Thok Dien69

Thok Dien69 Nemu Magang
Kami mempuyai 7 jilid buku Kisah Sebenar (Kisah Nyata), jika ada yg berminat bisa hubungi kami.

20/06/2026

Kisah Nyata/Kisah Sebenar, lanjutan.....
Part48a
"IMPIAN TERAKHIR V"

Berjam-jam kami keliling kota Pontianak. Sudah berulang-kali keluar & masuk Hotel serta Penginapan, namun tak satupun harga sewanya yang bersesuain dengan kantong kami.

Aku yang sudah teramat kelelahan itu, sebenarnya tidak begitu mempermasahkan harga sewanya. Namun sahabatku itu ngotot kemahalan, dan mencarinya yang agak miring sedikit. ‘Sayang……..!!!’ katanya.

Sudah puas kami menjelajahi kota, akhirnya kamipun masuk kekampung. Kami bertanya kepada siapa saja yang kami jumpai untuk sekadar mencari penginapan yang ada.

Orang-orang Pontianak sangat ramah dan begitu terbuka, sehingga tidak sulit bagi orang luar untuk mendapatkan bantuannya. Mereka tidak pelit jika hanya untuk memberikan informasi seperti yang kita butuhkan.

Sewaktu kami sedang memasuki perkampungan, kami melihat dua orang perempuan yang sedang berada disebuah warung kecil. Sahabatku itu kemudian menghentikan sepeda-motor, lalu menghampiri kedua perempuan itu dan bertanya. “Kak………….. Disekitar sini ada penginapan?.....................”

“Ada, Bang……………… Jalan depan itu belok kiri, terus ada gang kecil disitu ada papan nama penginapan itu. Terus masuk aja lurussss…………… Nah disebelah kiri gang ada rumah besar tingkat dua. Disitulah Bang…………. Masuk aja! Ada juga papan nama serta nomor telephone pemilliknya.” Perempuan itu memberi informasi dengan jelas dan gamblangnya.

Aku merasa gembira mendengar informasi lengkap yang disampaikan oleh perempuan itu, terlebih-lebih sahabatku itu. Lalu sahabatku itu mengucapkan terima-kasih kepada kedua perempuan itu. “Terima-Kasih banyak ya Kak, Assalam Mu’alaikuuuum……………”

Kemudian perempuan itupun menjawabnya. “Yaa, sama-sama……….. Wa’alaikum Mu’ssalaaam………………..”

Dengan hati yang berbunga-bunga, kami berdua langsung meluncur ketempat seperti yang diarahkan oleh kedua perempuan diwarung tadi.

Dan hanya beberapa detik saja, kami sampai ditempat yang dimaksudkan olehnya. Meski cukup sederhana, namun penginapan itu nampak bersih dan tertata dengan baik. Ada papan nama serta fasilitas yang diberikan oleh pihak pengurus, berikut larangan-larangan yang harus dipatuhi oleh setiap penghuni kamar. Yang terpampang disebelah pintu masuk.

Sahabatku itupun menghentikan sepeda-motor tepat didepan pintu masuk. Meski tiada penjaganya, namun setiap penghuni yang kebetulan melihat orang asing datang langsung merespon dengan santunnya.

Senyum, Sapa dan Salam sudah menjadi Budaya masyarakat kota Pontianak. Dan ketika melihat kami mendatangi tempat kost mereka, ada beberapa orang penghuni kost itu langsung menoleh serta melemparkan senyum ramahnya.

Namun sebelum didahului sapaan dari mereka, sahabatku itu sudah terlebih dahulu memberikan salam. “Assaalam mu’alaikuuuum………….. Boleh kami bertanya, apakah masih ada kamar yang kosong disini? Kami sedang mencari tempat kost.”

\Lalu salah seorang dari mereka menjawab. “Kalau kamar kosong sii masih banyak, tapi pengurusnya lagi kondangan Bang…………….”

Kemudian sahabatku itu bertanya lagi. “Lama enggak ya kira-kira?.........................”

Lalu orang itupun menjawabnya. “Wah! Kalau itu, kami enggak bisa jawab Bang! Mungkin lebih baik Abang telephone langsung dengan yang bersangkutan aja, kalau kami yang ngomong nanti takut salah Bang……….”

“Adik ada nomor h/pnya?................” sahabatku itu bertanya kepadanya.

\Kemudian orang itupun menjawab. “Kalau saya kebetulan nggak nyimpan Bang! Fir, kau ada nomer h/pnya Bang Iful enggak?............” Orang itu bertanya kepada salah seorang teman yang berada disampingnya.

“Waduh! Aku juga gak nyimpan Zul, Rendra yang sering telepon sama Bang Iful.” Teman Zul yang bernama Fir itu menjawabnya.

Kemudian Firpun memanggil Rendra yang entah sedang apa didalam kostnya itu. “Draaa………….. Sini sebentar! Cepetan!!!............”

Lalu dari dalam kamar kost yang berukuran mini itu terdengar jawaban, dengan suara yang sangat menawan. “Ada apaan sii Fir?.................”

Kemudian orang yang panggilannya Fir itupun berkata lagi. “Udaaah……………. Cepetan sini, bawa h/pmu.”

Dan tidak lama kemudian……………… Munculah seorang pemuda yang tampan berkulit putih, dengan senyumnya yang menawan keluar dari kamar Kostnya. Yach! Mungkin pemuda itu yang bernama Rendra.

Sambil menyalami sahabatku itu, Rendra berkata. “Oooo, ada tamu rupanya…………. Silahkan duduk dulu Bang!.”

Bersambung......

18/06/2026
18/06/2026

Kisah Nyata / Kisah Sebenar lanjutan.....
Part46a
"IMPIAN TERAKHIR V"

Lalu aku ingat! Bahwa dikardus oleh-oleh bawaan untuk sahabatku itu aku tuliskan nama beserta nomor telephonenya, agar tidak hilang ataupun tertukar dengan barang orang lain.

Kemudian dengan cepat! Aku ambil kardus bawaanku, yang aku taruh dibawah kursi tempat dudukku itu. Lalu aku berkata kepada petugas dinhub itu. “Ini Pak………….. Nomer h/p adik saya, saya tulis disini!”

Lalu sang petugas itupun menjawabnya. “Nah! Coba dari tadi…………….”

Kemudian akupun menjawabnya. “Baru inget Pak………………..”

Sang petugas dinhub yang baik hati itu, kemudian memasukan nomor h/p yang aku tulis dikardus kecil itu keperangkat telephone selulernya. Lalu iapun langsung mendial nomor yang aku berikan itu, namun sayang!................. sepertinya tiada reaksi dari dari seberang sana.

Lalu sang petugas itu bertanya kepadaku. “Kok nggak ada reaksi apa-apa pak?..........Mungkin nomornya salah!.”

Kemudian aku meraih kembali kardus bawaanku yang ada dibawah tempat dudukku, aku perhatikan nomor yang aku tulis. Dan rasanya tidak ada yang salah dengan penulisanku itu.

Lalu aku bertanya kepada sang petugas itu. “Betul ini kan Pak?...................”

Dan sang petugas itu kembali memeriksa handphonenya, lalu ia berkata. “Benar! Tapi kenapa gak ada reaksi yaa?.................”

Lalu ia mendial kembali nomor itu, namun hasilnya tetap sama! “Kenapa ya?.............” sang petugas yang baik hati itu berbicara sendiri.

Kemudian ia bertanya lagi kepadaku. “Bener tadi udah janjian ama adiknya pak?................”

“Betul Pak………….. kami selalu berhubung lewat sms, enggak pernah putus pak. Nih! Lihat smsnya, Bapak mau lihat?..............” kataku kepadanya.

Lalu iapun kembali menghubungi sahabat-karib itu. Dan sepertinya ia mulai ada reaksi dari ujung sana, “Hallo…………. Bapak Suparjianto?.........................”

Aku tidak memperhatikan pembicaraan mereka berdua, namun tidak lama kemudian………… Sang petugas dinhub yang baik hati itu, menyerahkan handphonenya kepadaku dan memintaku untuk berbicara kepada sahabat-karibku itu.

Lalu akupun langsung berbicara kepada sahabatku itu. “Hello Jik…………….”

Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, namun ia sudah memotongnya. “Awakmu saiki nang endi?..........{Kamu sekarang dimana?................}.”

Lalu akupun menjawabnya. “Di Terminal Bus Pontianak yang baru.”

“Kenapa enggak turun di agennya aja?...................” sahabatku itu bertanya lagi kepadaku.

“Enggak boleh! Sekarang semua Bis harus menurunkan penumpangnya di Terminal.” Jawabku untuknya.

Kemudian sahabatku itu bertanya lagi kepadaku. “Terminal yang baru itu dimana? Masih di Batu-Layangkah?..................”

Lalu akupun menjawabnya. “Bukan…………….. akupun enggak tau didaerah mana, coba aku nanya kepetugas dulu.”

“Pak kawasan ini termasuk daerah mana pak?................” tanyaku kepada petugas yang baik hati tersebut.

“AMBAWANG Pak…………………….” Jawabnya dengan sangat santun.

Lalu akupun mengulang perkataan sang petugas itu melalui telephone selulerku yang masih tersambung dengan Suparjianto itu. “Ambawang Jik………………….”

Rupanya sahabatku itu juga tidak tahu Ambawang itu masuk kawasan mana? “Ambawang?............... Ya, ya…………. Tunggu aku akan menuju kesitu sekarang juga!.”

Meski dia sendiri belum tahu dengan pasti, namun ia memberi isyarat kepadaku agar tidak panic dengan situasi yang ada. Dan akupun yakin! Dia pasti bisa mencari keberadaanku secepatnya.

Dan ternyata benar! Baru beberapa menit kemudian, ia telah berada tepat didepan mataku dengan membawa mantel. Karena saat itu dikota Pontianak sedang diguyur hujan, meski tidak seberapa deras.

Setelah berjabat tangan serta ngobrol sebentar untuk melepaskan rasa rindu, lalu kami meninggalkan Terminal Bus Internasional Ambawang – Pontianak {Kal-Bar} itu.

Namun sebelum itu, aku salami teman-teman seperjalanan yang masih berada disitu. Serta tidak lupa, kami mengucapkan terima-kasih kepada petugas dinhub yang telah membantuku.

Disepanjang perjalanan, aku yang merasa penatnya melakukan perjalanan jauh itu, terpaksa harus melayani obrolan sahabat-karibku yang telah lama tak berjumpa itu.

Bersambung........

16/06/2026

Kisah Nyata / Kisah Sebenar, lanjutan....
Part44a
"IMPIAN TERAKHIR V"

Namun baru seteguk aku meminumnya, lalu sang sopir memberi tahu bahwa perjalanan akan segera dilanjutkan. Dan setelah semua penumpang berada didalam bis, lalu sang sopirpun memulai memutar kemudi bisnya.

Perlahan-lahan, bis itupun meninggalkan Rumah-Makan ‘Padang’ itu. Dan setelah memasuki jalan utama, bis itupun melaju dengan kecepatan tinggi.

Aku tidak khawatir dengan kelajuan bis itu, karena jalanan yang masih mulus serta dalam keadaan lengang. Namun ada pemandangan yang aneh diseberang tempat dudukku. Aku melihat salah seorang dari Cewek Bule itu sepertinya sedang mabuk perjalanan.

Aku terpaksa menyembunyikan senyumku, karena aku tidak ingin kedua cewek Bule itu tersinggung karena ulahku. Aku yang selama ini menggaggap bahwa orang barat itu tidak bisa mabuk perjalanan, tapi ternyata salah!

Buktinya didepan mataku turis bule itu mabuk perjalanan yang cukup parah. Tapi aku tak pasti, apakah ia benar-benar mabuk perjalanan atau mabuk karena makan ayam goreng di restaurants tadi.

Tapi mustahil! Jika makan ayam goreng saja bisa mabuk sampai muntah-muntah, sedangkan temannya nampak sehat-sehat saja. Tapi entahlah…………. Yang pasti! Tidak ada yang mustahil didunia ini, siapapun dan bagaimanapun bisa saja mengalami hal yang sama.

Bis terus maju dan melaju, namun kadang harus terkendala oleh truck-truck pengangkut material untuk pembangunan jalan itu. Si Bule yang sedang mabuk perjalanan itu nampak tertidur pulas, sementara temannya yang kebetulan tidak mabuk itu menjaganya dengan penuh perhatian.

Sementara itu…………… aku duduk mematung ditempat dudukku. Aku tidak tahu, kenapa aku mesti melakukan perjalanan itu? Aku sepertinya hanya menunaikan nazarku, serta demi rasa manusia dan kemanusiaan itu saja. Namun hati kecilku seraya menolak semua itu.

Dan aku juga tidak perduli akan akhir dari perjalananku itu. Sampai ketujuan ataupun tidak, itu bagiku tidak penting lagi. Dan rasa-rasanya, aku enggan untuk turun dari bis itu jika perjalanan itu berakhir nantinya.

“Terminal Bus Internasional Ambawang-Pontianak”
Sepertinya aku enggan untuk mengakhiri perjalanan itu, namun tiba-tiba bis yang aku tumpangi itu memasuki kawasan yang asing bagiku. Kawasan yang masih dalam taraf pembangunan itu bertuliskan “Selamat Datang Di Terminal Bus Internasional Ambawang-Pontianak” Kalimantan-Barat INDONESIA.

Aku terkejut! Apalagi banyak sekali aparat keamanan yang bertugas disitu, mereka meminta agar kami semua turun dari bis itu. Namun sang sopir bis itu diam saja, ia tidak memberi arahan apapun kepada penumpangnya.

Aku yang kebingungan itu tetap diam ditempat duduk, lalu aku bertanya kepada seorang penumpang perempuan yang juga sama-sama panic sepertiku. “Ada apa ini?!!!..............”

Sambil mengemas barang-barangnya dan mencari tempat persembunyian, perempuan keturunan China setengah baya itupun menjawab pertanyaanku. “Kita semua harus turun disini…………….!!!”

Dan aku menjadi lebih terkejut lagi. “Haaa…………….. Kita harus turun disini? Kita kan belum sampai ditempat tujuan?...............”

Kemudian perempuan setengah baya itu menjawabnya. “Sekarang semua bis harus menurunkan penumpangnya di terminal ini, tidak boleh turun di agennya lagi.”

Lalu aku bertanya lagi kepadanya. “Ini didaerah mana? Bukankah terminal bisnya ada di Batu-Layang?................”

“Bukan………………… Ini terminal baru! Baru beroperasi beberapa hari ini saja.” Perempuan itu memberi penjelasan kepadaku.

Sopir bis yang aku tumpangi itu turun dari tempat duduknya dan entah pergi kemana? Maka didalam bis tinggallah kami berdua. Para petugas yang sejak tadi mengamati kami, lalu salah seorang dari mereka memasuki kedalam bis.

Ia kembali meminta agar kami turun dari bis, para petugas dari dinas perhubungan darat ini sangat santun. Mereka hanya menghimbau agar kami semua mahu turun dari bus, tanpa ada pemaksaan apalagi kekerasan.

Aku menoleh kebelakang kearah perempuan setengah baya yang berbincang denganku tadi, namun ia sudah bersembunyi dibawah kursi tempat duduknya. Aku tidak mahu lagi mengganggunya, aku hanya duduk mematung ditempat dudukku.

Didalam bus yang nampak hanya tinggal aku seorang, akupun mulai gelisah dengan suasana yang seperti itu. Dan kembali……………. Petugas dari dinhub menghimbau melalui pengeras suara. “Bapak bapak, ibu ibu………….. Silahkan turun dari bis. Kami akan membantu bapak bapak dan ibu ibu semua, jangan takut bapak bapak, ibu ibu………….

Kami semua adalah petugas dari dinas perhubungan yang ditugaskan untuk membantu bapak bapak, ibu ibu serta saudara-saudara sekalian. Silahkan turun! Dengan senang hati, kami akan membantu anda semua.”

Bersambung........

15/06/2026

Kisah Nyata / Kisah Sebenar, lanjutan......
Part43a
"IMPIAN TERAKHIR V"

Si tukang rujak itu walaupun merasa kecewa, namun ia tetap tersenyum dengan ramahnya. Dan aku yang masih tidak percaya jika harga sepiring rujak itu seharga Lima Belas Ribu Rupiah, dengan tegasnya aku menjawab. “Enggak jadilah Bang………………!!!”

Lalu akupun langsung ngeloyor meninggalkan tukang rujak itu sendirian, yang nampaknya ketika itu sedang sepi pembeli. Aku terus berjalan menuju bis yang aku tumpangi, sebab aku tidak ingin awak bis mencari-cariku karena aku terlambat datang.

Namun ternyata………………….Baru ada beberapa orang saja yang ada didalam bis tersebut. Namun aku teruskan saja langkahku untuk menaiki bis itu, dan duduk semula dikursi yang sesuai dengan nomor yang tertera didalam ticketku.

Bagiku……………Tiada mengapa aku menunggu penumpang lain datang, daripada penumpang lain dan awak bis harus menunggu kedatanganku.

Akan tetapi…………….. Baru beberapa detik aku duduk, perutku yang sedari pagi hanya aku isi dengan minuman Sprite itu terasa keroncongan.

Kemudian……………. Akupun kembali berdiri dan terus aku langkahkan kakiku, menuju pedagang tahu goreng yang bersebelahan dengan pedagang rujak tadi.

Sembari tersenyum ramah, si penjual tahu goreng itu menyapaku dengan logat khasnya Jawa-Barat. “Tahu Bang! Masih keneh hangat………………!!!”

Akupun membalas senyumannya itu sambil bertanya. “Berapa satu?..................”

“1 Biji Satu Ribu Rupiah Bang………………..” Jawab si penjual tahu tersebut.

“Haaa?................... 1 Biji sebesar ini satu ribu rupiah?..............” Ucapanku sambil memperhatikan gerobaknya yang bertuliskan ‘Tahu Sumedang’ itu.

Kemudian si penjual tahu-goreng itupun menjawab pertanyaanku. “Emang harganya segitu Bang! Nanti kalau kami jual Lima Ratus Rupiah, kami rugi Baaaang……………. Harga Kedelai sudah mahal sekarang.”

Lalu aku bertanya kepadanya. “Kamu berasal dari mana?....................”

Kemudian iapun menjawabnya. “Dari Jawa-Barat Bang...................”

Lalu aku kembali bertanya kepadanya. “Bener nich! Tahu Sumedang?...................”

Si penjual tahu goreng itu sangat berhati-hati, dengan jawaban yang ia berikan. “Yang bikinannya asli orang Sumedang Bang, tapi buatnya disini………….”

“Ya udah! Bungkusin 10 biji saja ya?................” aku menyudahi obrolan itu, karena bis yang aku tumpangi sebentar lagi akan melanjutkan perjalanannya.

“10 Biji aja cukup Bang?.................” si penjual tahu itu berusaha membujuk aku, agar aku menambahnya lagi.

“Cukuuuup!.............” jawabanku singkat saja.

“Mau pake cabe Bang?................” ia bertanya lagi kepadaku.

Kemudian akupun menjawabnya. “Boleeeeeeeeh!....................”

Si penjual tahu goreng itu membubuhkan beberapa biji cabe muda kedalam bungkusan tahu itu. Lalu akupun membuka isi dompetku, untuk mencari selembar uang yang bernilai 10,000 rupiah.

Namun aku terlalu lama untuk mendapatkan pecahan uang senilai sepuluh ribu rupiah, karena aku memang tidak biasa menggunakan duit rupiah. Kemudian pedagang tahu tersebut bertanya kepadaku. “Tidak ada uang rupiah Bang? Bayar pake ringgit juga bisa kok Bang……………….”

Lalu akupun berkata kepadanya. “Adaaaa………………!!! Sorry! Sudah tua, lagian aku tidak biasa menggunakan uang rupiah.”

Kemudian si penjual tahu goreng itu bertanya lagi kepadaku. “Di Malaysia kerja Bang?.................”

Lalu akupun menjawab pertanyaannya itu. “Iya…………”

Dan sambil memberikan sebungkus tahu goreng yang sudah aku beli itu kepadaku, si penjual tahu goreng bertanya lagi. “Kerja apa Bang Malaysia?...............”

“Kerja di pabrik.” Jawabku singkat!

Aku sengaja seirit mungkin dalam memberikan jawaban dari setiap pertanyaan-perpertanyaan, dari orang yang belum aku kenal sebelumnya. Karena itu adalah satu-satunya jurus untuk menghindari segala kemungkinan-kemungkinan yang tidak aku inginkan.

Namun si pedagang tahu-goreng itu terus melancarkan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. “Kerja disana enak ya Bang?..................”

Aku yang hendak melangkah meninggalkan gerobak tahunya itu terpaksa berhenti sejenak, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin aku jawab. “Yaa, relative………… Terima-Kasih ya………….” Aku terus ngeloyor menuju bis yang sebentar lagi akan melanjutkan perjalanan itu.

Akupun segera membuka bungkusan tahu-goreng yang baru saja aku beli, lalu menyantapnya karena perutku terasa begitu lapar. Seperti lazimnya di Indonesia tidak syah jika menyantap tahu-goreng tanpa cabe rawit.

Tapi aku merasa ngeri jika harus melalap cabe seperti kebanyakan orang Indonesia, namun hambar rasanya jika kita makan tahu-goreng tanpa ada rasa pedasnya. Lalu aku memilih sebiji cabe rawit yang masih muda dan menggigit ujungnya saja, karena aku takut dengan biji-biji cabe yang katanya sulit untuk dicerna itu.

Aku terus menyantap tahu-goreng yang bisa aku nikmati ketika aku pulang ke Indonesia saja, itu sebanyak 5potong. Dan selebihnya aku simpan untuk aku makan bila perutku terasa lapar lagi.

Setelah itu………….. Aku mengambil minuman wajibku ketika aku sedang dalam perjalanan yaitu: ‘Sprite’. Yach! Untuk menghilangkan rasa mual diperjalanan, aku selalunya membawa Sprite ataupun Coca-Cola.

Bersambung.......

14/06/2026

Kisah Nyata / Kisah Sebenar, lanjutan......
Part42a
"IMPIAN TERAKHIR V"

Dengan logat khas jawanya, ia berkata kepadaku. “Oalah Mbah, Mbaaaaah………. Mbah, kirain apa?............”

Lalu akupun menyahutinya. “Dasar wong tuwo, hahaha……………….” Yach! Mereka tidak menyangka, kalau isi tas yang aku bawa itu isinya Laptop serta peralatan computer lainnya.

Dan setelah itu………….. Akupun segera pasang muka secuek mungkin, untuk menghindari para preman yang telah menungguku dipintu keluar itu.

Aku melintas didepan para cecunguk-cecunguk itu, namun anehnya………… Mereka tidak mengganggu aku sama-sekali. Lalu akupun segera memasuki Bis Antar Negara yang telah lama menungguku.

Pelan serta perlahan, bis sudah memasuki kawasan Indonesia maju dan melaju dijalanan yang semakin melebar nan mulus itu. Yach! Jalan utama Entikong-Pontianak, yang pada tahun-tahun sebelumnya adalah kecil/sempit, berliku serta penuh lobang disana-sini, kini semakin tertata rapi.

Entah! Itu merupakan hasil kerja pemerintahan Presiden Jokowi, atau mungkin kemajuan jaman yang tidak bisa dibendung lagi. Siapapun pemimpinnya.

Jika dahulu…………. Minibus penuh penumpang yang berjubel, sampai ada yang berada diatas kendaraan, kini sudah tiada lagi. Entah! Mungkin kebetulan kami tidak berpampasan dijalan dengan mereka, ataupun mungkin kesadaran masyarakat akan kesehatan diri serta orang lain sudah mulai meningkat.

Atau mungkin semua ini adalah hasil kerja pemerintah daerah?............... Entahlah! Yang pasti, sepandai manapun pemimpinnya, jika rakyat tidak ingin merubah keadaan untuk menuju kehidupan yang lebih baik lagi, maka…………… Kemajuan sebuah bangsa itu sulit untuk dicapai.

Aku yang sebelumnya yang malu menjadi warga Negara Indonesia, kini aku mulai mencintai lagi negeri kelahiranku itu. Namun aku masih tetap belum bangga menjadi warga Negara Indonesia. Karena kehidupan social dan budayanya yang aku anggap masih jauh dari yang aku harapkan.

Bis yang aku tumpangi terus melaju dijalanan yang masih belum rampung sepenuhnya itu. Terkadang kami harus melewati jalanan yang becek serta berdebu, karena kerja-kerja sedang dijalankan.

Dua orang cewek bule yang duduk berseberangan denganku, tersenyum kepadaku. Akupun membalas senyuman itu semanis mungkin, meski aku tidak menyapanya. Karena memang aku tidak menguasai bahasanya.

Dan ketika waktunya istirahat untuk makan siang, kedua orang bule yang ramah itu kembali tersenyum kepadaku. Namun lagi-lagi………….. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman, dan segera menghindar darinya karena takut diajak ngobrol oleh kedua orang bule yang entah dari mana asalnya itu.

Maklum! Aku tidak menguasai bahasa Inggeris, jadi mahu tidak mahu aku harus selamatkan mukaku sendiri agar tidak kena malu. Selain itu…………. Aku juga kurang menyukai masakan Padang yang menjadi menu utama Restaurants tersebut.

Aku lebih memilih jajanan kaki-lima yang mangkal didepan Restaurants itu. Tidak banyak pilihan, karena hanya ada dua orang pedagang kaki lima yang mangkal disitu. Tukang Rujak dan tukang Tahu Sumedang.

Aku bayangkan mungkin enak makan rujak ditengah hari ketimbang makan tahu goreng khas Sumedang. Lalu akupun berjalan mendekati tukang rujak tersebut.

Lalu dengan ramahnya si tukang rujak menawarkan dagangannya kepadaku. “ Rujak, Baaaaang……………………!!!” dan sekali lagi, ia mengulangi senyumnya seramah mungkin.

Aku sebenarnya muak dengan reaksi yang berlebihan itu, namun aku juga harus tetap menghormatinya. Sambil sedikit tersenyum, aku bertanya kepada tukang rujak tersebut. “Rujak berapa Bang?......................”

Kemudian Abang Tukang Rujak itupun menjawab pertanyaanku dengan sangat ramahnya. “Biasa Bang, lima belas saja! Hehehe………………”

Aku yang tidak biasa menggunakan uang Rupiah itu nampak kebingungan, lalu akupun bertanya lagi kepada Si Penjual Rujak itu. “Lima belas apa?........................”

“Lima Belas Ribu Rupiah Bang……………………” Abang tukang rujak itu menjelaskan kepadaku, dengan mimik muka yang agak kesal.

Aku terkejut! Aku pikir si tukang rujak itu ingin memeras aku, dengan menjual dagangannya lebih dari harga yang seharusnya. Dengan nada protes! Aku berkata kepadanya. “Haah! Apa?................... Limas belas ribu Rupiah? Mahal amaaaaat?....................”

Lalu tukang rujak itupun berkata kepadaku. “Bang………….. Harganya emang segitu! Kami ambil untungpun enggak seberapa, semua harga barang-barang sekarang sudah mahal Bang………………… Gimana, jadi dibikinin enggak Bang?...................”

Bersambung.......

13/06/2026

Kisah Nyata / Kisah Sebenar, lanjutan.....
Part41a
"IMPIAN TERAKHIR V"

Kemudian iapun menjawab pertanyaanku itu. “Saya mau ke Jakarta Om…………………….”

Orang ini sepertinya sengaja membuat aku bingung! Apakah ia balas dendam terhadapku, karena aku tak mempedulikan ketika ia pertamakali menyapaku?.................. Entahlah! Yang pasti, aku tak pernah berniat mengecewakan siapapun.

Lalu ia berbicara lagi kepadaku. “Mas, Mas ini ada bau-bau jawa ya?........................”

Aku keki dengan orang yang satu ini, rupanya ia benar-benar mempermainkan aku. Kemudian akupun menjawabnya. “Oooo, rupanya kamu pandai cium bau seseorang ya?...................”

Lalu iapun menjawabnya. “Bukan begitu Bang! Maksudku…………….. Apakah Akang ini ada keturunan dari jawa?.........................”

Aku benar-benar merasa telah dipermainkan olehnya. Tapi aku tidak marah terhadapnya, karena aku sadar telah membuatnya kecewa! Namun kali ini aku telah benar-benar dibuatnya kesal, lalu sambil tertawa lebar, aku berkata kepadanya. “Hahaha……………… Tadi kau panggil aku Encik, Om, Abang. Sekarang Akang. Trus sebentar lagi kamu panggil aku apa?..................”

Lalu ia bertanya lagi kepada. “Trus…………. Bapak mahunya dipanggil apa?....................

Aku merasa benar-benar telah dipermainkan olehnya, namun aku menyadari mungkin ia juga telah merasa kecewa dengan sikapku dalam beberapa jam yang lalu.

Aku berusaha agar aku bisa lebih akrab lagi dengannya, tapi sepertinya ia sudah berubah hati serta menjadi jinak-jinak Merpati.

Aku semakin merasa penasaran dengannya, tapi apaboleh buat?............ Waktu untuk mengobrol sudah habis! Dan kami harus kembali ketempat duduk masing-masing, karena bis yang kami telah sampai didepan tempat kami menunggu.

Kami kembali menaiki bis antar Negara itu, untuk meneruskan perjalanan kami. Namun sebelum itu, kami harus turun dari bis lagi untuk chop masuk ke Indonesia.

Dan sang driver buspun kembali mengingatkan para penumpang, agar turun dari bis untuk chop passport masuk ke di counter imigrasi Indonesia.

Entah kemana perginya teman-teman seperjalanan, sehingga aku sendirian untuk chop masuk ketanah-air. Mungkin hari sudah menjelang sore, sehingga suasana disekitar perkantoran yang sedang dalam renovation itu terasa sunyi dan sepi.

Sehingga seorang preman perbatasan yang mungkin sejak lama telah memperhatikan gerak-gerikku, yang pada akhirnya mendekati aku dengan berpura-pura sebagai money-changer. Ia setelah memaksa agar aku mau menukarkan uang Ringgitku kepadanya.

Dan setelah passportku dichop masuk oleh seorang petugas imigrasi, si preman yang telah menungguku itu memaksa aku agar mengikuti arahannya untuk menggunakan jalan keluar dilorong sempit nan sunyi.

Aku tahu! Orang itu akan berbuat jahat terhadapku, aku berpikir sejenak untuk mencari jalan agar aku terhindar dari niat jahat orang tersebut.

Orang tersebut marah dan berbicara kasar terhadapku, karena ia tahu bahwa aku sedang mencari jalan untuk menghindar dari terkamannya. Ia berkata kepadaku. “Hey! Sini goblog!!!.................. Mahu kemana kamu? Jalan keluar hanya disini! ”

Orang-orang sekitar sepertinya tidak perduli dengan semua itu termasuk petugas imigrasi, mereka seolah-olah membiarkan para preman-preman itu beraksi.

Aku semakin sakit hati dengan ulahnya, untuk itu…………… Aku nekat memasuki sebuah pintu yang berada disamping ruang petugas imigrasi yang sedang bertugas itu. Dan ternyata, itu merupakan pintu keluar yang sebenarnya.

Aku yang membawa tas sederhana yang berisikan Laptop itu, diarahkan orang seorang petugas imigrasi agar tas yang aku bawa itu dimasukan kedalam mesin pendeteksi.

Lalu akupun dengan senang hati melakukannya, karena aku merasa sudah terselamat dari ancaman kejahatan dari salah seorang ‘Preman Perbatasan’.

Namun rupanya sang petugas imigrasi itu mencurigai isi didalam tas yang aku bawa itu. Lalu mereka meminta izin kepadaku untuk membuka tas yang aku bawa tersebut.

Aku sedikit merasa deg-degan, karena yang seperti itu merupakan hal yang baru bagiku. Apalagi didepan pintu keluar, preman yang akan berbuat jahat terhadapku tadi sudah menunggu bersama dengan beberapa orang temannya.

Namun aku berusaha setenang mungkin! Dan sedikit bergurau dengan seorang petugas imigrasi yang mencurigai isi tasku tersebut, karena iapun bercanda denganku setelah ia tahu isi didalam tas yang aku bawa tersebut.

Bersambung..........

Address

Deskap
Kubu
78234

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Thok Dien69 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category