Cerita Pendek

Cerita Pendek cerita pendek

Teman SekamarAku sudah tiga bulan tinggal di kos ini, dan aku benci jam 2 pagi.Bukan karena horor. Tapi karena Sisi sela...
12/07/2026

Teman Sekamar

Aku sudah tiga bulan tinggal di kos ini, dan aku benci jam 2 pagi.

Bukan karena horor. Tapi karena Sisi selalu bangun jam 2 pagi.

Aku adalah Rani. Sisi adalah teman sekamarku. Kami sudah kenal sejak semester satu. Dia periang, berisik, ceroboh, kebalikan dari aku yang pendiam dan rapi.

Setiap jam 2 pagi, Sisi akan bangun. Menyalakan lampu belajar yang terang benderang, menyetel musik kencang-kencang sambil nyanyi fals, lalu mulai mengacak-acak lemari mencari camilan.

"Sis, pelanin d**g," kataku malam itu, untuk keseratus kalinya.

Dia menoleh, dengan bungkus keripik di tangan. "Ih, Rani cerewet banget sih jadi orang. Hidup tuh dibawa asik aja!"

Aku menghela napas. Ritual yang sama. Aku bangun, marah-marah, dia tertawa, lalu aku akhirnya tidur lagi dengan headset.

Puncaknya minggu lalu. Aku punya ujian skripsi. Aku sudah bilang ke Sisi dari seminggu sebelumnya, "Tolong banget, malam sebelum ujianku jangan berisik ya."

Dia janji. Sumpah.

Tapi jam 2 pagi, musik itu menyala lagi. Lebih kencang dari biasanya.

Aku meledak. "SISI! KAMU EGOIS BANGET JADI TEMAN!"

Sisi kaget. Wajahnya yang biasanya ceria itu langsung pucat. Dia mematikan musik. "Ran... maaf... aku lupa..."

Aku tidak peduli. Aku mengambil bantal dan selimutku dan pindah tidur ke ruang tamu kos. Aku tidak mau melihatnya.

Keesokan paginya, Ibu Kos mengetuk pintu kamarku.

"Rani, kamu teriak-teriak sama siapa semalam? Mengganggu anak-anak lain lho."

Aku bingung. "Sama Sisi, Bu. Teman sekamar saya."

Ibu Kos mengerutkan kening. "Rani, kamu kan dari awal ngekos di sini sendirian. Kamar single. Mana ada teman sekamar. Ibu aja khawatir kamu sering ngomong sendiri tengah malam."

Darahku berhenti.

Aku tertawa gugup. "Bu jangan bercanda deh. Sisi itu... itu lho yang rambutnya pendek, s**a pakai kaos oversized kuning?"

Ibu Kos menatapku lama. "Nak, Ibu sudah 5 tahun jaga kos ini. Tidak pernah ada penghuni bernama Sisi."

Aku membanting pintu. Jantungku berdebar kencang. Tidak mungkin. Aku masuk ke kamar, melihat dua tempat tidur. Satu milikku, rapi. Satu lagi berantakan, penuh bungkus camilan dan kaos kuning yang dilempar sembarangan.

Itu buktinya! Aku menarik Ibu Kos untuk melihat.

"Lihat, Bu! Ini barang-barangnya Sisi!"

Ibu Kos hanya melihat tempat tidur yang berantakan itu, lalu melihatku dengan tatapan iba. "Rani... itu semua barang kamu. Coba lihat label namanya."

Aku melihat kaos kuning itu. Di label lehernya, ada tulisan spidol hitam yang sudah luntur. Tulisan tanganku sendiri: R. ANJANI - JANGAN DIPINJAM!

Tanganku gemetar. Aku lari ke cermin lemari.

Di cermin, rambutku yang biasanya kuikat rapi, tergerai berantakan dan pendek sebahu. Aku tidak ingat kapan aku memotongnya. Dan di bawah mataku, ada sisa eyeliner yang berantakan. Aku tidak pernah pakai eyeliner untuk tidur.

Aku membuka laci mejaku. Mencari gunting. Di dalamnya, bukan gunting, tapi sebuah buku diary yang tidak kukenal. Sampulnya kuning cerah. Penuh stiker.

Aku membukanya. Halaman pertama:

Hai! Aku Sisi!
Rani itu membosankan banget, kaku, pelit senyum. Jadi aku yang harus bikin hidup seru! Maaf ya kalau aku berisik jam 2 pagi, tapi cuma jam segitu Rani tidur dan aku boleh keluar main!

Halaman demi halaman, tulisan tangan yang berbeda. Lebih besar, lebih berantakan. Ceria.

Halaman terakhir ditulis tadi malam. Tulisannya gemetar, ada bekas air mata:

Rani benci aku. Dia teriak bilang aku egois. Padahal aku cuma mau ditemenin. Kalau dia benci aku, buat apa aku ada? Mungkin lebih baik aku pergi aja selamanya. Biar Rani tenang ujian. Selamat tinggal.

Aku menjatuhkan buku itu.

Bukan Sisi yang mengganggu tidurku jam 2 pagi.

Akulah yang mengganggu tidur Sisi.

Dan tadi malam, akulah yang sudah membunuhnya.

Cermin yang Salah Alamat – Part 2: Giliran yang TertukarLayar CCTV hitam. Ruangan hening. Tapi di kepalaku rame. Kayak p...
06/07/2026

Cermin yang Salah Alamat – Part 2: Giliran yang Tertukar

Layar CCTV hitam. Ruangan hening.

Tapi di kepalaku rame. Kayak pasar malam tiba-tiba nyala semua lampunya.

Aku Arya.
Tukang kayu. Alis kiri bekas jatuh. Benci bau mangga. Tangan kapalan.
Dan 4 bulan lalu, aku ngubur kembaranku sendiri di bawah pohon mangga depan rumahnya.

Sari gemetar. “Mas Arya?”

Aku mau jawab, tapi mulutku ngeluarin suara yang bukan punyaku. Lebih halus. Lebih rapi.

“Dia udah pergi, Sar.”

Sari mundur setengah langkah. Matanya tau itu bukan aku.

Itu Arga.

1 jam sebelumnya – di dalam kepalaku

Gini rasanya demensia beneran. Bukan lupa naruh kunci. Tapi lupa siapa yang megang kendali tubuh.

Setelah layar CCTV mati, aku kerasa ketarik ke belakang. Kayak ditenggelemin. Gelap, dingin. Dan dari depan, ada Arga jalan nyamperin. Dia pake kaos yang dia pake pas kecelakaan. Masih ada darah kering di kerah.

“Udah capek, Ya,” katanya. “Gantian.”

Aku mau nolak. Tapi gimana caranya nolak ke orang yang memorinya udah numpang 4 bulan di otak lo? Dia hafal PIN ATM-ku. Dia tau Sari s**anya teh anget tanpa gula. Dia tau. Karena aku kasih tau, tiap hari, waktu aku pura-pura jadi dia.

Ternyata “mencari diri sendiri” itu ngasih peta jalan buat arwah yang kesasar.

Sekarang – di ruang tamu

“Arga” — pake tubuhku — senyum ke Sari. Senyum yang Sari kenal. Senyum yang bikin dia bertahan 4 bulan dalam kebohongan.

“Lihat, aku inget. Kamu s**a nonton drakor jam 10. Kamu alergi udang. Tanggal jadian kita 14 Februari, padahal norak.”

Sari nangis. Antara lega dan takut. “Tapi... kamu bukan...”

“Aku Arga, Sar. Arya udah ikhlas kok. Dia bilang dia capek jadi aku.”

Bohong.

Aku masih di sini. Kejepit di pojok kepala sendiri. Bisa lihat, bisa denger, tapi gak bisa gerak. Kayak penumpang di mobil yang dibajak.

Dan Arga pinter. Dia gak langsung nyuruh Sari gali kuburan. Dia jadi “Arga yang sembuh dari demensia”. Dia buang semua post-it. Dia kerja lagi jadi editor. Dia masak nasi goreng persis kayak yang dulu. Sari mulai percaya. Atau pengen percaya.

Minggu pertama, aman.

Minggu kedua, dia mulai beres-beres bengkel kayuku di belakang. “Debu semua, Sar. Gak kepake kan?”

Padahal itu hidupku.

Minggu ketiga, dia nemu foto kita berdua waktu kecil. Di foto, aku gend**g dia karena kakinya berdarah. Arga diem lama. Malamnya, aku denger dia nangis di kamar mandi. Pelan banget.

“Maaf, Ya,” bisiknya. Bukan ke Sari. Ke aku. “Gue gak mau mati lagi.”

Itu celahnya.

Dia kangen. Dia ngerasa bersalah. Dan orang bersalah gampang goyah.

Malam ke-21, aku kumpulin sisa tenaga. Aku gak teriak. Aku gak ngedor. Aku cuma ngingetin.

Baunya, Ga.

Dia lagi motong mangga di dapur buat Sari. Pisau berhenti di udara.

Lo benci bau mangga. Inget? Karena waktu kecil, lo muntah gara-gara kekenyangan mangga jatuh. Gue yang ngebersihin.

Tangannya gemetar.

Terus pas SMP, lo berantem sama Bapak. Lo minggat ke bengkel gue. Tidur di antara serbuk kayu. Lo bilang, “Lebih wangi daripada rumah.”

Pisaunya jatoh. Sari dari ruang tamu nengok. “Sayang?”

Arga megang kepala. Di dalam sini, dia meringkuk. Dia lupa, kalau dia “menang”, dia juga harus hidup sebagai aku. Dan jadi aku berarti inget semua hal yang dia hindari: dia yang selalu ngerasa kedua, dia yang matinya konyol karena ngebut mau buktiin ke Bapak.

Lo bukan cuma Arga, Ga. Lo juga adik gue. Dan adik gue gak pernah mau ngambil yang bukan haknya.

Dia jatoh terduduk. Sari lari nyamperin.

Dan di detik itu, aku dorong. Sekuat-kuatnya. Dari dalam.

Napasku balik. Tanganku tanganku lagi. Kapalannya balik berasa.

Sari natap aku, bingung. “Mas...?”

Aku noleh ke dia. Terus ke pisaunya. Terus ke halaman, ke pohon mangga.

“Panggil polisi, Sar,” kataku. Suaraku serak. Suara tukang kayu. Suara Arya.

Dia nangis. “Mas Arya?”

Aku angguk. “Iya. Dan gue harus ngaku. 4 bulan lalu, gue nutupin kecelakaan Arga. Gue panik. Gue kubur dia di situ karena... karena gue pikir kalau gue jadi dia, semua orang gak akan sesedih itu. Termasuk lo. Termasuk gue.”

Sari jatoh lemes. Tapi dia ngambil HP.

Arga udah gak ada di kepalaku. Terakhir dia bisik: “Makasih udah jadi gue, Ya. Sekarang giliran lo jadi diri lo sendiri.”

1 Tahun Kemudian

Bengkel kayuku buka lagi. Sari kadang mampir, bawa teh anget tanpa gula. Kita gak pacaran. Kita gak nikah. Kita cuma dua orang yang sama-sama belajar kehilangan dengan cara yang salah, terus beresin pelan-pelan.

Di depan rumah Arga yang sekarang kosong, pohon mangganya udah ditebang. Kata polisi, itu bikin proses evakuasi gampang.

Kadang malem-malem, aku masih s**a nulis. Bukan karena takut demensia.

Tapi biar inget: mencari diri sendiri itu bahaya kalau yang lo cari sebenernya orang lain.

Dan kalau besok aku lupa lagi siapa aku, tolong tempel ini di cermin:
1. Namamu Arya.
2. Kamu tukang kayu.
3. Kamu pernah salah, tapi kamu udah pulang.


*Cermin yang Salah Alamat*Namaku Arga. 27 tahun. Aku menulis ini karena besok, atau lusa, aku mungkin tidak ingat pernah...
06/07/2026

*Cermin yang Salah Alamat*

Namaku Arga. 27 tahun. Aku menulis ini karena besok, atau lusa, aku mungkin tidak ingat pernah menulisnya.

Semuanya dimulai 3 bulan lalu. Aku bangun dan tidak tahu di mana remote TV. Padahal tiap malam kutaruh di atas kulkas. Istriku, Sari, bilang, “Sayang, kamu sendiri yang pindahin ke laci kemarin.”

Aku ketawa. Mungkin kecapekan.

Minggu depannya, aku nyasar pulang. Belok ke kompleks sebelah. Satpamnya sudah hafal: “Mas Arga, rumahnya yang ada pohon mangga kan? Tuh, dua blok lagi.” Aku malu. Sari mulai pasang AirTag di dompetku.

Dokter bilang early-onset dementia. Usia 27. Katanya langka, tapi bisa terjadi. MRI otakku ada bercak putih kecil. “Kita pantau, Mas. Bikin catatan harian. Tulis semua yang kamu takut lupa.”

Jadi aku menulis. Dan aku mencari diriku yang hilang, potongan demi potongan.

Tiap pagi aku tempel post-it di cermin:
1. Namamu Arga Pratama. 2. Istrimu Sari. Kalian nikah 2 tahun. 3. Kamu kerja sebagai editor video freelance. 4. Kalau bingung, telepon Sari.
Tapi anehnya, ingatanku yang hilang selektif sekali. Aku lupa naruh kunci, lupa sudah makan atau belum, tapi aku ingat persis wajah klienku 5 tahun lalu. Aku ingat deadline, password, bahkan kode billing BPJS tetangga. Hanya hal-hal rumah... hilang.

Sari makin lelah. Dia nangis diam-diam. Aku tahu karena bantalnya basah tiap aku pura-pura tidur. Semalam dia bilang, “Mas, kalau suatu hari Mas lupa aku... aku gimana?”

Aku janji tidak akan. Makanya aku nekat. Aku mulai “mencari diriku sendiri”. Aku pasang kamera CCTV kecil di ruang tamu. Aku mau lihat, siapa Arga yang mengambil remote, yang mindahin barang-barangku saat aku “tidak ingat”.

Hari ini rekamannya selesai. Jam 2 siang, saat Sari ke pasar, aku putar.

Di layar, pintu terbuka. Aku masuk. Mukaku. Kaos yang kupakai kemarin.

Tapi... aku tidak pernah keluar rumah tadi siang. Aku yakin. Aku di kamar, tidur, karena minum obat.

Di video, “aku” berjalan pelan ke dapur. Membuka laci. Mengambil remote TV yang memang hilang seminggu lalu. Lalu dia menoleh ke kamera.

Dia senyum.

Lalu dia bicara, pelan, tapi mikrofon CCTV nangkap jelas: “Udah cukup, Mas Arga. Gantian aku yang hidup.”

Tanganku dingin. Kupause. Kuperbesar wajahnya. Ada bekas luka kecil di atas alis kiri. Aku tidak punya luka itu.

Tiba-tiba pintu kamar kebuka. Sari pulang lebih cepat. Dia lihat aku di depan laptop, pucat. Dia lihat layar yang kepause.

Dia tidak kaget.

Dia cuma jalan nyamperin, lepas tas belanja, lalu duduk di sampingku. Dia genggam tanganku.

“Akhirnya Mas lihat juga,” katanya lirih. “Maaf ya, Mas.”

“Ini... siapa?” suaraku bergetar. “Itu bukan aku. Aku gak punya bekas luka.”

Sari narik napas panjang. Dia buka galeri HP-nya. Foto setahun lalu. Pernikahan.

Di altar, ada aku. Di sebelahku, Sari.

Dan di sampingku lagi, satu orang lagi. Kembaranku. Arya. Alis kirinya ada bekas luka kecil, jatuh dari sepeda waktu SD.

“Mas Arga meninggal 4 bulan lalu,” kata Sari. “Kecelakaan motor. Yang di depan Mas sekarang... itu Mas Arya.”

Dunia berhenti.

“Dokter bilang Mas Arya gak bisa terima. Mas ngalamin disosiatif. Mas kira Mas itu Arga. Mas hidupin semua jadwalnya Arga, kerjaannya Arga, bahkan... istri Arga.” Air matanya jatuh. “Aku juga salah. Aku kangen banget sama Mas Arga. Jadi pas Mas Arya mulai manggil aku ‘Sayang’ dan tingkahnya mirip... aku diemin. Aku pikir... mungkin ini cara Tuhan balikin Mas Arga.”

“Terus... demensia...?”

“Gak ada, Mas. Bercak putih di MRI itu bekas jatuh Mas dulu. Post-it, AirTag, ‘lupa naruh barang’... itu karena Mas Arya bukan Mas Arga. Mas gak tahu kebiasaannya Arga. Remote memang Arga yang selalu taruh di laci, bukan di kulkas. Rumah yang Mas datengin itu rumah Mas Arya yang lama, dua blok dari sini.”

Aku lihat tanganku. Ada kapalan di telunjuk kanan. Arga editor video, jarang kapalan. Arya... Arya tukang kayu.

Yang kucari selama ini bukan diriku yang hilang karena demensia.

Yang hilang itu aku. Arya.

Dan “aku” yang ada di CCTV tadi... itu Arga. Memori Arga yang tinggal di kepala ini, yang akhirnya muak jadi hantu, dan mau ngambil alih hidupnya sendiri.

Sari genggam tanganku makin kencang. “Mas Arya, Mas denger aku kan? Kamu bukan dia. Kamu kamu. Dan aku... aku mau coba kenal Mas Arya, kalau Mas mau.”

Di layar laptop, video yang kepause tiba-tiba jalan sendiri.

“Arga” di CCTV melangkah mendekat ke kamera. Bisiknya jelas sekali:

“Kalau kamu lupa kamu siapa, berarti sekarang giliranku yang ingat.”

Layar jadi hitam.

Dan untuk pertama kalinya dalam 4 bulan, aku, Arya, ingat semuanya.

Termasuk kenapa aku benci bau mangga. Karena di pohon mangga depan rumah Arga... aku mengubur dia.

Sementara.

Lanjut part 2

*Jejak yang Tak Pernah Hilang*Hujan turun tanpa henti sejak sore ketika sebuah koper hitam ditemukan di tepi hutan.Di da...
03/07/2026

*Jejak yang Tak Pernah Hilang*

Hujan turun tanpa henti sejak sore ketika sebuah koper hitam ditemukan di tepi hutan.
Di dalamnya terdapat potongan tubuh manusia yang dipotong sangat rapi.
Tidak ada sidik jari.
Tidak ada DNA asing.
Hanya secarik kertas bertuliskan:
"Carilah yang melihat, bukan yang membunuh."
Kasus itu langsung ditangani oleh dokter forensik terbaik di kota, Dr. Elang Pratama.
Saat memeriksa bekas sayatan, ia berkata pelan,
"Pelakunya menguasai anatomi manusia."
Detektif Keenan mengangguk.
"Dokter?"
"Bisa dokter... bisa juga seseorang yang pernah belajar memotong tubuh."
Penyelidikan berkembang cepat.
Seorang mahasiswa kedokteran menghilang.
Seorang petugas kamar jenazah ditemukan tewas bunuh diri.
Lalu seorang dosen anatomi mati dalam kebakaran rumah yang misterius.
Semua orang yang berkaitan dengan laboratorium anatomi meninggal satu per satu.
Media menjulukinya Pembantai Anatomi.
Namun Dr. Elang menemukan pola yang tak dilihat siapa pun.
Setiap korban menyimpan satu rahasia yang sama.
Mereka pernah menjadi anggota tim penelitian manusia sepuluh tahun lalu.
Penelitian yang secara resmi dinyatakan gagal.
Dokumen penelitian telah dimusnahkan.
Atau setidaknya... begitulah yang semua orang yakini.
Suatu malam, Dr. Elang menerima sebuah paket tanpa pengirim.
Isinya sebuah flashdisk.
Video lama.
Sebuah ruang laboratorium.
Sekelompok peneliti mengelilingi seorang pria yang masih hidup di atas meja operasi.
Pria itu memohon.
"Jangan... saya masih sadar..."
Lalu terdengar suara seseorang.
"Mulai pencatatan."
Video berhenti.
Dr. Elang memucat.
Suara itu...
Adalah suaranya sendiri.
Ia yakin itu tidak mungkin.
Sepuluh tahun lalu ia bahkan belum bekerja di rumah sakit tersebut.
Ia kembali memeriksa video itu, kali ini bingkai demi bingkai.
Di sudut ruangan terlihat sebuah cermin.
Pantulan wajah pria yang memberi perintah terlihat samar.
Bukan dirinya.
Melainkan kepala laboratorium yang telah meninggal bertahun-tahun lalu.
Dr. Elang menghela napas lega.
Seseorang sedang mencoba menjebaknya.
Keesokan harinya, ia menemui Detektif Keenan.
Namun kantor polisi telah kosong.
Semua lampu mati.
Di meja Keenan hanya ada satu map.
Di dalamnya terdapat hasil tes DNA terbaru.
Korban dalam koper.
Mahasiswa yang hilang.
Petugas kamar jenazah.
Dosen anatomi.
Semuanya...
Memiliki hubungan darah.
Mereka adalah satu keluarga.
Di halaman terakhir tertulis satu kalimat.
"Satu anggota keluarga belum ditemukan."
Dr. Elang membaca nama itu.
Tangannya bergetar.
Nama tersebut adalah...
Dr. Elang Pratama.
Ia tertawa kecil.
"Tidak masuk akal..."
Teleponnya berdering.
Nomor tak dikenal.
Saat diangkat, terdengar suara laki-laki tua.
"Akhirnya kau membaca berkas itu."
"Siapa Anda?"
"Kau benar. Kau bukan pembunuh."
Dr. Elang mengembuskan napas lega.
"Tapi..."
Suara itu berhenti sesaat.
"...kau adalah korban yang berhasil selamat."
Ingatan yang selama puluhan tahun terkubur tiba-tiba muncul.
Laboratorium.
Meja operasi.
Lampu yang menyilaukan.
Jeritan.
Seorang anak laki-laki yang dijadikan objek eksperimen.
Anak itu berhasil kabur.
Lalu diadopsi.
Namanya diubah.
Masa lalunya dihapus.
Anak itu tumbuh menjadi dokter forensik.
Dr. Elang terjatuh.
Air matanya mengalir.
Seluruh korban yang terbunuh selama ini bukan dibunuh untuk balas dendam.
Mereka dibunuh...
Agar tidak ada seorang pun yang dapat menceritakan siapa sebenarnya anak yang lolos dari laboratorium itu.
Langkah kaki terdengar dari lorong.
Dr. Elang menoleh.
Detektif Keenan berdiri di sana sambil membawa pistol.
"Maaf, Dok."
"Jadi... selama ini kau..."
Keenan menggeleng.
"Aku bukan pembunuh."
"Lalu siapa?"
Lampu kantor polisi padam.
Dalam gelap terdengar suara tembakan.
Ketika listrik kembali menyala beberapa detik kemudian...
Keenan telah tewas.
Pistol masih berada di tangannya.
Sedangkan Dr. Elang menghilang.
Di dinding, dengan tulisan merah, tertinggal satu kalimat terakhir.
"Korban yang selamat adalah saksi paling berbahaya."
Kasus itu tak pernah terpecahkan.
Karena polisi terus mencari seorang pembunuh...
Padahal orang yang menghabisi semua saksi adalah seseorang yang bahkan tidak pernah tercatat ada di laboratorium itu.
Seseorang yang namanya tidak pernah muncul dalam satu pun dokumen.
Seseorang yang sejak awal berdiri di balik setiap penyelidikan.
Dan hingga hari ini...
Ia masih bebas.

30/06/2026


*Chat Terakhir dari Mantan* - Part 23 hari aku nggak tidur. HP nggak kumatikan. Nunggu chat "Rini" lagi.Jam 11.17 malam,...
30/06/2026

*Chat Terakhir dari Mantan* - Part 2

3 hari aku nggak tidur. HP nggak kumatikan. Nunggu chat "Rini" lagi.

Jam 11.17 malam, beneran masuk.

"Mas, Bima kangen. Jemput di taman ya. Yang ada ayunannya."

Jari gue ngetik: Kamu siapa anj
Belum sempet send, ada telpon. Nomor Bu Kos.

"Mas, saya baru dari kuburan. Makam Rini dibongkar orang. Kosong."
"Terus Bima?"
"Makam Bima juga kosong dari kemarin. Saya kira Mas yang mindahin..."

HP jatuh. Layar masih nyala. Chat baru:
"Udah di taman, Mas. Bima pake baju biru yang Mas beliin di foto toko."

Baju biru. Foto produk pertama toko kami 2 tahun lalu. Belum pernah kejual. Cuma 1, di lemari Rini.

Gue lari ke taman. Kosong. Cuma ada ayunan goyang sendiri. Di dudukannya, baju biru kecil. Basah. Bau tanah kuburan.

Ada kertas di sakunya, tulisan tangan Rini:
"Mas, maaf boong. Bima nggak pernah sakit. Bima nggak pernah ada. Aku hamil anak orang. Aku gugur. Aku malu. Aku bikin cerita Bima biar Mas dateng ke pemakaman. Biar ada yang nangisin aku. Tapi aku nggak jadi mati. Aku kabur. Maaf."

Kertas lepas kebawa angin. HP bunyi lagi. Chat dari nomor Rini:
"Mas, baju birunya udah ketemu? Bima bilang makasih. Bima emang nggak ada. Tapi rasa bersalah Mas nyata. Itu temen tidurku tiap 11.17."

Gue cek profil FB Rini. Aktif 1 menit lalu. Postingan baru: foto gue di taman, dari belakang.
Caption: "Masih gampang diboongin ya, Mas? 2 tahun nggak cukup?"

Jam 11.17. Ayunan berhenti goyang.

Bersambung ...


*Chat Terakhir dari Mantan* part 1Aku blokir semua akunnya 2 tahun lalu. IG, WA, TikTok. Semua. Tapi FB nggak bisa. Soal...
30/06/2026

*Chat Terakhir dari Mantan* part 1

Aku blokir semua akunnya 2 tahun lalu. IG, WA, TikTok. Semua.

Tapi FB nggak bisa. Soalnya kami jualan online bareng dulu. Satu akun bisnis. Kalau kubanned, toko bisa hilang.

Jadi tiap malem, jam 11.17, notifnya muncul: "Rini baru update produk"
Aku hapus. Tiap malem. Tanpa buka.

Sampai tadi.

Jam 11.17, notifnya beda: "Rini mengirim pesan"
Jantungku berhenti. 2 tahun, Rin. 2 tahun lo ngilang habis bawa duit toko 20 juta.

Isi chatnya cuma 1 kalimat:
"Ma, maafin Rini. Bima panas tinggi, kejang. Rini nggak punya siapa-siapa lagi."

Bima. Anakku. Anak yang nggak pernah dia kasih tau kalau dia hamil pas kita putus.

Tanganku gemetar buka profilnya. Foto terakhir: anak cowok, umur 1,5 tahun. Matanya, hidungnya, plek ketiplek aku.

Di bawah foto, ada komen 3 hari lalu:
"Mbak, open donasi buat Bima. Bima meninggoy tadi pagi. Leukemia."

Tanggalnya? 2 hari sebelum chat ini masuk.

HP-ku jatuh. Layar masih nyala. Ada chat baru masuk dari nomor tak dikenal:
"Mas, ini Bu Kosnya Rini. Rini nyusul Bima semalem. Gantung diri. HP-nya saya yang buka. Dia titip maaf. Sama ini."

Foto: surat, tulisan tangan gemetar:
"Mas, kalau baca ini, jangan bales. Aku udah nggak ada. Cuma mau bilang, Bima sempet manggil Papa sebelum pergi. Katanya Papa ganteng kayak di foto toko. Makasih udah jadi Papa, walau cuma di foto."

Notifikasi FB muncul lagi: "Rini baru update produk"
Jam 11.17. Tepat.

Bersambung ...


*Ruang Konsultasi Terakhir* part 3Cermin satu arah itu akhirnya pecah. Bukan karena aku pukul. Tapi karena pantulanku ya...
30/06/2026

*Ruang Konsultasi Terakhir* part 3

Cermin satu arah itu akhirnya pecah. Bukan karena aku pukul. Tapi karena pantulanku yang duluan.

Malam itu pantulanku tidak ikut duduk waktu sesi. Dia berdiri, jalan ke balkon apartemen, lalu nengok ke “aku” yang masih di kursi. Dia ngomong tanpa suara: “Giliran kamu.”

Aku ngikutin. Karena kalau enggak, mimpi Dara bakal nyeret paksa.

Di balkon lantai 12 ini, anginnya sama kayak di kos Dara dulu. Bedanya, di bawah bukan aspal. Di bawah ada Dara. Berdiri. Nengadah. Umur 17, baju rumah sakit, senyum.

“Akhirnya Kakak nyusul,” katanya.

Aku mau jawab, tapi “Pak Arman” alias Aiptu Budi udah berdiri di belakangku. Baru kali ini dia nggak bawa buku catatan. Dia bawa tali.

“Surat itu palsu, Raka,” bisiknya. “Kami yang tulis. Biar kamu ngerasain jadi Dara. Biar kamu tau rasanya nunggu ditangkap tapi yang datang cuma sepi.”

Jadi selama ini bukan terapi. Bukan interogasi. Ini eksekusi yang dicicil.

Siapa Pasien Sebenarnya

Ibu Dara muncul dari pintu balkon. Di tangannya ada foto. Foto anak laki-laki. Umur 16.

“Anak saya,” kata Aiptu Budi. “Mati 2 tahun sebelum Dara. Bunuh diri. Dia pasien saya. Saya psikolog beneran dulu, sebelum jadi polisi. Saya yang telat datang waktu dia butuh. Sama kayak kamu ke Dara.”

Jadi ini bukan tentang Dara. Ini tentang dia. Aku cuma cermin buat dosanya sendiri.

“Kenapa harus 8 bulan?” tanyaku. Suaraku udah kayak orang lain.

“Karena itu waktu yang dibutuhin anak saya untuk mutusin mati atau nggak. Saya kasih kamu waktu yang sama. Kamu milih apa?”

Dara di bawah masih nunggu. Senyumnya makin lebar. Di sebelahnya sekarang ada anak Aiptu Budi. Mereka gandengan.

Diagnosis Terakhir

Aku lihat ke bawah sekali lagi. Lalu ke Aiptu Budi. Aku ambil buku catatan dari tangannya. Sobek halaman terakhir. Tulis satu kalimat pakai darah dari gusi yang kugigit sendiri:

“Rasa bersalah bukan fakta. Rasa bersalah adalah warisan.”

Kuserahin ke dia. “Untuk pasien berikutnya, Dok.”

Lalu aku naik ke pagar. Bukan buat nyusul Dara. Tapi buat nunjukin ke Aiptu Budi bahwa dia telat lagi. Selalu telat.

Satu detik sebelum jatuh, aku denger dia teriak nama anaknya, bukan namaku.

Dan di udara, akhirnya aku paham mimpi Dara. Dia nunjuk ke belakangku bukan karena ada orang. Dia nunjuk ke semua orang yang bakal nyusul jadi kayak aku.

Termasuk Aiptu Budi.

Selasa Depan

Koran lokal: “Mantan Psikolog Ditemukan Gantung Diri di Ruang Praktik Tiruan. Di Meja Ada Catatan: ‘Sesi belum selesai.’”

Di kamar mayat, ibu Dara natap dua kantong jenazah. Anaknya, dan anaknya yang lain.

Di luar, jam dinding bekas ruang tunggu palsu itu terus berdetak. Sekarang ada dua suara. Pintu balkon. Dan jerat tali.

Ternyata ruangan ini nggak pernah butuh pasien baru.
Dia cuma butuh dokternya ikut masuk.


*Ruang Konsultasi Terakhir* part 2Pintu yang Tidak Pernah Tertutup“Mas Raka, Anda punya hak untuk diam.”Kalimat Aiptu Bu...
30/06/2026

*Ruang Konsultasi Terakhir* part 2

Pintu yang Tidak Pernah Tertutup

“Mas Raka, Anda punya hak untuk diam.”

Kalimat Aiptu Budi terdengar seperti diagnosa baru. Aku tidak diam. Aku ketawa. Pelan, lalu makin keras sampai ibu Dara menutup telinga.

“8 bulan,” kataku. “Kalian nonton saya nangis 8 bulan. Hebat.”

Borgolnya dingin. Tapi lebih dingin fakta yang baru kuingat: setelah Dara jatuh, aku tidak panik. Aku turun, cek nadinya, lalu naik lagi ke kamar kosnya. Menghapus chat makianku di HP Dara. Membersihkan sidik jariku di botol bir. Baru setelah itu aku telpon ambulans pakai suara panik terbaikku.

Dissociative amnesia? Bukan. Itu dissociative alibi. Otakku sengaja mengubur detail itu, tapi tubuhku ingat caranya selamat.

3 Hari Setelah Penangkapan

Sel di Polda. Lampu putih 24 jam. Tidak ada jam dinding, jadi Selasa terasa seperti setiap hari.

Pengacaraku bilang kasus ini lemah. Tidak ada saksi mata. Rekaman “terapi” tidak sah karena aku tidak didampingi kuasa hukum. Ibunya Dara nangis di TV, publik menghujatku, tapi hukum butuh lebih dari tangisan.

Aku bebas demi hukum.

Di luar rutan, wartawan menungguku dengan pertanyaan: “Nyesel, Mas?”
Aku tatap kamera, “Rasa bersalah bukan fakta, kan?” Kalimat Pak Arman. Kalimat Aiptu Budi. Kalimatku sekarang.

Minggu Pertama Bebas

Aku kembali ke apartemen. Sepi. Tapi malam pertama, mimpi itu datang lagi. Kali ini berbeda.

Dara berdiri di ujung koridor. Menunjuk ke belakangku. Aku menoleh. Di belakangku ada... aku. Diriku yang lain. Yang versi jujur. Dia memegang buku catatan lusuh. Dia buka halaman terakhir dan membaca:

“Diagnosis: Malingering with antisocial traits. Pasien tidak mencari penyembuhan. Pasien mencari panggung untuk mengaku tanpa dihukum.”

Aku terbangun. Di meja apartemen, ada buku catatan lusuh itu. Persis milik “Pak Arman”. Di sampulnya ada post-it: “Sesi belum selesai, Raka.”

Aku bukan bebas. Aku dipindah.

Apartemen ini replika persis ruang interogasi. Cermin di kamar mandi = satu arah. Lampu plafon = kamera. Tetangga sebelah = Aiptu Budi yang masih “jadi” Pak Arman. Ibu Dara = ibu kos galak yang tiap pagi nanya “Sudah minum obat, Mas?”

Mereka tahu kasus ini tidak akan menang di pengadilan. Jadi mereka bikin pengadilan yang lebih kejam: kepalaku sendiri.

Setiap Selasa, “Pak Arman” ketok pintu. “Mas Raka, sesi kita lanjut.”
Dan setiap sesi, dia tidak nanya soal Dara lagi. Dia nanya soal malam-malam lain.

“Malam tanggal 12, jam 2 pagi, Mas ke balkon kos lama. Ngapain?”
“Mas pernah dorong siapa lagi waktu marah?”
“Jujur sama saya, Raka. Rasa bersalah itu fakta atau bukan?”

Aku mulai cerita. Hal-hal yang bahkan polisi tidak tahu. Karena kalau aku tidak cerita, mimpi Dara datang lebih nyata. Dia tidak lagi menunjuk. Dia mulai menarik tanganku ke pagar.

Hari ini Selasa lagi. Aku duduk di kursi pasien. Di depanku, Aiptu Budi tidak pakai seragam, tidak pakai senyum Pak Arman. Cuma muka lelah bapak-bapak yang anaknya juga mati bunuh diri.

Dia buka buku catatan, halaman terakhir. Isinya bukan diagnosis. Isinya surat Dara yang tidak pernah dikirim:

“Kak, kalau suatu hari aku nyerah, bukan karena Kakak dorong aku. Tapi karena Kakak satu-satunya yang aku kira bakal nangkep aku. Dan Kakak nggak ada.”

Aiptu Budi menutup buku. “Itu kami temukan kemarin di kos lama. Di bawah lemari.”

Untuk pertama kalinya setelah Dara jatuh, aku tidak bisa bikin alibi untuk rasa bersalahku.

Di luar, jam dinding berbunyi. Bukan suara pintu balkon. Suara detak.

Detak dari dalam tembok. Dari dalam kepalaku.
Sesi ini tidak akan pernah selesai. Karena sekarang aku yang jadi pasien, dokter, dan penjaranya sekaligus.

Di cermin satu arah, pantulanku berdiri, membuka pintu balkon apartemen.
Dan kali ini, tidak ada siapa-siapa yang merekam.

Bersambung ....


*Ruang Konsultasi Terakhir* part 1Aku benci hari Selasa. Jam dinding di ruang tunggu selalu berbunyi lebih keras, dan ba...
30/06/2026

*Ruang Konsultasi Terakhir* part 1

Aku benci hari Selasa. Jam dinding di ruang tunggu selalu berbunyi lebih keras, dan bau disinfektan mengingatkanku pada lorong rumah sakit jiwa tempat adikku dulu dirawat. Tapi hari Selasa adalah jadwal wajibku bertemu Pak Arman, psikolog yang katanya paling sabar se-Jakarta Selatan.

“Mas Raka, silakan masuk,” sapa susternya.

Pak Arman duduk di balik meja jati, senyumnya tenang, tangannya memegang buku catatan lusuh. Seperti biasa, dia tidak langsung bicara. Dia menunggu aku yang memulai.

“Aku mimpi lagi, Pak,” kataku, meremas ujung jaket. “Mimpi yang sama. Adikku berdiri di ujung koridor, pakai baju rumah sakit. Dia menunjuk ke saya, lalu ke belakang saya. Terus ada suara pintu dibanting.”

Pak Arman mengangguk, mencatat. “Perasaan Mas Raka waktu bangun?”

“Takut. Marah. Bersalah.” Jawaban standar selama 8 bulan terapi.

“Raka, sudah hampir setahun sejak kejadian itu. Kamu masih menyalahkan diri sendiri karena tidak sempat pulang waktu Dara masuk UGD?”

Aku menunduk. Setahun lalu adikku, Dara, lompat dari lantai 4 kosnya. Polisi bilang depresi berat. Aku baru sampai Jakarta H+1 setelah pemakaman. Sejak itu hidupku isinya rasa bersalah dan mimpi yang sama.

Sesi berjalan seperti biasa. Aku cerita, Pak Arman mendengar, sesekali memberi teknik napas, grounding, journaling. Di akhir sesi dia selalu menutup dengan kalimat yang sama:

“Rasa bersalah bukan fakta, Raka. Kamu tidak membunuh Dara.”

Aku mengangguk, bayar di resepsionis, lalu pulang ke apartemen kosong.

Malam itu mimpi datang lagi. Tapi berbeda. Dara tidak menunjuk ke belakangku. Dia menunjuk ke aku, lalu bibirnya bergerak jelas: “Kamu yang dorong aku, Kak.”

Aku terbangun dengan keringat dingin. Jantungku sakit. Ada yang tidak beres. Aku buka laci, ambil kotak obat yang disembunyikan. Di bawah botol obat penenang, ada foto yang sengaja tidak pernah kubawa ke terapi: foto Dara dan aku di balkon kosnya, H-1 sebelum kejadian. Di foto itu, tanganku memegang bahunya erat. Terlalu erat. Ekspresi Dara ketakutan.

Ingatan yang kubungkam paksa 8 bulan perlahan kembali. Pertengkaran. Aku menuduh Dara mencuri uang untuk beli narkoba. Dia membantah, menangis. Aku mendorongnya ke pagar balkon, membentak: “Mending kamu mati aja daripada nyusahin keluarga!” Dara terpeleset. Aku panik, tapi tidak sempat menariknya.

Aku bukan kakak yang terlambat pulang. Aku kakak yang membuatnya jatuh.

Hari Selasa berikutnya aku datang lebih awal. Tanganku gemetar, tapi aku harus bicara. Ini bagian dari penyembuhan, kataku pada diri sendiri. Mengakui adalah langkah pertama.

Pintu ruang konsultasi terbuka. Tapi yang duduk di balik meja jati bukan Pak Arman.

Seorang polisi berseragam. Di sampingnya, suster yang biasanya menyapaku. Di meja, buku catatan lusuh itu ternyata berkas kepolisian.

Suster itu buka suara, suaranya bergetar, “Mas Raka, perkenalkan, ini Aiptu Budi. Dan saya... saya bukan suster. Saya ibunya Dara.”

Dunia berhenti.

“Selama 8 bulan ini,” lanjut ibu Dara, air matanya jatuh, “kami pancing pengakuan Mas. Psikolog beneran bilang Mas kena dissociative amnesia pasca trauma. Mas blokir semua ingatan malam itu. Satu-satunya cara biar Mas ingat adalah Mas merasa aman. Jadi kami bikin ruang terapi palsu. ‘Pak Arman’ itu Aiptu Budi yang menyamar. Setiap sesi Mas direkam.”

Aiptu Budi menutup map. “Kalimat ‘Kamu tidak membunuh Dara’ yang saya ucapkan tiap sesi itu probing technique, Mas. Biar alam bawah sadar Mas melawan kalau memang Mas pelakunya. Dan tadi malam, Mas berhasil ingat.”

Aku melihat ke cermin besar di sisi ruangan. Pantas tidak pernah ada pantulan Pak Arman. Itu kaca satu arah.

Rasa bersalah ternyata memang fakta. Dan ‘terapi’ selama ini adalah interogasi paling sabar yang pernah ada.

Di luar, jam dinding ruang tunggu berbunyi. Keras sekali. Persis seperti suara pintu balkon yang terbanting malam itu.

Bersambung ....


Address

Praya

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cerita Pendek posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category