Bumi langit

Bumi langit Puisi kita

27/08/2021

Semu

Berkawan sepi menggantang angin
Bersimbah peluh merajut buih air
Tapaki titian tak berpasak
Memuja mentari bersama purnama

Berkawan angan tak berwujud
Menyapa kerikil ditumpukan pasir
Menikmati cerutu tanpa bara api
Bergurau pelangi diantara gemuruh badai

Pada tranggulasi titipkan cinta
Pada rintihan dahan berharap nada
Teriak lantang pada dunia maya
Mengunyah kacang tanpa geraham

Ideologi dilekat pada ocehan
Bersenjata fitnah bermandi pujian
Tauhid senjata pendulang riya
Kerena surga hanya makhluk


18/02/2021

Mamuju Majene 6,2,
"kita hanya dicipta"

6,2 angka getar menyulap malam jadi bencana
Mengusik gelap dingin dan sepi menjadi petaka
Menimbun banyak nyawa dalam tumpukan tanah dan bata
Seketika berjajar tenda pengungsi berselimut trauma

Ketakutan menguliti relung duka
Raung tangis menggema di tanah manakarra
Memecah kemegahan menjadi reruntuhan lara
Pagi pilu mereka meratap pada siapa..?

Para bocah mengawali hari dengan dahaga
Meraung lapar tak paham jika tanah leluhur dilanda gempa
Tak peduli sanak saudara kehilangan nyawa
Melayang menuju pencipta tinggalkan pusara

Sepenjuru negeri kirimkan belasungkawa
Bersepakat bahwa setiap duka adalah luka bersama
Sebab kita satu bangsa bukan hanya suku, ras dan agama
Sebab empati adalah anugerah semua Manusia

jika tak alamiah, teguran kadang berwujud bencana
sebab kita kadang menghakimi bak sang Kuasa
sebab kita sesungguhnya hanya dicipta

18/02/2021

Satir kau gila.

Ketika Darah kau anggap syair pengantar tidur
Dan puing reruntuhan bak gores lukisan semata
Ketika kematian kau anggap dongeng absur
Ketika aku bodoh namun kamu gila

Dimana hati itu kau letak
Saat hati yang lain berbalut luka
Dimana ikhas itu kau dengung
Saat yang lain tersenyum pun ia bingung

Satir kau gila
Peluh duka kau hitung rupiah
Satir kau sungguh gila
Kau kira ini pesta berjudul musibah

Kalang kabut mereka mengais yang tersisa
Ribuan tenda kau buat jadi wahana mandi bola
Mengapa zaman masih menyisakan penjajah
Berjalan diantara jenazah engkau menjarah

Berselimut trauma mereka tidur beratap langit
Sebisa mungkin mereka saling berbagi
Air mata di pelupuk disulap jadi canda
Kepasrahan mereka kau peras jadi tumpukan harta.

Satir kau sungguh gila....

Eka Ali Akbar
Kabubu, 18/02/21

23/05/2020

"Aku takut jadi pendosa"

Bagai buih pada hempasan rintik hujan
Bagai daun kering pada lantai hutan
Bagai gelombang suara disela angin
Khilafku bagai malam dipeluk dingin

Bak deburan ombak pada tepi pantai
Atau hamparan kerikil dibibir sungai
Salahku tak dapat dipikul neraca
Bak susunan huruf yang tak terbaca

Tuhan maaf bahuku tegak bagai tuan
Kesombongan menjelma pada kelakuan
Logika menjajah sering pada penghakiman
Bersimpuh ku mohon hindarkan hukuman

Tuhan maaf aku takut jadi pendosa
Terjebak pada Keakuan yang tidak biasa
Sebab dendam kadang menyala enggan padam
Sebab bagai ilalang ia subur hingga jadi sekam

Kabubu 230500

11/05/2020

Menanti titah panglima

Malam mencekamlah, patahkan pelangi
Tendang rintik hujan agar tak berpijak lagi
Lelaki bersarung menanti titah panglima
Cabut, cabut kerismu tikam dada mereka

Mandikan jasadnya dengan darah
Hentikan detak jantungnya ujar panglima
Sayat-sayat wajahnya agar tak bertuan
Acuhkan etika, bunuh,bunuh ujar panglima

Perang soal kalah dan menang
Yang menang yang dikenang
Yang kalah terhapus sejarah lalu hilang
Sebab Perang soal bertahan dan menyerang

Menang itu dibuat melalui latihan panjang
Lelaki tak bersenjata p**anglah
Ini bukan arena cecunguk banci
Mati berkalang mayat atau p**ang sebagai pahlawan.

Bunuh, bunuh para musuh hingga tak tersisa.
Jangan biarkan musuh p**ang kecuali kabar duka.
Biarkan banyak janda dan yatim tercipta menumbal kehormatan.
Kita harus menang ujar panglima, apapun caranya.

Patahkan pelangi agar tak bias kebumi
Tendang rintik hujan agar tak jadi genangan
Perang serang menang, bunuh tanpa sisa
Lelaki bersarung menanti titah panglima

110217

11/05/2020

“Apalah hambamu ini.”

Apalah hambamu ini ya Rab.....
Hanya sesosok dari milyaran mahlukmu yang bernama manusia.
Tapi tetap engkau anugerahi setetes pengetahuan.
Namun sombongnya aku yang jarang bersujud kepadamu.

Apalah hambamu ini ya rahman...
Hanya sebiji kerikil dekil dari tumpukan bebatuanMu yang tak terhitung jumlahnya.
Tapi tetap Engkau limpahi kesehatan.
Ah namun sombongnya aku yang jarang berzikir melafalkan namaMu.

Apalah hambamu ini ya rahim
Hanya sehelai nafas dari hempasan anginMu yang begitu kencangnya
Tapi tetap Engkau Penuhi Reski yang begitu banyaknya.
Namun sombongnya aku, yang kadang tak sadar itu pemberianMu.

Apalah Hambamu ini Ya Bashiir.
Hanya setetes air dari milyaran rintik hujanMu.
Tapi tetap kau bekali akal untukku berpikir.
Namun sombongnya aku yang kadang diperdaya akal.

Apalah hambamu ini ya Hakam
Hanya bagai secuil debu dari banyaknya tanahmu tak terhitung.
Tapi tetap kau anugerahi Umur.
Namun sombongnya aku yang lebih mengejar kenikmatan duniawi.

Apalah hambamu ini ya Lathif.
beragama namun masih menghujat sesama.
Demi jabatan rela melakukan segalanya.
Kehormatan harus takluk atas perang melawan tumpukan uang.

Apalah hambamu ini Ya Ghafur
Sibuk membangun istana di dunia.
Namun tak mempersiapkan istana di surgamu.
Kadang tak berdaya melawan tekanan syahwat.

Apalah hambamu ini Ya Kabir.
Hina namun percaya diri menghina orang lain.
Nista namun bangga menistakan faham orang lain.
Lemah namun senang mengungkit kelemahan orang lain.

Apalah hambamu ini Ya Hafiz
Hanya seonggok daging ber ruh yang takluk atas kuasamu.
Hanya mahlukMu yang lemah berharap ampunMu.
Maaf atas segala dosaku Ya Karim..

O40417

11/05/2020

"Kutitip rindu"

Lama sudah jalan-jalan sepi
Tanpa riuh derap langkah
Gagah barisan anak muda beralmamater

Lama sudah megaphone tergantung
usang diterpa hujan dan terik silih berganti
Terpajang di rak toko tua tanpa pembeli

Lama sudah panji-panji tak terkibar
Gagah oleh bambu-bambu tua yg tak pernah mengeluh

lama p**a papan-papan sekretariat tak berderit
Oleh sebab disandari peserta diskusi dikala subuh

Lama sudah kawanku diam.

Siapa lagi yg kini beralmamater...?,
Apakah hanya sekump**an pelajar manja
Yang berstatus mahasiswa
Yang menghabiskan waktu bersenggama dengan android
Dan kisah cinta bak korea,
Atau oleh sekump**an politisi muda
Yang bernalar simbiosis.

Lalu siapa yang kini harus berdiri
Berjajar mengepalkan tangan
meneriakkan suara pembebasan

Lalu siapa lg yang berani turun kejalan
Meluruskan liku jalan yg kian berkelok

atau kekuasaan dan politi
Telah menelan semua nurani.
Atau berjamaah kita buta tuli dan bisu.

220616

11/05/2020

Kamu

Derai tawamu riang menyejukkan
Damai itu senandungkan bahagia
Rintik hujan tak mampu samarkan
Syukur Apalagi kan kupinta

Usiamu mengeja waktu temaniku
Menanjak diantara aral tanpa air mata
Lemahmu tersembunyi diantara tegarmu
Gemulai nan elok engkau cantik

Mata tulusmu kuatkan jiwaku
Alihkanku dari dunia yang semu
Pada angin tak mampu ia sangga
Engkau manis engkau seksi

Abdimu tak mampu ditutup buih
Meski bermandi temaram cahaya
Aroma cinta selalu tertebar
Diantara peluh beban yang tak berujung

Kamu
Pada pundakmu asa dititip
Tentang esok pelangi hadir
Atau mentari bersinar lebih pagi

Kamu
Selamat lahirmu kuteriakkan pada nirwana
Bahwa kamu bukti bidadari tercipta

270818

11/05/2020

Rintik hujan

Kemana rintik hujan kan berakhir
Ketika ia jatuh membelah udara lalu terhempas pada genangan
Saling kejar saling tindih dengan rintik yang juga air
Berbenturan lalu terpecah menjadi wujud kecil butiran

Kemana rintik hujan kan berakhir
Ketika mengalir melintasi belukar membelah tumpukan sampah
Melompati dedaunan Menuruni dahan hingga yang terakhir
Terus merayap gagahi lempengan bumi tak bertuah

Kemana rintik hujan kan berakhir...?
090918

11/05/2020

Hasrat

Kuturuti hasrat yang menuntun jermariku
menulis syair tak bertitah buat kawan yang teruji
ketika halusinasi menutup logika yang nyaris semu
tak mampu sadarkan bahwa rasa itu belenggu yang tertutup tirani

kawan...., senangkan asamu meski kau ragu
kejarlah debarmu dan jangan terhenti
sebab tak ada rasa yang palsu
meski kadang ia tak tepat

isinkan naluri menuntun langkahmu
agar tak salah ia bertepi
karena tangis datang ketika tawa telah jemu
bagai malam ketika kan datang sang pagi

kawan....., langkahmu menentukan tujuanmu
tersadarlah sebelum mimpimu tak berakhir...................

181018

11/05/2020

Malas

Kau sayat amarahmu melalui gambar
kau sulut nafsu egomu tak lelah
kau asah dendammu tak berpangkal
kau pilih aku, aku tak tertarik

maaf jika adaku mengusikmu
menyayat nalar kuasamu
memposisikanmu pada tepi yang sepi
menari-nari pada alam pikirmu berhari-hari

jika mimpimu aku terluka
bangunlah sebab itu sia-sia
jika hayalmu aku melambat
ah aku tetap pada irama yang sama

ditanah leluhur kau tabuh genderang perang
maaf aku lebih s**a senandung dawai biola
aku lagi tak tertarik bermain kelereng
sebab perdana mentriku kini didepan raja

kawan riak kecilmu tak pernah akan mampu
hentikan laju kano yang bermain ditengah arus
kawan maaf jika senyummu tak mampu aku balas
sebab kini derai tawaku lagi merdu meski tanpa irama

kawan maaf jika aku tak pedulimu.......
060419

10/05/2020

Hidup adalah apa

Hidup adalah tantangan, Hadapilah.
Hidup adalah Anugerah, Terimalah
Hidup adalah pertandingan, Melangkahlah.
Hidup adalah Tugas, Selesaikanlah.

Hidup adalah cita-cita, Capailah.
Hidup adalah Misteri, Singkapkanlah.
Hidup adalah Kesempatan, Raihlah.
Hidup adalah lagu, Nyanyikanlah.

Hidup adalah Janji, Penuhilah.
Hidup adalah teka teki, Pecahkanlah.
Hidup adalah keindahan, Nikmatilah.
Hidup adalah tembang, Dendangkanlah.

Hidup adalah Pilihan, Memilihlah.
Hidup adalah Pemberian, Terimalah.
Hidup adalah Puisi, perdengarkanlah.
Hidup adalah Petualangan, Mengembaralah

Hidup adalah Nikmat, Bersyukurlah.
Hidup adalah Penyembahan, Beribadahlah.
Hidup adalah Sandiwara, Lakonkanlah.
Hidup adalah derita, menangislah.

Hidup adalah Lelucon, Tertawalah.
Hidup adalah Kisah, dongengkanlah
Hidup adalah Kasih sayang, mencintalah.
Hidup adalah perlombaan, Menangkanlah.

Hidup adalah Aral, Jalanilah.
Hidup adalah titian, Sebrangilah.
Hidup adalah Persahabatan, Bergaullah.
Hidup adalah Sementara, Persiapkanlah.

Hidup adalah tanjakan, Dakilah.
Hidup adalah Survival, Bertahanlah.
Hidup adalah Pepohonan, Jadi Tanahlah.
Hidup adalah ketenangan, Diamlah.

Hidup adalah Terik, Jadi Awanlah.
Hidup adalah Bunga, Jadi Anginlah.
Hidup adalah Kekeringan, Jadi Hujanlah.
Hidup adalah dedaunan, Jadi Akarlah.

170417

Address

Mamuju
91563

Telephone

+6281241565544

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bumi langit posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Establishment

Send a message to Bumi langit:

Share