12/07/2026
Teman Sekamar
Aku sudah tiga bulan tinggal di kos ini, dan aku benci jam 2 pagi.
Bukan karena horor. Tapi karena Sisi selalu bangun jam 2 pagi.
Aku adalah Rani. Sisi adalah teman sekamarku. Kami sudah kenal sejak semester satu. Dia periang, berisik, ceroboh, kebalikan dari aku yang pendiam dan rapi.
Setiap jam 2 pagi, Sisi akan bangun. Menyalakan lampu belajar yang terang benderang, menyetel musik kencang-kencang sambil nyanyi fals, lalu mulai mengacak-acak lemari mencari camilan.
"Sis, pelanin d**g," kataku malam itu, untuk keseratus kalinya.
Dia menoleh, dengan bungkus keripik di tangan. "Ih, Rani cerewet banget sih jadi orang. Hidup tuh dibawa asik aja!"
Aku menghela napas. Ritual yang sama. Aku bangun, marah-marah, dia tertawa, lalu aku akhirnya tidur lagi dengan headset.
Puncaknya minggu lalu. Aku punya ujian skripsi. Aku sudah bilang ke Sisi dari seminggu sebelumnya, "Tolong banget, malam sebelum ujianku jangan berisik ya."
Dia janji. Sumpah.
Tapi jam 2 pagi, musik itu menyala lagi. Lebih kencang dari biasanya.
Aku meledak. "SISI! KAMU EGOIS BANGET JADI TEMAN!"
Sisi kaget. Wajahnya yang biasanya ceria itu langsung pucat. Dia mematikan musik. "Ran... maaf... aku lupa..."
Aku tidak peduli. Aku mengambil bantal dan selimutku dan pindah tidur ke ruang tamu kos. Aku tidak mau melihatnya.
Keesokan paginya, Ibu Kos mengetuk pintu kamarku.
"Rani, kamu teriak-teriak sama siapa semalam? Mengganggu anak-anak lain lho."
Aku bingung. "Sama Sisi, Bu. Teman sekamar saya."
Ibu Kos mengerutkan kening. "Rani, kamu kan dari awal ngekos di sini sendirian. Kamar single. Mana ada teman sekamar. Ibu aja khawatir kamu sering ngomong sendiri tengah malam."
Darahku berhenti.
Aku tertawa gugup. "Bu jangan bercanda deh. Sisi itu... itu lho yang rambutnya pendek, s**a pakai kaos oversized kuning?"
Ibu Kos menatapku lama. "Nak, Ibu sudah 5 tahun jaga kos ini. Tidak pernah ada penghuni bernama Sisi."
Aku membanting pintu. Jantungku berdebar kencang. Tidak mungkin. Aku masuk ke kamar, melihat dua tempat tidur. Satu milikku, rapi. Satu lagi berantakan, penuh bungkus camilan dan kaos kuning yang dilempar sembarangan.
Itu buktinya! Aku menarik Ibu Kos untuk melihat.
"Lihat, Bu! Ini barang-barangnya Sisi!"
Ibu Kos hanya melihat tempat tidur yang berantakan itu, lalu melihatku dengan tatapan iba. "Rani... itu semua barang kamu. Coba lihat label namanya."
Aku melihat kaos kuning itu. Di label lehernya, ada tulisan spidol hitam yang sudah luntur. Tulisan tanganku sendiri: R. ANJANI - JANGAN DIPINJAM!
Tanganku gemetar. Aku lari ke cermin lemari.
Di cermin, rambutku yang biasanya kuikat rapi, tergerai berantakan dan pendek sebahu. Aku tidak ingat kapan aku memotongnya. Dan di bawah mataku, ada sisa eyeliner yang berantakan. Aku tidak pernah pakai eyeliner untuk tidur.
Aku membuka laci mejaku. Mencari gunting. Di dalamnya, bukan gunting, tapi sebuah buku diary yang tidak kukenal. Sampulnya kuning cerah. Penuh stiker.
Aku membukanya. Halaman pertama:
Hai! Aku Sisi!
Rani itu membosankan banget, kaku, pelit senyum. Jadi aku yang harus bikin hidup seru! Maaf ya kalau aku berisik jam 2 pagi, tapi cuma jam segitu Rani tidur dan aku boleh keluar main!
Halaman demi halaman, tulisan tangan yang berbeda. Lebih besar, lebih berantakan. Ceria.
Halaman terakhir ditulis tadi malam. Tulisannya gemetar, ada bekas air mata:
Rani benci aku. Dia teriak bilang aku egois. Padahal aku cuma mau ditemenin. Kalau dia benci aku, buat apa aku ada? Mungkin lebih baik aku pergi aja selamanya. Biar Rani tenang ujian. Selamat tinggal.
Aku menjatuhkan buku itu.
Bukan Sisi yang mengganggu tidurku jam 2 pagi.
Akulah yang mengganggu tidur Sisi.
Dan tadi malam, akulah yang sudah membunuhnya.