31/07/2026
Untuk Ibunda, Cinta yang Tak Pernah Habis
Seperti apa duniaku hari ini?
Jika kujawab dengan jujur,
maka namamulah
yang pertama terlintas dalam hati.
Sebab sejak aku mengenal kehidupan,
kaulah alasan mengapa
aku mengerti arti kasih yang sesungguhnya.
Engkau bukan perempuan
yang hidup dengan kemewahan.
Hanya sosok sederhana,
dengan wajah yang mulai dihiasi keriput,
namun setiap garisnya
adalah saksi perjalanan panjang
tentang cinta, pengorbanan,
dan doa yang tak pernah putus.
Sejak Ayah dipanggil p**ang
ke rumah Bapa di surga,
engkau harus melangkah sendiri.
Mungkin sepi sering datang menyapa,
mungkin rindu berkali-kali mengetuk hatimu,
namun tak sekali pun
engkau membiarkan kami
melihat jiwamu menyerah.
Barangkali ketika malam tiba,
air matamu jatuh
dalam sunyi yang hanya Tuhan ketahui.
Barangkali ada beban
yang begitu berat kau pikul sendiri.
Namun saat pagi menyapa,
engkau kembali mengenakan senyuman,
menyembunyikan luka
agar anak-anakmu tetap merasa tenang.
Begitulah engkau, Bunda...
mengajarkan bahwa kekuatan
bukan berarti tak pernah menangis,
melainkan tetap berdiri
meski hati berkali-kali ingin rebah.
Hari demi hari
kau jalani dengan setia.
Tak pernah berhenti mendoakan kami,
meski mungkin perhatian kami
belum selalu seperti yang kau harapkan.
Maafkan kami, Bunda...
atas setiap sikap
yang pernah melukai hatimu.
Maafkan kami
karena terkadang terlalu sibuk
hingga lupa bahwa usiamu
tak lagi muda seperti dahulu.
Andai waktu dapat diperlambat,
kami ingin lebih banyak menemanimu,
lebih sering menggenggam tanganmu,
lebih lama mendengar ceritamu,
dan lebih sungguh-sungguh
membahagiakan hatimu.
Kami tahu,
tak ada pemberian di dunia ini
yang mampu membalas
setiap tetes keringat,
setiap doa,
dan setiap pengorbananmu.
Karena itu,
biarlah doa kami
menjadi persembahan yang tak pernah berhenti.
Ya Tuhan,
panjangkanlah usia Ibunda
dalam berkat-Mu.
Karuniakan tubuh yang sehat,
hati yang damai,
dan sukacita yang melimpah.
Biarlah hari-harinya dipenuhi
pelukan kasih anak-anak
dan tawa cucu-cucu
yang menjadi penghibur hatinya.
Terima kasih, Bunda...
karena engkau selalu memilih bertahan
ketika hidup mengajarkan kepedihan.
Terima kasih
karena cintamu tak pernah berkurang,
meski waktu terus berjalan.
Kelak,
bila rambut kami pun memutih,
kami ingin tetap mengingat
bahwa perempuan terhebat
yang pernah Tuhan hadirkan
dalam hidup kami
adalah engkau.
Engkau bukan sekadar ibu.
Engkau adalah doa
yang dijawab Tuhan,
anugerah yang tak tergantikan,
dan rumah
yang selalu kami rindukan
untuk p**ang.