Granada Bookmart

Granada Bookmart Toko Buku Inspirasi "Dari Baca Turun Ke Hati"
Educational Entertainment Event Organizer Muslim Entrpreneurship

10/03/2018

PANGGILAN BERSATU BUYA HAMKA.

Umat menjadi kuat dan hebat ketika terjadi perpaduan dua unsur, yaitu ikhlas dan tepat.

lkhlas dalam tataran kehendak dan tepat dalam tataran pemikiran dan tindakan. Jika salah satu unsur tersebut tidak terpenuhi atau malah keduanya, atau satu sama lain saling bertentangan maka segala bentuk jerih payah dan pengorbanan yang dilakukan oleh umat untuk kebangkitan islam akan sia-sia.

Dalam konteks sejarah secara umum, baik Islam maupun bukan, fakta menunjukkan bahwa ketika jaringan interaksi sosial dibangun berdasarkan loyalitas penuh kepada pemikiran (afkar ar-risalah) yang menjadi landasan ideologis dan sebab eksistensinya, maka setiap orang yang ada dalam masyarakat tersebut hidup dengan terlindungi dan dihargai, baik ketika masih hidup maupun setelah mati. Apabila terjadi perselisihan dan perbedaan maka potensi konflik diarahkan ke luar mereka, sementara mereka sendiri tetap bersatu dan produktif.

Sebaliknya,ketika jaringan interaksi sosial dibangun berdasarkan loyalitas kepada individu atau kelompok atau mazhab, dll, sesuai dengan kaedah bergerak di dalam poros individu dan benda, maka manusia menjadi unsur yang paling tidak berharga baik di dalam masyarakat itu sendiri maupun di luarnya. Setiap konflik akan berputar di dalam masyarakat tersebut sehingga perpecahan tidak dapat dihindari, setiap kelompok berusaha menghancurkan kelompok lain. Alhasil, aroma kelemahan masyarakat tersebut akan merebak ke luar dan mengundang selera pihak-pihak luar untuk melumatnya.

Judul : Panggilan Bersatu
Karya Buya Hamka
Harga Rp.65.000
Penerbit Galatamedia.
Penyusun Yusuf Maulana (Samben Library)
Spesifikasi HVS 70 gram
Total halaman 271
Pemesanan di luar Yogyakarta via WA 085245659145
COD wilayah Yogyakarta di Balai Kopi Jogokariyan

Narasi Panggilan Bersatu oleh Buya Hamka. (Pertama kali dibukukan)Judul : Panggilan Bersatu Karya Buya HamkaHarga Rp.65....
08/01/2018

Narasi Panggilan Bersatu oleh Buya Hamka.
(Pertama kali dibukukan)

Judul : Panggilan Bersatu
Karya Buya Hamka
Harga Rp.65.000
Penerbit Galatamedia.
Penyusun Yusuf Maulana (Samben Library)
Spesifikasi HVS 70 gram
Total halaman 271
Pemesanan di luar Yogyakarta via WA 085245659145
COD wilayah Yogyakarta di Balai Kopi Jogokariyan

Buku Panggilan Bersatu Buya Hamka. Rp. 65.000
08/01/2018

Buku Panggilan Bersatu Buya Hamka. Rp. 65.000

Buku Panggilan Bersatu karya Buya Hamka. (Belum pernah dibukukan sebelumnya) Judul : Panggilan Bersatu Karya Buya HamkaH...
08/01/2018

Buku Panggilan Bersatu karya Buya Hamka.
(Belum pernah dibukukan sebelumnya)

Judul : Panggilan Bersatu
Karya Buya Hamka
Harga Rp.65.000
Penerbit Galatamedia.
Penyusun Yusuf Maulana (Samben Library)
Spesifikasi HVS 70 gram
Total halaman 271
Pemesanan di luar Yogyakarta via WA 085245659145
COD wilayah Yogyakarta di Balai Kopi Jogokariyan

Kopi Para Pejuang!
03/08/2016

Kopi Para Pejuang!

KOPI PARA PEJUANG

Di antara para pejuang, barangkali Teuku Umar yang pernah berucap lantang, “Singoh beungoh, besok pagi, geutanyo mandum akan minum kupi di Meulaboh.. Atau syaheed di jalan Allah..”

Inilah “ihdal husnayain” atau satu di antara 2 kebaikan bagi mujahid dari Aceh Barat itu; ngopi atau syahid. Dan Allah memilihkan gugur mulia di jalanNya tuk beliau pada tahun 1899 itu, rahimahullah.

“Kelezathan kupinya Thuan”, kata Teuku Leubeh sang pengkhianat dalam film Tjoet Nja’ Dhien (1988) garapan Eros Djarot saat menjawab Kolonel Van Heutsz, kala ditanya apa yang masyhur dari Aceh. Ini p**a mungkin yang mengokohkan hubungan Nangroe dengan Daulah ‘Utsmaniyah. Kopi Turki yang amat terkenal itu, yang paling istimewa dulunya dikirim Sultan dari kebun-kebun di TakengSayaon.

Nah, izinkan bincang kopi ini saya geser dari perbukitan Gayo di ujung utara Sumatera ke Menoreh di tengah p**au Jawa untuk menemui seorang mujahid lain.

Pada Maret 1830 itu, dia turun dari perbukitan Menoreh, di antara pengaliran Sungai Progo & Bogowonto. Agak pucat oleh malaria tertiana, masih dengan surban putih serta berkalung sarung, dia hanya ditemani 2 abdi setianya, Banteng Wareng dan Sotaruno. Tapi seiring langkahnya menuju Magelang, jumlah rakyat yang mengikutinya berlipat dari ratusan hingga ribuan.

Saya jerih membayangkan hidup lelaki ini.

Lima tahun sebelumnya di Puri Tegalrejo, putra sulung Sultan Hamengkubuwana III ini punya 300 pekerja hanya untuk mengurusi kuda-kudanya, mewarisi persawahan & perkebunan Ratu Ageng yang makmur, menjadi Pangeran paling kaya serta berpengaruh. Sebagai Wali Sultan bagi keponakannya, Hamengkubuwana V, kala kereta Mandrajuwala yang dinaikinya memasuki keraton, semua orang tertunduk.

Tapi dia tinggalkan semua itu untuk keyakinannya; jihad demi tegaknya agama. Di Dekso, kaki perbukitan Menoreh, ratusan ‘ulama, ribuan santri, & tiga perempat para pangeran Keraton menahbiskannya sebagai ‘Sultan ‘Abdul Hamid Herucakra Kabirul Mukminin Khalifatu Rasulillah Ats Tsani Ratu Paneteg Panatagama Satanah Jawa’.

‘Abdul Hamid I adalah nama Sultan Turki yang bertakhta saat kelahirannya, demikian p**a prajuritnya disusun dengan hierarki khas Janissarie, pas**an elit Daulah ‘Utsmaniyah.

Di Dekso ini p**a salah satu kemenangan perang terbukanya dicatatkan. Pas**an Belanda berkekuatan lebih 200 personil tewas ketika disergap kesatuan Turkiyo, Arkiyo, dan Bulkiyo dari Menoreh dibawah komando Alibasah Kertopengalasan. Peristiwa ini yang mengilhami salah satu lukisan termahal dalam sejarah balai lelang Sotheby’s Asia. Karya bapak seni lukis Indonesia modern, S. Sudjojono yang berjudul “Pas**an Kita yang Dipimpin Pangeran Diponegoro” itu terjual seharga 58,4 juta dolar Hongkong pada 6 April 2014.

Lima belas ribu serdadu Belanda yang ditewaskannya, keuangan penjajahan yang dibangkrutkannya, Jenderal De K**k yang frustrasi hingga harus menyusun siasat khianat baginya; Menoreh adalah saksi hingga akhir bagi semua itu, sebelum makar jahat menghempas-hempasnya ke Semarang, Batavia, Manado, & Makassar. Semua tercatat dalam seribu halaman Babadnya yang dinobatkan UNESCO sebagai Memories of The World.

Tempo hari, saya digeret oleh Ustadz Cahyadi Takariawan bersama Balai Budaya Gambiran untuk ngopi di bukit Menoreh. Ini bukan tentang ceritera bersambung ‘Api di Bukit Menoreh’ karya S.H. Mintardja yang berlatar bangkitnya Kesultanan Mataram itu. Tapi kami mengenang salah satu putra Wangsa Mataram yang terbesar, lelaki yang kita kisahkan tadi, Pangeran Diponegoro.

Adalah Pak Rohmat, pemilik Kedai Kopi Menoreh yang menjamu kami dengan kopi istimewanya. Kopi Suroloyo, merujuk pada salah satu puncak perbukitan Menoreh, pernah disebut oleh pakar kopi Garasi Penulis Pro-U, Ustadz M. Fauzil ‘Adhim sebagai ‘the best ever after’ dari berbagai kopi yang pernah dicicipnya. Ini karena karakternya yang “fruity”, baik yang berjenis Arabika, Robusta, Liberika, Excelsa, maupun Mocha, asal sangrainya tepat.

Yang istimewa lagi, Pak Rohmat menyajikan kopinya dengan penampin kayu yang di atasnya tersaji juadah, juadah goreng, gebleg, tempe kemul, tape goreng, ubi goreng, singkong rebus, kacang rebus, & pisang rebus. Dahsyatnya, semua dalam ukuran sak-emplok, alias sesuap habis, menjadikannya teman ngopi yang menggemaskan.

Saya teringat Viennese Coffehouse yang juga masuk dalam daftar ‘Warisan Dunia Tak Benda’ oleh UNESCO. Kebudayaan kafe ala Austria ini dideskripsikan sebagai, “Sebuah tempat di mana ruang & waktu dikonsumsi, tapi hanya kopi yang dicantumkan dalam nota tagihan.” Meja marmer, air putih, & koran adalah pelengkapnya. Dengan kue manis khas seperti Apfelstrudel atau Sachertorte, tart cokelat yang diisi selai aprikot sesekali menemani, gaya hidup berkopi ini mendunia.

Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat kita harapkan juga mampu membentuk sebuah budaya kopi baru, sebagaimana telah masyhurnya Warung Kopi bermadzhab Solong semisal di Ulee Kareng, Aceh yang menyertakan timphan, bingkang, kue adee, kue bhoi, & lainnya.

Para penikmat kopi yang shalih & shalihah, ketika ‘budaya warung kopi’ ataupun ‘kafe’ menjadi identik dengan buang waktu & bincang kesia-siaan bahkan dosa; penting juga kita mengembalikan kopi kepada ashalah nilainya ketika dibawa dari Dataran Tinggi Etiophia ke kota Mukha’ di Yaman oleh muslimin permulaan abad ke-8. Kopi, sejak itu adalah sahabat ahli ibadah dan ahli ilmu. Ia menegakkan punggung para ‘abid agar kuat berlama qiyamullail. Ia p**a menyangga mata para ‘ulama serta pelajar untuk mendaras kitab & berdiskusi.

Nah, semangat inilah yang hendak p**a dihidupkan Pak Rohmat di Kedai Kopi Menorehnya. Beliau ingin sekali memiliki sebuah Mushalla yang luas sebagai fasilitas ‘ibadah bagi para pengunjung. Bahkan mungkin juga nantinya, sebuah perpustakaan yang menghidupkan suasana keilmuan.

Ini akan melengkapi kebun kopinya nan asri yang dapat kita tinjau, serta air terjun kecil yang amat indah tepat di bawah kedainya.

Tempo hari kami berlama-lama menikmati kesyahduannya sembari merekam bincang kajian kecil untuk Pro-U Channel di Youtube. Kembali ke Gazebo Kedai yang teduh, telah menanti nasi liwetan dengan lodeh lompong, oseng buncis, baceman, & ayam kampung kukus.

Masyaallah. Laa quwwata illa billaah.

Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat terletak di Dusun Madugondo, Desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo. Jaraknya hanya sekira satu jam perjalanan dari pusat kota Yogyakarta.

Bagi Shalih(in+at) yang berkenan turut bersaham dalam mewujudkan asasan tempat ibadah ini, dapat mengirimkan cinta melalui Bendahara Panitia Pembangunan Mushalla Menoreh:

Bank BRI
a.n Sofyan Ari Subechi
no rek. 6632-01-001723-50-7

Semoga Allah ridhai ikhtiyar mulia ini. Akhirnya, mengutip Mas Pepeng, barista KlinikKopi & roaster yang amat disegani, “Kopi tanpa narasi hanyalah air berwarna hitam”. Narasikan kopimu!

http://salimafillah.com/ngopi-di-bukit-menoreh/

18/09/2013

*Pujian

Ibarat parfum, mungkin begitulah pujian sebenarnya bekerja, sikap kita yang rasional hanya sebatas menciumnya tidak sampai meminumnya. Boleh jadi ada masa-masa labil dimana kita dan nyaris semua orang begitu “haus” untuk menerima apresiasi ataupun pujian untuk mendapat “pengakuan” atas apa yang pernah kita capai atau sedang lakoni.

Pada dasarnya, Pengakuan ini menjadi penting, setiap orang pada dasarnya ingin dikenal “sebagai apa”, atau ingin diketahui “sedang melakoni apa”. Pengakuan laksana asupan jiwa yang membuat penikmatnya melayang diawang-awang atau sekedar nyaman melakoni kehidupannya, asal eksistensinya “diakui”. Bahkan bagi yang sudah candu akan pujian , akan menjadikannya sebagai tujuan dari semua aktivitas : Demi Pujian!...

Maka boleh dicatat “Rumus Menyikapi Pujian” yang diwarisi turun-termurun dari Guru-Guru Peradaban, bahwa :
1. Memuji diri sama dengan menjatuhkan kehormatan dan itu lebih besar dari kehinaan yang diperoleh jika sekiranya kita dicaci seluruh penduduk bumi.
2. Pujian tulus yang datang dari seseorang sama dengan Kabar gembira yang dipercepat Allah, maka biasakan gumam “Kalimat thayyibah”, semisal “Subhanallah, MasyaAllah,La Quwwata Illa BiLlah, AstagfituLlah” dst.
3. Orang terpuji akan seketika menjadi hina ketika mulai memuji diri sendiri.
4. Betapapun hebatnya seseorang , jika terlalu mendramatisir diksi “Aku” dalam setiap pencapainnya, maka orang tersebut sedang bergerak dari sosok yang “memukau” menjadi sosok yang “memuakkan”

Dan inilah batasan-batasan yang diajarkan Guru-guru terbaik untuk mulai kita jaga, ketika semua orang setiap detiknya secara massif rela membagi informasi diri via sosmed & sejenisnya. (AQJ)

11/09/2013

Jatuh cinta itu, tidak ada kaitannya dengan waktu. Jikalau memang anda harus menunggu, maka menunggulah. Sebab meskipun waktu yang berlalu, tetapi jelas tidak dengan cintamu. Cintamu tidak akan kemana-mana. Ia masih ada disana. Menunggu. (Arief Budi)

"Indahnya Cinta itu, karena ada kesabaran didalamnya. Sabar untuk menunggu, sabar juga untuk mengikhlaskan.."
(Salim A Fillah)

Nasib para ulama, kyai, santri, dan mujahid memang selalu begitu. Indonesia tdk mungkin merdeka tanpa mereka. Mereka ini...
15/09/2012

Nasib para ulama, kyai, santri, dan mujahid memang selalu begitu. Indonesia tdk mungkin merdeka tanpa mereka. Mereka ini tdk perlu diajari nasionalisme, tdk perlu diajari Pancasila, tapi kalau penjajah datang, langsung siap berjihad. Setelah Indonesia merdeka pun pengakuan kedaulatan datang dari para ulama dan mujahid di Timur Tengah. Tapi setelah kondisi stabil, selalu saja orang sekuler yang sok-sokan, seolah-olah mereka paling berjasa pada negeri ini.

Di era Orde Lama, politik Islam diberangus. Di era Orde Baru, intel disusupkan di mana-mana, mau pengajian saja susah, mau khutbah saja mesti laporan. Sekarang, Rohis dituduh teroris p**a. Ada Rohis saja kondisi pemuda bangsa ini sudah awut-awutan. Mau jadi apa bangsa ini kalau tidak ada Rohis?

14/09/2012

Semua marah itu pasti! semua mengobarkan kebencian itu mutlak! siapapun dia, baik yang baru belajar, baik yang belum sempurna dalam beribadah , baik yang masih sering berbuat dosa , akan mengobarkan amarah & kebenciannya terhadap setiap individu atau kelompok yang menghina junjungannya Rasulullah Muhammad Shallalahu alaihi wa sallam

Semua ekspresi tidak ada yang keliru, kita justru memandang segala ekspresi tersebut yang dinilai dengan standar yang berbeda-beda adalah tetap positif sekaligus menggambarkan betapa Ummat Islam apapun madzhabnya, kelompok, atau backgroundnya mencintai sangat Baginda Nabi

Eksperesi Amarah atas penghinaan Baginda Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam adalah postif baik dengan tindakan anarkis maupun dengan aksi diplomatis.

Kitapun sampai kepada titik kesadaran bahwa betapa kita Ummat Islam ini menanti dan butuh satu kepemimpinan, kepemimpinan Islam agar ada standar respon yang menyeluruh tentang bagaimana sebaiknya merespon penghinaan ini.

Dan kita yg menjadi bagian bangunan ummat Islam yg sedang porak-poranda mengoreksi diri, untuk mewujudkan kemarahan itu dengan segala ketidaksempurnaan diri dan kelemahan diri atas kualitas kita sebagai Muslim, sebisa mungkin lewat jalan :

1. Ikut ambil bagian dalam dakwah menyadaran ummat tentang pentingnya mewujudkan kepemimpinan Islam apapun afiliasi jama'ah dawah kita
2. Berusaha menghidupkan kecintaan kepada nabi dgn mencontoh perliku beliau, menghidupkan sunnahnya
3. Mendidik orang-orang di lingkungan terdekat dari keluarga atau setiap muslim yg kita temui untuk memperkenalkan sosok mulia ini
4. Berusaha membangun ukhuwah islamiyah yang berangkat dari kesamaan aqidah, bukan lagi kesamaan kelompok
5. membangun kerja-kerja kolektif dengan semua elemen ummat untuk semua lini dakwah yang bisa diisi sesuai kapasitas masing-masing , lintas background, lintas jam'ah
6. memberangus fanatisme kelompok, ashobiyah yg sedang menjangkiti ummat islam
7. ikut mengisi Gambar besar Ummat Islam dengan standar syariat dengan cara yang dibenarkan

Ini yang Guru-guru & pendahulu kita telah ajarkan, setidaknya hal sederhana ini yang ingin coba kita kerjakan perlahan , sekali lagi dalam ketidaksempurnaan ilmu dan amal kita atas banyaknnya keeurangan manusiawi kita dan masih sedikitnya kontribusi yg kita berikan. Allahu 'alam

02/08/2012

Inspirasi Ramdhan oleh Herry Nurdi

Jika malas sudah datang, maka tak jauh mata memandang, tak lantang suara ditekan, tak panjang langkah dibentang, tak luas pikir direntang

Jika pengecut sudah membelenggu, jiwa terasa kerdil, hidupnya menjadi sempit, alasan dan kilah yg dicari selalu degil

Ringankanlah hatimu, jangan biarkan dikepung kesusahan. sebab dia akan merampas harapan & jalan keluar. percayalah, kesulitan pasti usai jua

Tak ada kusut yang tak terurai. tak ada keruh yang tak terjernihkan. dan tak ada jalan tanjakan tanpa turunan. ingatlah rahmat Allah

Jangan p**a lemah, karena sungguh kau diutus sebagai khalifah. tugasmu mengurus yg kecil, juga yg besar. maka lemah bukan sifat khalifah

Jangan kau merasa lemah, jangan p**a engkau merasa takut. sebab engkau tinggi karena engkau orang-orang yg beriman. demikian firman Allah

Percayalah langit itu selalu cerah, hanya sedikit saja awan yg menutupinya. lihatlah sisi terang, krn sisi gelap tak memberi pertolongan

Jika masih tak percaya mari kita hitung saat-saat s**a dan bandingkan dengan duka cita. sungguh jauh lebih banyak senyum yg ada diwajah

Seperti sabda nabi, berlindunglah pada Allah dr sifat kesusahan dan kesedihan, kemalasan juga kelemahan

Berlindunglah p**a pada Allah dari kebakhilan dan sifat pengecut yg akut. sebab keduanya hanya menghantarkanmu pd sempitnya kehidupan

Berusahalah selalu untuk membebaskan diri dari hutang dan pengaruh orang-orang yang mengendalikan. belenggu itu membuatmu lumpuh

Mereka yg kakinya terjerat hutang, maka selalu, lehernya dibelenggu oleh kekuatan yg akan mengendalikan. bebaskan dirimu dgn doa dan ikhtiar

Buatlah cita-cita yang melebihi umur hidupmu, seperti yg telah dilakukan nabi junjungan. jangan hanya memikirkan kini dan sekarang

Rasulullah menetapkan cita-cita yg berjarak ratusan, bahkan lebih dari 1000 tahun dari kehidupan yg beliau bangunkan

Beliau bersabda, yaman akan kita taklukkan. persia akan kita kalahkan. bahkan romawi juga akan ditundukkan. apa cita-cita 200 tahun kedepan?

Kenapa 200 tahun jadi patokan? ada penelitian bahwa hidup kita masih memiliki pengaruh pada kehidupan 200 tahun kemudian.

Tapi jika merujuk pada rasulullah salallahualaihi wassalam, kehidupannya berpengaruh bahkan lebih dr 1000 tahun kedepan

Sering saya berjumpa dalam forum atau banyak peristiwa. saat ditanya apa cita-citamu, banyak orang yg hanya bisa diam.

Dulu saat kecil kita punya cita-cita dan impian. padahal kita belum memiliki kesadaran, ttg islam juga kehidupan

Tapi kini saat kita sudah memiliki kesadaran (meski masih tipis dan ringan) justru kita hidup tanpa cita-cita besar ttg islam

Ayo, bangunlah. rancang cita dan hidup dalam islam, setiap individu harus merancang kebangkitan. nanti kita akan bertemu insya Allah

Rancanglah cita-cita tahunan, lima tahunan, sepuluh tahunan, bahkan seratus tahunan. dan wujudkan satu persatu mulai sekarang

Cita-cita tanpa usaha itu mimpi namanya. dan berusaha tanpa cita-cita, bisa-bisa kita jadi kuli dr ketidaktahuan diri.

Address

Granada Bookmart (Kopma Untan)
Pontianak
78391

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Granada Bookmart posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Establishment

Send a message to Granada Bookmart:

Share