18/05/2026
Sekitar sepuluh tahun lalu, di sebuah daerah kecil di Jawa Tengah, hiduplah seorang perempuan sederhana bernama Bu Endar.
Sehari-hari ia bekerja sebagai asisten rumah tangga keliling.
Dari pagi hingga sore, Bu Endar berjalan menyusuri gang demi gang demi mencari pekerjaan.
Meski hidup pas-pasan, ia dikenal rajin dan tidak pernah mengeluh.
āYang penting halalā¦ā
begitu prinsip hidupnya.
Hingga suatu sore, seorang saudara jauhnya datang membawa tawaran pekerjaan dari rumah seorang pengusaha kaya bernama Pak Bram.
Di daerah itu, nama Pak Bram sangat disegani.
Ia memiliki usaha tambang batu bara, perkebunan sawit, dan rumah megah bak istana yang berdiri jauh dari pemukiman warga.
Tanpa pikir panjang, Bu Endar menerima tawaran itu.
Saat pertama kali masuk ke rumah tersebut, ia terpukau.
Lantai marmer mengilap.
Lampu gantung besar.
Lorong rumah panjang yang terasa seperti hotel mewah.
Namun entah kenapaā¦
rumah itu juga terasa sangat dingin dan menyeramkan.
Pak Bram menyambutnya dengan ramah.
āKerja yang betah di sini, Bu Endar. Gaji tenang, makan juga amanā¦ā
Hari-hari pertama berjalan normal.
Bu Endar hanya membersihkan rumah, memasak, dan merapikan beberapa ruangan.
Namun semakin lamaā¦
ia mulai menyadari ada sesuatu yang aneh.
Rumah sebesar itu terasa terlalu sepi.
Tak ada anak-anak.
Tak ada keluarga lain.
Hanya Pak Bram dan beberapa sopir yang datang saat siang hari.
Lalu ada satu aturan yang membuat Bu Endar mulai merasa tidak nyaman.
Setiap malam Selasa Legiā¦
ia selalu diminta pulang sebelum magrib.
Awalnya Bu Endar tidak terlalu memikirkan hal itu.
Namun setiap Selasa Legi tibaā¦
suasana rumah berubah drastis.
Para penjaga terlihat gelisah.
Lampu bagian belakang rumah dimatikan.
Dan dari arah gudang tuaā¦
selalu tercium bau bunga melati bercampur anyir.
Suatu malam, karena hujan deras, Bu Endar terlambat pulang.
Saat hendak mengambil tasnya yang tertinggal di dapurā¦
ia mendengar suara aneh dari lorong belakang.
Suara orang berbisik.
Pelanā¦
beratā¦
seperti membaca sesuatu.
Dengan rasa penasaran, Bu Endar berjalan perlahan mengikuti suara itu hingga sampai di depan sebuah pintu kayu tua yang selama ini selalu terkunci.
Dan ketika ia mengintip dari celah pintuā¦
apa yang dilihatnya membuat tubuhnya langsung lemas.
Lanjut Part 2⦠šļø