AWAN 09

AWAN 09 media hiburan

Suami bawa pelakor hamil ke rumah dan menyuruhku jadi pelayannya. Tiga jam kemudian, dia menangis di pinggir jalan karen...
05/03/2026

Suami bawa pelakor hamil ke rumah dan menyuruhku jadi pelayannya. Tiga jam kemudian, dia menangis di pinggir jalan karena baru sadar kalau dia cuma numpang di rumahku!

***

"Siapkan kamar tamu, Zavira. Mulai hari ini, Mona akan tinggal di sini. Dia sedang mengandung anakku, dan aku tidak ingin dia kelelahan di apartemen sempitnya."

Suara Rendi terdengar begitu ringan. Tidak ada beban atau nada bersalah yang terselip di sana. Ia meletakkan sebuah koper besar di tengah ruang tamu dengan dentum yang cukup keras, seolah sedang memamerkan barang mewah yang baru saja ia beli.

Aku tidak bergerak dari sofa tunggal tempatku duduk. Jemariku masih melingkar di cangkir teh yang sudah mendingin. Di samping Rendi, berdiri seorang wanita muda dengan gaun ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Perutnya masih rata, namun tangannya terus mengelus bagian itu seolah ingin semua orang tahu ada nyawa di sana.

"Anakmu?" tanyaku pelan.

Suaraku tidak bergetar. Aku menatap lurus ke arah Mona yang kini membuang muka dengan senyum tipis yang meremehkan.

"Iya! Anakku!" Rendi berkacak pinggang, menatapku dengan sorot mata yang menuntut kepatuhan. "Ibu juga sudah tahu dan setuju. Ibu bilang, karena kamu tidak bisa memberi cucu setelah lima tahun, maka wajar kalau aku mencari rahim lain. Jadi, jadilah istri yang berbakti. Layani Mona dengan baik demi calon pewaris keluarga ini."

Aku meletakkan cangkir teh ke meja kaca. Bunyi dentingnya halus, tapi sanggup memotong keheningan di antara kami. Mataku beralih pada Ibu Salma yang muncul dari balik pintu kamar dengan wajah yang dagunya terangkat tinggi.

"Jangan menatapku begitu, Zavira," cetus Ibu Salma sambil berjalan mendekati Mona. "Salahmu sendiri mandul. Beruntung Rendi tidak langsung menceraikanmu. Sekarang, cepat buatkan makan malam untuk madumu. Dia harus makan makanan bergizi."

Aku memperhatikan mereka bertiga. Suamiku, ibu mertuaku, dan wanita yang ia sebut sebagai maduku. Mereka tampak seperti satu keluarga utuh yang baru saja menemukan kebahagiaan, sementara aku dianggap hanya sebagai dekorasi rumah yang mengganggu pemandangan.

Aku tersenyum. Bukan senyum yang lahir dari rasa sakit, melainkan senyum tenang milik seseorang yang baru saja melepaskan beban berat dari bahunya.

"Baik," ucapku singkat. "Aku akan menyiapkan segalanya untuk kalian."

Tiga jam kemudian, sebuah truk pindahan berhenti tepat di depan gerbang. Aku tidak berada di dapur. Aku berdiri di depan pintu utama dengan tangan bersedekap, mengamati dua pria kekar yang mulai mengangkut televisi dan lemari pakaian dari dalam kamar utama.

"Zavira! Apa-apaan ini?! Kenapa barang-barang kami dimasukkan ke truk?!" Rendi berlari keluar dengan wajah pucat pasi. Ia mencoba menahan salah satu petugas yang membawa koper pakaiannya, tapi petugas itu hanya mengedikkan bahu.

Aku melangkah menuju mobil BMW hitam yang sudah terparkir di garasi. Mesinnya menyala dengan deru halus yang berwibawa.

"Ikuti truk itu kalau kalian masih mau punya baju untuk dipakai besok," perintahku tanpa menoleh ke arahnya.

Iring-iringan kendaraan itu membelah jalanan malam, menuju sebuah gang sempit yang gelap dan pengap. Truk itu berhenti tepat di depan sebuah rumah petak tua yang catnya sudah mengelupas. Itu adalah rumah lama milik Ibu Salma, tempat yang selalu ia banggakan sebagai saksi perjuangannya sebelum aku datang dan memboyong mereka ke istanaku.

Petugas angkut menurunkan kardus-kardus itu dengan kasar ke atas tanah yang becek. Beberapa tetangga mulai membuka jendela, berbisik-bisik melihat keributan di tengah malam.

"Zavira! Apa-apaan kamu?!" Ibu Salma berteriak histeris saat kakinya yang memakai sandal rumah menyentuh tanah berdebu. "Kenapa barang-barang kami diturunkan di pinggir jalan begini? Kamu mau jadi istri durhaka, hah?!"
Aku turun dari mobil, merapikan kacamata hitam yang bertengger di hidungku meski malam sedang pekat.

"Tenang, Bu. Saya hanya sedang melakukan kewajiban saya sebagai warga negara yang baik. Mengembalikan barang yang bukan milik saya ke tempat asalnya."

"Zavira, jangan gila! Kamu tidak bisa mengusirku dari rumah kita! Kita masih suami istri!" Rendi mencoba meraih lenganku, tapi aku melangkah mundur. Aku menatap tangannya seolah dia adalah sesuatu yang menjijikkan.

"Koreksi, Rendi. Rumah itu milik almarhum ayahku. Sertifikatnya atas namaku. Kamu? Kamu hanya tamu yang lupa diri karena terlalu lama tidur di kasur empuk."

Mona mulai merintih manja di belakang Rendi. "Mas Rendi, perutku sakit. Zavira, kamu jahat sekali sama wanita hamil!"

Aku menoleh, menatapnya dengan tatapan tajam yang membuat suaranya mendadak tertelan kembali.

"Oh, ini hadiah yang kamu banggakan itu, Rendi? Baguslah. Karena dia yang memakai barangnya sekarang, maka dia juga yang harus menanggung cicilan hidupmu."

Aku mendekati Ibu Salma, menyodorkan satu plastik besar berisi pakaian kotor Rendi yang belum sempat dicuci. Baunya yang apek menguar di antara kami.

"Ibu Salma, hari ini, tanggal 4 Januari, saya kembalikan putra kebanggaan Ibu. Dulu Ibu bilang saya beruntung mendapatkan dia, tapi nyatanya? Saya hanya memelihara benalu yang tidak tahu terima kasih."

"Kamu akan menyesal! Rendi sekarang punya Mona. Wanita yang seribu kali lebih baik dari kamu!" Ibu Salma menunjuk wajahku dengan jari yang gemetar karena amarah.

Aku tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat tenang, namun cukup tajam untuk mengiris harga diri mereka di depan orang banyak.

"Silakan. Ambil saja. Saya kembalikan dia karena barangnya sudah rusak, tidak setia, dan yang paling penting... sudah tidak punya nilai jual. Oh, satu lagi, Rendi."

Aku menjeda, menikmati kepanikan yang menjalar di wajah suamiku yang kini tidak lagi terlihat seperti pangeran.

"Surat pemecatanmu dari perusahaan ayahku akan sampai besok pagi di meja HRD. Aku sudah mencabut semua fasilitas kantor, termasuk mobil yang tadi kamu pakai untuk menjemput wanita ini. Jadi, jangan lupa cari kerja, ya? Susu bayi itu mahal."

Rendi ternganga. Tubuhnya seolah kehilangan tulang penyangga. "Zavira... kamu tidak mungkin sekejam ini..."

Aku masuk ke dalam mobil, menurunkan kaca jendela sedikit untuk memberikan satu kalimat terakhir.

"Aku tidak kejam, Rendi. Aku hanya sedang membuang sampah pada tempatnya. Pak Sopir, jalan!"

Mobil melesat pergi, meninggalkan mereka di antara tumpukan kardus dan cemoohan tetangga. Aku melihat dari spion, bayangan mereka semakin mengecil dan menghilang.

Aku menarik napas panjang, membiarkan udara memenuhi paru-paruku dengan rasa lega yang belum pernah kurasakan selama lima tahun belakangan.

Namun, saat mobil berhenti di lampu merah, sebuah pesan masuk ke ponselku. Nomor itu tidak tersimpan, tapi isinya membuat jantungku berdetak dengan ritme yang berbeda.

"Aku melihat semuanya dari kejauhan, Zavira. Kamu masih sehebat dulu saat menolakku. Butuh bantuan untuk membereskan sisa sampah lainnya?"

Selengkapnya di KBM app.

Judul: Kukembalikan Suami Toxic Ke Keluarganya

Penulis: Aveline

Address

Sukabumi
43187

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when AWAN 09 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share