilikinya.
Karena kualitasnya, tak heran jika konsumen produk pisau Kang Iin terhitung loyal. Di dalam negeri, pisau buatan Kang Iin sudah merambah ke berbagai daerah. Sedangkan di luar negeri pisaunya sudah dipasarkan sampai negara Malaysia, Singapura, Jepang, Jerman, Kanada dan Austria.
Keberadaan pecinta pisau yang terorganisir dalam komunitas jadi peluang pemasaran Kang Iin. Belum lagi kompetisi seperti Bladesports Cutting Competition membuat nama pisau buatannya semakin berkibar. Bagi Kang Iin, kompetisi tersebut tidak hanya menjadi ajang untuk mengakrabkan pecinta pisau, namun sebagai tolak ukur sejauh mana pisau yang dimiliki bisa digunakan.
Dalam kompetisi sejumlah rintangan mulai balok kayu, tambang, sedotan, kertas, kaleng minuman ringan, sampai botol air kemasan, berjejer di depan peserta. Saat aba-aba terdengar, peserta mesti bergegas menuju ke setiap rintangan. Butuh kesiapan fisik, konsentrasi, dan tentunya pisau yang benar-benar kuat dan tajam untuk keluar sebagai juaranya. Tidak hanya mahir tetapi juga percaya pada pisau yang digenggamnya.