14/06/2026
Di antara mimpi dan perasaan,
aku berdiri cukup lama.
Angin membawa banyak kemungkinan,
namun hidup tidak selalu memberi kesempatan
untuk mengejar semuanya.
Maka aku belajar menundukkan hati,
membiarkan beberapa rasa berjalan menjauh,
sementara aku tetap melangkah ke arah yang telah ditentukan.
Dan tanpa kusadari,
di saat aku sibuk mengalah,
ada seseorang yang memilih bertahan dalam diam.
Bab 3 – Belajar Mengalah
Aku belajar sejak dini bahwa hidup tidak selalu memberimu pilihan. Kadang, ia hanya memberimu kewajiban.
Aku tahu nenek menaruh seluruh harapannya padaku. Setiap lembar uang sekolah yang ia serahkan terasa lebih berat dari buku pelajaran mana pun. Maka perasaan—terutama cinta—kupeluk sebagai sesuatu yang harus dikalahkan.
Saat Regi menyatakan perasaannya, aku menolaknya dengan hati-hati. Ia hanya tersenyum kecil. Tidak marah. Tidak memaksa.
Tak lama setelah itu, pesan-pesan tanpa nama mulai datang. Aku tidak tahu dari siapa. Tapi aku tahu aku merasa aman membalasnya. Aku bercerita tentang Rima, tentang takut gagal, tentang lelah menjadi kuat sendirian.
Aku tidak tahu, di balik layar ponsel itu, ada seseorang yang belajar mencintaiku dengan cara paling sunyi.
(Bersambung)
berat