11/06/2025
SABAR IKU MUSTIKANING LAKU
(Sabar itu permata perilaku)
----------
Sejak kapan manusia s**a saling bermusuhan?
Sejak "tidak lagi mengenal dirinya", sejak merasa punya agama, sejak merasa punya kelompok, sejak merasa punya perguruan, sejak merasa punya suku, sejak merasa punya jabatan, dan sejak "merasa-merasa" sekian banyak hal lainnya?
Lalu kapan manusia tidak akan lagi menyukai permusuhan?
Nanti, saat kembali "mengenal dirinya", saat telah kenal kembali Dzat Sangkan Paraning Dumadi, saat telah kembali "bersetia-hati" secara hakiki.
Dan di antara sekian banyak para guru winasis yang mengajarkan ilmu kasepuhan mengenal diri itu, ilmu Setia-Hati itu, adalah beliau Raden Djimat Hendro Soewarno.
Jika kembali mengenang dan mendeskripsikan secara ringkas mengenai beliau, mungkin hanya kalimat ini yang akan muncul; "Ageng Tirakate, Ageng Sabare" (besar tirakatnya, besar sabarnya).
Bapak, kami para anak asuh panjenengan di Persaudaraan Setia-Hati Winongo Tunas Muda, karena sudah dilatih step by step mungkin akan kuat sedikit demi sedikit mengikuti jejak tirakat laku-laku batin panjenengan. Tetapi bapak, untuk "laku batin sabar" panjenengan yang ngedap-ngedapi (luar biasa) ini, sungguh kami (terutama saya sendiri) masih sangat kewalahan untuk bisa mengikuti.
Bagaimana kami bisa sabar bapak, jika syiar SH kami yang berniat luhur ini malah dicaci maki, diganggu, dan dimusuhi oleh orang-orang dzalim yang tidak tahu diri?
Terlebih bagaimana kami bisa sabar bapak, jika panjenengan di medsos ini sejak dulu sampai sekarang juga selalu difitnah dan dijelek-jelekkan oleh bocah-bocah kemarin sore yang tidak mengenal panjenengan, tetapi sudah merasa pede menghujat panjenengan hanya karena membaca tulisan-tulisan dzalim provokatif yang begitu massif di medsos?
Tetapi bagaimanapun saya juga tahu bapak, jika panjenengan mewariskan ajaran luhur yang sekaligus laku batin maha berat, yang ibarat "laku wali tanpo tinanding", yaitu "Ngalah, Ngalih, Ngabekti".
Sungguh saya dan saudara-saudara saya akan malu dunia akhirat, mengaku sebagai anak asuh panjenengan, manakala tidak "ngeh" memahami dan menerapkan ajaran panjenengan.
Bahkan bagaimana kami bisa "mengenal diri", bagaimana kami bisa "bersetia-hati" jika dawuh dan kurikulum luhur dari panjenengan sebagai guru saja kami abaikan?
Mungkin satu-satunya cara yang dapat ngleremke (menenangkan) batin ini, adalah kembali berkiblat dan mengugemi (memegang) sepenuhnya falsafah Jawa "Surodiro Joyoningrat Lebur Dening Pangastuti" (Semua Keberanian, Kekuatan, Kedigdayaan, dan Segala Kelebihan, akan masih kalah oleh mustika Kebaikan Hati) yang itu pun juga selalu panjenengan contohkan dalam keseluruhan hidup panjenengan.
Bapak, di alam rahmatullah kelanggengan sana. Doakan kami para anak asuh panjenengan tidak hanya kuat mengikuti laku tirakat panjenengan, tapi juga doakan kami kuat mengikuti laku sabar panjenengan ingkang ageng.
----------
-INFO PSHW TUNAS MUDA-