10/05/2022
TEOLOGI TANPA KOSMOLOGI
JIKA dihitung dari waktu kedatangan zendeling pertama yang dikirim oleh NZG ke wilayah ini, dapatlah dikatakan kekristenan baru membilang 2 abad menancap dalam kebudayaan kita. Namun, sepertinya boleh dibilang, waktu dua abad ini sudah cukup menghasilkan generasi Kristen yang berteologi tanpa kosmologi budaya setempat. Bahkan dapat dikatakan, tampaknya pendekatan para zendeling terhadap budaya setempat tidak lebih ekstrim dari generasi Kristen kesekian dari leluhur yang telah bertemu dengan mereka secara langsung.
Atas nama doktrin agama yang sebenarnya hasil dari suatu reproduksi panjang (tidak turun dari langit sebagai barang siap pakai), maka para generasi Kristen ini seolah tanpa beban mengatakan unsur-unsur budaya warisan leluhur mereka sebagai berhala atau kekafiran. Paham dan pendekatan ini sesungguhnya bersumber dari pengajaran agama secara sistematis yang disebut “teologi”. Mengapa bisa begitu?
Jawabannya, karena kekristenan yang diperkenalkan dan kemudian menjadi agama baru bagi suatu kaum tidak seluruhnya tentang iman kepada Allah, tetapi justru lebih dominan ia berbentuk ideologi. Maka, sikap para zendeling atau orang-orang Kristen hasil penginjilan mereka terhadap budaya setempat yang negatif atau memusuhi tidak murni karena kebenaran esensial Injil.
Sikap memusuhi tersebut adalah bagian dari metode penaklukan pengetahuan dan kesadaran kaum yang disasar dalam rangka untuk menegakkan kekuasaan agama.
Benturan Antar Kosmologi
Meski awalnya istilah “kosmologi” dipakai untuk menyebut penyelidikan atau ilmu tentang asal usul alam semesta secara sains, namun kemudian dipahami itu juga sebagai pengetahuan suatu kaum mengenai asal usul kehidupan semesta dan komunitas mereka. Dalam hal ini, kosmologi berkaitan dengan kepercayaan tentang adanya kuasa penyebab semuanya, dialah dewa, tuhan dan kekuatan supranatural lainnya. Artinya, kosmologi dalam pemahaman secara antropologi adalah tentang pengetahuan mengenai asal usul semesta, manusia dan semua yang menunjang dan menjadi bagian integral dari kehidupan bersama. Secara spesifik dipahami, bahwa apa yang yang dipikirkan dan dilakukan oleh suatu kaum secara praktis tidak terlepas dari apa yang direfleksikan secara spiritual dalam keberadaannya bagian dari semesta.
Joel R. Primack, Profesor Fisika di Universitas California, Santa Cruz merujuk dari pengertian para antropolog menjelasakan dalam tulisannya berjudul “Cosmology and Culture”, bahwa “kosmologi adalah apa yang memberi para anggotanya pemahaman mendasar tentang dari mana mereka berasal, siapa mereka, dan apa peran pribadi mereka dalam gambaran kehidupan yang lebih besar.” Kosmologi, katanya, adalah gambaran apa pun tentang alam semesta yang disepakati oleh suatu budaya.
Menurut Nicholas Campion, itulah kosmologi dalam pengertian antropologi yang didasarkan pada proposisi bahwa gagasan tentang kosmos adalah bagian integral dari sistem budaya dan sosial manusia. Pemahaman dan pengetahuan kosmologi secara antropologis suatu kaum terdokumentasi dan diwariskan melalui cerita-cerita sakral (mite) yang menjelaskan hubungan sakral antara dunia ini dan cara manusia harus berperilaku. Mite adalah cerita yang tidak sedang menjelaskan secara saintifik sesuatu. Utama dari mite adalah pengetahuan dan keyakinan menurut hasil refleksi dari pengalaman hidup bersama alam dan kaum. Mite berisi tentang kebenaran religius, kemudian menjadi penanda identitas kultural suatu kaum.
Kosmologi dalam pengertian antropologi tersebut adalag dasar manusia mengembangkan kebudayaanya, termasuk di dalamnya konstruksi epistemologi dan cara mengajarkan pengetahuan ilmiah. Oleh karena kosmologi dalam pengertian ini antara lain muncul dari perenungan mendalam secara religius dan spiritual mengenai semesta dan kehidupan di dalamnya, yang kemudian secara praktis berkaitan dengan bagaimana manusia harus berpikir dan berperilaku, maka setiap kaum memiliki kekhasannya masing-masing. Ada beragam budaya, maka demikian p**a ada beragam kosmologi yang mendasarinya.
Ketika kekristenan Eropa datang ke wilayah kita ini, para zendeling sudah pasti membawa kosmologi budaya asal mereka. Bersama dengan itu, sumber pemberitaan dan pengajaran mereka, yaitu Alkitab juga memiliki kosmologinya yang khas. Jadi, ketika perjumpaan antara kekristenan Eropa dengan para leluhur kita di masa lampau terjadi, itu juga adalah perjumpaan dua atau lebih kosmologi. Ketika para zendeling dalam pengajarannya mengatakan bahwa manusia pertama adalah Adam dan Hawa, dan mereka hidup di Taman Eden tapi kemudian jatuh ke dalam dosa, maka para leluhur kita tentu tidak langsung mengerti baik secara tekstual maupun substansial. Para leluhur Minahasa misalnya, hingga perjumpaan itu terjadi masih meyakini bahwa mereka adalah keturunan Lumimuut dan Toar.
Mite adalah cerita tentang bagaimana suatu kaum mengetahui dan memahami secara religius-spiritual kosmologi mereka. Sejak suatu kaum terbentuk mereka telah meyakini mite itu dan kemudian dari situ mereka memperoleh pengetahuan bagaimana menjalani kehidupan yang terus berkembang. Mite ini kemudian menjadi dasar bagi mereka untuk menyatakan kultus, membuat ritus dan merumuskan etikanya.
Para zendeling Kristen Barat harus bersusah payah untuk mempelajari bahasa, sistem kekerabatan hingga sistem religi kaum yang mereka temui untuk menemukan cara agar paham kekristenan yang mereka perkenalkan bisa diterima, menancap dan mengganti paham keagamaan lama. Dengan pengetahuan yang cukup kosmologi kaum itu, maka para zendeling melakukan upaya-upaya pemisahan antara orang-orang di kaum itu dengan kosmologi mereka sendiri. Caranya adalah dengan memperkenalkan cara berpikir baru tentang realitas yang dikotomis: benar-salah, saleh-berdosa, surga-neraka, beradab-tidak beradab, beriman-kafir, bertuhan-berhala, dst. Semuanya untuk mengatakan satu hal saja: paham dan cara berpikir dan berperilaku kaum itu adalah “tidak benar”, dan yang “benar” adalah cara beragama menurut agama para zendeling itu.
Ketika agama baru itu semakin diterima dan semakin banyak orang percaya pada ajaran para zendeling itu, maka proyek keagamaan berikut adalah “pemurnian”. Dengan kuasa agama dan politis yang mereka miliki, maka hak untuk mengatakan suatu unsur dan pratek budaya kaum itu benar atau salah kini milik dari para zendeling itu. Konstruksi kosmologi baru atau lebih tepatnya alih kosmologi secara tersamar terjadi. Kosmologi Kristen Barat pada akhirnya berhasil menaklukan kosmologi warisan leluhur kaum tersebut.
Namun, hingga masa tertentu rupanya kekristenan Barat yang telah mendominasi cara berpikir dan berperilaku kaum tersebut masih di bawah bayang-bayang kosmologi lama melalui para “dukun” atau “para penjaga tradisi leluhur” yang tidak mau dibaptis. Cara untuk melenyapkan mereka paling gampang adalah dengan stigmatisasi. Para “dukun” yang mewarisi pengetahuan imam agama lama itu disingkirkan dengan stigma “tukang santet”, “pandoti”, “mariara”, merekalah penyebab wabah, penyakit yang dialami orang-orang tertentu, kesialan komunitas, dll. Stigma itu berhasil. Dan, operasi perburuan tidak dilakukan oleh para zendeling, namun justru adalah sesama kaum mereka sendiri.
Teologi Triumfalistik
Stephen B. Bevans, ahli teologi kontekstual itu berkisah dalam bukunya. Pada akhir dasawarsa 1960-an, ketika masih mahasiswa di Roma ia mempersiapkan sebuah liturgi Adventus di seputar tema matahari. Gagasan utama liturginya itu berlandaskan pada nyanyian gubahan George Harrison dari kelompok music The Beatles, berjudul “Here Comes the Sun”. Setelah memperdengarkan lagu itu dari tape recorder, dia kemudian mengatakan bahwa lagu itu menangkap semangat liturgi Adventus. “Kristus adalah matahari, yang membawa terang ke dalam kegelapan kita, dan kehangatan ke dalam dunia kita yang dingin tanpa Allah”, katanya. Tetapi, seorang peserta liturgi dari India tidak terkesan dengan pesan yang disampaikannya.
“Bagi seorang yang berasal dari India, matahari bukanlah sebuah simbol yang mencolok untuk kedatangan Kristus ke dalam dunia kita. Di India, matahari adalah musuh. Matahari bukanlah sesuatu yang membawa kesegaran; ia membawa serta panas yang tak tertanggungkan sehingga harus dihindari dengan berlindungan di bawah naungan…” kata orang dari India itu.
Kisah Bevans ini mengambarkan konflik kosmologi. Kosmologi dalam liturgi dalam desain Bevans tentang matahari yang diharapkan, dengan kosmologi seorang dari India itu yang lahir dari pengalaman panas yang tak menghidupkan dari matahari. Mengenai apa yang saya maksudkan teologi tanpa kosmologi budaya setempat, kira-kira dapat dipahami dari kisah Bevans tersebut. Bahwa, setiap orang Kristen yang lahir, bertumbuh dan berkembang dan hidup dengan budayanya, selain sebagai identitas namun juga suatu kesadaran dan pengetahuan. Teologi tanpa kosmologi kultural tidak akan menimbulkan kesan spiritual bagi para umat atau pendengar pengajarannya.
Sejarah kehadiran kekristenan Eropa di wilayah kita sebenarnya bukan tanpa resistensi dan negosiasi. Kehadiran kekristenan Eropa menghasilkan beberapa gereja suku atau gereja yang terikat dengan ikatan perkauman. Gereja-gereja ini telah berusaha melakukan negosiasi dan dialog antara Injil dan budaya leluhur mereka. Sehingga relatif, hingga suatu masa gereja-gereja ini relatif bersikap dialogis dengan unsur-unsur budaya tertentu.
Namun, ketika kekristenan pasca Kristen Barat itu datang dengan paham yang fundamentalis, konservatif dan cenderung anti budaya, maka proyek kontekstualisasi teologi agak terganggu. Paham dan model kekristenan ini merambah pada semua kalangan Kristen yang lintas denominasi. Metode penginjilan yang modern membuat paham kekristenan mereka mudah diterima. Terutama bagi generasi yang hibrid secara ilmu pengetahuan dan agama, paham kekristenan ini bahkan menjadi trend untuk menjadi orang Kristen.
Jadi, pada akhirnya kekristenan di Indonesia dalam prakteknya di kalangan umat kebanyakan sebetulnya tidak lagi terlalu tepat diketegorikan menurut aliran tradisi, misalnya apakah Calvinis, Lutheran, Pentakostal, Kharismatik, dll. Apalagi jika masih berpikir bahwa kekristenan Protestan di Indonesia terdiri dari dua corak saja, yaitu Ekumenikal dan Evangelikal. Proses hibridasi yang kompleks telah menghasilkan suatu model kekristenan “tanpa tradisi”, atau “teologi tanpa tradisi”. Jelas, model kekristenan ini tidak terlalu peduli dengan basis-basis kultural, dan dengan demikian tidak mau pusing dengan kosmologi budaya yang dihidupi oleh suatu kaum.
Tentu bukan hanya kekristenan yang berperan mencabut orang-orang dari suatu kaum dengan kosmologinya. Modernisme yang mencakup ilmu pengetahuan yang posivistik dan model ekonomi kapitalisme telah berusaha dengan segala cara memisahkan orang-orang pada suatu kaum atau komunitas budaya dengan kosmologinya. Seorang anak yang lahir dari suatu komunitas budaya mesti mengikuti pendidikan formal mulai dari SD hingga SMA yang kurikulumnya tidak mengajarkan tentang asal usul leluhurnya, bagaimana benda-benda angkasa diceritakan dalam mite-mite. Anak ini harus belajar dan khatam kosmologi import, yang bukan kosmologi kaumnya.
Dalam hal ini, kekristenan telah menjadi bagian dari proyek pemusnahan kosmologi lokal atas nama demi tegaknya “kebudayaan Kristen” bersama dengan kolonialisme, modernism dan kapitalisme. Kekristenan menjadi bagian dari “isme-isme” yang melakukan proyek pemusnahan kosmologi etnik untuk agenda global “3G”, yaitu “gold, gospel, glory”. Orang-orang di komunitas etnik yang hidup dengan kosmologinya, mesti dicuci otaknya agar mereka tidak percaya bahkan memusuhi kebenaran kosmologi leluhurnya demi agenda penaklukan dan penguasaan sumber daya alam, dan perluasan agama.
Semua ideologi yang hegemonik dan koloniastis itu masih terwarisi hingga kini dalam teologi di kalangan gereja-gereja atau juga sekolah-sekolah teologi. Teologi tanpa kosmologi, dan teologi tanpa tradisi. Teologi ini adalah teologi yang tidak membumi sehingga ia tidak menghidupkan pada orang-orang Kristen di basis-basis komunitas kultural. Ketika pengajaran Kristen atau khotbah-khotbah para pendetanya lebih banyak dengan kata-kata permusuhan terhadap unsur-unsur budaya setempat dengan kata-kata kunci “berhala”, “kafir”, “okultisme”, “dualisme”, maka proyek pemusnahan kosmologi etnik sedang berlanjut.
Teologi tanpa kosmologi budaya setempat sesungguhnya tidak sedang berteologi, tidak sedang mengabarkan Injil Yesus Kristus yang holistik. Teologi tanpa peduli pada kosmologi budaya lokal adalah teologi triumfalistik! (*)