15/03/2018
K O L O R
Aku sudah mengingatkannya berulang kali, agar tidak meletakkan kolornya yang kotor sembarangan. Saru. Tetapi Zuma, istriku itu tidak pernah mau mendengarkan. Dia seolah tidak peduli dengan ocehanku.
“Aku malu, Zuma… Bagaimana kalau tiba-tiba ada tamu yang melihatnya. Apa nanti kata mereka. Masa, kamu ini perempuan, cantik tapi kok jorok. Lagi p**a, kamu itu sudah ibu-ibu, Zuma… Beri contoh yang baik untuk Asya, putri kita”
Zuma tidak bereaksi. Matanya tetap melekat pada layar handphone.
“Kemarin, bahkan ibu menegurku. Masa tidak bisa mengatur istri. Aku malu Zuma, aku malu. Kita sudah tujuh tahun menikah. Masa ya nggak bisa berubah? Itu kolor fungsinya untuk menutupi kemaluan. Ingat, kemaluan! Apa lagi, itu kolor kotor, menjijikkan. Sadar tidak sih, kamu ini?”
Aku tidak pernah seberang ini. Nada suaraku meninggi. Yang membuatku semakin kesal adalah sikapnya yang seolah tidak mempedulikan omonganku. Dia masih asyik mengetuk-ngetuk layar handphonenya.
“kamu dengar aku tidak, Zuma?”
Aku berteriak persis di depan mukanya.
Zuma tidak terkejut, matanya masih melekat pada layar handphone.
“Lantas, maumu apa? Tidak usah berteriak, malu didengar tetangga. Lagi p**a, urusan kolor kotor saja jadi masalah. Tinggal taruh di tempat cucian. Selesai. Apalah artinya selembar kolor kotor? Kecuali, aku menggeletakkan isi kolor itu di luar atau di jalanan, baru kau boleh protes. Ini rumahku sendiri. Aku bebas meletakkan apa saja di sini. Bahkan kemaluanku jika aku mau. Apa peduliku dengan orang-orang? Mereka hanya pandai menyembunyikan kebus**an. Jadi apa bedanya engkau dengan orang-orang itu, Mardi suamiku?”
Diletakkan handphonenya. Matanya yang bulat menatapku tajam. Aku bisa mendengar gemerutuk rahangnya. Zuma terdengar seperti sedang marah. Alisnya diangkat sebelah.
“Hei, mengapa engkau jadi marah-marah? Aku mengingatkan karena aku suamimu. Aku masih peduli padamu. Aku tidak mau engkau menjadi malu”
Aku tetap tidak menurunkan volume suaraku. Tentu saja, aku tidak boleh kalah gertak. Aku laki-laki.
Tiba-tiba Zuma berdiri.
“Siapa yang malu? Ini rumahku. Aku tidak mengundang mereka untuk datang dan memperhatikan kolor-kolor kotor yang aku letakkan di mana pun. Aku tidak pernah merasa malu. Banyak hal yang lebih memalukan dari pada itu dan tidak ada seorang pun yang memperdebatkannya. Aku sudah mengatakan berkali-kali, jangan terlalu membesar-besarkan . Kalau kamu tidak s**a, silakan pergi”
Matanya membeliak.
“Bagaimana mungkin, engkau mengusirku dari rumahku sendiri, Zuma? Kebodohan apa lagi ini?”
Aku berusaha mengontrol emosiku. Tanganku mengepal menahan kesal. Aku tidak percaya, Zuma mengusirku.
“Kalau bukan karena jasa ayahku, kamu tidak akan pernah dapat proyek dan membeli rumah ini. Apa kamu lupa? Siapa orang yang melihatmu, Mardi? Sebelah mata pun tak ada. Kamu hanya anak orang dusun yang kebetulan saja bernasib baik dengan dicintai seorang Zuma. Aku ini anak seorang lurah, Mardi. Anak seorang lurah. Apa engkau juga lupa? Jangan sombong kamu, Mardi”
Zuma berkacak pinggang. Tiba-tiba dia terlihat begitu besar dan aku merasa diriku semakin mengecil.
Iya. Zuma benar. Aku hanya lelaki dusun yang telah beruntung dicintai seorang anak Pak lurah.
Aku masih ingat bagaimana aku bertemu dengannya pertama kali. Di sebuah toko baju di dekat pasar. Aku bekerja sebagai juru parkir di sana. Zuma kebingungan karena kunci motornya hilang.
“Mungkin terjatuh, atau aku lupa meletakkan saat di dalam toko”
Matanya bulat dengan bulu mata yang lentik. Indah, merekah seperti bunga matahari. Dan yang paling aku s**ai adalah sepasang kakinya yang ramping. Seksi.
“Biar saya bantu cariin mbak. Mbak tunggu saja sebentar di sini”
Dengan segera, aku masuk ke dalam toko. Menanyakan pada semua karyawan toko yang sudah akrab sekali denganku. Tiba-tiba aku melihat sesuatu di bawah gantungan baju-baju. Kunci motor Zuma.
“Terima kasih mas. Ini, ambillah sebagai ucapan terima kasih”
Zuma menyodorkan uang lima puluh ribuan. Dengan cepat, aku menolaknya.
“Tidak, mbak. Terima kasih. Saya ikhlas membantu”
“Tidak apa mas, ambil saja. Saya ikhlas memberi”
Zuma memaksa menyelipkannya ke dalam saku bajuku. Akhirnya, aku tidak menolaknya lagi. Aku anggap itu rezeki.
“Terima kasih, Mbak”
Zuma tersenyum lalu mengangguk dan pergi.
Aku sudah melupakan kejadian itu sebenarnya. Tetapi ketika wajahnya muncul lagi di toko tempat aku bekerja, aku kembali ingat perihal itu.
Kami lalu mengobrol. Dimulai dari hal-hal yang sepele. Basa-basi. Akhirnya, dengan penuh keberanian, aku meminta nomor teleponnya. Sebuah kartu nama diulurkannya.
“Telepon saja, kalau tidak sibuk. Kita bisa mengobrol”
Bibirnya yang tipis menyungging senyum sementara aku seperti pungguk yang tertimpa bulan. Menakjubkan.
Sejak itulah hubunganku semakin dekat dengannya dan dengan penuh keberanian pada akhirnya, aku nyatakan perasaanku.
“Saya orang miskin, mbak. Tetapi kalau mbak berkenan, saya ingin mempersunting jennengan.”
Meski hanya bicara di telepon, tubuhku terasa gemetar. Aku tidak khawatir pada penolakan, yang aku khawatirkan, Zuma akan menjauh dariku setelah mengetahui perasaanku. Aku tidak ingin itu terjadi. Aku ingin, kami tetap berhubungan dengan baik meskipun tidak istimewa.
“Maaf, mbak… Saya lancang, kalau mbak Zuma tidak berkenan, tidak apa kok. Saya sudah cukup senang bisa mengenal dan ngobrol sama jennengan. Maafkan saya, mbak…”
Beberapa saat kami saling diam. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya ketika itu. Aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.
“Mardi, aku s**a lelaki pemberani seperti kamu. Beri aku waktu untuk bicara pada ayah dan ibu. Kita pasti menikah.”
Suara Zuma terdengar begitu tegas. Perasaanku tiba-tiba melambung begitu tinggi. Itu seperti mimpi, seperti mimpi…
***
Aku memandangnya dari ruang tamu. Zuma duduk di beranda depan sambil memangku Asya. Mereka terlihat bercanda. Aku tersenyum, mereka adalah kebahagiaanku selain Bapak dan Ibu. Sekarang, Bapak dan Ibu sudah tua, aku semakin jarang mengunjungi mereka. Ada perasaan nyeri manakala Ibu yang harus datang mengunjungiku karena tak bisa lagi menahan rindu. Anak macam apa, aku ini. Padahal perjalanan ke rumah mereka bisa ditempuh kurang dari dua jam saja. Aku mengutuk diriku sendiri.
Aku masuk ke dalam kamar dan mengeluarkan sebuah tas punggung dari dalam lemari. Aku masukkan beberapa potong baju yang aku beli sendiri dengan keringatku. Aku sudah berpikir semalaman. Aku akan pergi dari rumah ini. Aku akan p**ang dan bekerja menggantikan Bapak di ladang. Aku rasa, aku akan lebih punya harga diri dari pada harus terus bertahan di rumah ini dan meributkan perihal kolor setiap hari. Tiba-tiba, anakku Asya masuk dan memelukku.
“Ayah, ayah mau ke mana?”
Aku menatap matanya. Dadaku tiba-tiba menjadi sesak. Aku berusaha menahan agar tak menangis di hadapannya.
“Ayah mau p**ang ke tempat kakek, nak. Ayah harus membantu kakek. Kalau Asya sama Ibu mau ikut, boleh…”
“Asya mau ikut ayah, pokoknya ikut ayah…”
Asya berlari ke luar sambil memanggil ibunya. Aku tidak bisa membendung air mataku lagi.
***
“Jadi benar, engkau akan pergi, Mardi?” Zuma berdiri di samping kusen pintu. Matanya menatap tajam ke arahku. Aku mengangguk sambil menaikkan tas ke punggungku.
“Aku akan tinggal bersama Bapak dan Ibu. Menemani sisa hidup mereka. Aku tidak akan memaksamu untuk ikut denganku karena kondisi di sana sangat berbeda dengan di sini. Aku akan meneruskan pekerjaan Bapak. Aku tetap akan mengirimkan uang untuk Asya, semampuku. Maafkan aku Zuma. Aku belum bisa melakukan sesuatu yang membuatmu bangga menjadi istri seorang Mardi.”
Aku mencium keningnya dan berlalu. Zuma membatu di depan pintu. Aku melihat Asya menangis di sudut ruang tamu. Aku mendekatinya lalu membelai rambutnya.
“Ayah menunggu Asya dan Ibu p**ang ke rumah kakek…” Aku membisikinya perlahan sekali, mencium kening dan kedua pipinya sebelum benar-benar pergi.
Bandar Lampung, September 2017