Pujian & Doa

Pujian & Doa Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Pujian & Doa, Kupang.

Pujian dan Penyembahan Rohani Kristen menyajikan lagu-lagu Rohani yang menguatkan, menyentuh hati dan memberi semangat dalam menjalani hidup...
Tuhan memberkati

13/09/2026

*Kalender Liturgi 14 Sep 2026*
Senin Pekan Biasa XXIV
Warna Liturgi: Merah
Bacaan Injil: Yoh 3:13-17
***********************************

*Bacaan Injil*
Yoh 3:13-17
Anak Manusia harus ditinggikan.

*_Inilah Injil Suci menurut Yohanes:_*

Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata,
"Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga,
selain Dia yang telah turun dari surga,
yaitu Anak Manusia.

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun,
demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya
beroleh hidup yang kekal.
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,
sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,
melainkan beroleh hidup yang kekal.
Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia
bukan untuk menghakimi dunia,
melainkan untuk menyelamatkannya"

Demikianlah sabda Tuhan.
************************************

Hari ini, kita menghormati Salib bukan karena kita mengagungkan penderitaan, melainkan karena di situlah kasih ilahi bersinar terang. Yesus menjelaskan kepada Nikodemus bahwa Anak Manusia harus “ditinggikan.” Dalam Injil Yohanes, peninggian ini memiliki dua makna yang mendalam: Kristus ditinggikan pada alat penyiksaan yang memalukan, namun pada saat yang sama, Ia dimahkotai dengan kemuliaan.

Dunia sering kali memandang kuasa sebagai kemampuan untuk mendominasi dan mengalahkan musuh. Namun, melalui Yesus di Salib, kita melihat suatu kuasa yang berbeda — kuasa yang berakar pada penyerahan diri, pelayanan, pengampunan, dan pengorbanan diri. Takhta-Nya adalah Salib, dan kemenangan-Nya datang melalui kasih bahkan kepada musuh-musuh kita. Apa yang mungkin tampak seperti kegagalan sebenarnya menyingkapkan tujuan dan kasih sejati Allah.

Sama seperti ular tembaga yang diangkat di padang gurun mengingatkan kita akan harapan, Kristus yang disalibkan dengan penuh kasih memanggil kita untuk berbalik menuju kesembuhan dan kehidupan baru. Percaya kepada-Nya, lebih dari segalanya, berarti mempercayai jalan hidup-Nya yang indah dan membiarkannya dengan lembut membentuk kembali hidup kita sendiri. Setiap kali kita merangkul Salib — dengan memilih pelayanan daripada status, rekonsiliasi daripada balas dendam, kesetiaan daripada kenyamanan, dan kasih daripada pembelaan diri — kita berjalan di jalan-Nya dan semakin dekat dengan kasih-Nya.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” Salib bukanlah hukuman Allah atas umat manusia, melainkan solidaritas-Nya dengan umat manusia. Yesus mengalami kekerasan dan kematian kita agar tidak ada satupun dari hal-hal itu yang dapat memisahkan kita dari kasih.

Hari ini, marilah kita memandang Salib dengan keberanian. Semoga Salib itu mengubah ukuran kesuksesan kita dan mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada pengorbanan yang dilandasi kasih yang sia-sia. Ketika kita merendahkan diri dalam pelayanan yang rendah hati, kita diangkat bersama Kristus ke dalam kehidupan yang tak dapat dihancurkan.

Tuhan Yesus Kristus, aku bersujud dan bersyukur di hadapan-Mu, sebab dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia. Amin.

Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Selamat Pesta Pemuliaan Salib Suci. ⒿⓁⓊ! 🙏🏼❤️😇
[𝒿♡𝓃𝒶𝓈𝓉.𝓂𝓈𝒸]

RP. Joni Astanto, MSC.

Sumber: Sacerdos 2000 .com








12/09/2026

*Kalender Liturgi 13 Sep 2026*
Minggu Pekan Biasa XXIV
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Yoh 13:34
Bacaan Injil: Mat 18:21-35
************************************

*Bait Pengantar Injil*
Yoh 13:34
Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan,
yaitu supaya kamu saling mengasihi
sama seperti Aku telah mengasihi kamu.

*Bacaan Injil*
Mat 18:21-35
Ampunilah saudaramu,
bukan sampai tujuh kali
melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

*_Inilah Injil Suci menurut Matius:_*

Sekali peristiwa
datanglah Petrus kepada Yesus dan berkata,
"Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku
jika ia berbuat dosa terhadap aku?
Sampai tujuh kali?"
Yesus berkata kepadanya, "Bukan!
Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali,
melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja
yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
Ketika ia mulai mengadakan perhitungan itu,
dihadapkanlah kepadanya seorang
yang berhutang sepuluh ribu talenta.
Tetapi karena orang itu tidak mampu melunasi hutangnya,
raja itu memerintahkan
supaya ia dijual beserta anak isteri dan segala miliknya
untuk pembayar hutangnya.
Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya:
Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu,
sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar,
ia bertemu dengan seorang hamba lain
yang berhutang seratus dinar kepadanya.
Ia menangkap dan mencekik kawannya itu,
katanya: Bayar hutangmu!
Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya:
Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara
sampai dilunaskannya segala hutang itu.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih
lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
Raja itu menyuruh memanggil hamba pertama tadi
dan berkata kepadanya:
Hai hamba yang jahat!
Seluruh hutangmu telah kuhapuskan
karena engkau memohonnya kepadaku.
Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu
seperti aku telah mengasihani engkau?

Maka marahlah tuannya itu
dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo,
sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
Demikianlah Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadap kamu,
apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu
dengan segenap hatimu."

Demikianlah sabda Tuhan.
************************************

Pengampunan atau memaafkan orang lain merupakan tema yang sering dibicarakan dalam Kitab Suci. Kita pantas mendapatkan pengampunan dari Allah kalau kita mau memaafkan orang lain. Bacaan-bacaan hari Minggu Biasa XXIV ini mengingatkan kita akan pentingnya pengampunan. Dalam Bacaan pertama kita mendengar: “Ampunilah kesalahan kepada sesama orang, niscaya dosa-dosamupun akan dihapus juga, jika engkau berdoa,” (Sir 28: 2). Kemudian dalam Injil Petrus bertanya sampai berapa kali ia harus mengampuni orang yang bersalah kepadanya. Yesus menjawab: “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali,” (Mat 18: 22b). Itu berarti bahwa kita harus mengampuni tanpa batas.

Petrus, sebagaimana orang-orang lainnya berpikir bahwa maaf itu mesti ada batasnya. Menurut tradisi Yahudi, orang boleh mengampuni saudara-saudaranya sebanyak tiga kali saja. Petrus berpikir bahwa dengan mengampuni saudaranya yang bersalah kepadanya sebanyak tujuh kali, ia telah membuat prestasi dan bertindak jauh lebih hebat. Tetapi jawaban Yesus mengejutkannya. Kita tidak boleh menghitung-hitung dalam memaafkan orang lain. Kita harus mengampuni tanpa batas, sebab Allah yang Mahapengampun telah mengampuni kita tanpa batas.

Bagi orang-orang Kristen, mengampuni orang lain merupakan suatu syarat supaya dosanya diampuni. “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6: 14 – 15).

Hal itu berarti bahwa dosa-dosa kita akan diampuni sejauh kita mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita. Dengan demikian, memaafkan atau mengampuni orang lain adalah salah satu syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Karena itu marilah kita berusaha memaafkan orang-orang yang bersalah kepada kita. Hanya dengan demikian kita bakal layak masuk dalam Kerajaan Allah.

Jadi berapa kalikah kita harus mengampuni? Sudah berapa kali Allah mengampuni anda? Sudah berapa kali anda mengampuni sesama?

Bapa yang penuh kasih, Engkau baik dan sabar, penuh belas kasih dan pengampun terhadap orang-orang berdosa seperti kami. Engkau mengampuni semua dosa kami. Semoga pengampunan-Mu membawa s**acita dan harapan yang besar bagi kami serta mendorong kami untuk dengan rela melupakan dan mengampuni kesalahan-kesalahan — yang seringkali sangat kecil — yang dilakukan orang lain kepada kami. Semoga kami dapat menjadi tanda dan sarana pengampunan-Mu. Amin.

Selamat Hari Minggu. Mari saling mengampuni. ⒿⓁⓊ! 🙏🏼❤️😇
[𝒿♡𝓃𝒶𝓈𝓉.𝓂𝓈𝒸]

RP. Joni Astanto, MSC.

Sumber: Sacerdos 2000 .com








10/09/2026

Baju Miss Universe Brasil 2025 untuk Bunda Maria.

Saya terharu melihat apa yang dilakukan Maria Gabriela Lacerda, Miss Universe Brazil 2025. Bagi saya, ini bukan sekadar cerita kontes kecantikan, tapi kesaksian iman yang langka di panggung dunia.

Namanya Maria Gabriela Lacerda. Di puncak karirnya, setelah mengenakan gaun bersulam mutiara yang begitu indah di kompetisi National Costume Miss Universe di Bangkok November lalu, ia tidak menyimpannya di lemari piala.

Gaun itu dirancang terinspirasi dari ikon Bunda Maria dari Aparecida, pelindung Brasil. Dan pada Hari Raya Kelahiran Perawan Maria, 8 September kemarin, ia membawa gaun itu kembali ke rumah yang sesungguhnya: Basilika Nasional Aparecida. Ia meletakkannya di Ruang Janji, bersama rosario dan surat-surat doa para peziarah sederhana.

Yang membuat saya merenung, bulan Maret lalu ia sudah lebih dulu meninggalkan mahkota dan selempang Miss Universe Brazil-nya di basilika yang sama sebagai ucapan syukur. Mahkota dunia ia tukar dengan mahkota iman.

Tindakan ini mengingatkan saya pada satu ayat yang sangat saya pegang, "Setiap orang yang meninggikan diri akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan" (Lukas 14:11). Bagi saya, inilah yang dilakukan Maria, ia merendahkan diri di hadapan Bunda Maria, dan justru di situlah Tuhan meninggikan kesaksiannya di mata dunia.

Di zaman di mana banyak orang memamerkan pencapaian, ia justru mengajarkan bahwa semua gelar dan keindahan pada akhirnya adalah untuk dikembalikan kepada Tuhan.

Menurut Anda, talenta atau berkat apa dalam hidup Anda yang ingin Anda persembahkan kembali kepada Tuhan hari ini?🙏

*Kalender Liturgi 08 Sep 2026*Selasa Pekan Biasa XXIIIWarna Liturgi: PutihBacaan Injil: Mat 1:1-16.18-23****************...
08/09/2026

*Kalender Liturgi 08 Sep 2026*
Selasa Pekan Biasa XXIII
Warna Liturgi: Putih
Bacaan Injil: Mat 1:1-16.18-23
************************************

*Bacaan Injil*
Mat 1:1-16.18-23
Anak yang ada di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.

*_Inilah Injil Suci menurut Matius:_*

Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.
Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub,
Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya.
Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar,
Peres memperanakkan Hezron,
Hezron memperanakkan Ram.
Ram memperanakkan Aminadab,
Aminadab memperanakkan Nahason,
Nahason memperanakkan Salmon,
Salmon memperanakkan Boas dari Rahab,
Boas memperanakkan Obed dari Rut,
Obed memperanakkan Isai,
Isai memperanakkan raja Daud.
Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria.
Salomo memperanakkan Rehabeam,
Rehabeam memperanakkan Abia,
Abia memperanakkan Asa.
Asa memperanakkan Yosafat,
Yosafat memperanakkan Yoram,
Yoram memperanakkan Uzia.
Uzia memperanakkan Yotam,
Yotam memperanakkan Ahas,
Ahas memperanakkan Hizkia.
Hizkia memperanakkan Manasye,
Manasye memperanakkan Amon,
Amon memperanakkan Yosia.
Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya
pada waktu pembuangan ke Babel.

Sesudah pembuangan ke Babel,
Yekhonya memperanakkan Sealtiel,
Sealtiel memperanakkan Zerubabel.
Zerubabel memperanakkan Abihud,
Abihud memperanakkan Elyakim,
Elyakim memperanakkan Azor.
Azor memperanakkan Zadok,
Zadok memperanakkan Akhim,
Akhim memperanakkan Eliud,
Eliud memperanakkan Eleazar,
Eleazar memperanakkan Matan,
Matan memperanakkan Yakub,
Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria,
yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut:
Pada waktu Maria, ibu Yesus, bertunangan dengan Yusuf,
ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus,
sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
Karena Yusuf, suaminya, seorang yang tulus hati,
dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum,
ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

Tetapi ketika Yusuf mempertimbangkan maksud itu,
malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata,
"Yusuf, anak Daud,
janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu,
sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
Maria akan melahirkan anak laki-laki,
dan engkau akan menamakan Dia Yesus,
karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya
dari dosa mereka."
Hal itu terjadi supaya genaplah yang firman Tuhan
yang dinyatakan oleh nabi,
"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung
dan melahirkan seorang anak laki-laki,
dan mereka akan menamai Dia Imanuel"
yang berarti: Allah menyertai kita.

Demikianlah sabda Tuhan.
******************************

Biasanya Gereja memperingati dan menghormati orang-orang kudus pada hari kematiannya. Hari kematiannya adalah hari kelahiran baru, kehidupan kekal di surga, ganjaran bagi hidup dan pengabdian mereka di bumi.

Mereka yang kita rayakan hari kelahirannya hanyalah Yesus yang kita rayakan pada Hari Raya Natal, Maria dan Yohanes Pembaptis. Alasannya dapat kita temukan dalam peran serta perutusan mereka dalam sejarah keselamatan, tetapi secara tradisi juga karena mereka sendiri adalah kudus sejak kelahiran mereka – bahkan sudah sejak sebelum mereka lahir.

St. Yohanes Pembaptis sudah dikuduskan dalam rahim Elisabeth dan ia melonjak kegirangan (Luk 1: 15). Ia yang menjadi pendahulu Sang Juruselamat. Bagi Maria, ia tak bernoda sejak konsepsinya – Dikandung dengan suci dan tak bernoda. Ia disiapkan menjadi Bunda Allah dan kelahirannya menandakan awal rencana keselamatan Allah yang terpenuhi dalam Yesus Kristus.

Maria mempunyai misi dan perutusan dalam hidupnya. Ia telah dengan taat dan setia memenuhi tugasnya itu.

Kita pun masing-masing mempunyai tugas dalam hidup kita. Itu adalah rencana Allah bagi kita masing-masing yakni peran kita yang unik dalam melayani sejarah keselamatan.

Mari mohon kepada Santa Perawan Maria agar mendoakan kita semua sehingga kita semua menyadari apa tugas dan peran kita masing-masing dalam karya keselamatan dan agar kita setia memenuhinya bagi kemuliaan Allah, seperti telah dilaksanakan oleh Maria.

Limpahkanlah kepada hamba-hamba-Mu, ya Tuhan, karunia rahmat surgawi, agar pesta Kelahiran Perawan Terberkati dapat membawa kedamaian yang lebih dalam bagi kami. Sebab kelahiran Puteranya adalah fajar keselamatan bagi kami. Dengan pengantaraan Tuhan kami Yesus Kristus, Putera-Mu, yang hidup dan memerintah bersama-Mu dalam kesatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Selamat merayakan ulang tahun St. Perawan Maria. Laksanakan tugas kita masing-masing dalam karya keselamatan dengan taat dan setia. ⒿⓁⓊ! 🙏🏼❤️😇
[𝒿♡𝓃𝒶𝓈𝓉.𝓂𝓈𝒸]

RP. Joni Astanto, MSC.

Sumber: Sacerdos 2000 .com








06/09/2026

*Kalender Liturgi 07 Sep 2026*
Senin Pekan Biasa XXIII
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Yoh 10:27
Bacaan Injil: Luk 6:6-11
*************************************

*Bait Pengantar Injil*
Yoh 10:27
Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan.
Aku mengenal mereka, dan mrereka mengenal Aku.

*Bacaan Injil*
Luk 6:6-11
Mereka mengamat-amati Yesus,
kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat.

*_Inilah Injil Suci menurut Lukas:_*

Pada suatu hari Sabat Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar.
Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya.
Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus,
kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat,
agar mereka mendapat alasan untuk menyalahkan Dia.
Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka.
Ia berkata kepada orang yang mati tangannya,
"Bangunlah dan berdirilah di tengah!"
Maka bangunlah orang itu dan berdiri di tengah.

Lalu Yesus berkata kepada mereka,
"Aku bertanya kepada kalian:
Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat,
berbuat baik atau berbuat jahat?
Menyelamatkan orang atau membinasakannya?"

Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua,
lalu berkata kepada orang sakit itu, "Ulurkanlah tanganmu!"
Orang itu mengulurkan tangannya dan sembuhlah ia.

Maka meluaplah amarah ahli-ahli Taurat dan orang Farisi.
Lalu mereka berunding,
apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

Demikianlah sabda Tuhan.
***************************************

Perikop Injil hari ini berkisah tentang Yesus yang menyembuhkan seorang yang mati tangan kanannya. Akan tetapi ada dua macam kematian di sini. Yang pertama adalah orang dengan tangan kanan yang mati. Namun, yang mungkin lebih merugikan adalah kematian yang kedua, yakni hati orang-orang Farisi yang juga telah “mati” dan tak berbelas kasih. Mereka memasuki sinagoga bukan untuk bertemu dengan Allah, melainkan untuk mengumpulkan bukti-bukti melawan Yesus. Ia menanggapi dengan sebuah pertanyaan yang mengungkap kemunafikan mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?"

Tangan yang mati itu adalah simbol kehidupan yang kehilangan kekuatannya untuk bertindak, menciptakan, melayani, dan merangkul. Yesus memanggil orang yang mati tangannya itu untuk bangun dan berdiri di tengah karena penderitaan tidak boleh dibiarkan tak terlihat. Dengan memulihkan tangannya pada hari Sabat, Kristus mengungkapkan maksud Allah: memulihkan kemanusiaan kepada kebebasan dan kepenuhan.

Kebenaran harus selalu dipadukan dengan belas kasih. Ketepatan pelaksanaan agama tanpa belas kasih dapat mengeras menjadi kekejaman. Kita mungkin membela prinsip, hafal hukum dan aturan, serta melestarikan tradisi, namun gagal bers**acita ketika seseorang disembuhkan, ketika kehidupan dipulihkan. Kekudusan diukur bukan dari ketepatan mengikuti larangan ini dan itu, melainkan dari kehidupan, martabat, dan harapan yang dipulihkan oleh kehadiran kita.

“Ulurkanlah tanganmu,” perintah Yesus. Orang yang mati sebelah tangannya itu harus memperlihatkan kelemahannya, kerentanannya. Kita pun diundang untuk memperlihatkan bagian-bagian hidup kita yang “mati”: karunia yang terabaikan, hubungan, iman, dan ketakutan. Kesembuhan, kehidupan baru mulai terjadi ketika kita menyadari dengan rendah hati kelemahan dan kerentanan kita di hadapan Yesus.

Hari ini, marilah kita memohon kepada Yesus untuk melembutkan setiap hati yang kaku, memulihkan kemampuan kita untuk berbuat baik, dan menjadikan tangan kita alat belas kasih. Maka, ibadah kita akan benar-benar menjadi partisipasi yang penuh s**acita dalam karya Allah untuk penyembuhan, pembebasan, dan penciptaan yang diperbarui.

Tuhan, lembutkanlah hati kami yang kaku. Semoga kehadiran kami membawa kesembuhan, kebebasan dan kehidupan yang baru. Amin.

Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Pulihkan kehidupan! ⒿⓁⓊ! 🙏🏼❤️😇
[𝒿♡𝓃𝒶𝓈𝓉.𝓂𝓈𝒸]

RP. Joni Astanto, MSC.

Sumber: Sacerdos 2000 .com








06/09/2026

*Kalender Liturgi 06 Sep 2026*
Minggu Pekan Biasa XXIII
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: 2Kor 5:19
Bacaan Injil : Mat 18: 15-20
**********************************

*Bait Pengantar Injil*
2Kor 5:19
Dalam Kristus Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya,
dan Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.

*Bacaan Injil*
Mat 18:15-20
Jika seorang berdosa mendengarkan nasihatmu,
engkau telah mendapatnya kembali.

*_Inilah Injil Suci menurut Matius:_*

Sekali peristiwa,
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Apabila saudaramu berbuat dosa,
tegurlah dia di bawah empat mata.
Jika ia mendengarkan nasihatmu,
engkau telah mendapatnya kembali.
Jika ia tidak mendengarkan engkau,
bawalah seorang atau dua orang lain,
supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi,
perkara itu tidak disangsikan.
Jika ia tidak mau mendengarkan mereka,
sampaikanlah soalnya kepada jemaat.
Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat,
pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah
atau seorang pemungut cukai.

Aku berkata kepadamu:
Sungguh, apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga,
dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.
Dan lagi Aku berkata kepadamu:
Jika dua orang di antaramu di dunia ini sepakat meminta apa pun,
permintaan mereka itu akan dikabulkan
oleh Bapa-Ku yang di surga.
Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku,
Aku hadir di tengah-tengah mereka."

Demikianlah sabda Tuhan.
****************************************

Bacaan-bacaan pada Hari Minggu Biasa XXIII ini berbicara tentang KASIH, terlebih KASIH, yang diwujudkan dalam BELAS KASIH dan PENGAMPUNAN.

Inilah kasih Kristiani yang sangat berbeda dari segala kasih yang didefinisikan oleh dunia atau agama manapun. Kasih Kristiani tidak mengenal batas. Yesus mencontohkannya dengan melakukan tindakan tertinggi, yaitu mati di kayu salib demi pengampunan dosa, sementara Ia sendiri tetap tanpa dosa. Dengan kata lain, kasih-Nya menyembuhkan dan menyelamatkan, serta tidak pernah berbuat jahat sekalipun di hadapan provokasi yang berat.

Bacaan Pertama dari Nubuat Nabi Yehezkiel memberikan contoh kasih Kristiani itu. Melalui Nabi Yehezkiel, Tuhan mengingatkan umat-Nya bahwa mereka adalah penjaga sesama mereka. Merupakan tanggung jawab mereka untuk memperingatkan orang-orang jahat atas nama Tuhan. Jika mereka melakukannya dan orang-orang jahat itu tetap berbuat jahat, maka orang-orang jahat itu akan bertanggung jawab atas dosanya sendiri, sementara umat-Nya akan diselamatkan. Namun, jika mereka gagal mengingatkan orang-orang jahat itu, maka mereka akan bertanggung jawab atas kematian orang-orang jahat tersebut. Inilah yang kini kita sebut sebagai DOSA KELALAIAN.

KASIH semacam ini sangat relevan di zaman sekarang, di mana suara kritis seringkali menuai banyak kecaman. Banyak dosa yang dilakukan di sekitar kita. Bahkan banyak yang dilegalkan dan dianggap wajar. Namun, banyak yang takut memberikan teguran atau kritik karena takut dianggap munafik. Ketakutan lain adalah dituduh sebagai orang yang s**a menghakimi. Namun, dapatkah kita membiarkan orang-orang melakukan kejahatan begitu saja? Jika kita melakukannya, maka kita akan bertanggung jawab di hadapan Tuhan!

Injil memberi kita cara untuk mengasihi; yaitu PENGAMPUNAN. Mungkin ini adalah salah satu cara terbaik untuk mengasihi seseorang. Ini merupakan inti dari Iman Kristiani. Dari Perjanjian Lama hingga ajaran Yesus, hal ini diwartakan berulang kali. Namun, inilah yang paling sulit dilakukan. Semoga pengampunan itu terjadi antara si pendosa dan pihak yang dirugikan. Jika tidak, Yesus menyarankan kehadiran pihak ketiga, yang dihormati oleh keduanya. Jika pengampunan masih belum tercapai, Ia meminta agar hal itu dibawa ke hadapan komunitas. Inti ajaran Yesus adalah, pengampunan harus dicapai dengan segala cara. Pengampunan tidak hanya terbatas pada pihak-pihak yang bersangkutan. Sama seperti dosa yang tidak hanya bersifat pribadi tetapi juga sosial, pengampunan pun dapat dilakukan dengan melibatkan komunitas. Saat ini, Sakramen Rekonsiliasi memenuhi hal tersebut. Orang yang bertobat mendatangi imam yang mewakili baik Allah maupun komunitas. Ketika kita pergi ke pengakuan dosa, kita memohon pengampunan kepada Allah dan komunitas. Kita diampuni oleh keduanya!

Bagian akhir perikop Injil berbicara tentang doa. Mengapa setelah berbicara tentang menegor dan mengampuni sesama Yesus berbicara tentang doa? Cara paling effektif untuk mengoreksi orang lain adalah melalui doa. Kita harus menyadari bahwa tidak hanya kata-kata baik dan bagus dari kita yang mengubah hati, bukan hanya kata-kata indah kita yang mengubah orang, tetapi pertama-tama yang mengubah orang adalah rahmat Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat mengubah orang. Hanya rahmat Tuhan yang membuat hati bertobat, bukan kita. Itulah sebabnya, doa adalah sangat penting, sarana paling vital dalam koreksi persaudaraan.

Tuhan, semoga semakin hari, kami semakin mampu mengampuni. Amin.

Selamat Hari Minggu. ⒿⓁⓊ! 🙏🏼❤️😇
[𝒿♡𝓃𝒶𝓈𝓉.𝓂𝓈𝒸]

RP. Joni Astanto, MSC.

Sumber: Sacerdos 2000 .com








05/09/2026

*Kalender Liturgi 05 Sep 2026*
Sabtu Pekan Biasa XXII
PF S. Teresa dari Kalkuta, Biarawati
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Yoh 14:6
Bacaan Injil: Luk 6:1-5
************************************

*Bait Pengantar Injil*
Yoh 14:6
Akulah jalan, kebenaran dan sumber kehidupan, sabda Tuhan;
hanya melalui Aku orang sampai kepada Bapa.

*Bacaan Injil*
Luk 6:1-5
Mengapa kalian melakukan sesuatu
yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?

*_Inilah Injil Suci menurut Lukas:_*

Pada suatu hari Sabat,
Yesus dan murid-murid-Nya berjalan di ladang gandum.
Para murid memetik bulir-bulir gandum,
menggisarnya dengan tangan, lalu memakannya.
Tetapi beberapa orang Farisi berkata,
"Mengapa kalian melakukan sesuatu
yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?"

Maka Yesus menjawab, "Tidakkah kalian baca
apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan para pengikutnya lapar?
Ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian.
Roti itu dimakannya dan diberikannya kepada para pengikutnya.
Padahal roti itu tidak boleh dimakan, kecuali oleh para imam."

Dan Yesus berkata lagi,
"Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

Demikianlah sabda Tuhan.
********************************

Dalam Injil hari ini, para murid yang lapar “terciduk” memetik bulir-bulir gandum pada hari Sabat, oleh orang-orang Farisi. Orang-orang Farisi itu melihat tindakan mereka sebagai pelanggaran aturan. Para murid dapat dipandang melanggar 5 aturan hari Sabat: memetik bulir gandum dapat dianggap “memanen”, menggisar dengan tangan dapat dianggap “menggiling”, meniup sekamnya dianggap “menampi”, memegang bulir-bulir gandum itu dapat dianggap “membawa beban” dan “mempersiapkan makan”. Semua pekerjaan yang tidak diperbolehkan di hari Sabat. Ketika orang-orang Farisi melihat pelanggaran aturan, Yesus melihat kebutuhan demi kemanusiaan. Dengan mengingat kisah Daud yang memakan roti sajian di Bait Allah, Ia mengungkapkan bahwa hukum Allah tidak pernah dimaksudkan untuk mencekik kehidupan. Dengan mengatakan, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” Ia menyatakan bahwa belaskasih, bukan ketaatan pada aturanlah yang mengungkapkan hati Allah.

Ada bahaya mengubah agama menjadi sistem yang mengutamakan aturan daripada manusia. Sebuah perintah yang terpisah dari kasih kehilangan tujuannya. Hari Sabat diberikan untuk memulihkan martabat manusia, persekutuan, dan s**acita. Setiap kali kesalehan saya membuat orang lain merasa dihukum, dikucilkan, atau lapar, saya harus bertanya pada diri sendiri apakah saya berpegang pada kasih atau sekadar mempertahankan tradisi.

Makna hari Sabat lebih dari sekadar berhenti bekerja. Sabat adalah ritme istirahat, rekonsiliasi, pengampunan, dan keajaiban. Itu dimaksudkan untuk menjauh dari keinginan untuk menjadi produktif dan menguntungkan saja, dan sebaliknya, mengingat bahwa nilai seorang manusia tidak bergantung pada pencapaian. Dengan itu kita melepaskan dendam, menumbuhkan rasa syukur, memperhatikan hubungan, dan membiarkan jiwa kita bernapas kembali.

Yesus memanggil kita pada kekudusan. Iman tidak bertanya, “Aturan mana yang telah dilanggar?” sebelum bertanya, “Siapa yang membutuhkan belas kasih?” Iman tidak menghapuskan disiplin; sebaliknya, iman mengembalikan disiplin pada tujuannya: membantu kehidupan berkembang dalam Tuhan.

Hari ini, Kristus berjalan melintasi ladang gandum kehidupan kita. Ia meminta kita untuk melepas kecenderungan kita menilai dan mengadili, dengan memperhatikan mereka yang lapar, dan mengutamakan belas kasih. Semoga olah kesalehan kita memperbarui kemanusiaan kita, melembutkan hati kita, dan menjadikan kita alat belas kasih Tuhan.

Tuhan, semoga kehidupan beragama kami tidak kehilangan makna yang sesungguhnya. Amin.

Selamat berakhir pekan. Hidupi belas kasih! ⒿⓁⓊ! 🙏🏼❤️😇
[𝒿♡𝓃𝒶𝓈𝓉.𝓂𝓈𝒸]

RP. Joni Astanto, MSC.

Sumber: Sacerdos 2000 .com








04/09/2026

Kisah Kembar 28 Minggu yang Disembuhkan

Ketika ruang bersalin mendadak senyap dan deru mesin medis menjadi satu-satunya suara yang terdengar, dunia seorang ibu terasa runtuh seketika. Berdiri di ambang keputusasaan saat melihat sepasang tubuh mungil yang begitu rapuh berjuang demi setiap helai napas adalah ujian terberat bagi jiwa.

Inilah kisah nyata Antônia, seorang ibu yang harus melahirkan bayi kembarnya jauh sebelum waktunya, dalam usia kandungan yang baru berjalan tujuh bulan (28 minggu).

Di titik nadir itulah, saat sains kedokteran menghadapi keterbatasannya, kekuatan doa dan penyerahan diri yang tulus mulai mengambil alih jalannya takdir.

Di tengah kepedihan mendalam dan ruang perawatan intensif yang dingin, sebuah ikrar suci ditiupkan dari lubuk hati terdalam. Di hadapan sang pelindung rohani, Santo Fransiskus, Antônia meletakkan seluruh asa dan ketakutannya.

Sebuah janji iman terucap di tengah derai air mata: jika Tuhan mengizinkan kedua bayi kecilnya pulang hidup-hidup, ia akan melangkah kembali ke Basilika untuk menyerahkan, merayakan, dan mengucapkan terima kasih atas kehidupan mereka.

Penantian panjang yang dipenuhi untaian doa malam akhirnya berbuah manis. Hari ini, muk-jizat itu nyata dan bukan sekadar cerita. Langkah kaki yang dulunya berat karena diselimuti kecemasan, kini melangkah mantap memasuki pelataran Basilika yang agung.

Antônia hadir di altar suci dengan kedua buah hati dalam pelukannya untuk menuntaskan sebuah janji suci penuh rasa syukur. Mendekap erat kedua detak jantungnya yang kini tumbuh sehat adalah pembuktian hidup bahwa di dalam bilik-bilik rumah sakit yang dingin sekalipun, kehangatan kasih Tuhan melalui perantaraan orang-orang kudus-Nya tidak pernah terlambat menolong kita.

Kisah luar biasa ini menjadi bukti bahwa iman sebesar biji sesawi mampu memindahkan gunung keputusasaan.

Apakah Anda juga pernah mengalami "titik nadir" di mana hanya muk-jizat Tuhan yang menjadi satu-satunya jalan keluar Anda? Bagikan kesaksian atau doa syukur Anda di kolom komentar agar menjadi berkat bagi sesama! 🙏

Catholic Credo Channel

Address

Kupang

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pujian & Doa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share