14/11/2019
.
Batik paradox adalah jenis pola batik yang saya ciptakan berdasarkan konsep deret paradox atau enkripsi paradox atau juga sistem matematika paradox yang saya buat. Sistem paradox inilah yang menjadi salah satu dasar saya menciptakan bahasa baru hingga menciptakan suatu seni yang salah satunya ialah batik. Untuk menciptakan pola batik berdasarkan konsep matematika paradox bukan semata-mata asal dalam memilih angka. Artinya terdapat hitungan pasti di dalamnya meski bersifat paradox.
Karena disebut paradox, maka enkripsi yang dibuat tidak akan bisa didekripsi, jika bukan saya yang memberi tahukan sendiri "keynote" untuk mengenkripsi data tersebut.
Yang jadi pertanyaan menarik saat aku menciptakan deret paradox untuk menciptakan bahasa adalah, "buat apa menciptakan bahasa baru bila orang tidak mengerti?" Justru dari pertanyaan bernada satir tersebut tersembunyi jawaban ilmiah tentang eksistensi TUHAN sebagai entitas "ketidak mungkinan yang mungkin" sebab tidak mungkin seorang jawa berusaha menggunakan bahasa inggris pada orang jawa lainnya yang tidak mengerti bahasa inggris, melainkan dia akan menyampaikan dengan bahasa jawa, sebab bahasa digunakan untuk menyampaikan pesan dan pesan tersebut bisa dipahami. Namun kenyataan hari ini ada ribuan bahasa di bumi, jika kita perhatikan dengan seksama tidak akan ada orang amnesia yang kehilangan kemampuan berbahasa dan paling buruk tidak bisa bicara, namun dalam tiap bahasa tidak hanya berbeda istilah, tetapi sistem tata bahasa juga berbeda. Artinya hal semacam ini mustahil terjadi meskipun ada teori isolasi mengenai terciptanya bahasa, namun kenyataan hari ini, itu adalah hal nyata terjadi dan semua itu sesuai dengan eksistensi TUHAN yakni "ketidak mungkinan yang mungkin". Kita tidak perlu bukti mati seperti fosil, tapi bukti yang nyata dan hidup adalah bahasa. Itu sebabnya dalam teori revolusi untuk melawan teori evolusi milik darwin yang mana salah satu pendukung teori revolusi yang aku susun disebut "the ten of Buanergis Rule" dimana asas atau aturan pertama di sana tertulis "bahasa adalah eksistensi kehidupan".