19/11/2025
•
•
" Tempe Asale Seko Dele"
•
Karya ini memandang pembuatan tempe sebagai cermin cara masyarakat memahami diri dan lingkungannya. Tempe lahir dari proses yang tampak sederhana. Kedelai direndam, direbus, dan difermentasi. Namun di balik urutan teknis itu ada cara pandang yang lebih luas. Masyarakat menaruh perhatian pada hal-hal kecil. Mereka percaya hasil yang baik muncul ketika manusia mengikuti ritme alam, bukan memaksanya.
Tidak ada buku resmi atau catatan panjang yang menyoroti proses pengolahan tempe. Pengetahuan diwariskan lewat kebiasaan di dapur dan ruang produksi. Mereka mengenali durasi, suhu, dan tanda fermentasi melalui indra yang terlatih. Pengetahuan tumbuh di tengah kedekatan kolektif dan akan terus hidup selama kebiasaan itu dijalankan. Tempe menjadi bukti bahwa budaya tidak bertahan karena aturan, tetapi karena kolektif menilai praktik itu penting.
Secara filosofis bagian pentingnya terletak pada ingatan akan asal-usul. “Tempe Asale Seko Dele” mengajak manusia mengingat bahwa setiap hal besar berawal dari suatu entitas yang kecil. Selayak kedelai, kita berangkat dari sesuatu yang kecil, lalu tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar. Pun ketika perubahan itu terjadi, asal-usul harus tetap menjadi pijakan. Pepatah “Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” menjadi pengingat. Bahwa identitas dapat berkembang, Namun akar tetap memberi arah.
•budaya
•