21/11/2020
Namanya adalah krisna aji. Lahir di Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran kabupaten Pangandaran, pada 06 Mei 2004.
Dia putra pertama dari pasangan Iwan Mulyadi dan Puji Astuti.
Saat usia 5 tahun, kedua orang tuanya menyekolahkan Krisna di TK Al Hidayah yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya.
Selama dua tahun itu, Krisna sekolah seperti anak-anak lain pada umumnya.
Namun setelah lulus dari TK dan hendak melanjutkan sekolah SD semuanya berubah. Secara perlahan penglihatannya mulai berkurang hingga mengalami kebutaan total.
Orang tuanya pun tak tinggal diam. Mencari pengobatan, baik medis maupun non medis. Namun tidak membuahkan hasil.
Menurut keterangan dokter spesialis di Rumah sakit mata Cicendo Bandung, dirinya terkena penyakit glukoma dan tidak akan bisa sembuh walau sudah melalui jalan operasi serta belum ada teknologi yang dapat memulihkan penglihatannya.
Dua tahun berlalu. Saat Krisna berusia 9 tahun, ayah dan ibunyapun sudah mulai ikhlas atas musibah yang dialami putera kesayangannya.
Kemudian Krisna disekolahkan di SLB BC Bina Harapan Pangandaran.
Disinilah ia belajar dan bertemu teman-teman baru antara lain Ferdi, Elih, Laila dan lainnya.
Saat usianya 12 tahun tepatnya kelas 4 SD, dia mulai menyukai musik dan olah raga catur.
Dirinya bercita-cita menjadi musisi hebat dan ingin menjadi pecatur internasional.
Cita-cita Krisna didengar Eko Wibowo guru kelasnya yang memutuskan untuk melatih muridnya tersebut agar menjadi atlit catur yang hebat.
Pada tahun 2017 adalah pertandingan pertama yang dia ikuti dikota Bandung. Namun baru mendapat peringkat ke 7 se-Jawa Barat.
Dari kekalahan itu Krisna pun berlatih dengan gigih untuk mempersiapkan diri dipertandingan tahun berikutnya.
Pada tahun 2018 akhirnya hasil dari kerja keras berlatih selama satu tahun itu membuahkan hasil yang membanggakan.
Saat itu Krisna berhasil menjadi juara catur se- Jawa Barat. Sedangkan dipertandingan nasional ia baru mendapat peringkat ke 13 saat itu
Pada tahun 2019, Krisna bergabung dengan Komite Paralimpiade Nasional Indonesia ( National Paralympic Committee of Indonesia), sebuah organisasi pembina atlet penyandang disabilitas di Indonesia.
Kemudian mengikuti event Peparpeda di Kota Bandung dan berhasil menyabet 2 medali (1 perak dan 1 emas) serta berhak mewakili Jawa barat di event tingkat nasional Peparpenas.
Dikejuaraan tersebut, meskipun Krisna baru mendapat peringkat 4 besar, namun hasil tersebut menjadi kebanggaan baginya.
Krisna pun bertekad untuk terus mengasah kemampuannya dan berharap dapat menjadi juara nasional bahkan internasional.
Itulah sekilas cerita hidup Krisna Aji, seorang disabilitas tunanetra yang tak kenal putus asa.
Aji berpesan : Ingat sobat, proses tidak akan pernah mengkhianati sebuah hasil. Teruslah berlatih dan jangan pernah menyerah!!!💪