cerita seru

cerita seru kump**an cerita novel best seller dan seru dari penulis-penulis ternama
menerima jasprom upload di FB dan tiktok cerita seru

wa 082373316758

PERJANJIAN BERDARAH SANG MAESTRO (8)Aku masih terus menjerit memanggil Ibu yang dibawa paksa oleh para petugas rumah sak...
20/07/2026

PERJANJIAN BERDARAH SANG MAESTRO (8)

Aku masih terus menjerit memanggil Ibu yang dibawa paksa oleh para petugas rumah sakit jiwa itu. Suaraku serak dan pecah, tenggorokanku terasa perih, tapi rasa sakit itu kalah jauh dibandingkan rasa hancur di dadaku.

Menyaksikan wanita yang paling kusayangi dianggap gila hanya karena berusaha menyelamatkanku membuat akal sehatku seperti ikut runtuh malam ini.

"Ibuuu...!" teriakku sambil memukul-mukul pintu yang kini telah tertutup rapat. Mobil ambulans itu terus saja menjauh. Sirenenya perlahan mengecil dan lama kelamaan menghilang.

Kini rumah besar Bang Fatur kembali tenggelam dalam kesunyian yang mengerikan. Aku terduduk lemas di lantai marmer. Napasku memburu tidak beraturan. Air mataku terus jatuh tanpa bisa kutahan.

Saat itulah, dari arah lorong rumah yang gelap, terdengar suara langkah kaki seseorang. Seolah sengaja berjalan perlahan untuk menikmati ketakutanku.

Aku mengangkat kepala. Kali ini rasa takutku tidak sebesar sebelumnya. Yang tersisa di dalam dadaku sekarang hanyalah amarah.

Amarah karena aku dipisahkan dari Ibu. Amarah karena semua orang menganggap Ibuku gila. Dan amarah karena rumah terkutuk ini seolah sedang mempermainkanku.

Aku berdiri perlahan. kedua tanganku mengepal kuat.

"Keluar kau! Jangan sembunyi!"" bentakku ke arah lorong gelap. "

Tak ada jawaban. Langkah kaki itu berhenti. Suasana kembali sunyi.

Dadaku naik turun menahan emosi. Aku menatap ke arah foto besar Bang Fatur yang tergantung di dinding. Senyumnya masih terlihat, terasa seperti ejekan. Entah kenapa, kemarahanku langsung meledak.

Aku berjalan cepat menghampiri pigura besar itu, lalu merenggutnya kasar dari dinding.

BRAK!

Pigura itu jatuh ke lantai. Tanpa berpikir panjang, kuangkat bingkai besar itu tinggi-tinggi lalu kuhantamkan sekuat tenaga ke lantai marmer.

PRANGGG!

Kaca pigura pecah berserakan ke segala arah. Aku terengah-engah. Dengan napas yang tak beraturan, aku mulai menginjak-injak foto Bang Fatur di lantai.

"Kau puas sekarang? Inikah maumu?" teriakku histeris.

"Kau bikin Ibuku dibawa ke rumah sakit jiwa!"

Aku terus menginjak wajah Bang Fatur berkali-kali hingga foto itu kusut dan robek.

"Ibu tidak gila! Dia tidak gilaaa!" Jeritanku menggema ke seluruh isi rumah.

Tenggorokanku tercekat, aku tertunduk karena tenagaku terkuras, saat itulah suasana berubah seketika. Hawa di dalam rumah mendadak menjadi sangat dingin. Seketika aku mencium aroma d**a. Aromanya yang menusuk hidungku. Jauh lebih kuat dibanding wangi melati sebelumnya. Lampu ruang tengah mulai berkedip-kedip pelan.

Krek....

Pintu kamar Bang Fatur terbuka sendiri.

Aku terdiam. Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Kepalaku mulai berdenyut hebat. Pandangan mataku berkunang-kunang.

"Ha ... hah ... hah...."

Suara tawa terdengar dari bawah kakiku. Aku langsung menunduk. Dan seketika darahku terasa berhenti mengalir.

Di antara pecahan kaca pigura itu. Aku melihat pantulan wajahku sendiri. Tapi, pantulan itu tersenyum. Padahal bibirku sama sekali tidak bergerak.

Aku mundur selangkah dengan napas tercekat.

"T-tidak...."

Pantulan itu perlahan membuka mulutnya. Lalu suara seseorang keluar dari sana. Suara pria yang sangat kukenal.

"Sudah terlambat, Bayu...."

DEG!

Kepalaku terasa seperti dihantam sesuatu yang sangat keras. Lorong rumah mulai berputar. Dinding-dinding rumah seperti bergerak menjauh.

Aku mencoba berdiri tegak, tapi kedua lututku mendadak lemas. Pandangan mataku mulai gelap sedikit demi sedikit.

Di tengah kesadaranku yang hampir hilang, samar-samar kulihat sesosok pria berdiri di ujung lorong.

Tubuhnya tinggi. Mengenakan jas hitam rapi. Sarung tangan putih. Ia tersenyum lebar melihatku.

Bang Fatur! Di mana wajahnya pucat seperti mayat. Kedua matanya gelap pekat tanpa bola mata.

"Selamat datang di duniaku, Adikku."

Saat itu pandanganku menjadi gelap gulita dan akhirnya aku tak sadarkan diri.

***

Kepalaku terasa agak berat saat kesadaranku kembali ke permukaan. Perlahan, aku bangkit dari tempat tidur. Begitu membuka mata, rasa heran langsung menyergapku.

​"Di mana ini?" gumamku pada diri sendiri, menatap sekeliling dengan dahi berkerut.

​Kamar ini asing, tapi luar biasa mewah. Kasur yang berukuran king size dan sangat empuk, ditambah lagi ada lampu tidur berdesain elegan di sudut ruangan. Aku melangkah pelan mendekati jendela, menyibak sedikit tirainya. Cahaya pagi yang menerobos masuk memberi rasa hangat di kulitku.

​Cklek.

​Suara pintu terbuka membuatku menoleh cepat. Seorang lelaki paruh baya dengan rambut yang sebagian mulai memutih melangkah masuk. Ia menatapku, lalu menyapa dengan senyuman yang sangat ramah.

​"Selamat pagi, Bayu?" sapanya.

​Aku mundur satu langkah, menyipitkan mata. "Maaf, Anda siapa?"

​"Saya Edward. Panggil saja Paman Edward," ucapnya sopan. Ia mengulurkan tangannya yang dibalut sarung tangan kain berwarna putih bersih.

​Aku menyambut jabat tangannya dengan ragu. "Ini ... di rumah siapa, Paman?"

​"Ini di rumah Tuan Fatur, saudara Anda."

​Aku berkedip beberapa kali. Fatur? Otakku mendadak buntu dan harus bekerja keras memutar memori, mencari tahu siapa sosok yang dia maksud. Entah kenapa aku bisa mendadak lupa. Setelah berpikir keras, sebuah kilatan ingatan muncul di kepalaku.

​"Ah! Bang Fatur! Dia kakak kandungku! kenapa aku sekarang rumahnya?" tanyaku heran.

"Bukankah semalam sore Anda baru datang ke sini?"

Aku mengerutkan dahiku, aku benar-benar tak ingat sama sekali.

​"Lalu di mana sekarang Bang Fatur sekarang?

​"Beliau sedang dalam perjalanan ke Alaska. Ada pertunjukan besar di sana," jawab Paman Edward.

​Mendengar kata pertunjukkan beberapa keping mulai kembali bermunculan. Benar, Bang Fatur adalah pesulap nomor satu di negeri ini. Namanya sangat terkenal, wajahnya sering mondar-mandir di televisi, dan sekarang dia bahkan punya rumah semewah ini.

​Paman Edward melepaskan sarung tangan putihnya, melipatnya rapi, lalu memasukkannya ke dalam saku jas.

​"Tuan Fatur sangat hebat, bukan? Mau Saya tunjukkan sesuatu yang sederhana?"

​"Maksud Paman...."

​Tanpa menjawab, Paman Edward merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah koin logam perak.

"Perhatikan baik-baik, Bayu. Ini murni soal kecepatan tangan."

​Ia meletakkan koin itu di telapak tangan kanannya yang terbuka tepat di depan mataku.
"Satu, dua, tiga"

​Wus!

​Tangan Paman Edward menutup dengan gerakan kilat menjadi kepalan, lalu ditiupnya perlahan. Begitu jemarinya kembali terbuka ... kosong! Koin itu hilang begitu saja!

​Mataku langsung melotot. "Hah? Kok bisa hilang? Paman menyembunyikannya di mana?"

​Paman Edward malah terkekeh geli melihat ekspresi melongoku. "Ini tidak hilang, Bayu. Koinnya hanya berpindah tempat karena matamu kalah cepat dengan gerakan tangan Saya."

​Belum sempat aku mencerna kalimatnya, tangan kiri Paman Edward bergerak maju dan mengetuk pundak kiriku dengan santai. Saat ia menarik tangannya kembali, mataku hampir melompat keluar, koin perak tadi tiba-tiba sudah menjulur dari balik kerah bajuku!

​"Wah! Keren banget, Paman! Ajari aku!" seruku spontan. Rasa takjub langsung membuatku lupa total dengan rasa bingung saat bangun tidur tadi.

​"Tentu saja. Sini, perhatikan posisi jemariku," ujar Paman Edward dengan sabar.

​Ia mulai mempraktikkannya lewat gerakan lambat. Aku memperhatikan dengan serius bagaimana ibu jari dan jari tengahnya menjepit koin itu pada sudut tertentu. Saat tangannya seolah-olah bergerak menutup, dengan kecepatan tinggi jemarinya justru mendorong koin itu ke area belakang telapak tangan sebuah teknik tersembunyi.

"Kuncinya bukan kecepatan, Bayu, melainkan mengalihkan perhatian penonton," ujar Paman Edward.

Ia memperagakan gerakannya secara perlahan. Tangan kirinya seolah mengambil koin dari telapak tangan kanan. Namun saat aku memperhatikan lebih saksama, ternyata koin itu masih tersembunyi di sela-sela jari tangan kanannya.

"Mata manusia mudah tertipu. Saat mereka yakin koin berpindah, mereka berhenti memperhatikan tempat sebenarnya. Coba kamu praktekkan," kata Paman Edward sambil menyerahkan koin itu kepadaku.

​Aku menerima koin logam itu, memposisikan jariku persis seperti instruksinya, dan mencoba menggerakkannya. Tapi pada percobaan pertama, koinnya malah lepas dan jatuh ke lantai.

​Kami berdua spontan tertawa bersama. Aku tidak menyerah. Aku memungutnya lagi, mencoba menyerasikan gerakan mata dan tangan dengan lebih hati-hati. Meskipun gerakanku masih kaku dan jauh dari sempurna, aku bisa merasakannya sedikit lebih rapi.

​Aku yang awalnya bangun dengan linglung dan ketakutan di tempat asing, sekarang justru merasa sangat senang. Ternyata, bukan cuma Bang Fatur yang hebat, orang-orang di sekitarnya, seperti Paman Edward punya keahlian yang luar biasa.

BACA PART SELANJUTNYA DI KBM APP
https://read.kbm.id/book/detail/ebc04325-13c9-4894-8310-1f229e6b486c?af=aef2b7e4-ad4c-c353-5e58-ac4501e96d28

Cintaku Bertepuk Sebelah Tangan? Part 4Siang itu matahari terasa lebih terik dari biasanya.Fitri memarkir motor di depan...
19/07/2026

Cintaku Bertepuk Sebelah Tangan?

Part 4

Siang itu matahari terasa lebih terik dari biasanya.

Fitri memarkir motor di depan rumahnya sendiri dengan wajah lelah. Ia hanya p**ang sebentar—mengambil berkas tambahan dan mengganti tas sebelum pergi lagi ke rumah salah satu siswa yang orang tuanya meminta kunjungan khusus. Rere, rekan sesama guru, sudah mengabari akan menjemputnya lima belas menit lagi.

Ia melangkah masuk ke teras, membuka pintu tapi ternyata tak terkunci.

Rumah itu sunyi.

Terlalu sunyi.

Padahal biasanya jam satu siang seperti ini Saka masih di kantor. Jarang sekali ia p**ang sebelum magrib. Bahkan sering lembur.

Fitri menutup pintu perlahan.

Dan langkahnya terhenti.

Di ruang tamu, duduk berhadapan di sofa—Saka dan Dewi.

Waktu seperti berhenti.

Saka masih mengenakan kemeja kantor, lengan digulung sampai siku. Dewi duduk di seberangnya dengan dress warna pastel, rambut tergerai rapi. Di meja terdapat rantang makanan dan dua gelas teh yang sudah setengah diminum.

Dua.

Fitri berdiri kaku.

Matanya menatap keduanya tanpa berkedip.

Saka juga terkejut. Jelas sekali. Ia langsung berdiri setengah bangkit, tapi tidak tahu harus berkata apa.

Dewi yang lebih dulu bereaksi.

Ia cepat berdiri. Wajahnya berubah pucat, lalu memasang ekspresi bersalah yang terlalu sempurna.

“Fitri… aku… maaf. Aku nggak izin dulu,” ucapnya tergagap. “Tadi Bu Ranti yang minta aku antar makanan buat Mas Saka. Jadi aku langsung ke sini.”

Fitri masih diam.

Tatapannya turun pada rantang itu. Lalu ke dua gelas teh. Lalu kembali ke wajah Saka.

Oh.

Jadi ini alasan kenapa suaminya yang biasanya sibuk… tiba-tiba ada di rumah siang-siang begini?

Ia tersenyum.

Senyum yang membuat suasana makin dingin.

“Oh ya?” suaranya tenang. Terlalu tenang. “Bu Ranti yang minta?”

Dewi mengangguk cepat. “Iya… Tante bilang Mas Saka pasti rindu dengan masakannya. Jadi aku—”

“Baik sekali ya kamu,” potong Fitri lembut.

Nada itu bukan pujian.

Dewi menggigit bibirnya.

Fitri berjalan masuk lebih dalam. Meletakkan tasnya di meja tanpa melepas tatapan dari mereka.

“Gak apa-apa sih,” lanjutnya ringan. “Kalau mau datang ya datang saja. Aku gak masalah.”

Saka menatap Fitri tajam. Ia tahu nada itu.

Nada sebelum badai.

Fitri menghela napas kecil, lalu menatap Dewi dari ujung kepala sampai kaki.

“Mau antar makanan… sekalian makan bareng… sampai tidur bareng juga aku oke saja kok.”

Saka langsung menegang.

Dewi terbelalak.

Fitri melanjutkan dengan senyum tipis yang menusuk.

“Toh lebih enak terang-terangan begini daripada main belakang.”

“Fitri!” suara Saka mulai keras.

Tapi Fitri belum selesai.

“Cuma satu permintaanku,” katanya santai. “Kalau bisa sih, pergi ke hotel. Jangan di rumah ini. Aku gak mau rumahku kotor oleh hal-hal yang gak baik.”

Sunyi.

Udara mendadak berat.

Wajah Saka memerah. Rahangnya mengeras. Untuk pertama kalinya ia terlihat benar-benar marah.

“Jaga mulut kamu!” tegasnya.

Fitri tertawa kecil.

Tawa yang membuat siapa pun yang mendengarnya ikut merinding.

“Jaga mulut?” ia menoleh perlahan ke arah suaminya. “Sebelum kamu suruh aku jaga mulut, mungkin kamu jaga perilaku dulu.”

Saka membeku.

“Apa-apaan kamu di rumah berduaan sama wanita lain? Pas istrinya gak ada p**a.”

Dewi langsung menggeleng cepat. “Enggak, Fitri, kamu salah paham—”

Fitri mengangkat tangan. “Aku lagi bicara sama suamiku.”

Nada itu tajam.

“Saka,” lanjutnya, “yang biasanya sibuk di kantor, yang jarang p**ang cepat, tiba-tiba siang begini di rumah. Lalu ada Dewi. Berdua. Minum teh berdua. Akan makan berdua.”

Ia tersenyum sinis.

“Minimal modal d**g. Sewa hotel.”

“Cukup, Fitri!” suara Saka meninggi.

Tapi Fitri justru makin tenang.

“Kenapa? Tersinggung? Atau merasa ketahuan?”

Dewi tiba-tiba menangis.

Air mata itu jatuh cepat, seperti sudah siap sejak awal.

“Maaf… maaf, Fitri… aku benar-benar cuma antar makanan. Aku nggak tahu kalau kedatanganku bikin salah paham.”

Tangisnya pecah.

Fitri memandangnya datar.

Dewi mendekat satu langkah.

“Tolong… kalau mau marah, marah ke aku saja. Jangan marah ke Mas Saka. Kasihan Mas Saka sudah capek kerja. Jangan ditambah beban lagi…”

Fitri tertawa.

Pelan.

Lalu makin keras.

“Oh, sekarang kamu bela dia?” katanya lirih tapi mematikan. “Romantis sekali.”

Saka mengepalkan tangan.

Fitri menoleh cepat.

“Oh? Jadi aku yang salah?”

Saka terdiam.

Dan itu… itu yang paling menyakitkan.

Fitri menatap Dewi lagi. Air matanya makin deras. Wajahnya benar-benar seperti korban.

Ah, akting yang bagus.

“Tuh,” Fitri menunjuk pelan ke arah Dewi. “Peluk wanita di sampingmu. Sudah nangis-nangis begitu. Aktingnya juga sudah meyakinkan.”

Dewi terisak. “Fitri, jangan begitu…”

Fitri melangkah mendekat sedikit.

“Ayo, Saka,” katanya pelan, nyaris berbisik. “Sekarang giliranmu. Peluk. Tenangkan. Biar romantis.”

Saka benar-benar berdiri tegak sekarang. Wajahnya merah. Bukan malu—marah.

“Cukup!” suaranya berat. “Dewi, kamu p**ang sekarang. Terima kasih sudah antar titipan Mama.”

Dewi tertegun. “Mas…” Ia kira tadinya akan benar-benar dipeluk.

“Tolong p**ang.”

Nada itu tidak bisa dibantah.

Fitri tersenyum kecil.

“Gak usah p**ang,” katanya cepat. “Santai saja.”

Saka menoleh tajam padanya.

Fitri melanjutkan santai, “Bila perlu tidur siang dulu. Itu temanku sudah jemput, aku memang mau pergi lagi kok. Ke sini cuma mau antar motor.”

Ia melirik jam di pergelangan tangan.

“Oh iya, sebentar lagi Rere sampai.”

Saka menatapnya tak percaya. “Kamu sengaja?”

Fitri mengangkat bahu.

“Sengaja apa? Sengaja p**ang ke rumah sendiri? Ini masih rumahku kan?”

Dewi masih berdiri dengan wajah penuh air mata. “Fitri, tolong jangan salah paham. Aku benar-benar cuma—”

“Cukup,” potong Fitri dingin. “Kamu terlalu sering ‘cuma’.”

Sunyi.

Fitri melangkah menuju pintu.

Tangan Saka refleks meraih pergelangannya.

Sentuhan itu membuat jantungnya bergetar—refleks lama yang masih ada.

Tapi kali ini, ia tidak melembut.

“Lepas,” katanya pelan.

Saka menatapnya dalam.

“Biar aku jelaskan.”

Fitri tersenyum tipis.

“Perlu?”

Kalimat itu menggantung.

Saka perlahan melepaskan tangannya.

Fitri membuka pintu.

Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.

Wajahnya tenang. Terlalu tenang.

“Jaga harga diriku sedikit lah sebagai istri sah,” ucapnya pelan. “Toh belum cerai juga.”

Ia menatap Dewi.

“Nanti kalau kalian sudah sah… baru puas-puasin di rumah ini.”

Dewi terisak makin keras.

Saka tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada kata yang keluar.

Fitri melangkah keluar rumah.

Di luar, napasnya langsung berat.

Tangannya gemetar.

Air mata yang tadi ia tahan kini jatuh begitu saja.

Bukan karena Dewi.

Bukan karena Saka memarahinya.

Tapi karena satu hal yang lebih menyakitkan—

Ia melihat sesuatu di mata suaminya tadi.

Bukan rasa bersalah.

Bukan rasa takut kehilangan.

Hanya… kemarahan karena egonya tersentuh.

Mobil Rere berhenti di depan rumah.

Rere menurunkan kaca jendela. “Fit, ayo!”

Fitri mengangguk cepat. Ia mengusap air matanya, memasang wajah profesional lagi.

Sebelum masuk mobil, ia melirik sekali lagi ke arah rumahnya.

Tirai ruang tamu sedikit bergerak.

Saka berdiri di sana.

Menatapnya.

Tapi tidak mengejar.

Tidak memanggil.

Tidak meminta ia kembali.

Dan di situlah… sesuatu dalam diri Fitri benar-benar retak.

Ia masuk ke mobil.

Pintu tertutup.

Mobil berjalan meninggalkan rumah itu.

Sementara di dalam, di ruang tamu yang masih menyisakan dua gelas teh setengah penuh dan aroma makanan yang belum disentuh—

Saka berdiri diam.

Dan Dewi masih terisak.

“Pulanglah dan jangan lagi pernah berkunjung ke rumah ini.” Saka menghela napas panjang.

Bersambung…

Baca selengkapnya di KBM App
Subscribe kisah: Cintaku Bertepuk Sebelah Tangan?
Follow akun: Ana_Yuliana

https://read.kbm.id/book/detail/bf69a9be-a9a0-4e56-aaf7-faccc66503f0?af=aef2b7e4-ad4c-c353-5e58-ac4501e96d28

03/07/2026

Aku Tahu Kamu Selingkuh
Karya Ana Yuliana
Part 10 (Part terakhir di sini)

Tasya

Aku meletakkan ponselku di atas laci kecil dekat tempat tidurku. Lila menatapku lekat seolah sedang menyelami isi hatiku, tentang hati yang ia tahu sudah hancur berkeping-keping.

"Kamu gak apa, Sya? " Lila masih menatapku lekat. "Kamu sudah yakin untuk keputusanmu ini? " Aku tahu jika ada keraguan terpancar di matanya.

Aku mencoba untuk tersenyum, bersikap seolah diri ini baik-baik saja. "Ya, keputusanku sudah bulat. Aku akan menghubungi pengacara untuk mengurus ini semua, " ujarku.

"Soal diagnosa dokter ini bagaimana? Kurasa baik Riska maupun Dafa berhak tahu, walau bagaimanapun juga kau masih istrinya."

Aku masih tersenyum walau netra ini mulai berkaca. Aku belum siap, baik jiwa dan raga ini rasanya masih belum bisa menerima kenyataan soal kanker rahim yang tadi siang disampaikan oleh dokter. Dokter sebenarnya ingin menyampaikan hal ini pada suamiku atau pihak keluarga namun aku bersikeras meminta agar hal ini disampaikan saja padaku. Hanya padaku saja disaksikan oleh Lila sahabatku.

"Mereka tak perlu tahu soal keadaanku, La, apalagi Riska, kurasa biar anak perempuanku itu tetap berada di keluarga ayahnya, nenek kakeknya juga sangat menyayanginya, " ucapku. "Aku tak ingin menjadi beban siapapun juga, selain asuransi, aku masih memiliki tabungan, bantu aku membayar seorang perawat khusus yang bertugas merawatku."

Kulihat Lila menghela napas panjang. "Penyakitmu ini bukan penyakit sembarangan, Sya, Dafa perlu tahu soal ini."

Aku langsung menggeleng cepat. "Tak usah, biarlah ia bahagia dengan kehid**an barunya, setelah kupikir aku ikut senang jika akhirnya ia bisa mencintai seorang wanita. Jangan sampai penyakitku ini malah membuatnya menjadi terpaksa masuk kembali dalam pernikahan yang ia pun tak mau."

"Kau yakin? " Lila kembali bertanya.

Aku mengangguk. "Sangat yakin. Aku ingin perceraian ini berjalan dengan sangat cepat, aku tak menuntut apa-apa, pokoknya pisah saja."

"Baiklah, aku akan mencarikan perawat untukmu, soal pengacara juga biar aku bantu urus, tapi aku perlu beberapa berkas pentingmu."

"Tolonglah kau p**ang ke rumahku, minta Mas Dafa mengambil sebuah mas biru di dalam lemari dekat meja kerjanya, di sana semua berkas yang kau perlukan tersimpan."

"Baiklah," sahut Lila sambil mencoba untuk tersenyum. "Kau jangan khawatir Sya, ada banyak sekali pasien dengan kasus serupa dirimu yang sembuh. Kebanyakan mereka mengambil opsi pengangkatan rahim tapi ada juga yang sembuh dengan melakukan kemo atau usaha medis lainnya." Ia menarik napas panjang. "Pokoknya kemungkinan kau sembuh itu besar."

Aku tersenyum. "Aku tahu," sahutku. "Jangan khawatir, aku tetap optimis kok, aku masih ingin berjuang hidup demi Riska."

Lila mengangguk dan lagi-lagi memaksakan diri untuk tersenyum, aku tahu jika sahabatku ini pun terpukul mendengar diagnosis penyakitku ini. Tak apa, hati ini kini sudah sangat lapang menerima, hati ini mulai terbiasa dengan sakit jiwa dan raga yang selalu mendera. Aku akan baik-baik saja, akan sehat dan bisa mengurus Riska putriku lagi nantinya.

*

Lila

Ia adalah temanku satu sekolah ketika SMA dulu, teman satu bangku berbagi cerita baik cita maupun cinta. Kami tetap bersahabat walaupun ketika lulus ia meneruskan pendidikan hingga ke perguruan tinggi sementara aku harus bekerja di pabrik. Ia teman sekaligus penyelamat hidup, saat ibuku dirawat di rumah sakit, ia yang memang berkecukupan tak segan menjual cincin pemberian ibunya agar aku bisa menebus obat saat itu. Tasya p**a yang membantu meminjamkan modal yang tak pernah mau ia pinta kembali ketika aku dan suami memulai usaha pembuatan batako. Ini bukan soal pertemanan lagi, bukan p**a soal hutang budi yang kuyakin tak akan terbayar tapi soal ikatan hati antara aku dan sahabatku ini.

“Jangan tinggalkan sahabatmu itu, terus damping ia. Kau harus ada ketika ia melewati masa sulit ini,” ucap suamiku ketika aku menceritakan masalah Tasya padanya. “Urusan rumah dan anak-anak untuk sementara waktu biar Mas yang handle, pokoknya kau dampingi saja Tasya dahulu, bukan hanya tubuhnya yang sakit, jiwanya juga pasti terluka.”

Saat itu, baik aku dan suami belum tahu pasti soal penyakit Tasya dan kini setelah semuanya jelas, rasanya aku pun ingin menggugat Yang Kuasa. Kenapa harus temanku itu? Kenapa harus Tasya yang baik, royal dan apa adanya itu? Kenapa p**a masalah itu datang bersamaan?

Kini aku berada di depan sebuah rumah dengan halaman luas dan asri yang mengitarinya. Bisa dipastikan jika pemiliknya bukan orang sembarangan, ya orang tua Dafa adalah mantan pejabat pemerintah sebelum pensiun.

Aku menekan bel di pagar rumah yang tinggi itu. Menunggu beberapa saat hingga akhirnya seorang wanita paruh baya dengan terburu membuka pintu pagar. “Bu Lila ya?” tanya wanita yang kukira pastilah pelayan di rumah ini.

“Iya, Bu.” Aku mengangguk sopan.

“Sudah ditunggu Bu Marni di halaman belakang sejak tadi,” ucap ibu itu. “Mari ikut saya.”

Aku kembali mengangguk dan mengikuti langkah ibu itu menelusuri halaman luas dengan taburan tanaman mahal yang begitu tertata indah.

Wanita yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu tersenyum begitu melihat kehadiranku, ia langsung mempersilahkan aku duduk di sampingnya.

“Duduk di sini, Nak…” Keningnya berkerut berusaha mengingat sesuatu.

“Lila, Bu,” jawabku.

“Ya, Lila, temanya, Tasya, kan?”

Aku mengangguk.

“Dimana Tasya? Apa di rumahmu?” Bu Marni langsung bertanya padaku.

“Eh, itu…” Ragu aku menjawabnya. Bingung.

“Bagus jika ia ada bersamamu, yang ibu takutkan jika ia memilih tinggal di kontrakan sendirian, apa kata orang kok punya suami tapi tinggal sendirian.”

“Iya, Bu. Tasya bersamaku.”

Bu Marni langsung tersenyum lega. “Kau sudah tahu kan masalahnya?”

Aku mengangguk.

Bu Marni tertawa. “Mungkin malah kau lebih tahu detail masalahnya daripada aku.”

Aku tak menjawab, lagi-lagi hanya tersenyum saja. Dulu ketika awal menikah, seingatku Tasya pernah cerita jika ibu mertuanya ini tak begitu menyetujui pernikahan mereka, hanya ayah mertuanya yang setuju.

“Jadi Tasya mantap akan berpisah dengan Dafa putraku?”

“Sepertinya seperti itu, Bu.”

“Ohhh, cepat sekali ia mengambil kesimp**an, tak mau berbicara empat mata dahulu dengan Dafa apalagi mendiskusikannya dengan kami mertuanya. Kami ini tak dianggap lagi olehnya. ” Bu Marni tersenyum penuh arti. “Ibu tahu anak ibu yang salah tapi apa tak bisa diperbaiki? Menikah juga kan bukan satu atau dua tahun, malah anak mereka sudah remaja.”

Aku bergeming, tak menjawab. Sejak awal ibu mertua Tasya memintaku datang ini, aku sudah ragu, aku yakin sedikit atau banyak mereka pasti tak akan terima dengan keputusan sepihak sahabatku itu.

“Ketika suami ibu masih menjadi menjadi pejabat, jangan ditanya wanita datang menggoda, ibu tak menyerah, ibu pertahankan rumah tangga ini, ibu buktikan jika tak ada yang layak berada di sisi suami ibu kecuali ibu seorang.”

Aku masih tak mampu menjawab.

“Lalu semudah ini Tasya menyerah? Kenapa tak pukul saja si Dafa itu, maki-maki dia, seret wanita itu dan jambak rambutnya, minta anak ibu untuk memutuskan hubungan dengan wanita itu, kan gampang. Jangan menyerah,” ucap Bu Marni kesal. “Ini kok kayak kesannya dia gak mau mempertahankan pernikahan, dia itu ratunya, wanita penggoda itu hanya lalat kecil, kibaskan saja sampai lalat itu hempaskan ke tempat sampah. Kan beres. Iya, gak?”

“Iya, Bu,” jawabku pelan.

“Si Tasya itu cinta gak sih sama anak ibu? Kok belum apa-apa sudah nyerah. Gak kasihan apa sama Riska? Anaknya itu juga stress mikirin bapaknya selingkuh, eh ibunya malah kabur. Itu dua orang kata saya sama saja. Otaknya bermasalah.”

Aku mengangkat wajahku, menarik napas mengumpulkan keberanian untuk berbicara. “Bu…” ucapku pelan.

“Apa? Coba jelaskan kenapa sahabatmu itu sampai kabur begitu? Masalah itu dihadapi jangan dihindari, gak kepengen apa dia mencakar wajah pelakor itu.”

“Tasya sakit, Bu,” ucapku terbata. “Menurutku sebenarnya alasan Tasya saja untuk bercerai ini, ia hanya tak mau menyusahkan suami, anak dan keluarganya. Sahabatku itu sedang sakit dan sudah lima hari ini dirawat di rumah sakit. Ia tak ingin kalian bersedih.” ucapku yang kali ini sambil terisak.

Bersambung di kbm app atau grup fb berbayar. Komentar saja jika ingin link kbm app atau join grup fb berbayarnya..

https://read.kbm.id/book/detail/43c84905-608d-498a-9666-4ea7567277b1?af=aef2b7e4-ad4c-c353-5e58-ac4501e96d28

Pura-pura CintaPart 7Fatimah bergegas bangkit. Tangannya masih gemetar ketika ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mene...
03/07/2026

Pura-pura Cinta

Part 7

Fatimah bergegas bangkit. Tangannya masih gemetar ketika ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan degup jantungnya yang kacau. Ia menoleh ke arah laci meja rias, menariknya terbuka dengan tergesa. Di sanalah ponsel cadangan Malik tersimpan, terbungkus rapi, nyaris tak pernah tersentuh.

Dengan jari yang bergetar, Fatimah menyalakannya.

Layar menyala. Sunyi. Terlalu sunyi untuk sesuatu yang seharusnya menyimpan dosa besar.

Ia membuka satu per satu folder. Galeri. Kosong. Hanya foto-foto lama, acak, tak berarti. Tak ada satu pun wajahnya di sana. Tak ada pakaian tipis. Tak ada pose yang dulu ia lakukan dengan malu-malu karena percaya pada cinta.

Fatimah menelan ludah.

Ia lanjut membuka email. Semua akun. Satu per satu. Kotak masuk, terkirim, arsip, spam. Ia bahkan mengetik namanya sendiri di kolom pencarian. Nihil. Tidak ada jejak.

Tangannya mulai dingin.

Akun media sosial Malik pun tak luput. Instagram, Facebook, bahkan akun-akun lama yang jarang dipakai. Inbox kosong. Arsip kosong. Tidak ada pesan mencurigakan. Tidak ada file tersembunyi.

“Tidak mungkin…” bisiknya lirih.

Ia membuka Google Drive. Jantungnya berdegup semakin keras. Folder demi folder ia buka, tangannya bergerak cepat, napasnya terengah. Dokumen kerja. Presentasi. Laporan keuangan. Semuanya ada, tersusun rapi, terlalu rapi—namun tetap saja, tak ada foto dirinya.

Kosong.

Semua tempat penyimpanan itu kosong.

Fatimah terduduk lemas di tepi ranjang. Matanya perih, kepalanya berdenyut hebat. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menahan jeritan frustasi yang hampir pecah.

Sia-sia.

Benar-benar sia-sia.

Seingatnya, Malik memang mengambil foto-foto itu dengan ponsel ini. Ia ingat jelas, bahkan terlalu jelas. Senyum palsu Malik. Tatapan yang ia kira penuh cinta. Tapi di sini… tak ada satu pun yang tersisa.

“Kalau bukan di sini… lalu di mana?” gumamnya.

Perlahan Fatimah bangkit. Pandangannya tertuju pada laptop Malik yang tergeletak di meja kerja. Dengan sisa tenaga, ia mendekat, membukanya. Layar menyala, meminta kata sandi. Dengan ingatan yang masih tersisa, ia mengetik kombinasi yang pernah Malik ucapkan sambil tertawa dulu.

Berhasil.

Satu per satu folder ia buka. Dokumen kerja. Arsip lama. Folder tersembunyi. Bahkan folder sampah tak ia lewatkan. Tapi hasilnya sama saja.

Nihil.

Tidak ada jejak.

Tidak ada foto.

Fatimah terhuyung mundur. Punggungnya menempel di dinding. Dadanya sesak seperti kehabisan udara.

“Ya Allah…” suaranya parau.

Ia hampir putus asa. Kepalanya menunduk. Air mata kembali jatuh, kali ini lebih pelan, lebih pahit. Ia tahu. Untuk lelaki selicik Malik—lelaki yang begitu pintar dan penuh perhitungan—mana mungkin ia menyimpan senjata sebesar itu di rumah.

Pasti ada di kantornya.

Kesadaran itu menghantamnya tanpa ampun.

Fatimah menghela napas panjang. Sangat panjang. Kepalanya berdenyut hebat. Kesal. Lelah. Marah. Takut. Semua bercampur menjadi satu.

Kalau ke kantor, itu artinya ia harus berjuang lebih keras. Mencari cara membuka komputer Malik. Mencari flashdisk. Atau entah di mana lagi lelaki itu menyimpannya. Semua kemungkinan itu membuat kepalanya nyaris pecah.

Ia benar-benar frustasi.

Fatimah menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Matanya terpejam, napasnya tersengal. Saat itulah, ponsel pribadinya bergetar pelan di atas meja.

Satu pesan masuk.

Dari kakaknya.

Ahmad.

Alis Fatimah berkerut. Dadanya berdesir aneh. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel itu dan membuka pesannya.

[Fatimah, kamu di mana? Kakak perlu bicara. Penting.]

Napas Fatimah tercekat.

Ada apa?

***

Fatimah datang lebih dulu ke kafe kecil itu. Tempatnya sederhana, tenang, jauh dari hiruk-pikuk—cukup aman untuk hatinya yang sedang rapuh. Ia duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Gaun berpotongan longgar yang sengaja ia pilih jatuh lebar mulai dari bawah pinggang, menyamarkan sesuatu yang kini menjadi rahasia terbesarnya.

Sudah enam bulan ia tak bertemu kakaknya.

Bukan karena tak rindu. Justru karena rindu itulah ia menahan diri. Rindu yang terlalu ditampakkan akan membuka pintu pertanyaan, dan pertanyaan akan menyeretnya pada kebenaran yang belum siap ia ungkapkan. Ia harus terlihat baik-baik saja. Harus.

Ketika pintu kafe terbuka dan sosok tinggi itu melangkah masuk, dada Fatimah seketika menghangat.

“Ahmad…”

Belum sempat ia berdiri sempurna, Ahmad sudah lebih dulu menghampiri dan langsung memeluknya erat. Pelukan yang hangat, familiar, pelukan yang dulu selalu menjadi tempat p**angnya.

“Kakak kangen sekali sama kamu,” ujar Ahmad lirih namun penuh emosi. “Enam bulan, Dek. Enam bulan kita nggak ketemu.”

Fatimah tersenyum kecil, menahan getar di dadanya. “Aku juga kangen, Kak.”

Ahmad melepas pelukannya, lalu menatap wajah adiknya lekat-lekat. Alisnya langsung berkerut.

“Kamu tambah kurus,” katanya tanpa basa-basi. “Dan pucat. Kamu makan nggak sih? Jangan bilang kamu sibuk sampai lupa jaga diri.”

Nada khawatir itu membuat dada Fatimah sesak. Ia nyaris tak sanggup menjawab.

“Iya, Kak. Aku makan kok,” jawabnya pelan, berusaha tersenyum.

Ahmad menghela napas. “Kakak juga heran. Kamu sekarang jarang kirim pesan. Biasanya tiap hari ada aja ceritamu. Apalagi waktu Kakak ke luar negeri kemarin. Kamu benar-benar hampir nggak ada kabar.”

Fatimah menunduk sesaat. “Maaf…”

Ahmad menggeleng. “Nggak perlu minta maaf. Justru itu yang bikin Kakak khawatir. Kamu ini terlalu lembut, penakut, kakak paling takut kamu tersakiti.”

Mereka duduk berhadapan. Ahmad tak berputar-putar. Sejak awal, tatapannya sudah menunjukkan ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.

“Kakak sengaja menyempatkan ke sini walaupun kerjaan lagi padat,” katanya kemudian, suaranya lebih serius. “Soalnya Kakak kepikiran kamu.”

Jantung Fatimah berdetak lebih cepat.

“Kepikiran kenapa?” tanyanya hati-hati.

“Kamu pernah nanya ke Kakak soal Malik,” jawab Ahmad lugas.

Nama itu membuat dunia Fatimah seakan berhenti berputar.

Ahmad melanjutkan, “Kakak harus kembali menekankan. Malik itu bukan laki-laki baik.”

Fatimah menahan napas.

“Dari luar dia kelihatan sempurna—tampan, mapan, pintar. Tapi aslinya… kejam.” Rahang Ahmad mengeras. “Cara main bisnisnya kasar. Banyak rumor soal bagaimana dia memperlakukan karyawan, nggak manusiawi. Dan soal perempuan… dia gonta-ganti wanita. Buat dia, nggak ada yang namanya jatuh cinta.”

Setiap kata seperti pisau yang pelan-pelan mengiris hati Fatimah.

“Semua perempuan yang dekat dengannya nggak pernah lama. Selalu berakhir diputuskan,” lanjut Ahmad. “Makanya Kakak khawatir. Kamu itu polos, Dek. Siapa tahu kamu terpesona. Jadi Kakak ingetin, jauhi laki-laki itu. Jangan percaya mulut manisnya.”

Air mata hampir tumpah, tapi Fatimah menahannya mati-matian.

Kalau saja kakaknya tahu…

Ia bukan hanya terpesona.

Ia sudah terikat.

Dan kini mengandung darah daging Malik. Bodohnya ia…

Ahmad menghela napas berat, lalu menambahkan, “Kakak juga pernah punya masalah besar sama dia. Hampir dipenjara gara-gara Malik selalu berusaha memperkarakan Kakak. Untungnya nggak ada bukti dan saksi. Kalau nggak, entah nasib Kakak sekarang.”

Fatimah mengepal jari-jari tangannya di balik gaun.

“Jangan pernah coba-coba bermasalah sama dia,” tegas Ahmad.

Fatimah mengangguk pelan. Tenggorokannya terasa tercekat. Rasanya ia ingin menangis, berteriak, mengaku. Tapi lidahnya kelu.

Ahmad lalu sedikit tersenyum, mencoba mencairkan suasana. “Oh iya, bisnis Kakak mulai maju. Sebulan lagi Kakak mau coba peruntungan di kota ini. Persiapan sudah tujuh puluh persen.”

Hati Fatimah semakin perih.

“Kak… gimana kalau ganti kota saja?” ucapnya lirih, hampir seperti bisikan.

Ahmad menggeleng mantap. “Nggak bisa. Semua sudah dipersiapkan. Kakak optimis.”

Fatimah menunduk. Ketakutan diam-diam menjalar di dadanya.

Beberapa saat kemudian, Ahmad bertanya, “Kamu pernah ketemu Ayah di sini?”

Fatimah terdiam sejenak. Lalu menggeleng. “Belum pernah.”

Itu bohong. Kebohongan yang terasa pahit di lidahnya. Padahal, saat akad nikah itu, ayah merekalah yang menjadi wali.

Ahmad mendengus pelan. “Kakak sampai sekarang belum bisa memaafkan dia. Laki-laki yang pergi ninggalin kita begitu saja.”

Ia menatap Fatimah dengan mata yang lembut namun penuh tekad. “Sekarang keluarga yang Kakak punya cuma kamu. Jadi kamu harus baik-baik saja. Jangan menderita sendirian. Kakak sedang merintis usaha, gak ada waktu banyak menemani kamu, jadi kamu baik-baik ya.”

Jeda sejenak.

“Kalau ada masalah, cerita,” lanjutnya. “Walau kita berjauhan tapi kakak selalu ada. Kamu bisa mengandalkan Kakak kapan pun.”

Benteng terakhir Fatimah runtuh.

Ia tersenyum, senyum yang nyaris patah. “Iya, Kak…”

Dalam hatinya, ia menangis.

Karena justru orang yang paling ia percaya inilah yang tak boleh tahu kebenaran paling menyakitkan dalam hidupnya.

Bersambung…

Sudah tamat di KBM App
Follow akun Ana_Yuliana
Subscribe: Pura-pura Cinta?
https://read.kbm.id/book/detail/09050b5d-dded-4a09-a27b-b520e425f0df?af=aef2b7e4-ad4c-c353-5e58-ac4501e96d28

Address

Pekanbaru

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when cerita seru posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category