Aku punya cerita

Aku punya cerita "have a story"

02/03/2026

For 950 years, prophet Nuh (AS) called his people to worship Allah alone. They mocked him, but he trusted Allah. When the flood came, faith saved the believers. Patience and trust lead to victory.

13/11/2025

kegagalan saat melompat tinggi 😑

Pagi itu aku bangun dengan semangat luar biasa. Matahari baru nongol, burung-burung berkicau, dan aku merasa seperti pah...
13/11/2025

Pagi itu aku bangun dengan semangat luar biasa. Matahari baru nongol, burung-burung berkicau, dan aku merasa seperti pahlawan anime yang siap menaklukkan dunia.

Tanpa pikir panjang, aku keluar rumah, masih pakai piyama, dan berteriak, “Hari ini aku harus olahraga!”

Aku berlari ke lapangan depan rumah, menarik napas dalam-dalam, lalu dengan penuh gaya aku lompat setinggi mungkin. Tapi... ternyata rumputnya licin habis kena embun.

Bukannya mendarat dengan gagah, aku malah tergelincir dan jatuh telentang. Suara “duk!” bergema, disusul suara tawa tetangga yang lagi nyapu halaman.

Aku cuma bisa senyum kaku sambil bilang, “Pemanasan dulu, Bu… biar gak kaku.” 😅

12/11/2025

Kegagalan saat ajang olah raga 🤔

Fail 🥺
12/11/2025

Fail 🥺

11/11/2025

Fail part 1 😆

Matahari sore memantulkan cahaya keemasan di permukaan air. Semua mata tertuju padanya—Rika, sang “jagoan” yang ingin me...
11/11/2025

Matahari sore memantulkan cahaya keemasan di permukaan air. Semua mata tertuju padanya—Rika, sang “jagoan” yang ingin menunjukkan lompatan paling keren dari tepi kolam.

Dengan percaya diri, ia berlari… satu, dua, tiga langkah—dan lompat!

Namun nasib berkata lain. Kakinya terpeleset di ujung papan, tubuhnya meluncur miring, dan plaaaak!—ia mendarat bukan dengan gaya bebas, melainkan gaya “perut terbanting”. Suara tamparan air menggema, diikuti tawa pecah dari teman-temannya.

Rika muncul ke permukaan, wajah merah, dada perih, dan harga diri tenggelam lebih dalam dari dasar kolam. Ia hanya bisa tersenyum kaku sambil berkata lirih,
“Yang penting... gaya baru, kan?” 😅

"Sial...."Adel baru saja selesai dengan pekerjaannya di kantor. Malam itu, langit gelap tanpa bintang, hanya disinari re...
19/10/2024

"Sial...."

Adel baru saja selesai dengan pekerjaannya di kantor. Malam itu, langit gelap tanpa bintang, hanya disinari remang-remang lampu jalan yang temaram. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan jalanan menuju rumahnya begitu sepi. Hawa dingin menusuk, menambah suasana sunyi yang mencekam.

Adel mempercepat langkahnya, tas kerjanya dijinjing erat. Dia merasakan sesuatu yang aneh, seolah ada yang mengawasi dari kejauhan. Namun, dia mencoba mengabaikannya, berpikir bahwa itu hanya perasaannya saja setelah hari yang melelahkan.

Saat dia melewati sebuah gang sempit yang biasa dia lewati untuk mempercepat perjalanan, suara langkah kaki terdengar samar di belakangnya. Langkah itu tidak seperti langkah manusia biasa, bunyinya seperti sesuatu yang diseret. Adel memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, dan saat itu jantungnya berdegup kencang. Ada sosok mengerikan yang mengikutinya—sesosok wanita dengan tubuh yang hanya setengah, tanpa kaki. Wajahnya pucat dengan mata kosong yang memandang tajam ke arah Adel. Tubuhnya melayang rendah, dan bagian bawahnya hanya berupa potongan tubuh yang berlumuran darah.

Adel terkejut dan langsung berlari sekencang-kencangnya. Nafasnya tersengal-sengal, tapi suara seretan itu semakin mendekat. Setiap kali Adel menoleh, sosok itu semakin dekat, dengan tangannya yang dingin dan pucat seperti hendak meraih Adel.

“Jangan... jangan mendekat!” Adel berteriak dengan sisa tenaganya, tapi sosok itu tak mengindahkannya. Semakin cepat Adel berlari, semakin cepat juga hantu itu mengejarnya.

Sesampainya di depan rumah, Adel terpaksa berhenti karena kunci rumahnya terjatuh saat berlari tadi. Dia gemetar saat mencoba merogoh tasnya mencari kunci cadangan. Sosok setengah badan itu sudah tepat di belakangnya, mengulurkan tangan. Mata Adel membesar saat dia bisa merasakan hawa dingin yang berasal dari sosok itu.

Tiba-tiba, dari dalam rumah, lampu teras menyala terang, dan sosok itu menghilang begitu saja, seolah dibakar cahaya. Adel terjatuh ke tanah, masih menggenggam kunci di tangannya. Tubuhnya menggigil tak karuan. Di dalam rumah, ibunya yang mendengar keributan di luar segera keluar.

"Ada apa, Adel?" tanya ibunya panik.

Dengan suara yang bergetar, Adel menceritakan apa yang terjadi. Sang ibu mendengarkan dengan seksama, lalu menghela nafas panjang.

"Itu bukan pertama kalinya ada yang melihatnya," ucap ibunya lirih. "Dulu, di gang sempit yang kamu lewati, ada wanita yang meninggal dalam kecelakaan, tubuhnya terpotong. Sejak saat itu, dia sering terlihat mengejar orang-orang yang melewati gang itu sendirian, terutama di malam hari."

Adel hanya bisa terdiam. Malam itu menjadi malam yang takkan pernah bisa dia lupakan, bayang-bayang sosok setengah badan itu terus menghantuinya setiap kali dia pulang larut malam.

"Tercegat makhluk tinggi"Pada suatu malam yang sunyi, Jejen dan Oding, dua sahabat karib, tengah melakukan ronda malam d...
19/10/2024

"Tercegat makhluk tinggi"

Pada suatu malam yang sunyi, Jejen dan Oding, dua sahabat karib, tengah melakukan ronda malam di kampung mereka. Malam itu terasa lebih gelap dari biasanya, dan udara dingin menyelimuti setiap sudut jalan.

"Jen, perasaan gua gak enak," bisik Oding sambil melihat ke kanan dan kiri. "Kampung sepi banget, ya?"

Jejen hanya mengangguk, menenangkan dirinya sambil menggenggam erat senter kecil di tangannya. Tiba-tiba, langkah kaki berat terdengar dari arah ujung jalan. Keduanya berhenti, menajamkan pendengaran.

"Ssst... ada yang datang," kata Jejen dengan suara bergetar.

Dari kegelapan, muncul sosok tinggi besar, jauh lebih tinggi dari manusia biasa. Matanya merah menyala, dan tubuhnya diselimuti bayang-bayang hitam pekat. Jejen dan Oding terpaku di tempat, tidak bisa bergerak karena rasa takut yang menjalar.

Makhluk itu melangkah mendekat, suara kakinya seperti menghentakkan bumi. "Siapa yang berani ronda di sini?" suara seraknya terdengar seperti guntur di telinga mereka.

Oding, yang biasanya pemberani, kini tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Jejen mencoba berbicara, namun suaranya tersangkut di tenggorokan. Dalam hati mereka hanya bisa berdoa agar makhluk itu tidak mendekat lagi.

Namun, saat jaraknya tinggal beberapa meter, tiba-tiba makhluk itu berhenti. Seperti mengamati mereka dengan matanya yang tajam. Beberapa detik terasa seperti berjam-jam, hingga akhirnya, tanpa alasan yang jelas, makhluk itu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan.

Jejen dan Oding, yang seluruh tubuhnya gemetar, segera lari tunggang langgang ke pos ronda. Mereka tak berani lagi melanjutkan ronda malam itu. Sesampainya di pos, napas mereka masih tersengal-sengal.

"Jen, besok kita ajak yang lain kalau ronda. Gua gak mau ngalamin itu lagi," kata Oding dengan suara bergetar.

Jejen hanya mengangguk, masih syok dengan apa yang baru saja mereka alami.

"Pertemuan di Jalan Sepi"Sinta, seorang wanita muda yang baru saja pulang kerja, berjalan tergesa-gesa di jalan setapak ...
14/10/2024

"Pertemuan di Jalan Sepi"

Sinta, seorang wanita muda yang baru saja pulang kerja, berjalan tergesa-gesa di jalan setapak yang gelap. Malam itu ia kemalaman karena ada pekerjaan yang mendesak. Jalanan sepi, hanya terdengar suara angin yang sesekali berhembus pelan dan dedaunan yang bergesekan.

Lampu-lampu jalan yang jaraknya berjauhan hanya memberi sedikit penerangan. Sesekali Sinta melirik jam di tangannya, berharap segera sampai di rumah. Namun, semakin jauh ia melangkah, perasaan tidak nyaman mulai menyelimuti dirinya. Ada sesuatu yang aneh, seperti ada yang mengawasinya.

Tiba-tiba, di depan sana, di bawah lampu jalan yang remang, muncul sosok seorang nenek tua. Tubuhnya bungkuk, rambutnya panjang dan putih, serta pakaiannya lusuh. Nenek itu berdiri diam, menghalangi jalan Sinta. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup bayangan, tetapi ada sesuatu yang mengerikan dari sosoknya.

Sinta berhenti sejenak, merasa ragu. "Apa yang dilakukan nenek itu di sini, malam-malam begini?" pikirnya. Dia mencoba melangkah mundur, namun kakinya terasa berat, seolah-olah tidak bisa bergerak.

Nenek itu kemudian mengangkat wajahnya. Sepasang mata merah menatap Sinta tajam. Wajah keriputnya menyeringai, memperlihatkan gigi-gigi hitam yang mengerikan. "Kau... pulang... terlambat," suara nenek itu serak, tetapi terdengar jelas di telinga Sinta.

Dengan napas tertahan, Sinta berbalik, berusaha lari secepat mungkin. Namun, setiap kali dia menoleh ke belakang, nenek itu selalu ada, semakin dekat. Suara langkah kaki tua itu terdengar menyeret di belakangnya, semakin mendekat. Jantung Sinta berdegup kencang, kepanikan merayap di tubuhnya.

Tiba-tiba, tangannya terasa dingin, seperti ada yang mencengkeram pergelangan tangannya. Dia menjerit, namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Saat itu, nenek itu berdiri tepat di hadapannya, dengan wajah yang penuh amarah.

"Jangan pulang terlalu malam, Nak...," bisik nenek itu, sebelum perlahan-lahan menghilang menjadi kabut.

Sinta terjatuh, gemetar, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Di tengah jalan yang sunyi itu, hanya dia dan bayangan malam yang menyaksikan kengerian yang baru saja dialaminya.

"Di cegat pocong"Lukman dan Tarno baru saja selesai nongkrong di warung kopi langganan mereka. Malam itu terasa lebih di...
14/10/2024

"Di cegat pocong"

Lukman dan Tarno baru saja selesai nongkrong di warung kopi langganan mereka. Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya, dan kabut tipis mulai menyelimuti jalanan desa. Mereka memutuskan untuk pulang bersama, berjalan melewati jalan setapak yang biasa mereka lalui, jalan yang sepi dan gelap, dikelilingi oleh pepohonan tinggi.

"Lu ngerasa gak, Man, suasananya beda ya malam ini?" tanya Tarno, sambil melirik ke kiri dan kanan.

Lukman hanya tersenyum kecil, mencoba menutupi rasa takut yang mulai merayapi dirinya. "Udah lah, No. Jangan parno. Ini cuma kabut biasa."

Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan, terdengar suara aneh dari arah semak-semak. Suara kain yang terseret di tanah, semakin lama semakin jelas. Keduanya langsung berhenti, dan mata mereka terpaku pada sesuatu yang muncul di ujung jalan setapak.

Di depan mereka, berdiri sosok putih tinggi, terbungkus kain kafan yang lusuh. Pocong. Matanya kosong menatap lurus ke arah mereka, dan tanpa suara, sosok itu melompat-lompat perlahan mendekat. Wajahnya pucat, menyeramkan, dengan mulut terbuka seperti menahan jeritan yang tak pernah keluar.

Lukman dan Tarno terpaku di tempat. Tubuh mereka kaku, kaki mereka seolah menolak perintah untuk bergerak. Pocong itu semakin dekat, hanya beberapa meter di depan mereka sekarang.

"Lukman... ini beneran, kan?" Tarno berbisik, suaranya bergetar.

Lukman tidak menjawab. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi wajahnya. Tiba-tiba, pocong itu berhenti, seakan menunggu sesuatu. Detik demi detik berlalu dengan lambat, dan dalam hening yang mencekam itu, Tarno tidak tahan lagi. Ia berteriak dan langsung berlari, meninggalkan Lukman yang masih terpaku.

Lukman mencoba bergerak, tapi tubuhnya terasa berat, seakan ada sesuatu yang menahannya. Ketika ia akhirnya bisa melangkah mundur, pocong itu kembali melompat mendekat dengan kecepatan yang mengerikan. Jeritan Lukman menggema di malam yang kelam, menyatu dengan kabut yang semakin tebal.

Malam itu, hanya Tarno yang kembali ke desa, tapi ia tak pernah lagi bercerita tentang apa yang terjadi pada Lukman. Orang-orang hanya menemukan sandal Lukman yang tertinggal di jalan setapak itu, basah oleh embun dan dingin oleh malam yang sepi.

"Bakso malam"Di suatu malam yang dingin dan berkabut, Jajang, seorang penjual bakso keliling, mendorong gerobaknya menyu...
12/10/2024

"Bakso malam"

Di suatu malam yang dingin dan berkabut, Jajang, seorang penjual bakso keliling, mendorong gerobaknya menyusuri jalanan sepi di pinggiran desa. Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya, dan suara langkah kakinya serta roda gerobaknya menggema di antara pepohonan tua yang menjulang di tepi jalan.

"Bakso... bakso!" serunya pelan, berharap ada seseorang yang tertarik membeli.

Tiba-tiba, dari kejauhan, Jajang melihat sesosok bayangan hitam berdiri di bawah pohon beringin tua. Bayangan itu tak bergerak, hanya memandang ke arahnya dengan mata yang sayu, seolah menunggu. Merasa sedikit merinding, tapi tetap berpikir itu mungkin hanya seorang pelanggan biasa, Jajang mendekat.

"Bakso, Bang?" tanya Jajang dengan ramah, meski hatinya mulai terasa tak nyaman.

Bayangan itu mendekat tanpa bersuara, wajahnya tertutup oleh tudung hitam. Dia mengulurkan tangan yang pucat ke arah Jajang, menunjuk gerobak baksonya. Tanpa banyak bicara, Jajang segera menyiapkan semangkuk bakso.

"Ini, Bang," katanya, sambil menyerahkan semangkuk bakso panas.

Bayangan itu menerima mangkuk bakso dengan tangan gemetar, lalu tanpa berkata-kata, mulai menyantapnya dengan lahap. Jajang hanya bisa diam terpaku, tak berani bertanya. Setiap suapan yang diambil si pembeli, udara malam semakin terasa dingin menusuk tulang.

Setelah selesai makan, bayangan itu menatap Jajang dengan tatapan kosong. Dia mengeluarkan sekeping koin kuno dari dalam jubahnya dan meletakkannya di tangan Jajang. Begitu Jajang menerima koin itu, bayangan hitam tersebut perlahan memudar, menyatu dengan kabut malam yang semakin tebal.

Jajang menatap koin di tangannya, koin tua berkarat dengan gambar yang aneh. Hatinya berdegup kencang. Tiba-tiba, terdengar suara pelan di telinganya, “Terima kasih... baksonya enak.”

Jajang tersentak, dan koin itu tiba-tiba berubah menjadi abu di tangannya, terbang dibawa angin malam. Kaki Jajang gemetar, dia segera membereskan gerobaknya dan meninggalkan tempat itu dengan cepat, sambil bersumpah tidak akan pernah jualan di sekitar pohon beringin tua itu lagi. Namun, setiap malam ketika Jajang berjualan, dia merasa selalu diawasi—seperti ada yang menunggu untuk kembali membeli baksonya.

Address

Jalan Babakan , Kampung Sungapan Rt 026/rw 006, Desa Padabeunghar
Sukabumi
43171

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Aku punya cerita posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share