20/07/2026
PERJANJIAN BERDARAH SANG MAESTRO (8)
Aku masih terus menjerit memanggil Ibu yang dibawa paksa oleh para petugas rumah sakit jiwa itu. Suaraku serak dan pecah, tenggorokanku terasa perih, tapi rasa sakit itu kalah jauh dibandingkan rasa hancur di dadaku.
Menyaksikan wanita yang paling kusayangi dianggap gila hanya karena berusaha menyelamatkanku membuat akal sehatku seperti ikut runtuh malam ini.
"Ibuuu...!" teriakku sambil memukul-mukul pintu yang kini telah tertutup rapat. Mobil ambulans itu terus saja menjauh. Sirenenya perlahan mengecil dan lama kelamaan menghilang.
Kini rumah besar Bang Fatur kembali tenggelam dalam kesunyian yang mengerikan. Aku terduduk lemas di lantai marmer. Napasku memburu tidak beraturan. Air mataku terus jatuh tanpa bisa kutahan.
Saat itulah, dari arah lorong rumah yang gelap, terdengar suara langkah kaki seseorang. Seolah sengaja berjalan perlahan untuk menikmati ketakutanku.
Aku mengangkat kepala. Kali ini rasa takutku tidak sebesar sebelumnya. Yang tersisa di dalam dadaku sekarang hanyalah amarah.
Amarah karena aku dipisahkan dari Ibu. Amarah karena semua orang menganggap Ibuku gila. Dan amarah karena rumah terkutuk ini seolah sedang mempermainkanku.
Aku berdiri perlahan. kedua tanganku mengepal kuat.
"Keluar kau! Jangan sembunyi!"" bentakku ke arah lorong gelap. "
Tak ada jawaban. Langkah kaki itu berhenti. Suasana kembali sunyi.
Dadaku naik turun menahan emosi. Aku menatap ke arah foto besar Bang Fatur yang tergantung di dinding. Senyumnya masih terlihat, terasa seperti ejekan. Entah kenapa, kemarahanku langsung meledak.
Aku berjalan cepat menghampiri pigura besar itu, lalu merenggutnya kasar dari dinding.
BRAK!
Pigura itu jatuh ke lantai. Tanpa berpikir panjang, kuangkat bingkai besar itu tinggi-tinggi lalu kuhantamkan sekuat tenaga ke lantai marmer.
PRANGGG!
Kaca pigura pecah berserakan ke segala arah. Aku terengah-engah. Dengan napas yang tak beraturan, aku mulai menginjak-injak foto Bang Fatur di lantai.
"Kau puas sekarang? Inikah maumu?" teriakku histeris.
"Kau bikin Ibuku dibawa ke rumah sakit jiwa!"
Aku terus menginjak wajah Bang Fatur berkali-kali hingga foto itu kusut dan robek.
"Ibu tidak gila! Dia tidak gilaaa!" Jeritanku menggema ke seluruh isi rumah.
Tenggorokanku tercekat, aku tertunduk karena tenagaku terkuras, saat itulah suasana berubah seketika. Hawa di dalam rumah mendadak menjadi sangat dingin. Seketika aku mencium aroma d**a. Aromanya yang menusuk hidungku. Jauh lebih kuat dibanding wangi melati sebelumnya. Lampu ruang tengah mulai berkedip-kedip pelan.
Krek....
Pintu kamar Bang Fatur terbuka sendiri.
Aku terdiam. Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Kepalaku mulai berdenyut hebat. Pandangan mataku berkunang-kunang.
"Ha ... hah ... hah...."
Suara tawa terdengar dari bawah kakiku. Aku langsung menunduk. Dan seketika darahku terasa berhenti mengalir.
Di antara pecahan kaca pigura itu. Aku melihat pantulan wajahku sendiri. Tapi, pantulan itu tersenyum. Padahal bibirku sama sekali tidak bergerak.
Aku mundur selangkah dengan napas tercekat.
"T-tidak...."
Pantulan itu perlahan membuka mulutnya. Lalu suara seseorang keluar dari sana. Suara pria yang sangat kukenal.
"Sudah terlambat, Bayu...."
DEG!
Kepalaku terasa seperti dihantam sesuatu yang sangat keras. Lorong rumah mulai berputar. Dinding-dinding rumah seperti bergerak menjauh.
Aku mencoba berdiri tegak, tapi kedua lututku mendadak lemas. Pandangan mataku mulai gelap sedikit demi sedikit.
Di tengah kesadaranku yang hampir hilang, samar-samar kulihat sesosok pria berdiri di ujung lorong.
Tubuhnya tinggi. Mengenakan jas hitam rapi. Sarung tangan putih. Ia tersenyum lebar melihatku.
Bang Fatur! Di mana wajahnya pucat seperti mayat. Kedua matanya gelap pekat tanpa bola mata.
"Selamat datang di duniaku, Adikku."
Saat itu pandanganku menjadi gelap gulita dan akhirnya aku tak sadarkan diri.
***
Kepalaku terasa agak berat saat kesadaranku kembali ke permukaan. Perlahan, aku bangkit dari tempat tidur. Begitu membuka mata, rasa heran langsung menyergapku.
"Di mana ini?" gumamku pada diri sendiri, menatap sekeliling dengan dahi berkerut.
Kamar ini asing, tapi luar biasa mewah. Kasur yang berukuran king size dan sangat empuk, ditambah lagi ada lampu tidur berdesain elegan di sudut ruangan. Aku melangkah pelan mendekati jendela, menyibak sedikit tirainya. Cahaya pagi yang menerobos masuk memberi rasa hangat di kulitku.
Cklek.
Suara pintu terbuka membuatku menoleh cepat. Seorang lelaki paruh baya dengan rambut yang sebagian mulai memutih melangkah masuk. Ia menatapku, lalu menyapa dengan senyuman yang sangat ramah.
"Selamat pagi, Bayu?" sapanya.
Aku mundur satu langkah, menyipitkan mata. "Maaf, Anda siapa?"
"Saya Edward. Panggil saja Paman Edward," ucapnya sopan. Ia mengulurkan tangannya yang dibalut sarung tangan kain berwarna putih bersih.
Aku menyambut jabat tangannya dengan ragu. "Ini ... di rumah siapa, Paman?"
"Ini di rumah Tuan Fatur, saudara Anda."
Aku berkedip beberapa kali. Fatur? Otakku mendadak buntu dan harus bekerja keras memutar memori, mencari tahu siapa sosok yang dia maksud. Entah kenapa aku bisa mendadak lupa. Setelah berpikir keras, sebuah kilatan ingatan muncul di kepalaku.
"Ah! Bang Fatur! Dia kakak kandungku! kenapa aku sekarang rumahnya?" tanyaku heran.
"Bukankah semalam sore Anda baru datang ke sini?"
Aku mengerutkan dahiku, aku benar-benar tak ingat sama sekali.
"Lalu di mana sekarang Bang Fatur sekarang?
"Beliau sedang dalam perjalanan ke Alaska. Ada pertunjukan besar di sana," jawab Paman Edward.
Mendengar kata pertunjukkan beberapa keping mulai kembali bermunculan. Benar, Bang Fatur adalah pesulap nomor satu di negeri ini. Namanya sangat terkenal, wajahnya sering mondar-mandir di televisi, dan sekarang dia bahkan punya rumah semewah ini.
Paman Edward melepaskan sarung tangan putihnya, melipatnya rapi, lalu memasukkannya ke dalam saku jas.
"Tuan Fatur sangat hebat, bukan? Mau Saya tunjukkan sesuatu yang sederhana?"
"Maksud Paman...."
Tanpa menjawab, Paman Edward merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah koin logam perak.
"Perhatikan baik-baik, Bayu. Ini murni soal kecepatan tangan."
Ia meletakkan koin itu di telapak tangan kanannya yang terbuka tepat di depan mataku.
"Satu, dua, tiga"
Wus!
Tangan Paman Edward menutup dengan gerakan kilat menjadi kepalan, lalu ditiupnya perlahan. Begitu jemarinya kembali terbuka ... kosong! Koin itu hilang begitu saja!
Mataku langsung melotot. "Hah? Kok bisa hilang? Paman menyembunyikannya di mana?"
Paman Edward malah terkekeh geli melihat ekspresi melongoku. "Ini tidak hilang, Bayu. Koinnya hanya berpindah tempat karena matamu kalah cepat dengan gerakan tangan Saya."
Belum sempat aku mencerna kalimatnya, tangan kiri Paman Edward bergerak maju dan mengetuk pundak kiriku dengan santai. Saat ia menarik tangannya kembali, mataku hampir melompat keluar, koin perak tadi tiba-tiba sudah menjulur dari balik kerah bajuku!
"Wah! Keren banget, Paman! Ajari aku!" seruku spontan. Rasa takjub langsung membuatku lupa total dengan rasa bingung saat bangun tidur tadi.
"Tentu saja. Sini, perhatikan posisi jemariku," ujar Paman Edward dengan sabar.
Ia mulai mempraktikkannya lewat gerakan lambat. Aku memperhatikan dengan serius bagaimana ibu jari dan jari tengahnya menjepit koin itu pada sudut tertentu. Saat tangannya seolah-olah bergerak menutup, dengan kecepatan tinggi jemarinya justru mendorong koin itu ke area belakang telapak tangan sebuah teknik tersembunyi.
"Kuncinya bukan kecepatan, Bayu, melainkan mengalihkan perhatian penonton," ujar Paman Edward.
Ia memperagakan gerakannya secara perlahan. Tangan kirinya seolah mengambil koin dari telapak tangan kanan. Namun saat aku memperhatikan lebih saksama, ternyata koin itu masih tersembunyi di sela-sela jari tangan kanannya.
"Mata manusia mudah tertipu. Saat mereka yakin koin berpindah, mereka berhenti memperhatikan tempat sebenarnya. Coba kamu praktekkan," kata Paman Edward sambil menyerahkan koin itu kepadaku.
Aku menerima koin logam itu, memposisikan jariku persis seperti instruksinya, dan mencoba menggerakkannya. Tapi pada percobaan pertama, koinnya malah lepas dan jatuh ke lantai.
Kami berdua spontan tertawa bersama. Aku tidak menyerah. Aku memungutnya lagi, mencoba menyerasikan gerakan mata dan tangan dengan lebih hati-hati. Meskipun gerakanku masih kaku dan jauh dari sempurna, aku bisa merasakannya sedikit lebih rapi.
Aku yang awalnya bangun dengan linglung dan ketakutan di tempat asing, sekarang justru merasa sangat senang. Ternyata, bukan cuma Bang Fatur yang hebat, orang-orang di sekitarnya, seperti Paman Edward punya keahlian yang luar biasa.
BACA PART SELANJUTNYA DI KBM APP
https://read.kbm.id/book/detail/ebc04325-13c9-4894-8310-1f229e6b486c?af=aef2b7e4-ad4c-c353-5e58-ac4501e96d28