Naqsabandi Aliyah

Naqsabandi Aliyah Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Naqsabandi Aliyah, Art, pasar 1 hulu, Stabat.

*KEAJAIBAN HUJAN*Mawlana Shaykh Sayyid Muhammad Adil ar-Rabbani qs. Rabu, 14 Oktober 2026 / 3 Jumadil Awal 1448. Akbaba ...
15/10/2026

*KEAJAIBAN HUJAN*

Mawlana Shaykh Sayyid Muhammad Adil ar-Rabbani qs. Rabu, 14 Oktober 2026 / 3 Jumadil Awal 1448. Akbaba Dergah, Istanbul, Turkiye

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Audzubillahi minasyaitanir rajim. Bismillahir Rahmanir Rahim. Wassalatu Wassalamu ala Rasulina Muhammadin Sayyidul Awwalin wal Akhirin. Madad Ya Rasulullah, Madad Ya Sadati As’habi Rasulillah, Madad Ya Mashayikhina, Dastur Mawlana Shaykh Abdullah Faiz Daghestani, Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani. Madad. Tariqatunas suhbah wal khayru fil jam'iyyah.

Bismillahir Rahmanir Rahim.

وَهُوَ الَّذِىۡ يُنَزِّلُ الۡغَيۡثَ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُوۡا وَيَنۡشُرُ رَحۡمَتَهٗ‌ ؕ وَهُوَ الۡوَلِىُّ الۡحَمِيۡدُ

Wa huwallazii yunazzilul-ghoisa mim ba'di maa qonathuu wa yansyuru rohmatah, wa huwal-waliyyul-hamiid.

"Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung, Maha Terpuji." Sadaqallahul Azhiim.

(QS. Asy-Syura: 28)

Masya Allah, mengenai hujan ini, kita harus menyadari bahwa segala sesuatu itu berada dalam Genggaman Allah ‘Azza wa Jalla. Hujan, sebagaimana segala sesuatu lainnya, adalah milik-Nya. Semua ini merupakan manifestasi dari keagungan dan kekuasaan Allah 'Azza wa Jalla.

Masya Allah, hujan telah turun dengan sangat deras sejak pagi hari. Jika orang yang tidak beriman mencari bukti sebuah mukjizat, inilah mukjizat terbesar dari semuanya. Hamparan air yang sangat luas melayang di udara. Kapan pun dan di mana pun Allah ﷻ kehendaki, Dia ﷻ menurunkan rahmat-Nya melalui awan-awan tersebut. Dan Dia ﷻ menurunkan rahmat atau azab.

Semoga Allah 'Azza wa Jalla memperlakukan kita dengan rahmat-Nya. Semoga hujan-hujan ini menjadi sumber rahmat, bukan musibah. Semoga Dia ﷻ menurunkannya dengan membawa barakah.

Namun, kita juga harus menyadari kekuasaan Allah ﷻ dan merasa takjub serta tunduk di hadapan kekuasaan-Nya. Allah ﷻ melakukan apa pun yang Dia ﷻ kehendaki dan menetapkan apa pun yang Dia ﷻ inginkan. Awan-awan bergerak ke sana kemari. Ada jutaan lautan di udara, hamparan air yang sangat luas melayang di atas kita.

Allah 'Azza wa Jalla menurunkan hujan di tempat yang Dia ﷻ kehendaki dengan perintah-Nya, “Turunlah!” Sementara itu di tempat lain, Dia ﷻ memerintahkan, "Jangan turunkan hujan di sana!" Maka, awan-awan itu pun berlalu tanpa menurunkan hujan. Awan yang sama bisa melintasi suatu tempat tanpa meneteskan setetes air pun.

Segala sesuatu yang berkaitan dengan Allah ﷻ adalah mukjizat. Yang disebut "mukjizat" adalah terwujudnya sesuatu yang dianggap mustahil. Namun dalam kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada sesuatu yang mustahil.

Oleh karena itu, hendaklah manusia mengambil pelajaran dan bersyukur kepada Allah 'Azza wa Jalla. Janganlah mereka berputus asa terhadap-Nya. Dalam ayat,

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا

Wa huwallazii yunazzilul-ghoisa mim ba'di maa qonathuu (QS. Asy-Syura: 28), kata qonathuu artinya kehilangan harapan atau berputus asa.

Apa pun keadaannya, seseorang tidak boleh pernah kehilangan harapan kepada Allah ﷻ. Bagaimanapun kondisinya, ia harus tetap beriman dan yakin bahwa pertolongan Allah ﷻ akan datang. Orang yang kehilangan harapan kepada Allah ﷻ, memiliki iman yang lemah atau bahkan tidak memiliki iman sama sekali. Sesungguhnya, orang-orang yang tidak beriman takut terhadap segala sesuatu karena mereka tidak memiliki tempat untuk bersandar.

Adapun seorang mukmin, ia bersandar kepada Allah 'Azza wa Jalla. Dengan mengetahui bahwa segala sesuatu berada dalam Genggaman-Nya, seorang mukmin berlindung dalam rahmat-Nya dan menapaki jalan-Nya. Dengan memasuki naungan rahmat tersebut, maka seseorang akan dilindungi oleh Allah ﷻ.

Semoga Allah 'Azza wa Jalla melindungi kita semua. Semoga hujan-hujan ini membawa barakah. Semoga hujan ini memberikan manfaat bagi seluruh ummah, insya Allah. Semoga iman dan barakah turut serta turun bersama rahmat ini, insya Allah. Semoga Allah ﷻ meridhai kalian semua.

Wa min Allah at-Taufiq. Al-Fatihah.

*PARA SULTAN RUHANI*Mawlana Syekh Muhammad Adil ar-Rabbani12 Oktober 2026 / 01 Jumadil Awal 1448 HShalat Subuh – Dergah ...
13/10/2026

*PARA SULTAN RUHANI*
Mawlana Syekh Muhammad Adil ar-Rabbani
12 Oktober 2026 / 01 Jumadil Awal 1448 H
Shalat Subuh – Dergah Akbaba, Istanbul

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Rasul kami, Muhammad, penghulu orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian. Madad, wahai Rasulullah. Madad, wahai para junjungan kami, para sahabat Rasulullah. Madad, wahai para masyayikh kami. Dengan izin Mawlana Syekh Abdullah al-Fa’iz ad-Daghistani dan Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani. Madad.

Jalan thariqah kami adalah sohbah, dan kebaikan terdapat dalam kebersamaan.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
(QS. Yunus: 62)

Mahabenar Allah Yang Mahaagung.

Segala syukur bagi Allah ﷻ. Kemarin kami berziarah kepada orang-orang yang diberkahi; kami melakukan ziarah di Istanbul. Sudah lama kami tidak melakukannya. Kami diberi kesempatan untuk berziarah agar memperoleh kekuatan ruhani dan manfaat dari ruhani mereka, terutama karena ada perjalanan yang akan kami tempuh.

Yang terutama di antara orang-orang yang diberkahi ini adalah Abu Ayyub al-Anshari, yang oleh masyarakat Turki disebut “Eyüp Sultan”, Sultan Ruhani Istanbul. Mereka adalah para sultan; mereka adalah para Sultan Ruhani dan Sultan Akhirat. Hala Sultan, Eyüp Sultan—tempat-tempat peristirahatan para sahabat ini—karena mereka adalah Sultan Akhirat, manfaat dan keberkahan mereka senantiasa berlangsung. Siapa pun yang mendatangi mereka tidak p**ang dengan tangan kosong; mereka pasti memperoleh bagian dari karunia ruhani mereka. Allah ‘Azza wa Jalla mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka, kepada maqam dan tempat mereka berada, baik di dunia maupun di akhirat. Mereka adalah ibarat bukti kepemilikan Islam atas bumi ini.

Di mana pun mereka berada, mereka memiliki kedudukan penting ini. Terutama Istanbul, yang merupakan pusat terakhir kekhalifahan. Ketika Imam Mahdi ‘alaihis salam datang, beliau akan mengambil alih kekhalifahan dari sini. Dunia Islam tidak dapat tanpa seorang khalifah. Karena itu, ketika beliau datang, beliau akan menemukan amanah-amanah suci, yaitu peninggalan-peninggalan suci, di Istanbul, tepat di sini. Beliau akan mengambilnya dan menyebarkan Islam ke seluruh dunia.

Itulah sebabnya tempat-tempat peristirahatan orang-orang yang diberkahi ini dipenuhi keberkahan dan ketenteraman. Mereka memiliki daya tarik ruhani; mereka menarik orang-orang untuk datang kepada mereka, di mana pun orang-orang itu berada. Baik seseorang menjalankan shalat maupun tidak, baik tidak berjilbab maupun berjilbab, semuanya tertarik ke sana oleh jazbah, yakni daya tarik ruhani tersebut. Melalui mereka, orang-orang memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Sebagian orang berkata, “Doa tidak memerlukan perantara.” Kami mengunjungi mereka bukan semata-mata untuk menjadikan mereka perantara, melainkan agar kami memperoleh manfaat dari pertolongan mereka. Sebab, doa-doa kami sangat kecil dibandingkan dengan doa-doa mereka. Merekalah yang memiliki kedudukan tinggi di hadirat Allah ‘Azza wa Jalla. Kami berdoa agar doa kami menyatu dengan doa mereka sehingga diterima.

Sebagian orang berkata, “Tidak, jangan pergi ke kuburan atau berziarah ke maqam,” dan sebagainya. Tidak perlu mendengarkan mereka. Sebab, beriman kepada akhirat merupakan salah satu pokok keimanan dalam Islam. Orang-orang ini adalah para wali Allah ﷻ. Sesuai dengan keyakinan bahwa “para nabi dan syuhada tidak mati”, mereka pun hayy, yakni hidup. Kekuatan ruhani mereka sangat besar. Bahkan, setelah wafat, kekuatan mereka bertambah melebihi ketika mereka masih hidup. Hal ini karena orang-orang datang kepada mereka dengan berbagai kebutuhan dan tentu harus memperoleh manfaat dari mereka. Karena itu, kekuatan ruhani mereka menjadi lebih besar dan manfaat yang mereka berikan lebih mendalam.

Semoga himmah, yakni bantuan ruhani, dan keberkahan mereka tercurah kepada kita. Semoga mereka melindungi kita. Musuh-musuh Islam sangat banyak. Para wali ini menghancurkan kekuatan musuh-musuh tersebut sehingga mereka tidak mampu bertindak. Sebab, setan-setan telah semakin banyak; mereka berusaha menyesatkan umat Muhammad. Dengan izin Allah ﷻ, jiwa-jiwa yang diberkahi ini menjadi benteng-benteng Islam. Insya Allah, musuh-musuh itu akan dihalau dan dihancurkan. Dengan izin Allah ﷻ, mereka tidak akan berhasil mencapai apa pun.

Semoga Allah ﷻ menjadikan hal ini penuh berkah. Semoga bantuan ruhani mereka senantiasa menyertai kita, insya Allah. Semoga keberkahan mereka selalu bersama kita. Mereka memiliki keberkahan yang sangat besar; tanpa keberkahan itu, manusia tidak akan mampu mencapai begitu banyak hal. Mereka membawa manfaat yang sangat besar bagi dunia, dan keberkahan mereka menjangkau setiap penjuru. Semoga Allah ﷻ senantiasa melimpahkan keberkahan ini kepada kita, insya Allah. Semoga himmah mereka selalu hadir. Semoga mereka memberikan kepada kita bagian dari kekuatan ruhani mereka, insya Allah.

Semoga perjalanan kami, baik keberangkatan maupun kep**angan, menjadi sarana datangnya hidayah melalui keberkahan mereka, insya Allah.

Wa min Allahi at-taufiq.
Dan dari Allah-lah datangnya taufik.

Al-Fatihah.

www.mawlanasultan.org

*PENYAKIT DAN KESEMBUHAN DATANGNYA DARI ALLAH ﷻ*Mawlana Shaykh Sayyid Muhammad Adil ar-Rabbani qs. Ahad, 11 Oktober 2026...
12/10/2026

*PENYAKIT DAN KESEMBUHAN DATANGNYA DARI ALLAH ﷻ*

Mawlana Shaykh Sayyid Muhammad Adil ar-Rabbani qs. Ahad, 11 Oktober 2026 / 30 Rabiul Akhir 1448. Akbaba Dergah, Istanbul, Turkiye

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Audzubillahi minasyaitanir rajim. Bismillahir Rahmanir Rahim. Wassalatu Wassalamu ala Rasulina Muhammadin Sayyidul Awwalin wal Akhirin. Madad Ya Rasulullah, Madad Ya Sadati As’habi Rasulillah, Madad Ya Mashayikhina, Dastur Mawlana Shaykh Abdullah Faiz Daghestani, Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani. Madad. Tariqatunas suhbah wal khayru fil jam'iyyah.

Bismillahir Rahmanir Rahim.

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

Wa izaa maridthu fa huwa yasyfiin.

"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku." Sadaqallahul Azhiim.

(QS. Asy-Syu'ara': 80)

Allah 'Azza wa Jalla telah menetapkan adanya penyakit dan kesembuhan, semuanya datang dari-Nya. Meskipun Allah ﷻ menakdirkan penyakit sebagai sarana untuk mengangkat derajat seorang mukmin dan mengampuni dosa-dosanya, setiap orang mengalami ujian penyakit dengan cara dan kadar yang berbeda-beda, ada yang diuji lebih berat daripada yang lain.

Inilah bagian dari hikmah Allah ﷻ. Allah ﷻ memberikan segala sesuatu kepada manusia sebagai ujian, baik untuk mengangkat derajat seseorang maupun untuk membersihkannya dari dosa-dosa. Penyakit itu datangnya dari Allah 'Azza wa Jalla.

Orang yang sakit harus menemui dokter sebagai salah satu ikhtiar untuk mendapatkan kesembuhan. Seseorang tidak bisa begitu saja membiarkan penyakitnya berjalan tanpa melakukan apa-apa. Namun, ada p**a orang yang mudah diliputi kecemasan terus-menerus dan pikiran obsesif, dengan kerap bertanya, "Apakah aku sakit atau tidak? Penyakit apa ini?" Hingga ia berulang kali pergi ke dokter tanpa benar-benar diperlukan. Sementara itu, tentu ada p**a orang yang memang benar-benar sedang sakit.

Oleh karena itu, kita harus bersikap dan bertindak dengan tepat ketika menghadapi keadaan seperti ini. Pada zaman sekarang, karena (di sebagian negara) kunjungan ke rumah sakit dan pengobatan tersedia secara gratis, orang-orang sering pergi ke rumah sakit. Hal ini dapat berujung pada tindakan medis yang sebenarnya tidak diperlukan.

Pengobatan yang dianjurkan dalam sunnah juga boleh dilakukan. Namun pengobatan tersebut memiliki ketentuan dan tata cara tertentu. Kita tidak bisa begitu saja menjalani bekam (hijamah) atau tindakan pengobatan lainnya kapan pun kita mau. Kita harus mengonsumsi obat sesuai dengan aturan yang benar dan mengikuti nasihat yang diberikan agar pengobatan tersebut menjadi sarana datangnya kesembuhan.

Sekalipun kesembuhan sepenuhnya belum diperoleh, Allah ﷻ tetap dapat meringankan penyakit tersebut. Semuanya merupakan ketetapan Allah 'Azza wa Jalla. Ketika minum obat, hendaknya kita melakukannya dengan niat untuk memperoleh kesembuhan dan membaca Basmalah. Sebab, kesembuhan bukan berasal dari obat itu sendiri, melainkan dari Allah ﷻ.

Obat hanyalah sarana. Janganlah kita berkata, "Aku sembuh semata-mata karena obat ini." Semua terjadi atas ketetapan Allah 'Azza wa Jalla. Kesembuhan datangnya dari Allah ﷻ, sedangkan obat hanyalah sarana yang digunakan untuk memperolehnya.

Semua ini merupakan ujian bagi manusia. Sebagaimana telah kami katakan, penyakit adalah sebuah cobaan. Namun, terkadang seseorang bersikap berlebihan hingga membanggakan dirinya sendiri dengan berkata, "Akulah yang melakukan ini, aku telah berhasil mencapai itu (dengan sombongnya)." Ada kalanya Allah ﷻ mendatangkan penyakit untuk meruntuhkan kesombongan semacam itu. Penyakit merupakan bagian dari hikmah Allah ﷻ. Sebagian orang justru memberontak, tidak bisa menerima, dan mempertanyakan, "Mengapa hal ini terjadi kepadaku?"

Jika engkau memberontak terhadap ketetapan Allah ﷻ, pahala atas penderitaanmu bisa hilang. Dengan kata lain, engkau menanggung rasa sakit dan kesulitan dengan sia-sia. Sebaliknya, hendaknya engkau berkata, "Ini datangnya dari Allah ﷻ. Semoga Allah ﷻ menganugerahkan kesembuhan."

Jangan pernah kehilangan harapan kepada-Nya. Jangan sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah ﷻ, bahkan hingga hembusan napas terakhir. Bisa jadi kesembuhan masih akan datang. Mintalah orang lain untuk mendoakanmu dan teruslah memuji Allah ﷻ, serta menyadari, "Dia ﷻ memberikan penyakit ini kepada kita agar derajat kita diangkat."

Oleh karena itu, hendaknya manusia tidak menentang ketetapan Allah ﷻ. Tidak ada pintu lain untuk dituju dan tidak ada jalan lain untuk ditempuh. Engkau mungkin memberontak terhadap ketetapan Allah ﷻ karena Dia ﷻ mendatangkan penyakit kepadamu, tapi sadarilah bahwa tidak ada tempat untuk melarikan diri dari-Nya. Kita berasal dari Allah ﷻ dan pada akhirnya kita akan kembali kepada-Nya. Tidak ada jalan untuk menghindari hal itu.

Semoga Allah 'Azza wa Jalla melindungi kita. Semoga Allah ﷻ menganugerahkan kepada kita kehidupan yang sehat, karena kesehatan merupakan nikmat yang sangat besar, sungguh karunia yang luar biasa.

Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kita bersabda, bahwa ada dua nikmat yang sering kali membuat manusia tertipu, sehingga mereka tidak menyadari dan menghargai nilai keduanya yang sesungguhnya. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, mereka tetap tidak menyadari hal ini dan tidak menghargai kesehatan yang mereka miliki. Barulah ketika jatuh sakit, mereka menyadari betapa besarnya nikmat sehat itu.

Semoga Allah 'Azza wa Jalla melindungi kita dan menganugerahkan kesembuhan kepada semua orang yang sedang sakit. Semoga Allah ﷻ menjaga kita semua, insya Allah. Semoga kita tidak diuji dengan penyakit, insya Allah. Semoga Allah ﷻ menganugerahkan kepada kita kehidupan yang sehat dan sejahtera, serta semoga tidak ada keburukan yang menimpa iman kita, insya Allah.

Wa min Allah at-Taufiq. Al-Fatihah.

*KESUCIAN HATI DAN PERSATUAN*Mawlana Shaykh Sayyid Muhammad Adil ar-Rabbani qs. Sabtu, 10 Oktober 2026 / 29 Rabiul Akhir...
12/10/2026

*KESUCIAN HATI DAN PERSATUAN*

Mawlana Shaykh Sayyid Muhammad Adil ar-Rabbani qs. Sabtu, 10 Oktober 2026 / 29 Rabiul Akhir 1448. Akbaba Dergah, Istanbul, Turkiye

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Audzubillahi minasyaitanir rajim. Bismillahir Rahmanir Rahim. Wassalatu Wassalamu ala Rasulina Muhammadin Sayyidul Awwalin wal Akhirin. Madad Ya Rasulullah, Madad Ya Sadati As’habi Rasulillah, Madad Ya Mashayikhina, Dastur Mawlana Shaykh Abdullah Faiz Daghestani, Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani. Madad. Tariqatunas suhbah wal khayru fil jam'iyyah.

Baginda Nabi ﷺ kita bersabda dalam sebuah hadis syarif,

اسْتَوُوا ولا تَختَلِفُوا ؛ فتَختلِفَ قلوبُكمْ

Istawuu wa-laa takhtalifuu fa-takhtalifa quluubukum.

"Luruskanlah barisan kalian dan jangan berselisih, karena hal itu akan menyebabkan hati kalian berselisih (terpecah belah)." Aw kamaa qaal.

"Luruskan barisan dan berdirilah dengan tegak bersama-sama," demikian sabda Nabi ﷺ kita. "Jangan menimbulkan perselisihan dan jangan menciptakan perpecahan di antara kalian. Sebab, jika kalian berselisih, hati kalian akan menjadi rusak."

Ketika hati telah rusak, amal-amal yang dilakukan seseorang hanya akan mengikuti keinginan egonya (hawa nafsunya) sendiri, amal itu tidak dilakukan demi Allah ﷻ. "Seseorang yang tidak mampu menundukkan hawa nafsunya akan sulit memiliki tempat dalam tariqah maupun dalam Islam," demikian sabda Nabi ﷺ kita.

Karena itu, hati harus bersatu, harus menjadi satu. Ketika kalian telah berada di jalan yang sama, yaitu jalan Allah ﷻ, hati kalian harus bersatu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jangan membuat perbedaan dengan mengatakan, 'Kamu begini' atau 'Kamu begitu'." Jangan biarkan hati kalian menjadi rusak. Berdirilah bersama-sama dan tetaplah teguh dalam persatuan.

Hal ini sering disampaikan ketika shalat, terutama oleh para imam di Ka'bah dan di Madinah Munawwarah, meskipun sering kali mereka mengucapkannya hanya sebagai formalitas. Biasanya menurut mazhab kami, takbir (takbir pembuka shalat) diucapkan segera setelah iqamah dikumandangkan.

Itulah ketentuan dalam mazhab Hanafi. Ketentuannya mungkin berbeda dalam mazhab-mazhab yang lain. Namun dalam mazhab Hanafi, takbir diucapkan begitu kalimat "qad qaamatis-salaah" (shalat akan segera dimulai) dikumandangkan. Imam mengucapkan takbir tersebut, tetapi menurut mazhab kami, takbir tersebut tidak harus dilafalkan dengan suara keras, meskipun dalam mazhab yang lain mungkin ada ketentuan yang berbeda.

Prinsip ini juga sangat penting untuk diterapkan di luar shalat. Berdirilah bersama-sama, tetaplah teguh, dan jangan menyimpang dari jalan yang benar. Jangan mengikuti ego kalian. Jika kalian telah datang ke sini, jangan biarkan setan merampas keutamaan itu dari kalian. Jangan sampai kalian kehilangan pahalanya. Akan tetapi jika niat kalian ingin membuat keributan, lebih baik menjauhlah. Jangan mengobarkan perselisihan.

Apabila kalian berniat menyimpang dari jalan ini, apabila kalian menyimpan perasaan-perasaan negatif semacam itu, tidak perlu menebar perselisihan atau merusak hati orang lain. Ketika terjadi perselisihan, hati menjadi rusak. Hati adalah hal yang paling penting. Hati harus sehat dan bersih. Jangan sampai ada kedengkian ataupun kebencian terhadap sesama saudara Muslim.

Inilah hakikat agama. Dan tariqah tidak lain adalah jalan untuk mengajarkan prinsip ini, bukan untuk tujuan yang lain, apalagi untuk menimbulkan pertikaian. Semoga Allah ﷻ senantiasa melindungi kita. Setan telah menyusup di tengah-tengah kaum Muslimin, memecah belah mereka. Padahal, ada begitu banyak jalan yang indah, tetapi di setiap kesempatan setan selalu berusaha menebarkan perselisihan di sepanjang jalan tersebut. Semoga Allah ﷻ memperbaiki segala sesuatunya.

Namun, sering kali setan berhasil melakukannya. Kaum Muslimin menjadi musuh bagi sesama Muslim. Orang-orang yang berada dalam tariqah menjadi musuh bagi mereka yang berada dalam tariqah lain. Semoga Allah ﷻ memberikan pertolongan dan menganugerahkan kewaspadaan kepada kita. Seseorang yang telah memasuki tariqah harus senantiasa menjaga kebersihan hatinya. Ia tidak boleh menyimpan kebencian atau kedengkian terhadap siapa pun, dan hendaknya selalu berprasangka baik serta memandang segala sesuatu dari sisi yang positif.

Ketika ego berkata, "Si fulan melakukan ini, atau si fulan melakukan itu," hendaknya seseorang berkata kepada egonya sendiri, "Kamu pantas mendapatkan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada itu." Jika ada sesuatu yang dikatakan kepada kita, hendaknya kita berpikir, "Itu benar. Apa yang dikatakan orang lain memang benar. Karena itu, marilah kita fokus memperbaiki diri sendiri."

Kita harus berusaha menundukkan ego (hawa nafsu), bukan membesarkannya. Semoga Allah 'Azza wa Jalla menolong kita. Semoga komunitas-komunitas yang indah ini semakin bertambah banyak, insya Allah. Semoga ikatan kasih sayang semakin kuat dan hati kita semakin bersih, insya Allah.

Wa min Allah at-Taufiq. Al-Fatihah.

*Senantiasa Bersyukur*Setiap hari begitu banyak orang yang datang kepada Shaykh Effendi (Mawlana Shaykh Muhammad Adil ar...
12/10/2026

*Senantiasa Bersyukur*

Setiap hari begitu banyak orang yang datang kepada Shaykh Effendi (Mawlana Shaykh Muhammad Adil ar-Rabbani ق) dengan keluhan mereka. *Keluhan-keluhan ini, akan tetapi, sebagian besar adalah hasil dari rasa tidak berterima kasih mereka*.

Umumnya resep bagi masalah mereka adalah, *“Bersyukurlah!”* Jika pandai bersyukur, masalah mereka akan hilang dan rasa sakit mereka akan berubah menjadi rahmat. Balasan yang Allah ﷻ berikan atas kesabaran dan ketabahan kalian adalah rasa puas yang mendalam.

*Bersyukur adalah solusi dari masalah-masalah kalian*.

Dan apa yang tidak bisa dipecahkan oleh rasa syukur adalah merupakan *tantangan-tantangan yang diberikan oleh Allah 'Azza wa Jalla kepada kalian untuk menguji seberapa kuat iman kalian dan seberapa besar kalian percaya kepada Tuhan kalian.*

~ Shaykh Bahauddin Adil

*AL-QUR'AN TERPELIHARA*Mawlana Shaykh Sayyid Muhammad Adil ar-Rabbani qs. Jumat, 9 Oktober 2026 / 28 Rabiul Akhir 1448. ...
12/10/2026

*AL-QUR'AN TERPELIHARA*

Mawlana Shaykh Sayyid Muhammad Adil ar-Rabbani qs. Jumat, 9 Oktober 2026 / 28 Rabiul Akhir 1448. Akbaba Dergah, Istanbul, Turkiye

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Audzubillahi minasyaitanir rajim. Bismillahir Rahmanir Rahim. Wassalatu Wassalamu ala Rasulina Muhammadin Sayyidul Awwalin wal Akhirin. Madad Ya Rasulullah, Madad Ya Sadati As’habi Rasulillah, Madad Ya Mashayikhina, Dastur Mawlana Shaykh Abdullah Faiz Daghestani, Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani. Madad. Tariqatunas suhbah wal khayru fil jam'iyyah.

Bismillahir Rahmanir Rahim.

اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّكۡرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰـفِظُوۡنَ

Innaa nahnu nazzalnaz-zikro wa innaa lahuu lahaafizhuun.

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (p**a) yang memeliharanya." Sadaqallahul Azhiim.

(QS. Al-Hijr: 9)

Allah 'Azza wa Jalla berfirman bahwa Kami telah menurunkan Al-Qur'an 'Azhiimusy-Sya'n (yang agung kedudukannya) kepada Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan Kami p**a yang memeliharanya.

Tidak ada satu bagian pun darinya yang hilang atau diubah. Sebab, Al-Qur'an yang agung kedudukannya adalah Kalam Allah 'Azza wa Jalla, firman-Nya yang azali dan kekal. Karena itu, Al-Qur'an senantiasa berada dalam perlindungan Ilahi.

Tentu, kitab-kitab suci juga diturunkan kepada banyak nabi lainnya. Namun tidak satu pun di antaranya yang tetap terpelihara secara utuh. Bahkan, hanya sebagian kecil dari teks aslinya yang masih bertahan, jika memang masih ada. Melalui perubahan yang berulang-ulang kali, kitab-kitab tersebut pada akhirnya dibentuk sesuai dengan hasrat dan keinginan manusia.

Kitab-kitab itu disebut "kitab suci", tetapi kesuciannya telah hilang karena manusia menyembunyikan sebagian isinya, dan mengungkapkan bagian lainnya sesuai dengan pemikiran mereka sendiri. Adapun Al-Qur'an yang agung kedudukannya tetap hadir di tengah umat manusia sebagai Kalam dan Kitab Allah 'Azza wa Jalla sendiri. Oleh karena itu, tidak ada sesuatu pun di dalamnya yang dapat diubah.

Terkadang ketika membaca atau berbicara, kita bisa melakukan kesalahan. Orang lain pun mungkin membacanya dengan keliru. Hal itu bukanlah masalah besar dan tidak menimbulkan bahaya, sebab Al-Qur'an berada dalam perlindungan Ilahi.

Namun kesalahan yang sampai mengubah makna secara keseluruhan, tentu tidak dapat dianggap sepele. Tentu saja Allah Maha Pengampun. Jika seseorang salah membaca atau mengucapkan ayat, karena ketidaktahuan atau kekeliruan yang tidak disengaja, dan bukan karena disengaja, Allah ﷻ akan mengampuninya.

Ada orang Arab, dan ada orang non-Arab. Bagi orang Arab, karena bahasa Al-Qur'an itu menggunakan bahasa Arab, maka sedikit lebih mudah membacanya tanpa kesalahan. Adapun bagi orang-orang non-Arab, yang disebut 'Ajam, terkadang mengalami kesulitan dalam melafalkan huruf atau bunyi tertentu. Mereka mungkin dapat melafalkan sebagian huruf dengan benar, namun keliru dalam melafalkan huruf lainnya.

Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kita bersabda, "Sesungguhnya ada dua malaikat. Ketika seseorang membaca Al-Qur'an, keduanya membenarkan bacaan orang tersebut, lalu membawanya naik ke hadirat Allah 'Azza wa Jalla." Oleh sebab itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam hal ini. Seseorang cukup berusaha melakukan semampunya.

Manusia memang rentan melakukan kesalahan dan memiliki kekurangan, namun Allah Maha Pengampun. Selama niatnya tulus, semuanya akan diterima. Maka, seseorang tidak perlu merasa khawatir dengan berkata, "Saya tidak bisa membaca Al-Qur'an dengan sempurna."

Bagaimanapun cara seseorang membacanya, sebagaimana telah kami katakan, ada malaikat yang membenarkan bacaan dan mengangkatnya dalam bentuk yang lebih indah ke hadirat Allah ﷻ, lalu Allah ﷻ menerimanya.

Allah 'Azza wa Jalla mencintai orang-orang yang memuliakan Al-Qur'an dan beribadah kepada-Nya dengan penuh penghormatan terhadap kitab-Nya. Semoga Allah 'Azza wa Jalla menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang dicintai, insya Allah. Dan semoga Allah ﷻ meridhai kalian.

Kita juga termasuk orang-orang yang sangat beruntung. Kita beruntung karena menjadi bagian dari umat Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan hidup pada zaman sekarang ini. Kita diberi kesempatan untuk membaca, menghafal, dan sebisa mungkin mengamalkan Kitab Suci Al-Qur'an, yang merupakan Kalam Allah ﷻ.

Inilah nikmat dan keberuntungan terbesar. Kemiskinan atau penyakit, semua itu bukanlah hal yang paling penting. Yang terpenting adalah kita berada di jalan Allah ﷻ, menapaki jalan yang diridhai-Nya, dan membaca firman-Nya yang indah.

Kalam Allah ﷻ itu adalah penyembuh, cahaya, dan sumber segala kebaikan. Semoga Allah 'Azza wa Jalla melindungi kita, menanamkan Al-Qur'an semakin dalam di hati kita, dan tidak membiarkan kita melupakannya, insya Allah.

Wa min Allah at-Taufiq. Al-Fatihah.

---------------------------------------

Alhamdulillah, ada khatam Al-Qur'an yang telah diselesaikan. Ada ratusan khatam Al-Qur'an, tasbih, tahlil, shalawat, sedekah, serta khatam Dala'il Khairat.

Kita hadiahkan pahalanya untuk ruh Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kita, untuk ruh Ahlul Bait dan para Sahabat beliau. Kita hadiahkan p**a untuk ruh seluruh Anbiya, Awliya, Asfiya, dan para Masyayikh. Untuk ruh seluruh leluhur kita, serta ruh seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, Mukminin dan Mukminat.

Semoga kebaikan datang dan segala keburukan dijauhkan. Semoga segala niat baik orang-orang yang membaca amalan-amalan ini tercapai. Semoga kita memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat, insya Allah.

Lillahi Ta'ala. Al-Fatihah.

*AL-MINNATULILLAH*Mawlana Shaykh Sayyid Muhammad Adil ar-Rabbani qs. Kamis, 8 Oktober 2026 / 27 Rabiul Akhir 1448. Akbab...
12/10/2026

*AL-MINNATULILLAH*

Mawlana Shaykh Sayyid Muhammad Adil ar-Rabbani qs. Kamis, 8 Oktober 2026 / 27 Rabiul Akhir 1448. Akbaba Dergah, Istanbul, Turkiye

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Audzubillahi minasyaitanir rajim. Bismillahir Rahmanir Rahim. Wassalatu Wassalamu ala Rasulina Muhammadin Sayyidul Awwalin wal Akhirin. Madad Ya Rasulullah, Madad Ya Sadati As’habi Rasulillah, Madad Ya Mashayikhina, Dastur Mawlana Shaykh Abdullah Faiz Daghestani, Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani. Madad. Tariqatunas suhbah wal khayru fil jam'iyyah.

Bismillahir Rahmanir Rahim.

“لَقَدۡ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الۡمُؤۡمِنِيۡنَ اِذۡ بَعَثَ فِيۡهِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡ اَنۡفُسِهِمۡ يَتۡلُوۡا عَلَيۡهِمۡ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيۡهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ الۡكِتٰبَ وَالۡحِكۡمَةَ ۚ وَاِنۡ كَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ لَفِىۡ ضَلٰلٍ مُّبِيۡنٍ

Laqod mannallohu 'alal-mu-miniina iz ba'asa fiihim rosuulam min anfusihim yatluu 'alaihim aayaatihii wa yuzakkiihim wa yu'allimuhumul kitaaba wal-hikmah wa in kaanuu min qoblu lafii dholaalim mubiin.

"Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." Sadaqallahul Azhiim.

(QS. Ali 'Imran: 164)

Sesungguhnya hak untuk menganugerahkan karunia adalah milik Allah ﷻ. Apa maknanya? Maknanya adalah ketika seseorang melakukan suatu kebaikan, tidaklah pantas baginya untuk kemudian mengungkit-ungkit kebaikan tersebut dan berkata, "Akulah yang melakukan ini untukmu. Akulah yang telah memberikan kebaikan ini kepadamu."

Hak seperti itu bukan milik manusia. Itu semata-mata milik Allah ﷻ. Pada hakikatnya hanya Dia ﷻ lah yang memiliki hak untuk melakukan suatu kebaikan, kemudian membuatnya diketahui.

Karunia terbesar telah dianugerahkan kepada penduduk Makkah, yang dalam ayat yang mulia ini disebut sebagai ummiyyin, yakni orang-orang yang tidak mampu membaca maupun menulis. Kebanyakan orang pada zaman itu memang berada dalam keadaan demikian, mereka tidak berilmu dan tidak mengetahui apa-apa.

Allah ﷻ kemudian mengutus Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk mereka, dan mengangkat derajat mereka kepada kedudukan yang tertinggi di antara seluruh umat manusia. Dengan demikian, Allah ﷻ lah yang memberikan karunia tersebut kepada mereka. Pihak lain, seperti juga Baginda Nabi ﷺ kita, sebenarnya dapat saja mengklaim hak tersebut. Beliau ﷺ telah melakukan begitu banyak kebaikan dan pengorbanan. Namun karena kerendahan hati beliau ﷺ, dan memahami hakikatnya, beliau ﷺ tidak pernah melakukannya.

Tidak ada seorang pun yang memiliki keagungan dan hak untuk menyatakan karunia sebagaimana Allah ﷻ. Itu adalah milik-Nya semata. Allah 'Azza wa Jalla memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki oleh manusia. Karena itu, tidak pantas bagi seorang manusia untuk menempatkan dirinya seolah-olah ia memiliki hak seperti itu. Ketika Allah ﷻ memberikan hidayah kepada seseorang, ketika Dia ﷻ membawa seseorang kepada Islam dan iman, maka hendaknya ia memahami bahwa semua itu adalah karunia dari Allah ﷻ. Inilah makna "Al-Minnatulillah", bahwa karunia itu adalah semata milik Allah ﷻ.

Kakek dari Mawlana Shaykh Nazim qaddasallahu sirrahu adalah seorang ahli kaligrafi. Kami memiliki sebuah karya kaligrafi beliau yang di dalamnya tertulis, "Al-Minnatulillaah." Karunia itu adalah milik Allah ﷻ.

Karena itu, bukanlah akhlak yang baik apabila seseorang melakukan kebaikan kepada orang lain lalu terus menerus mengingatkan dan mengungkitnya, "Aku sudah melakukan ini untukmu. Aku sudah memberikan itu kepadamu." Janganlah kita menjadikan kebaikan itu sebagai sesuatu yang kita gunakan untuk meninggikan diri sendiri di hadapan orang lain.

Itulah sebabnya dikatakan, "Jangan mengungkit-ungkit kebaikan yang telah engkau lakukan kepada orang lain."

Seseorang yang menuntut rasa terima kasih adalah orang yang melakukan suatu kebaikan, kemudian mengungkitnya di hadapan orang yang telah menerima kebaikan tersebut dengan berkata, "Aku telah melakukan ini untukmu, aku telah memberikan bantuan ini kepadamu."

Itu bukanlah sesuatu yang baik. Apabila engkau telah melakukan kebaikan, biarlah Allah ﷻ saja yang mengetahuinya. Lakukanlah kebaikan itu semata-mata karena Allah ﷻ.

Apabila engkau menuntut rasa terima kasih, engkau akan kehilangan pahalanya. Atau lebih tepatnya, alih-alih memperoleh pahala seratus kali lipat, engkau hanya mendapatkan satu pahala. Namun jika engkau melakukan sebaliknya, Allah 'Azza wa Jalla akan mencatat seluruh pahala itu untukmu. Kedudukanmu akan ditinggikan, dan kekuatan spiritualmu akan semakin bertambah.

Oleh karena itu, kebaikan yang dilakukan untuk orang lain sejatinya merupakan karunia dan hadiah dari Allah ﷻ untukmu. Melalui dirimu dan dengan perantaraanmu, kebaikan telah sampai kepada orang lain, atau petunjuk telah disampaikan. Apa pun bentuk kebaikan itu, engkau telah menjadi perantaranya. Dengan demikian, engkau dan pihak yang menerima kebaikan tersebut sama-sama memperoleh manfaat.

Maka, janganlah kita kehilangan keadaan yang indah ini. Semoga kita senantiasa dapat mempertahankannya, insya Allah.

Ego (hawa nafsu) manusia cenderung ingin membanggakan diri, ingin merasa lebih tinggi, dan ingin tampak lebih unggul daripada orang lain. Semua itu merupakan penyakit ego. Sebagaimana telah kami sampaikan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Ketika berbicara maupun bertindak, seseorang harus senantiasa berhati-hati dan memilih jalan yang terbaik.

Sesungguhnya, sebagaimana ada sifat-sifat yang dicintai oleh Allah 'Azza wa Jalla, ada p**a sifat-sifat yang tidak disukai oleh-Nya. Hendaklah kita senantiasa memperhatikan hal-hal tersebut.

Semoga Allah 'Azza wa Jalla tidak membiarkan seorang pun di antara kita menyimpang dari jalan-Nya. Semoga Dia ﷻ menganugerahkan kepada kita kewaspadaan dan kesadaran, agar kita senantiasa menyadari apa yang kita ucapkan, insya Allah.

Wa min Allah at-Taufiq. Al-Fatihah

Address

Pasar 1 Hulu
Stabat
20851

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Naqsabandi Aliyah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category