Rizal..m

Rizal..m Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Rizal..m, Art, Kabupaten subang kecamatan ciasem desa jatibaru rt/rw 0202, Subang.
(1)

10/04/2024

Magrib pertama di bulan syawal temen"

KAMAR NENEKSuatu hari saat aku masih berusia dua belas tahun, ayah memanggil dan menyuruhku duduk di kursi dapur lalu me...
29/03/2024

KAMAR NENEK

Suatu hari saat aku masih berusia dua belas tahun, ayah memanggil dan menyuruhku duduk di kursi dapur lalu mengatakan padaku bahwa kakak laki-lakinya, Lance, baru saja terbunuh dalam sebuah kecelakaan mengerikan. Selama ini Paman Lance-lah yang telah merawat ibu mereka berdua, dan sekarang setelah dia telah tiada, maka tugas untuk merawat dan menemaninya secara otomatis menjadi tanggung jawab kami. Karena itu, kami harus pindah rumah.
Aku tahu bahwa aku seharusnya sedikit bersimpati pada ayah atas kehilangan besar yang dialami olehnya ini, tapi saat itu aku merasa terlalu kesal karena terpaksa harus meninggalkan sekolah dan teman-temanku hanya untuk menemani seorang nenek yang tak pernah kukenal sebelumnya. Rasanya tidak adil! Aku mendiamkan kedua orang tuaku dalam perjalanan menuju ke rumah baru kami, dan anehnya mereka justru tampak lega. Ayahku membawa mobil masuk ke halaman rumah kami yang baru dalam keheningan dengan tangan terkepal erat di setir mobil, sementara ibuku menempelkan tangan ke dahi sambil melihat keluar jendela mengamati dedaunan yang berterbangan dan langit yang tampak gelap.
Rumah yang selama ini ditempati oleh Paman Lance dan nenek itu bergaya ranch dari abad ke-19, berlantai dua, dan dikelilingi oleh pagar-pagar batu dan pepohonan mati. Aku enggan mengakuinya, tapi aku merasa terkesan pada langit-langitnya yang dekoratif, perabotan antik, dan juga pesona aristokratiknya. Pasti rasanya seperti tinggal di dalam museum. Awalnya aku merasa ragu untuk menjelajahi seluruh is rumah itu, tapi tak lama kemudian aku mulai memeriksa kursi-kursi berlengan lebar, mengutak-atik rak-rak yang dipenuhi buku-buku tua dengan judul-judul aneh, dan menjelajahi lantai duanya. Aku sudah lupa pada rasa kesalku karena kepindahan kami dan perpisahan dengan teman-temanku. Aku bahkan lupa kalau alasan kami pindah kesini adalah untuk menemani nenek. Sampai kemudian langkahku terhenti di hadapan satu-satunya pintu yang tertutup rapat di lantai dua rumah.
Aku merasa yakin kalau aku mendengar bunyi nafas seseorang di baliknya.
Secara tak sadar aku langsung berjalan mundur tanpa suara di sepanjang selasar dan kembali ke ruang tamu, di mana kedua orang tuaku sedang duduk kelelahan menghadapi tumpukan dus-dus berisi barang-barang kami.
“Pintu di ujung selasar sana… apa itu kamar nenek?” tanyaku.
“Sayang,” jawab ibuku, tiba-tiba tampak pucat. “Kau tidak masuk ke kamar itu, kan?”
“Tidak, kok. Aku hanya sedang melihat-lihat saja,” timpalku sambil memutar-mutar kaki di permukaan karpet oriental besar di lantai. Ayah langsung berlutut di hadapanku.
“Ingat baik-baik, nak. Jangan pernah masuk ke kamar nenek tanpa permisi. Tak peduli apapun yang kau dengar, atau kau kira kau lihat. Pintu itu harus selalu dalam keadaan terkunci. Mengerti?” peringatnya.
“Aku mengerti,” gumamku. “Memangnya kenapa, sih? Kenapa papa dan mama bersikap aneh begini?”
“Kami hanya sedang kelelahan saja, sayang.” Ibuku menghela nafas. “Kenapa kau tidak masuk dan memilih ruangan mana yang akan kau jadikan kamar tidurmu sementara kami menyiapkan makan malam?”
Beberapa saat kemudian, kami duduk mengelilingi sebuah meja berdekorasi rumit yang terbuat dari kayu walnut hitam, di bawah temaram lampu warna-warni, menikmati makaroni dan keju dalam mangkuk-mangkuk plastik. Jam hampir menunjukkan tengah malam saat kami selesai. Ayahku menguap lebar sambil mencuci piring. Kemudian bel pintu depan tiba-tiba berbunyi.
“Oh, ya Tuhan,” bisik ibuku. “Apa sudah waktunya sekarang?”
“Tetap di sini,” seru ayah lalu bergegas menuju pintu depan. Aku melirik ke arah selasar dan melihat siluet gelap seseorang memberikan sebuah kantung hitam berisi kantong makanan, kemudian dia bergegas kembali ke mobil van-nya yang ditinggalkan dalam keadaan mesin yang masih menyala. Ayah terburu-buru naik ke tangga membawa kantong hitam itu dengan ekspresi jijik di wajahnya, seakan-akan dia tak ingin menyentuhnya lama-lama. Ibuku dan aku berdiri mendengarkan langkah-langkah kakinya yang berderak di anak tangga, gemerincing kunci-kunci, dan kemudian pintu kamar yang berderit saat mengayun terbuka.
Ayah turun beberapa menit kemudian, tampak pucat pasi. Dia menaruh kantung kosong itu di teras depan, lalu membasuh kedua tangan dan wajahnya berulang kali di wastafel, dan berkata bahwa dia ingin cepat-cepat beristirahat. Saat itu aku belum menyadarinya, tapi ini semua akan menjadi rutinitas kami menjelang tengah malam.
Aku bukannya tidak merasa penasaran sama sekali pada nenek, hanya saja pikiranku masih disibukkan oleh berbagai macam hal lainnya: sekolah, teman-teman, dan kota tempat tinggal baru yang akan kujelajahi. Kalau memang pintu kayu tebal di ujung selasar itu harus selalu dalam keadaan tertutup, untuk keamanan semua orang, seperti yang dikatakan oleh ayah, aku tidak masalah sama sekali. Hidupku sama sekali tidak terpengaruh olehnya. Paling tidak awalnya kukira demikian.
Beberapa malam kemudian kami mulai mendengar bunyi-bunyi berkeresakan di seluruh dinding. Walaupun kondisi rumah tua ini memang bersih dan sangat terawat, kami tidak merasa heran kalau memang ada hewan-hewan seperti tikus, serangga, atau semacamnya yang telah menjadikannya rumah mereka. Awalnya aku merasa takut saat mendengar bunyi-bunyian aneh itu yang entah dari mana asalnya. Aku akan berbaring dengan mata terbuka lebar mengamati dinding-dinding kamarku, bertanya-tanya dalam hati apakah tikus-tikus itu sedang menggali lubang. Ayah sudah mencoba untuk menggunakan perangkap dan racun tikus, tapi hasilnya nihil, dan lama-kelamaan kami akhirnya mulai terbiasa juga.
Itulah sebabnya mengapa saat aku terbangun dari tidur suatu malam, aku langsung bertanya-tanya apa yang telah membuatku terjaga: keheningan yang memenuhi seluruh rumah, ataukah sesuatu yang berat dan terasa hangat yang menekan dadaku? Aku membuka mata dan melihat tiga pasang mata lainnya balas menatapku. Aku terlalu takut untuk bergerak. Aku bisa merasakan ekor tikus-tikus itu berayun-ayun di tubuhku dan aku bisa mencium bau amis tubuh mereka. Namun yang lebih buruk dari itu adalah aku bisa memahami cicitan mereka.
“Kenapa kau tidak buka pintunya, sayang? Nenek sedang menunggumu.”
Aku langsung menjerit. Tikus-tikus itu mulai berlarian dan lenyap dari pandangan saat lampu kamarku menyala dan kedua orangtuaku bergegas masuk. Mereka merasa lega karena yang kulihat hanyalah beberapa ekor tikus. Sepeninggal hewan-hewan pengerat itu, aku segera meyakinkan diriku bahwa aku hanya sedang bermimpi buruk saja. Namun seiring berjalannya waktu, tanda-tanda keanehan yang ada mulai sulit untuk kuabaikan begitu saja. Kalau aku meninggalkan penaku di meja saat sedang mengerjakan tugas sekolah dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air, aku akan kembali dan menemukan seseorang telah menuliskan ‘NAIKLAH KE ATAS’ di tengah-tengah halaman bukuku. Kalau aku sedang menggosok gigi dan melihat ke dalam cermin, terkadang bayanganku akan berhenti mengikuti gerakanku dan mulai menunjuk-nunjuk ke arah pintu di ujung selasar itu dengan penuh semangat sambil tersenyum lebar menyeramkan.
Bau-bauan dan bunyi-bunyian aneh juga sering tercium dan terdengar dari dalam kamar itu. Kalau aku sedang lapar, maka aku akan mencium aroma manis kue atau daging panggang. Kalau aku sedang memikirkan cowok yang kus**ai di sekolah, aku akan mendengar suaranya dari balik pintu kamar nenek.
Pesan-pesan misterius ini, atau entah apa namanya, mulai mempengaruhi kedua orang tuaku juga. Untuk pertama kalinya dalam hidup kami, uang tidak lagi menjadi masalah. Ibuku mulai gemar berbelanja di internet serta mencoba melakukan proyek-proyek pekerjaan rumah kecil atau apapun juga untuk mengalihkan perhatiannya dari semua keanehan ini. Sebaliknya, ayahku akan sering pergi keluar rumah selama mungkin. Dia baru akan p**ang beberapa saat sebelum pengantaran makanan tengah malam tiba. Aroma alkohol selalu menguar dari nafasnya. Sampai suatu malam, jam telah menunjukkan hampir pukul dua belas dan ayah belum p**ang sama sekali.
Ding-dong!
Aku dan ibuku saling bertatapan selama beberapa saat lalu menoleh ke pintu depan. Saat itu sudah tengah malam, dan ayah tak pernah membunyikan bel kalau dia p**ang.
Ding-dong! Ding-dong!
Ibuku mengambil sebatang rokok (sejak kapan dia mulai merokok?) dan memberi kode ke arah pintu depan.
“Sebaiknya kau lihat siapa itu.”
“Tapi…” ujarku.
“Pada akhirnya kau harus belajar untuk mengurusnya,” desak ibuku sambil mengepulkan asap rokok ke arahku. “Dia akan menjadi tanggung jawabmu setelah kami meninggal.”
Aku menelan ludah dan membuka pintu. Seorang pria sedang berdiri di depan, wajahnya tersembunyi dalam bayang-bayang. Dia mengenakan sebuah mantel panjang musim dingin walaupun saat itu suhu udaranya hangat. Saat dia menyodorkan kantung hitam berisikan makanan itu padaku, cahaya lampu dari dapur sekilas menerangi wajahnya yang sedang menyeringai memamerkan deretan gigi-giginya yang tampak tajam. Begitu aku menerima kantung tersebut di tanganku, dia pun lenyap.
“Lakukan saja seperti papamu,” ujar ibuku sambil berusaha menghindari tatapan mataku. “Keluarkan makan malamnya dari kantung itu dan taruh di samping ranjangnya. Jangan lihat apa isinya. Semoga dia sudah tidur. Kalau tidak, jangan berinteraksi dengannya. Jangan berbuat aneh-aneh atau mengajaknya berbicara. Tinggalkan saja nampannya di sana, tutup lagi pintunya, lalu kembali ke sini. Kau mengerti?”
Dengan kantung makanan itu di tanganku, aku mulai berjalan mendekati pintu di ujung selasar, dan dalam hati aku bertanya bagaimana aku bisa membukanya? Gagang pintunya berbentuk kepala seekor singa yang terbuat dari bahan kuningan, sama seperti pintu-pintu yang lainnya. Aku menjulurkan tangan untuk menyentuhnya dan meringis kesakitan saat merasakan sesuatu yang tajam mengenai permukaan telapak tanganku. Apa gagang pintunya baru saja… mengigitku? Tetesan darah segar mengalir turun membasahinya, lalu terdengar bunyi klik pelan. Aku menarik nafas dalam-dalam dan melangkah masuk.
“Arthur?” tanya suara serak dan lemah itu memanggil ayahku. “Apa itu kau?”
Tadinya aku menduga kamar itu akan tampak seperti bangsal rumah sakit yang berbau disinfektan, tapi nyatanya tidak demikian. Bagian dalamnya tampak sama saja dengan kamar-kamar lainnya di rumah. Ada rak-rak buku ukiran, karpet dekoratif, lampu-lampu warna-warni, dan sebuah kursi besar di mana seorang wanita tua sedang duduk menunggu.
Dia mengerjapkan mata seolah-olah terkejut melihatku. Aku memaksakan diri untuk tersenyum dan mulai membuka kantung makanan di tanganku. Di dalamnya ada sebuah nampan dengan tutup besi mengkilap. Seperti yang telah diinstruksikan oleh ibuku, aku langsung menaruhnya di meja kecil di samping nenek tanpa melihat isinya.
“Oh?” Nenek menoleh ke arahku. “Pastinya kau adalah putri Arthur. Senang bisa bertemu denganmu akhirnya. Apa kau bersedia tinggal sejenak dan minum teh denganku? Aku kesepian sekali. Dan pasti menyenangkan bisa bercakap-cakap dengan seseorang sesekali…”
Senyumku berubah menjadi seringai kegelisahan, tapi aku tetap menuruti kata-kata ibuku. Aku melangkah keluar dari kamar nenek sambil membawa kantung makanan itu dan membiarkan pintunya mengayun tertutup lagi di belakangku. Hatiku dipenuhi oleh keraguan saat aku turun ke bawah. Kenapa orangtuaku mengurung wanita tua yang ramah itu di dalam sana? Dia tampak seperti bayanganku akan seorang nenek dengan kacamatanya yang berbingkai emas, rambut putih yang dikuncir, dan senyuman ramah. Dalam benakku dia selalu mengenakan daster berwarna biru kotak-kotak dan akan mengajariku berkebun, menjahit, dan memanggang kue. Aku yakin ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh orang tuaku. Mungkin Nenek Withershins punya penyakit kekebalan tubuh, atau demensia yang membuatnya harus mengurung diri di dalam kamar? Tapi bagaimanapun juga…
Saat aku melangkah menuruni tangga, pintu depan melayang terbuka dan ayahku muncul. Dia menatap kantung di tanganku dan ekspresi di wajahnya yang basah oleh keringat langsung pucat oleh teror luar biasa.
“Kau tidak menyuruhnya…” serunya marah pada ibuku, yang masih sibuk menikmati rokok dan menatap langit malam di luar jendela. Ibuku melambaikan tangannya tidak sabaran.
“Sayang.” Ayah bergegas mendekat dan langsung memelukku dengan erat. Aroma alkohol menguar dari tubuhnya. “Papa benar-benar sangat menyesal. Jawab dengan jujur, apa kau berbicara dengan nenek? Apa dia memberikan sesuatu padamu?”
“Tidak,” gumamku.
“Baiklah. Baiklah,” ujarnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Kau melakukannya dengan sangat baik, sayang. Namun kau harus ingat kau tidak boleh mempercayai apapun yang dikatakan oleh nenek. Dan jangan mengambil apapun yang diberikannya. Ini untuk kebaikan semua orang.”
“Aku mengerti.”
Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai ragu. Nenek kelihatan baik di mataku. Justru kedua orang tuaku yang sebenarnya tampak selalu bersikap aneh. Ibuku mengabaikanku dan ayah hampir tak pernah ada di rumah. Setiap kali dia p**ang telat, akulah yang harus mengambil alih tugasnya membawakan makanan pada nenek.
Aku juga bisa melihat tatapan prihatin di wajah pria misterius yang membawa pesanan makanan setiap malam. Aku tak lagi merasa terkejut saat gagang pintu melukai tanganku setiap kali aku ingin masuk. Aku mulai mengetahui beberapa hal tentang nenek tanpa terang-terangan melanggar instruksi dari orangtuaku. Biasanya aku akan berdiri di depan pintu kamarnya dan mendengarkan. Setiap kali nenek menyantap apapun itu yang ada di dalam kantong makanan, dia selalu melakukannya dengan lahap dan rakus, seperti sekawanan dubuk yang sedang menyantap seonggok bangkai. Terkadang dia akan bersenandung dan memainkan musik, atau memanggil namaku dengan suara lembut mendayu-dayu.
Pada akhirnya, aku tak mampu lagi menahan diri, seperti yang kuduga telah terjadi pada ayah, Paman Lance, dan anggota-anggota keluarga kami yang lainnya dari generasi-generasi sebelumnya. Saat itu Hari Sabtu yang muram. Hujan sedang turun. Beberapa orang anak di sekolah telah berjanji untuk mengundangku nongkrong bersama mereka. Namun tak seorangpun dari mereka menelepon ke rumah. Aku menghabiskan hari itu memeriksa kamar-kamar kosong seperti hantu gentayangan sampai kejengkelan menguasai seluruh tubuhku. Sudah cukup! Aku lantas memutuskan untuk mengunjungi nenek di kamarnya.
“Oh, cepat sekali kau kembali,” ujarnya. “Aku akan memanaskan dan membuat teh. Silakan duduk, sayang.”
Dia mulai memanaskan air di atas sebuah lempengan besi panas yang tersembunyi di antara rak-rak buku. Aku mengambil posisi duduk di kursi, berbagai macam pertanyaan berseliweran dalam kepalaku. Di mana nenek tidur? Bagaimana kalau dia harus ke toilet? Apa yang dilakukannya di dalam sini sepanjang hari? Pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya agak kurang sopan untuk sebuah percakapan. Aku merasa lega saat nenek menaruh segelas teh panas di hadapanku.
“Ada apa? Apa ada yang salah?”
Sejenak aku bimbang. Ini adalah kesempatan terakhirku untuk memenuhi janji pada kedua orangtuaku supaya tidak berbicara dengan nenek. Tapi aku sudah merasa muak berjanji dan mereka masih tetap saja menyimpan banyak rahasia dariku. Muak dengan kota kecil membosankan ini. Muak dengan teman-teman baruku. Muak dengan seluruh hidupku. Aku sudah tidak peduli lagi. Memangnya hal buruk apa, sih, yang bisa terjadi?
“Semuanya,” jawabku. “Semuanya salah.”
Setelah beberapa saat, aku menyadari bahwa tak ada hal buruk yang terjadi. Nenek mengamatiku dari balik kacamatanya saat dia meneguk teh. Aku mencicipi tehku juga yang terasa nikmat dan melegakan. Lalu sebelum aku menyadari apa yang kulakukan, aku sudah mulai mengeluh panjang lebar padanya. Mengenai kepindahan kami, sikap aneh ayah dan ibuku, hubunganku yang tidak akrab dengan teman-teman baruku, dan hal-hal pribadi lainnya yang bahkan tak pernah kuberitahukan pada sahabat baikku sekalipun. Tiap kali aku meneguk tehnya, semakin banyak yang kuceritakan pada nenek. Terkadang dia akan menanyakan sesuatu untuk mengendalikan arah pembicaraan kami, namun selain itu dia melakukan sesuatu hal yang tak pernah dilakukan oleh siapapun juga denganku selama ini. Dia mendengarkan. Aku baru berhenti mengoceh saat kehabisan kata-kata dan melihat matahari sebentar lagi akan segera terbenam.
“Sebaiknya aku pergi sekarang,” ujarku sambil bangkit dari kursi.
“Tentu saja. Nenek mengerti. Hari ini menyenangkan sekali bisa bercakap-cakap denganmu. Nenek harap kau datang lagi mengunjungi nenek besok-besok!”
Aku menutup pintu di belakangku sepelan mungkin. Aku begitu merasa kuatir akan ketahuan oleh orang tuaku sampai-sampai aku tidak melihat sehelai panjang benang yang melekat di tubuhku saat aku berdiri dari kursi nenek. Helaian itu menjuntai sampai ke lantai dan menghilang di bawah pintu kamarnya. Begitu aku melangkah ke selasar, ujung benangnya langsung terlepas dari rokku dan menyelinap masuk kembali ke kamar. Saat aku sedang mengendap-endap turun ke lantai bawah, suara ayah tiba-tiba menggelegar dari kamar tidruku. Rupanya dia sedang mencariku sedari tadi.
“Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?!” bentaknya marah.
“Bukan apa-apa.” Aku memberenggut.
“Papa tahu kau dari mana, sayang. Papa kuatir kau tidak menganggap serius kata-kata papa. Papa tahu kau mungkin tidak terlalu memahaminya, tapi papa adalah orangtuamu. Kau harus percaya pada papa!”
“Percaya pada papa?” seruku kesal. “Aku bahkan tidak merasa kenal lagi pada papa!” Aku langsung menyesali kata-kataku. Tapi sudah terlambat untuk menariknya kembali. Ayahku menundukkan kepala dengan sedih.
“Ini untuk kebaikanmu,” ujarnya sambil beranjak pergi. “Kau mungkin akan membenci papa sekarang, tapi paling tidak suatu hari nanti kau akan merasa berterima kasih pada papa. Kau dihukum selama sebulan. Kau tidak boleh pergi ke mana-mana selain ke sekolah. Kau tidak boleh mengunjungi teman-temanmu. Tidak boleh bermain video games, dan yang paling penting… kau tidak boleh lagi masuk ke kamar nenek.”
Hukuman dari ayah datang di saat yang sangat tidak tepat, karena malamnya salah seorang teman kelasku menelepon dan mengundangku untuk menghadiri pesta kolam renang yang akan diadakannya minggu depan. Semua orang akan datang kecuali aku. Aku mengelilingi rumah setiap hari berusaha meredakan emosiku yang meledak-ledak. Tanpa sepengetahuanku, di saat yang bersamaan nenek rupanya sedang merajut rencananya sendiri.
Suatu malam aku terbangun karena merasa sesuatu menarik-narik seprai tempat tidur. Aku memaksakan diri untuk bangun karena merasa takut akan melihat tikus lagi. Sekonyong-konyong di hadapanku aku malah melihat sebuah boneka tua kotor bermata satu dengan alat perekam suara di dalamnya. Boneka itu menengadah menatapku dan membuka mulut untuk memutar rekaman suaranya.
“Kau sudah bersikap sangat baik, sayang. Kenapa kau tidak membiarkan nenek keluar dari kamarnya sejenak?”
“Uhm…”
Lalu boneka itu memanjat naik ke tempat tidur dan mulai berjalan tergopoh-gopoh ke arahku. Di satu rongga matanya yang kosong, aku bisa melihat ada untaian benang yang melingkar-lingkar dan menjuntai keluar dari tubuhnya sampai ke lantai dan melintang keluar di bawah pintu kamarku.
“Kalau kita keluar bersama-sama, nenek akan membuat papamu tersayang mengerti. Dia akan mengizinkanmu pergi ke pesta kolam itu. Pasti menyenangkan kalau kau bisa pergi, bukan begitu?”
Kata-katanya mungkin terdengar seperti ide yang bagus, kalau saja tidak berasal dari sebuah boneka yang tiba-tiba hidup begitu saja. Aku memandang berkeliling dengan panik, berusaha mencari sesuatu yang bisa kugunakan untuk memotong benangnya. Lalu aku melihat gunting di atas meja kecil di samping ranjang. Saat boneka itu merayap mendekati wajahku, aku langsung menyambar gunting tersebut dan memotong benangnya. Boneka itu jatuh terkulai tak bergerak. Namun benangnya kembali merayap masuk ke dalam tubuh mungilnya, dan menarik gunting dari tanganku dengan paksa. Boneka itu mengacungkan guntingnya ke arahku seperti sebilah pisau. Aku menendangnya jauh-jauh dariku, tapi ia kembali bangkit dengan cepat dan melompat ke atas dadaku. Ujung gunting hanya berjarak seinci saja dari bola mataku saat rekaman suara dari mulutnya terdengar lagi memberikan sebuah ultimatum. “Kalau kau berjanji akan membiarkan nenek keluar, nenek tidak akan mencungkil kedua bola matamu.”
Aku melangkah keluar dari kamar, dengan boneka itu yang memeluk kepalaku erat. Seluruh selasar tampak dipenuhi oleh untaian benang, seperti sarang labah-labah raksasa. Satu-satunya jalan yang bisa dilewati hanya tertuju ke kamar di ujung sana. Aku teringat pada sikap aneh ibuku, kebiasaan minum ayahku dan kenapa dia s**a sekali keluar rumah akhir-akhir ini. Apa mereka juga sudah diteror seperti ini sejak kami pindah ke sini? Apa mereka memang sengaja menyembunyikannya dariku supaya aku tidak harus ikut merasakan ketakutan yang dirajut nenek di sekeliling kami? Dalam kepanikanku, aku bahkan hampir tidak merasakan sakit saat tanganku menyentuh gagang pintu.
“Halo, sayang,” ujar nenek sambil tersenyum saat aku melangkah masuk ke kamarnya.
“Lepaskan boneka ini dariku, kumohon?” ujarku gemetar.
“Maafkan nenek. Tapi nenek tidak bisa melakukannya. Ia bertugas untuk memastikan kau melakukan seperti yang diperintahkan padamu.” Aku menyadari bahwa ujung benang yang membuat boneka itu hidup tampak bergulung di salah satu jari nenek. “Sekarang, buka dan tahan pintunya supaya nenek bisa keluar.”
Lidahku terasa kelu. Aku melangkah mundur untuk memberinya jalan…
“HENTIKAN!” seru ayahku yang tiba-tiba muncul masih mengenakan piama tidurnya. Selama beberapa saat dia tampak berkutat dengan jalinan-jalinan benang di selasar. Sekonyong-konyong kulihat boneka itu tak lagi bergerak. Benangnya hanya memiliki kekuatan di luar kamar nenek. Di dalam sini, tampaknya kendali nenek tak berarti apa-apa. Aku menarik bonekanya dari kepalaku dan menghempaskannya ke lantai, lalu bergegas keluar ke selasar dan membanting pintunya sampai tertutup. Kemudian terdengar sebuah teriakan menggeram mengerikan dari dalam.
“Papa sudah menduga… bahwa dia akan memanip**asi dan membujukmu seperti ini,” ujar ayahku dengan nafas terengah-engah. “Dia hanya bisa menyakiti kita menggunakan sesuatu yang kita berikan padanya atau benda yang kita ambil dari dalam kamar itu. Di dalam sana, kekuatannya tidak bekerja sama sekali. Dia bisa memperdayai indra kita dengan sebuah ilusi dan memanip**asi hasrat dalam hati kita, tapi dia tidak bisa melukai kita. Asalkan kita terus memberinya makan dan menyekapnya di dalam.”
“Siapa dia sebenarnya?” tanyaku. “Makhluk apa dia?”
“Beban yang harus kita pikul. Setiap keluarga punya rahasia gelap. Dia adalah rahasia gelap kita.
“Paman Lance… dia tidak meninggal dalam kecelakaan, kan?”
“Tidak.” Ayah menghela nafas.
“Arthur…” timpal ibuku memperingatkan.
“Dia bukan anak kecil lagi. Dia sudah melihat apa yang bisa terjadi kalau dia melanggar kata-kata kita. Tak ada salahnya dia tahu yang sebenarnya.”
Ayah membawa aku turun ke bawah lalu menunjukkan sebuah folder yang dilindungi oleh kata sandi di komputernya. Di dalamnya adalah beberapa video hasil rekaman kamera keamanan yang di pasang di pintu kamar nenek yang tak pernah kuperhatikan sebelumnya. Akhirnya aku mengerti bagaimana ayah bisa tahu kalau aku masuk ke kamar nenek tanpa seizinnya. Dia kemudian memutar sebuah video yang filenya diberi nama janganpernahlupa.avi.
“Pamanmu terkena strok. Bibimu, June, istrinya, memutuskan untuk memberi makan nenek sendiri. Dia tidak tahu kalau proteksi yang berada di dalam kamar itu hanya melindungi orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan kita. Kalau orang lain yang masuk ke sana maka…”
Dia tidak perlu melanjutkan kata-katanya. Aku bisa melihat sendiri dalam video rekaman hitam-putih di layar komputer, Bibi June memberikan beberapa tetes darahnya di gagang pintu untuk mengaktifkan proteksinya. Setelah pintunya terbuka, dia melangkah ke dalam kamar sambil membawa kantung makanan. Dan seketika itu juga sesuatu langsung menyeretnya masuk. Sambil menjerit-jerit histeris di lantai, dia mengulurkan tangan berusaha meraih pintu sementara darahnya bercipratan ke mana-mana. Matanya bergulir ke balik kelopak matanya. Seperti ekspresi seekor rusa yang sedang dilahap hidup-hidup oleh seekor singa. Hal terakhir yang dilakukannya sebelum tewas adalah mengayunkan pintunya sampai tertutup lagi, mengunci dirinya sendiri di dalam kamar itu bersama dengan nenek.
Bibi June telah mengorbankan dirinya untuk memastikan makhluk itu tetap terkunci di dalam kamar sehari lagi, dan juga untuk memberi kami cukup waktu sampai tiba disini dan melanjutkan tugas Paman Lance selama ini.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak hari itu, saat aku mengetahui rahasia gelap keluargaku dan mengambil alih tugas sebagai penjaga nenek. Orangtuaku akhirnya memutuskan untuk bercerai. Stres dan rasa takut yang dirasakan oleh ayah akhirnya sudah tak terbendung lagi dan dia pun meninggal dunia di usia yang masih terbilang cukup muda. Aku tak boleh mengeluh. Lama kelamaan aku sudah mulai terbiasa pada ilusi menyeramkan dan hal-hal tidak wajar lainnya yang terjadi di dalam rumah. Selama aku masih tetap tinggal di sini, aku tidak perlu menguatirkan masalah keuangan dan tak perlu bekerja sama sekali. Namun setiap kali aku berjalan-jalan di tengah kota saat udaranya terasa dingin, aku selalu mengamati deretan rumah yang berjejer rapi dan bertanya-tanya dalam hati apakah mereka juga punya sebuah rahasia gelap?
Aku bertanya-tanya berapa banyak orang yang telah kutemui hidup dalam tekanan karena harus p**ang dan menantikan datangnya kiriman makanan di tengah malam?

TAMAT
Written by Beardify
Translated by Horatio. G. C
Illustration by Eoghan. A

BANGKIT SETELAH DI GILIR 4 PRIA  Penulis : Rafasya “Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat malam ini,” ujar Bara.Seruni te...
28/03/2024

BANGKIT SETELAH DI GILIR 4 PRIA




Penulis : Rafasya

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat malam ini,” ujar Bara.

Seruni tersenyum, kemudian mengangguk.

“Aku akan datang,“ ujarnya.

“Aku sangat senang, aku tunggu nanti malam sayang,” Bara mencoleh dagu Seruni, kemudian mengendarai sepeda motor nya. Dia melambaikan tangan saat berjalan menjauh. Sedangkan senyuman di wajah Seruni langsung pudar seketika, tatapannya tajam, bergerak ke kanan dan kiri.

Seruni bersumpah, malam nanti adalah malah terakhir untuk kehidupan Bara, dendamnya harus terbalaskan. Pria bertopeng itu harus mati. Yang tak lain adalah Bara, pemilik topeng durjana itu adalah Bara. Bara harus musnah.

Seruni menyeringai kemudian pergi dari sana.

“Akhh, sakit, Bu!” pekik Rustam, dia meringis saat Nilam mengompres lebam di wajahnya.

“Kau tahan sebentar, jangan lemah.”

“Aku tidak lemah, memang rasanya saja yang sakit.”

“Sudah, diam!” tukas Nilam.

“Lagi p**a, kenapa kalian harus bertengkar?”

“Aku tidak tau, Bu. Si Bara itu yang memukulku lebih dulu,”

“Seruni bilang, itu semua karena .... Siapa pacarmu itu?” Nilam seperti sedang mengingat-ingat.

“Ruhmi? Ah tidak .... Hanya sedikit salah paham saja, Bu.”

“Sshh!” Rustam meringis kala meraskan perih kembali.

Seruni datang, melewati mereka, pandangan mata Rustam bergerak mengawasi Seruni, hingga perempuan itu masuk ke dalam kamarnya.

Rustam ingin berterima kasih, namun dia gengsi untuk melakukannya, selama ini dia tidak menyukai gadis itu dari kecil hingga dewasa. Ibunya Nilam mengadopsi Seruni saat berusia 5 tahun, orang tau Seruni meninggal dunia karena tertabrak, kepalanya terbentur aspal dengan darah yang tergenang. Kecelakaan itu terjadi di malam hari, tak ada yang tahu. Sehingga .... saat warga menemukannya, yang hidup hanyalah Seruni karena dia tidak tertabrak sama sekali.

Melihat Seruni seorang diri, Nilam merasa kasihan apalagi dia memang menginginkan anak perempuan, jadi lah dia mengadopsi Seruni dan membawanya p**ang. Nilam begitu senang, sehingga dia lupa, jika dia juga punya anak kandung yaitu Rustam yang masih membutuhkan kasih sayangnya. Sejak saat itu lah kecemburuan muncul di hati Rustam. Rustam selalu mengingatkan Nilam siapa Seruni.

***

Malam hari....

Seruni dan Bara tengah memadu kasih, mereka berada di bukit tinggi, sedang duduk berdua sambil menatap bintang-bintang.

“Apa kamu s**a Run?”

Seruni hanya memandang datar, tak ada yang terlihat menyenangkan di dunia ini, selain kematian para musuhnya.

Seruni memaksakan senyum, ”Ya, aku s**a .... Sangat indah,” ujarnya.

Bara mendekat, mengikis jarak di antara wajah mereka, napasnya terasa menerpa wajah Seruni tanpa sengaja.

Deg deg!

Seruni berusaha abai, namun aneh, perasaan nya seperti menggelitik. Dia tidak mungkin tertarik dengan orang yang sudah menghancurkan hidupnya.

Mata elang Bara menatap lekat manik mata Seruni. Bara menggenggam tangan Seruni kemudian mencium punggung tangannya.

“Kau sangat cantik, Runi.” bisiknya.

Bara mendekat, mensejajarkan p**inya dengan p**i Seruni kemudian mengecup sekilas p**i wanita itu. Mata Seruni langsung berkilat. Napasnya memburu di perlakukan hal itu oleh Bara.

Saat Bara hendak mengecup bi birnya, Seruni langsung berbicara, “Kang ....”

“Bisakah kau antar aku ke suatu tempat?” pinta Seruni.

“Kemana?”

“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, tapi aku sangat ingin kesana?“

Bara menautkan alis, kemudian tersenyum, “Baiklah, akan aku antar? Mau sekarang?”

“Tentu saja sekarang, aku telah menyiapkan kematian yang indah untukmu!” ucap Seruni dalam hati.

“Boleh, Kang. Ayok, kebetulan ini sudah hampir malam.”

***

“Benar ini tempatnya?” Bara memperhatikan gedung tua di depannya, sangat jauh dari pemukiman warga.

Bangun tinggi yang sudah tidak lagi Kokoh, dan tak terawat membuatnya terlihat angker, apalagi di lihat di malam hari.

“Ahh, aku jadi ingin istirahat, kebetulan di luar juga gerimis.” Bara tersenyum, dia berpikir Seruni ingin mengajaknya untuk melakukan hal itu, namun dia tak habis pikir, kenapa Seruni mengajaknya di tempat seperti itu, padahal bermain di kasur empuk lebih enak, pikirnya.

“Ayo masuk sayang,” Bara tersenyum, dia menggelengkan kepala, kemudian masuk ke bangunan tua itu. Dia berjalan melewati Seruni yang juga tersenyum, namun senyum Seruni sangat misterius.

“Kenapa, kau memilih tempat yang seperti ini, Run?” tanya Bara, mata nya mengamati tempat yang gelap dan berdebu.

Hening.

Seruni tak menjawab.

“Run, aku tanya, kenapa kau memilih tempat seperti ini?” tanya nya lagi.

“Jika kau mau ....”

Hening.

Bara langsung menoleh.

“Run—”

Kosong!

Tidak ada siapapun di sana. Bara segera beranjak mendekat ke arah pintu utama namun sayang terkunci.

Tok, tok, tok!

“Runi, kau di luar? Tolong buka, jangan becanda seperti ini, ini sangat tidak lucu.”

“Seruni, buka! Cepat!” teriak Bara. Dia sangat marah, ini sama sekali tidak lucu, ruangan itu menjadi gelap dan pengap.

Brak!

Suara benda jatuh membuat Bara langsung terkesiap, jantungnya berdebar-debar. tempat itu berubah gelap dan mencekam.

“Run, Runiiii?!” teriak Bara memanggil nama Seruni. Namun gadis itu seperti lenyap tak terlihat batang hidungnya.

“Run, jangan main-main dengan ku kau di mana?” Bara menjadi waspada.

Napasnya tersengal-sengal, keringat dingin mengucur dari dahinya, dia mengawasi setiap sudut bangunan itu.

Pikirannya melambung pada kematian Sam dan Amar.

“Apa jangan-jangan yang membawaku kemari bukan Seruni, bukan kah Sam dan Amar sebelum tewas bertemu dengan seseorang yang menyamar,”

Bara menepuk dahinya, dia merasa takut sekarang.

“Ayah, benar. Harusnya aku tidak keluar malam ini,”

Bara terlihat frustrasi.

Srek, srekk!

Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki mendekat, Bara sudah siap dengan kayu di tangannya.

Dia perlahan mendekat, semakin dekat ke arah sumber suara, langkah kakinya di seret pelan, hingga tak terdengar.

Dia melangkah ke arah ruangan kosong yang berada di dalam. Dia tidak bisa keluar dari sana sebab pintu utama tertutup.

Srek, srek!

Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat. Bara langsung bersembunyi di balik tembok, dia mengintip.

Matanya terbelalak melihat sosok yang sedang berdiri membelakanginya, sosok itu berbalik, Bara semakin terkejut, melihat Sam sang anak buah. Mungkin seperti itu lah Amar melihat Sam sebelum akhirnya dia tewas. Bara semakin takut, dia meraup wajah kasar, kemudian mengintip lagi. Sosok Sam kini sedang duduk di kursi dengan meja di depannya, wajah yang pucat seperti tak memiliki aliran darah sama sekali itu tengah memotong jarinya sendiri, hingga darah mengucur deras. Bara meringis, dia merasakan ngilu.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang,” pikirnya lagi.

Bara segera mengambil ponsel yang berada di saku celana, kemudian mengaktifkannya, sebelumnya ponsel Bara memang di nonaktifkan, sebab dia tak ingin orang rumah atau siapapun menggangunya saat sedang berkencan dengan Seruni.

Bara terlalu sibuk mengotak-atik ponselnya, hingga tak lama kemudian seseorang seperti menepuk pundaknya.

Tu buh Bara langsung menegang. Dengan gerakan perlahan Bara menoleh. Matanya terbelalak, kini dia melihat sosok Amar di depan mata.

Ponsel di tangannya terjatuh, Bara bergerak mundur, dia menggeleng cepat, “Siapa kau, kenapa kau meneror ku?” ujarnya.

“Apa kau tidak ingat padaku Bos? Aku Amar?!” sosok Amar berwajah pucat dengan bola mata memutih mendekat. Wajahnya penuh dengan cakaran, sehingga terlihat lebih menyeramkan. Seringaian keluar dari bi birnya.

Bara menggeleng lagi, “Tidak, kau bukan Amar, Amar sudah mati!”

“Tidak, jangan mendekat, jangaaan!” teriaknya.

Bara menutupi wajahnya menggunakan lengan. Dia benar-benar ketakutan sekarang. Napasnya memburu, jantungnya terus berdegup kencang.

Napasnya tersengal-sengal, Bara membuka mata nya, dia mengamati sekeliling, kosong! Tidak ada siapapun. Dimana sosok yang menyerupai Amar?

Bara mundur hingga terpentok ke tembok. Bara menoleh berniat mengintip ruangan kosong itu, namun seketika netranya langsung bertemu dengan mata Seruni yang berwarna merah dan berkilat, seringaian keluar dari mulutnya, air liur hitam menetes membasahi baju berwarna putih yang di kenakan Seruni.

Bara terkejut dia langsung mundur seketika.

“Ru—Runi ....” Bara tergagap.

“Siapa kau?”

“Apa kau tidak mengingatku?” ujar Seruni yang terlihat menyeramkan, kepala bertanduk, gigi bertaring dengan lidah yang menjulu panjang.

Seruni menjulurkan tangan, kuku-kukunya tumbuh cepat, panjang dan runcing.

“Apa maksudmu?”

“Aku adalah gadis yang kau nodai dengan keji, laki-laki bi4dab!” Seruni menatap tajam dan nyalang.

Mata Bara membulat sempurna.

“Kau memperkos4ku dengan brut4l, menghancurkan hidupku! Bajing4n!” teriaknya, memekikkan telinga.

Napas Bara kian tercekat, ruangan itu terasa sangat pengap.

Bara terkejut, “A—apa maksudmu Ru—runi?” ujarnya tercekat.

“Kau harus m4ti!” tukas Seruni, Bara menggeleng.

“Jangan, aku tidak tau apapun.” lirihnya dengan tubuh bergetar.

“Kau adalah si pria bertopeng, yang sudah merenggut kehormatanku!”

Mata Bara membulat, “Kau tau .... Aku lah yang sudah melenyapkan kedua anak buahmu itu, aku!” tatapan Seruni menghunus tajam.

“Sekarang giliranmu!”

Seruni menjulurkan tangan, bersiap untuk mencabik-cabik Bara dengan kukunya yang runcing. Iblis di dalam dirinya sudah menggebu ingin merasakan darah manusia, Wajah Bara terlihat pucat pasi. Dia terlihat pasrah.

“Hiyaaaaaaaaa!” Seruni mengayunkan tangannya.

Tak lama kemudian...

“Berhenti!” ujar seseorang di belakang Seruni.

Seruni mengurungkan niatnya, kemudian secepat kilat menoleh.

Matanya berkilat. Menatap tajam.

“Bukan dia orang yang kamu cari!” ujar seorang pria yang memakai topeng.

_________________

BANGKIT DARI KEMATIAN - Rafasya
KISAH LESTARI, BAB 1—13

KISAH SERUNI, BAB 14—ENDING!

Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/acc2baa0-d113-45e2-8c60-98a0f9b6c8c6?af=1a428259-8624-4b37-b819-f55b4b6f254d

Address

Kabupaten Subang Kecamatan Ciasem Desa Jatibaru Rt/rw 0202
Subang
41256

Telephone

+6283148483698

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rizal..m posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category