20/06/2026
Kisah Nyata/Kisah Sebenar, lanjutan.....
Part48a
"IMPIAN TERAKHIR V"
Berjam-jam kami keliling kota Pontianak. Sudah berulang-kali keluar & masuk Hotel serta Penginapan, namun tak satupun harga sewanya yang bersesuain dengan kantong kami.
Aku yang sudah teramat kelelahan itu, sebenarnya tidak begitu mempermasahkan harga sewanya. Namun sahabatku itu ngotot kemahalan, dan mencarinya yang agak miring sedikit. ‘Sayang……..!!!’ katanya.
Sudah puas kami menjelajahi kota, akhirnya kamipun masuk kekampung. Kami bertanya kepada siapa saja yang kami jumpai untuk sekadar mencari penginapan yang ada.
Orang-orang Pontianak sangat ramah dan begitu terbuka, sehingga tidak sulit bagi orang luar untuk mendapatkan bantuannya. Mereka tidak pelit jika hanya untuk memberikan informasi seperti yang kita butuhkan.
Sewaktu kami sedang memasuki perkampungan, kami melihat dua orang perempuan yang sedang berada disebuah warung kecil. Sahabatku itu kemudian menghentikan sepeda-motor, lalu menghampiri kedua perempuan itu dan bertanya. “Kak………….. Disekitar sini ada penginapan?.....................”
“Ada, Bang……………… Jalan depan itu belok kiri, terus ada gang kecil disitu ada papan nama penginapan itu. Terus masuk aja lurussss…………… Nah disebelah kiri gang ada rumah besar tingkat dua. Disitulah Bang…………. Masuk aja! Ada juga papan nama serta nomor telephone pemilliknya.” Perempuan itu memberi informasi dengan jelas dan gamblangnya.
Aku merasa gembira mendengar informasi lengkap yang disampaikan oleh perempuan itu, terlebih-lebih sahabatku itu. Lalu sahabatku itu mengucapkan terima-kasih kepada kedua perempuan itu. “Terima-Kasih banyak ya Kak, Assalam Mu’alaikuuuum……………”
Kemudian perempuan itupun menjawabnya. “Yaa, sama-sama……….. Wa’alaikum Mu’ssalaaam………………..”
Dengan hati yang berbunga-bunga, kami berdua langsung meluncur ketempat seperti yang diarahkan oleh kedua perempuan diwarung tadi.
Dan hanya beberapa detik saja, kami sampai ditempat yang dimaksudkan olehnya. Meski cukup sederhana, namun penginapan itu nampak bersih dan tertata dengan baik. Ada papan nama serta fasilitas yang diberikan oleh pihak pengurus, berikut larangan-larangan yang harus dipatuhi oleh setiap penghuni kamar. Yang terpampang disebelah pintu masuk.
Sahabatku itupun menghentikan sepeda-motor tepat didepan pintu masuk. Meski tiada penjaganya, namun setiap penghuni yang kebetulan melihat orang asing datang langsung merespon dengan santunnya.
Senyum, Sapa dan Salam sudah menjadi Budaya masyarakat kota Pontianak. Dan ketika melihat kami mendatangi tempat kost mereka, ada beberapa orang penghuni kost itu langsung menoleh serta melemparkan senyum ramahnya.
Namun sebelum didahului sapaan dari mereka, sahabatku itu sudah terlebih dahulu memberikan salam. “Assaalam mu’alaikuuuum………….. Boleh kami bertanya, apakah masih ada kamar yang kosong disini? Kami sedang mencari tempat kost.”
\Lalu salah seorang dari mereka menjawab. “Kalau kamar kosong sii masih banyak, tapi pengurusnya lagi kondangan Bang…………….”
Kemudian sahabatku itu bertanya lagi. “Lama enggak ya kira-kira?.........................”
Lalu orang itupun menjawabnya. “Wah! Kalau itu, kami enggak bisa jawab Bang! Mungkin lebih baik Abang telephone langsung dengan yang bersangkutan aja, kalau kami yang ngomong nanti takut salah Bang……….”
“Adik ada nomor h/pnya?................” sahabatku itu bertanya kepadanya.
\Kemudian orang itupun menjawab. “Kalau saya kebetulan nggak nyimpan Bang! Fir, kau ada nomer h/pnya Bang Iful enggak?............” Orang itu bertanya kepada salah seorang teman yang berada disampingnya.
“Waduh! Aku juga gak nyimpan Zul, Rendra yang sering telepon sama Bang Iful.” Teman Zul yang bernama Fir itu menjawabnya.
Kemudian Firpun memanggil Rendra yang entah sedang apa didalam kostnya itu. “Draaa………….. Sini sebentar! Cepetan!!!............”
Lalu dari dalam kamar kost yang berukuran mini itu terdengar jawaban, dengan suara yang sangat menawan. “Ada apaan sii Fir?.................”
Kemudian orang yang panggilannya Fir itupun berkata lagi. “Udaaah……………. Cepetan sini, bawa h/pmu.”
Dan tidak lama kemudian……………… Munculah seorang pemuda yang tampan berkulit putih, dengan senyumnya yang menawan keluar dari kamar Kostnya. Yach! Mungkin pemuda itu yang bernama Rendra.
Sambil menyalami sahabatku itu, Rendra berkata. “Oooo, ada tamu rupanya…………. Silahkan duduk dulu Bang!.”
Bersambung......