26/06/2026
MASA BODO DENGAN JANJI2 PEJABAT, pria asal Sumut ini mandiri langsung membangun jalan untuk masyarakat kampungnya pakai uang pribadinya sendiri.
Jeka Saragih, kali ini ia menjadi sorotan bukan tentang kemenangan di arena. Bukan tentang latihan keras atau sabuk juara. Melainkan bentuk cintanya akan kampung halaman, mungkin baginya "A hometown problem needed a hometown solution." Masalah di kampung halaman, menurutnya, kadang memang membutuhkan solusi dari orang kampung itu sendiri.
Belum lama ini, Jeka Saragih menjadi sorotan setelah membagikan video dirinya ikut memperbaiki jalan rusak di Desa Bah Pasussang, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Melalui akun Instagram pribadinya, ia memperlihatkan proses perataan jalan menggunakan alat berat yang disewa dengan dana pribadinya. Jalan itu bukan jalan kecil yang jarang dilalui. Menurut Jeka, itulah akses utama yang setiap hari dipakai warga untuk beraktivitas. Ia juga menjelaskan bahwa apa yang dilakukan hanyalah perbaikan sementara agar masyarakat tidak semakin kesulitan melintas sambil menunggu pembangunan permanen. Sementara itu, Gubernur Sumatera Utara menyampaikan bahwa ruas jalan tersebut memang sudah masuk dalam rencana perbaikan pemerintah dan akan mulai dikerjakan setelah penanganan titik longsor di lokasi selesai.
Menariknya bukan soal siapa yang memperbaiki jalan. Yang menarik adalah rasa memiliki terhadap tempat seseorang berasal. Banyak orang sukses yang sibuk membangun kehidupan baru di kota besar, bahkan di luar negeri. Tidak sedikit yang perlahan melupakan desa tempat mereka dibesarkan. Namun ada juga orang-orang yang setelah berhasil justru memilih kembali menengok kampungnya. Mereka melihat jalan yang rusak, sekolah yang butuh bantuan, lapangan yang terbengkalai, atau fasilitas umum yang belum memadai, hingga muncul rasa dan pemikiran, Apa yang bisa saya lakukan untuk kampung halaman yang telah menimpanya? Pertanyaan seperti inilah yang sering kali menjadi awal perubahan.
Kita hidup di negara yang memiliki pemerintah, anggaran, dan sistem pembangunan. Jalan raya, jembatan, sekolah, rumah sakit, semuanya pada dasarnya adalah tanggung jawab negara. Tidak ada yang salah dengan masyarakat menuntut pelayanan yang baik, karena itu memang hak warga negara. Namun di sisi lain, sejarah Indonesia juga menunjukkan bahwa banyak perubahan justru lahir dari gotong royong masyarakat. Ada desa yang membangun perpustakaan dari swadaya warga. Ada kampung yang memperbaiki saluran air secara bersama-sama. Ada komunitas yang menanam pohon tanpa menunggu program resmi. Bukan karena negara tidak penting, tetapi karena rasa memiliki seringkali bergerak lebih cepat daripada birokrasi.
Apa yang dilakukan Jeka mengingatkan bahwa kesuksesan seseorang tidak selalu diukur dari seberapa besar rumahnya atau seberapa banyak mobil mewahnya. Kesuksesan terlihat dari seberapa besar manfaat yang kembali ia bawa ke tempat yang membesarkannya. Ia tidak membangun jalan tol. Ia juga tidak sedang menggantikan tugas pemerintah. Ia hanya melakukan apa yang menurut kemampuannya bisa dilakukan hari itu. Dan mungkin, bagi warga yang setiap hari melewati jalan tersebut, manfaatnya jauh lebih nyata daripada sekadar ucapan simpati, dan rencana-rencana belaka.
Ada satu hal yang sering terlupakan. Orang-orang yang lahir dari desa biasanya memahami betul masalah desanya. Mereka tahu titik jalan yang paling rawan dan urgent. Mereka tahu jembatan mana yang mulai rapuh. Mereka tahu sekolah mana yang kekurangan fasilitas. Pengetahuan seperti itu tidak selalu bisa dibaca dari laporan atau angka statistik. Itu lahir dari pengalaman hidup. Karena itulah, ketika anak-anak desa berhasil, keterlibatan mereka dalam membangun kampung halaman sering kali membawa dampak yang besar. Mereka bukan hanya membawa uang atau bantuan, tetapi juga membawa kepedulian.
Tentu saja, semangat seperti ini tidak boleh dijadikan alasan untuk membebaskan negara dari tanggung jawabnya. Pembangunan infrastruktur tetap merupakan kewajiban pemerintah. Masyarakat berhak mendapatkan jalan yang layak, layanan publik yang baik, dan pembangunan yang merata. Namun ketika ada warga yang memilih ikut bergerak tanpa menunggu semuanya selesai, itu juga layak diapresiasi. Sebab pembangunan terbaik sering kali terjadi ketika kepedulian masyarakat bertemu dengan tanggung jawab pemerintah, bukan ketika keduanya saling menunggu.
Barangkali inilah makna, bahwa masalah di kampung memang menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah punya peran yang besar. Masyarakat juga punya ruang untuk ikut bergerak. Karena kampung yang maju bukan hanya dibangun oleh anggaran dari pajak rakyat, tetapi juga oleh orang-orang yang masih merasa memiliki.
Dan mungkin, sebuah daerah akan jauh lebih cepat berkembang ketika anak-anak terbaiknya tidak hanya bercita-cita keluar dari kampung, tetapi juga sesekali menoleh ke belakang dan bertanya, "Apa yang bisa aku lakukan untuk rumah yang dulu membesarkanku?"
---
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena ekonomi, bisnis, budaya untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.