Diana Lorenza

Diana Lorenza Haii ikuti terus halamanku yaa :)

REKOMENDASI GAME SERU šŸ‘‰ : https://shortbioo.com/s/2688

21/05/2026

Kejadian aneh sangat mengerikan. . . šŸ„¶šŸ˜±šŸ˜°ā€¼ļø

21/05/2026

Terekam Kamera Kejadian aneh sangat mengerikan. . . šŸ„¶šŸ˜±šŸ˜°ā€¼ļø

Part 2Di dalam ruangan itu, Pak Bram duduk bersila di depan sesajen lengkap.Lilin-lilin menyala redup.Asap kemenyan meme...
18/05/2026

Part 2

Di dalam ruangan itu, Pak Bram duduk bersila di depan sesajen lengkap.

Lilin-lilin menyala redup.
Asap kemenyan memenuhi seluruh ruangan.
Dan di sudut paling gelap…
berdiri sosok hitam tinggi membelakangi mereka.

Suasana terasa sangat dingin.

Dengan suara gemetar, Pak Bram berkata pelan:

ā€œKorban berikutnya sudah adaā€¦ā€

Mendengar itu, tubuh Bu Endar langsung lemas.

Namun sebelum ia sempat pergi…
sosok hitam itu perlahan menoleh ke arah pintu.

Matanya merah menyala.

Dan saat itulah Bu Endar sadar…

sosok itu sedang melihatnya.

Sejak malam itu, kejadian-kejadian aneh mulai menghantui Bu Endar.

Ia sering mendengar suara perempuan menangis di kamar mandi.
Kadang ada bayangan perempuan berambut panjang berdiri di ujung lorong.
Bahkan beberapa kali ia terbangun tengah malam karena merasa ada seseorang duduk di samping tempat tidurnya.

Puncaknya terjadi ketika seorang sopir lama diam-diam membocorkan rahasia rumah itu.

ā€œSemua pembantu perempuan di sini gak pernah bertahan lamaā€¦ā€

ā€œTapi mereka pergi ke mana?ā€ tanya Bu Endar pelan.

Sopir itu hanya menatapnya dengan wajah pucat.

ā€œIstri Pak Bram juga dulu meninggal mendadak…
katanya sakit.
Tapi warga percaya…
beliau dijadikan tumbal pesugihan.ā€

Dari situlah Bu Endar mulai mengetahui kebenaran mengerikan tentang Pak Bram.

Selama bertahun-tahun…
Pak Bram melakukan pesugihan kepada sosok gaib bernama Mbah Parto demi kekayaan dan kekuasaan.

Dan syaratnya…

harus ada tumbal perempuan yang diberikan secara berkala.

Para pembantu perempuan yang bekerja di rumah itu…
adalah korban-korban berikutnya.

Kini…
giliran Bu Endar yang menjadi incaran.

Sejak mengetahui rahasia itu, kondisi Bu Endar semakin memburuk.

Tubuhnya sering lemas tanpa sebab.
Ia bermimpi didatangi perempuan-perempuan pucat yang meminta tolong.

Dan di lehernya mulai muncul tanda hitam…
seperti bekas cekikan.

Merasa nyawanya terancam, Bu Endar akhirnya meminta bantuan seorang kyai tua di desa sebelah.

Namun setelah melihat kondisi Bu Endar…
wajah sang kyai langsung berubah serius.

ā€œKamu sudah ditandaiā€¦ā€

ā€œMalam Selasa Legi berikutnya…
mereka akan menjemputmu.ā€

Malam itu juga ritual dilakukan untuk memutus ikatan gaib yang menempel pada Bu Endar.

Rumah kecil sang kyai dipenuhi doa dan aroma daun-daunan terbakar.

Konon…
saat ritual berlangsung…
terdengar suara jeritan perempuan dari luar rumah.

Dan angin besar datang tanpa hujan.

Bu Endar pingsan berjam-jam.

Namun ketika sadar…
tanda hitam di lehernya perlahan menghilang.

Sejak malam itu…
Bu Endar tidak pernah kembali ke rumah Pak Bram.

Anehnya, beberapa bulan kemudian…
usaha-usaha Pak Bram mulai bangkrut satu per satu.

Rumah megahnya perlahan kosong dan terbengkalai.

Warga percaya…

pesugihan itu akhirnya meminta bayaran yang lebih besar.

Dan hingga sekarang…
rumah besar milik Pak Bram masih berdiri kosong.

Beberapa orang mengaku sering melihat bayangan perempuan berdiri di jendela lantai dua setiap malam Selasa Legi…

seolah masih ada korban yang belum benar-benar pergi.

Sekitar sepuluh tahun lalu, di sebuah daerah kecil di Jawa Tengah, hiduplah seorang perempuan sederhana bernama Bu Endar...
18/05/2026

Sekitar sepuluh tahun lalu, di sebuah daerah kecil di Jawa Tengah, hiduplah seorang perempuan sederhana bernama Bu Endar.

Sehari-hari ia bekerja sebagai asisten rumah tangga keliling.
Dari pagi hingga sore, Bu Endar berjalan menyusuri gang demi gang demi mencari pekerjaan.

Meski hidup pas-pasan, ia dikenal rajin dan tidak pernah mengeluh.

ā€œYang penting halalā€¦ā€
begitu prinsip hidupnya.

Hingga suatu sore, seorang saudara jauhnya datang membawa tawaran pekerjaan dari rumah seorang pengusaha kaya bernama Pak Bram.

Di daerah itu, nama Pak Bram sangat disegani.
Ia memiliki usaha tambang batu bara, perkebunan sawit, dan rumah megah bak istana yang berdiri jauh dari pemukiman warga.

Tanpa pikir panjang, Bu Endar menerima tawaran itu.

Saat pertama kali masuk ke rumah tersebut, ia terpukau.

Lantai marmer mengilap.
Lampu gantung besar.
Lorong rumah panjang yang terasa seperti hotel mewah.

Namun entah kenapa…
rumah itu juga terasa sangat dingin dan menyeramkan.

Pak Bram menyambutnya dengan ramah.

ā€œKerja yang betah di sini, Bu Endar. Gaji tenang, makan juga amanā€¦ā€

Hari-hari pertama berjalan normal.
Bu Endar hanya membersihkan rumah, memasak, dan merapikan beberapa ruangan.

Namun semakin lama…
ia mulai menyadari ada sesuatu yang aneh.

Rumah sebesar itu terasa terlalu sepi.

Tak ada anak-anak.
Tak ada keluarga lain.
Hanya Pak Bram dan beberapa sopir yang datang saat siang hari.

Lalu ada satu aturan yang membuat Bu Endar mulai merasa tidak nyaman.

Setiap malam Selasa Legi…
ia selalu diminta pulang sebelum magrib.

Awalnya Bu Endar tidak terlalu memikirkan hal itu.

Namun setiap Selasa Legi tiba…
suasana rumah berubah drastis.

Para penjaga terlihat gelisah.
Lampu bagian belakang rumah dimatikan.
Dan dari arah gudang tua…
selalu tercium bau bunga melati bercampur anyir.

Suatu malam, karena hujan deras, Bu Endar terlambat pulang.

Saat hendak mengambil tasnya yang tertinggal di dapur…
ia mendengar suara aneh dari lorong belakang.

Suara orang berbisik.

Pelan…
berat…
seperti membaca sesuatu.

Dengan rasa penasaran, Bu Endar berjalan perlahan mengikuti suara itu hingga sampai di depan sebuah pintu kayu tua yang selama ini selalu terkunci.

Dan ketika ia mengintip dari celah pintu…

apa yang dilihatnya membuat tubuhnya langsung lemas.

Lanjut Part 2… šŸ‘ļø

ā€œKalau mati katanya bisa mengakhiri semua beban hidup…lalu kenapa banyak orang yang di detik terakhirnya justru ingin hi...
18/05/2026

ā€œKalau mati katanya bisa mengakhiri semua beban hidup…
lalu kenapa banyak orang yang di detik terakhirnya justru ingin hidup lagi?ā€

Mungkin…
karena saat semuanya hampir hilang,
barulah manusia sadar bahwa hidup tidak sepenuhnya buruk.

Di balik rasa lelah,
ternyata masih ada tawa kecil yang belum sempat kembali.

Masih ada pelukan yang belum sempat dirasakan lagi.
Masih ada kata maaf yang belum diucapkan.
Dan masih ada harapan kecil yang diam-diam belum benar-benar mati.

Kadang bukan hidup yang terlalu berat…

tapi luka yang terlalu lama dipendam sendirian.

Sampai akhirnya seseorang merasa dunia tidak lagi punya ruang untuknya.

Padahal…
meski hidup penuh kecewa,
selalu ada alasan kecil untuk bertahan.

Entah itu seseorang yang diam-diam peduli,
mimpi yang belum tercapai,
atau sekadar ingin melihat hari esok berubah sedikit lebih baik.

Karena pada akhirnya…
hidup bukan hanya tentang seberapa sering kita jatuh,
tetapi tentang bagaimana kita masih memilih bertahan meski berkali-kali ingin menyerah.

Dan mungkin…
di detik terakhir itulah banyak orang sadar,
bahwa hidup bukan sekadar beban untuk diakhiri.

Melainkan kesempatan…
sekecil apa pun…
untuk memperbaiki hal-hal yang pernah retak.

ā€œSore itu Mansyur hanya ingin pulangā€¦ā€Seperti biasa, selepas bekerja Mansyur melintasi Jalan Lintas Timur Lumajang. Jala...
18/05/2026

ā€œSore itu Mansyur hanya ingin pulangā€¦ā€

Seperti biasa, selepas bekerja Mansyur melintasi Jalan Lintas Timur Lumajang. Jalan baru yang masih mulus itu sore itu dipenuhi anak-anak muda yang berkumpul untuk balap liar dan tes motor drag.

Bagi Mansyur, itu sudah biasa…
Ia hanya ingin segera sampai rumah.

Namun takdir berkata lain.

Saat mencoba mendahului truk bermuatan tebu di depannya, dari arah belakang motor Mansyur ditabrak oleh salah satu pemuda yang sedang melaju kencang. Dalam hitungan detik tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di bawah roda truk.

Seketika jalanan berubah sunyi.

Tubuh Mansyur hancur di tempat kejadian…
dan para pemotor itu pergi begitu saja meninggalkan rasa bersalah yang mungkin tak akan pernah hilang.

Konon, arwah Mansyur masih sering terlihat di sekitar jalan itu…
bukan untuk menakuti, tapi seperti seseorang yang kebingungan mencari jalan pulang.

Dalam sebuah mediasi spiritual, Mansyur hanya menyampaikan satu pesan sederhana:

ā€œMass… saya gak minta banyak…
tolong sampaikan permintaan maaf saya sama istri dan anak saya…
maaf belum bisa pulang tepat waktu…
maaf pulang dalam keadaan beginiā€¦ā€

ā€œBilang sama istri saya…
kalau dia mau cari pendamping baru gak apa-apa…
saya ikhlas…
asal keluarga bahagiaā€¦ā€

Dan sejak malam itu…
beberapa warga mengaku sering melihat sosok pria berdiri di pinggir jalan sambil menatap kendaraan yang lewat…
seolah masih menunggu waktu untuk pulang ke rumahnya.

Semoga almarhum diberi ketenangan…
dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. šŸ•Šļø

Address

Sawah Siluak
Solok

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Diana Lorenza posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share