Thok Dien69

Thok Dien69 Nemu Magang
Kami mempuyai 7 jilid buku Kisah Sebenar (Kisah Nyata), jika ada yg berminat bisa hubungi kami.

12/08/2026

Kisah Nyata / Kisah Sebenar, lanjutan....
Part18f
"Impian Terakhir VII"

Dan aku yg sudah tidak sabar untuk segera menyesuaikan segala permasalahan ini segera menjawabnya. “Boleh…..!!! Eee….. Maaf! Bapak ini orang Malaysia atau Indonesia….?!!!” Kataku selanjutnya.

Kemudian iapun menjawab. “Saya orang Malaysia, tapi saya bini orang Indon (Sambas), Eee…… aku bagi nomor kamu ke orang yang nanti jemput kamu ya…. ?!!! Nanti kamu cakap sama dia ya….?!!!”

Aku sedikit merasa lega karena ada angin segar yang bertiup, dan akupun segera menjawabnya dengan singkat. “Ok, ok.Terima-kasih….”

Setelah itu kami intens berkomunikasi dengan Agen Jasa untuk para TKI kita, yg telah ditunjuk oleh si bapak Ejen dari Malaysia tadi. Dan kami telah bersepakat untuk berangkat sesuai dengan tanggal yg telah ditentukan.

Dan singkat cerita kami telah sampai diperbatasan Indonesia – Malaysia tepatnya di Arok (Sambas) Kalbar – Biawak (Malaysia) Serawak. Walau sempat kesel karena Mobil (Travel) yg kami tumpangi Bannya Kempes ditengah hutan.

Kami datang diperbatasan disambut oleh seseorang yg sedikit kurang ramah, dan rupa-rupanya dia itu Agent yg secara intens menghubungi aku beberapa hari terakhir.

Singkat cerita kami terus berganti mobil, dari mobil Travel yang membawa aku dari Pontianak Perbatasan lalu naik mobil Kijang menuju Border pintu masuk imigrasi Indonesia – Malaysia.

Sesampainya disana aku diarahkan untuk berbaris ngatri untuk Chop keluar dari Indonesia, seperti halnya yg lain dan memang begitu seharusnya.

Namun dari sekian banyak hanya aku saja yg ditolak untuk keluar dari Indonesia, dengan alasan Permitteku sudah mati. Pihak imigrasi Indonesia tidak menerima alasanku ingin memasuki Malaysia.

Namun ada satu orangpegawai imigrasi yg baik, yang mahu memberikan izin aku untuk memasuki Malaysia dengan memberikan Chop Passportku.

Aku merasa lega karena sudah mendapat Stempel keluar dari Indonesia. Aku pikir akan mulus-mulus saja, sebab sebelum sampai ke depan Counter imigrasi Malaysia Ejen yg dari Malaysia sudah menjemput aku.

Namun tiada kusangka dan tiada kuduga, aku ditolak oleh imigrasi Malaysia dengan alasan Passport aku kena Blacklist. Lalu aku bertanya kepada Ejen (Malaysia). “Boss….. Tak boleh tolong kah…..?!!!”

Lalu iapun menjawab. “Tidak boleh ho…………” Yah! Apaboleh buat……?!!!

Aku yang kesal kelewat keubun-ubun itu lalu menghubungi Miss Boon, melalui sambungan Aplikasi WhatsApp. “Hello Miss…… Saya tidak dapat masuk ho……….”

Kemudian Miss Boon pun menjawab. “Apahal tidak dapat masuk…….?!!! Mana itu Uncle Sam…….?!!!”

Dan aku yg sudah kelewat kesal dengannya karena tidak dapat urus dengan baik, lalu menjawab singkat dengan nada ketus. “Sudah balik…..!!!” lalu akupun segera menyudahi panggilan itu.

Setelah itu aku berjalan menuju Counter imigrasi Indonesia untuk mengcancel Chop keluar dari Indonesia. Namun ketika aku sedang berada tepat didepan Counter, tiba-tiba hpku berbunyi. Dan setelah aku lihat rupanya Uncle Sam yang menghubungi aku.

Lalu akupun segera menjawabnya. “Hello……. Apahal Boss……..?!!!”

Kemudian iapun menjawab. “Eee….. Sudin, kamu mau masuk lewat hutan kah…………?!!!

Aku yang sedang naik darahpun semakin marah dibuatnya, kemudian aku menjawab dengan nada yang tidak bersahabat. “Apa…..?!!! Sudah gilakah……….?!!!”

Dan tanpa basa-basi, aku langsung mengakhiri pembicaraan itu. Setelah itu, aku lihat banyak sekali panggilan masuk dan pesan yg tak terbalas dari Miss Boon.

Bersambung........

08/08/2026

Kisah Nyata / Kisah Sebenar, lanjutan.....
Part16f
"Impian Terakhir VII"

Jujur………… aku merasa nyaman berada didalam travel itu, dan sepertinya aku tidak ingin usai dalam perjalanan itu. Karena aku tak tahu harus kemana, dan harus bagaimana?!!! Karena aku hanya sebatang kara.

Di Pontianak aku menumpang dirumah teman semalam, paginya aku keluar mencari rumah Kost. Lalu sore harinya aku pindah ke kamar Kost. Dirumah Kost aku agak tenang, karena aku merasa bebas tidak menyusahkan orang lain, tidak merugikan orang lain.

Setelah agak tenang, mencoba ke Konsulat Jendral Malaysia, untuk meminta visa masuk ke Malaysia. Aku kemukakan semua permasalahanku, namun pihak Konsulat tidak bisa membantu. Karena itu adalah urusan keimmigrasian, beliu menyarankan agar aku berkirim surat ke Jabatan Imigresen Malaysia.

Kembali aku berharap Jabatan Imigresen Malaysia mengabulkan permohonan aku, namun aku belum mendapat balasan hingga saat ini. Menanti dan terus menanti sesuatu yg tak pasti.

Makan tidur dan bayar Kost tanpa ada pemasukan itu sesuatu banget! Dan sudah hampir masuk bulan ke 2, masih juga belum ada kabar beritanya. Aku yg sudah biasa bekerja dengan pemasukan yang cukup lumayan, kembali menjadi Hardolin (Dahar, Modol & Ulin).

Aku mencoba menghubungi rekan yang ada di Perbatasan, aku bertanya apakah bisa Passportku yg diblacklist bisa dipergunakan masuk Malaysia lagi………..?!!! jawabnya bisa, tapi harus bayar mahal.

Aku yang merasa mendapat angin segar itu lalu menghubungi Mantan Boss aku, untuk meminta pertimbangan. Namun mantan Boss aku itu melarangnya, dan menyarankan agar tahun mendatang yaitu 2023 saja aku masuk kembali ke Malaysia.

Hari-hariku hanya makan tidur saja didalam kamar Kost, meski terasa boring namun tak tahu harus bagaimana? Ingin rasanya bekerja seperti dulu lagi, tapi harus kerja apa dan mencari kerja dimana?

Didalam kebuntuan pikiranku. Aku mencoba menawarkan hasil tulisanku selama bertahun-tahun, kebeberapa stasiun tv dan para Sutradara film melalui media social mereka. Namun belum juga ada tanggapan.

Ya, aku selalu berharap ada pihak yg sudi mengorbitkan karyaku yang pertama dan mungkin juga yang terakhir. Karena sangat disayangkan jika karya & impianku bertahun-tahun akan hilang tak berbekas dan tiada manfaat untuk diri dan orang lain.

“Aku Mulai Nyaman”
Jika dihari-hari sebelumnya aku begitu galau, karena sudah terbiasa bekerja dan punya pendapatan tetap. Tentu bisa dibayangkan jika mendadak jadi Pengangguran yg hanya makan – tidur dan harus bayar kontrakan.

Aku yang mulanya keluyuran tak tentu arah mulai berpikir, ‘Duit yang aku habiskan untuk ongkos naik Angkot kesana-kemari’ lebih baik untuk makan aku sehari-hari. Namun aku juga menjadi takut jika ini akan keblablasan, dan menjadikan aku terus bermalas-malasan.

Karena pada dasarnya aku bukan tipe orang yang mengejar-ngejar harta, aku cukup nyaman dengan hidup yang sederhana dan apa adanya. Impanku untuk hidup tenang sudah aku rasakan, namun aku juga tidak memungkiri bahwa hidup yang benar-benar Aman, Nyaman & Damai diperlukan harta sebagai penunjangnya.
“Geraaaam……..!!!”

Setelah menunggu, menunggu dan menunggu. Winnie Woon akhirnya meneleponku melalui Aplikasi WhatsApp, “Hello…. Kamu mahu masuk Malaysia lagi kah?.....” tanyanya dari ujung sana.

Lalu aku yang sudah tidak sabar menunggu untuk segera membereskan asset-asetku yg masih tertinggal di Malaysia itupun segera menjawabnya. “Iya Miss, mahu……..”

Kemudian Miss Boon itu berkata lagi kepadaku. “Tapi mahu bayar ho’………… “ Aku tidak keberatan meski harus merogoh kocekku, asalkan aku segera bisa masuk tanpa ada hambatan.

Lalu aku bertanya kepada Miss Boon. “Bayar berapa Miss………?!!!” kemudian Miss Boon pun segera menjawabnya. “Ribu, Tiga Ratus, Dua Lima Puluh Ringgit Malaysia.”

Aku terkejut dengan angka yg disebutkan, sebab bagiku itu terlalu tinggi. Karena kawan yg biasa membantu para TKI kita hanya minta 700 Ringgit Malaysia saja, lalu akupun segera menolak tawaran itu dengan berkata. “Haaa……?!!!. Ribu, Tiga Ratus, Dua Lima Puluh Ringgit Malaysia…..?!!! Tidaklah……!!!” Jawabanku singkat & tegas itu menandakan ada kecurigaan tertentu.

Bersambung.......

06/08/2026

Kisah Nyata / Kisah Sebenar, lanjutan....
Part15f
"Impian Terakhir VII"

Dan dari kesemua itu yang paling membuatku miris adalah meminta sedekah. Mungkin yang lebih tepatnya adalah ‘Palak’, mereka meminta seikhasnya. Tapi setengah memaksa bagi mereka yang menitipkan uangnya disitu, di Jabatan Imigresen Malaysia.

Dari hasil Pungli itu dibelikan KFC dsb, untuk dimakan rame-rame sesamanya. Aku terselamat & tidak termasuk orang yang dipalak, karena aku tidak menitipkan uang disitu.

Setelah mereka selesai makan-makan, Truck yang akan membawa kami ke Perbatasan pun datang. Kami-kami yang sudah tidak memakai baju tahanan, dan sudah tidak digari lagi itu berbaris untuk melakukan Ritual yang terakhir kalinya.

Disitu Cikgu berpesan serta memberi arahan kepada kami semua, agar tidak mengulangi kesalahan – kesalahan yang pernah terjadi. Setelah itu Truck pun berjalan menuju ke Perbatasan Malaysia – Indonesia. -

Mungkin itu adalah Perjalanan yang menyedihkan, kami ditendang dari Malaysia dengan tidak hormat. Dan sesampainya kami diperbatasan, kami menunggu proses keimigrasian. Dan setelah selesai, kami baru diturunkan.

Malu dan malu untuk yang kesekian kalinya, kami kembali disuruh berbaris dan diberi pesan-pesan serta arahan. Baik dari Jabatan Imigresen Malaysia dan dari KJRI Kuching Sarawak Malaysia.

Tak kurang dari 100 orang pada setiap 2 minggu sekali, Imigresen Malaysia yang bekerja – sama dengan KJRI Kuching memulangkan WNI atas berbagai kasus.

100 orang pada setiap 2 minggu, jika setahun sudah berapa……..?!!! Itu baru di Kuching saja, belum di negeri-negeri bagian lainnya.

Sedih memang sedih melihat nasib bangsa ini, dan malu semalu-malunya kita direndahkan oleh bangsa lain. Seakan-akan kita ini menjadi sampah di Negara lain.

“Terlantar………….”
Setelah melalui proses yang bertele-tele, akhirnya aku bisa mendapatkan passportku lagi. Entah peraturan apa dan bagaimana aku tidak tahu?!!! Yang pasti keimigrasian Indonesia, tidak mahu memberikan passport orang yang sudah di Deportasi.

Menurut kabar angin. Dalam jangka 1 minggu passport baru bisa diambil, itupun harus bayar 2 juta Rupiah. Hanya aku saja yang bisa mengambil passport langsung, tanpa harus membayar 1 senpun. Itu semua berkat bantuan dari KJRI Kuching, khususnya Bapak Sony yang mengurus pemulangan kami.

Meski aku selamat sampai tujuan, namun masih ada yang mengganjal dan menjadi bahan pertanyaan bagiku. Sebelum dipulangkan ke Indonesia, pihak KJRI telah mendata kami dengan baik. Dari nama dan alamat lengkap di Indonesia, serta bla….bla…bla….. lainnya.

Dan seperti yang pernah aku dengar sebelumnya, orang dideportasi dipulangkan ke daerah asal masing-masing. Tapi yang kami alami, kami dibuang begitu saja diperbatasan.

Lalu bagaimana dengan nasib orang yang tidak punya uang sepeserpun……?!!! Apakah mereka harus menjadi Gelandangan…..?!!! Bukan mencari pekerjaan di Indonesia Bro…… Beda jauh! Indonesia dengan Malaysia, di Malaysia asal orang mahu kerja pasti dapat kerja. Lha di Indonesia …..?!!! Orang setengah mampus untuk dapat kerja.

Jarum jam telah menunjukan pukul 17:00 waktu Indonesia bagian barat, aku lalu bergegas menemui temanku yang telah menunggu lama. Kami singgah sebentar di warung untuk melepaskan lelah dan dahaga.

Setelah itu kami menuju Semangit kerumah teman, untuk menumpang tidur dan melepaskan kekusutan. Dan setelah 2 hari menumpang makan & minum, lalu aku sendirian ke Pontianak dengan menggunakan travel.

Bersambung......

05/08/2026

Kisah Nyata / Kisah Sebenar, lanjutan..
Part14f
"Impian Terakhir VII"

Ia yang orang Batak ini ternyata tak sampai disitu. Ketika aku sudah bangun di awal subuh, dan berbaring lagi menunggu pagi menjelang. Dia sudah berada disampingku, dan bertanya. “Sudah mandi Bang………..?!!!”

Akupun terpaksa harus berbohong, karena aku tidak mahu berpanjangan dan bertele-tele. Ya, aku jawab. “Sudah…..!!!” sambil terus membungkus tubuhku dengan selimut.

Ketika jarum jam telah menunjukan pukul 07:00 pagi waktu setempat, aku sudah siap-siap menunggu panggilan untuk diberangkatkan. Dan ketika jarum jam mendekati pukul 09:00 barulah Cikgu datang membuat pengumuman.

Dan seperti biasanya kami harus melakukan ‘Ritual’ untuk Petugas yg berjaga saat itu, sang Penghulu memimpin upacara tersebut. “Selamat Pagi Cikgu…………..” lalu dikuti anak muridnya secara bersamaan.

\Namun seperti biasanya. Aku tidak pernah mau mengikuti Ritual yang begitua. Kemudian si Cikgu yang hari itu moodnya agak baik, iapun menjawab. “Selamat Pagi……. Apa kabar semua baik……………?!!! Semua sehat………..?!!!”

Kemudian merekapun menjawab. “Baik Cikgu, seua sehat…………” lalu si Cikgu melanjutkan ucapannya. “Hari ini ada pengurangan, yang saya sebut namanya siap-siap dan bawa barang.”

Hanya 4 orang termasuk aku yang dipanggil, ada 2 orang lagi yang seharusnya bebas bersama dengan kami. Namun namanya tidak masuk dalam daftar, mungkin SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor)nya belum jadi. Sebab 2 orang itu tidak memilliki dokumen resmi.

Terpaksalah 2 orang ini menunggu Pembuangan yg berikutnya, malangnya yang 1 orang itu merupakan orang yang meminta aku untuk tidur awal dan bersiap-siap lebih awal.

Ya, kasihan………. Padahal ia sudah berdandan rapi, baju Tahanan yang ia kenakan sudah dikasih orang. Eh, malah dia yang tertinggal. Padahal rencanya ia mau ikut dengan kami orang, sebab ia tiada tempat tujuan dan juga tiada uang.

Selain group kami 8 orang, dari blog lain juga ada yang dibebaskan. Dan ternyata……… Dipejabat atas telah banyak yang berkumpul untuk menunggu, pemberangkatan pulang ketanah – air.

Kurang – lebih ada 100 orang yang menungu proses pemulangan, dan pihak Imigresen Malaysia kembali mendata kami satu persatu untuk proses pengambilan barang dsb.

Dan ternyata…….. Barang-barang yang disimpan disitu tidak aman! Banyak diantara kami yang kehilangan barang, sepatu, baju dan lain2nya. Barang-barang itu diambil atau dicuri oleh orang-orang yang lebih dulu dibebaskan.

Mereka mengambil barang yang bukan milliknya, hal demikianlah yang menambah ‘Buruk Citra’ bangsa kita ‘Indonesia Raya’. Jangankan Tas, Sepatu, Baju/Celana yang bagus, sepatu & topi kerjaku yang burukpun ikut dicuri.

Dan akupun terpaksa pakai sandal buruk yang entah siapa punya, tak kan lah aku pulang ke Indonesia dengan berkaki ayam……..?!!! Petugas Imigresen pun menyarankan agar kami pakai apa yang ada saja.

Kisah-kisah diatas memang memprihatinkan, tapi ada yang lebih miris lagi adalah ‘Keteledoran’ petugas Imigresen Malaysia. Banyak sekali KTP Tahanan yang telah bebas tidak dikembalikan. Tepatnya bukan tidak dikembalikan kepemilliknya, tapi terlupakan!

“Pemalakan”
Pemalakan atau Pungli itu terjadi dimana-mana. Jika sebelumnya petugas Imigresen Galak & Garangnya seperti Kawanan Singa, namun diwaktu pemulangan Tahanan mereka berubah jadi lucu dan imut serta comel bagaikan seekor Kucing.

Mereka menjual rokok yang tak segan-segannya mempromosikan Bak Model iklan rokok. Ada menjual sepatu bebas, ada yang menjual parfum de el el…… kesemua itu dengan harga yang selangit.

Bersambung......

04/08/2026

Kisah Nyata / Kisah Sebenar, lanjutan.....
Part13f
"Impian Terakhir VII"

Ada perbedaan mencolok dari sikap pegawai Imigresen Malaysia antara sebelum, sedang dan sesudah ketadangan pihak KJRI. Mereka yang tadinya Bengis dan sewenang-wenang dengan kami, begitu orang-orang KJRI datang lansung mati-kutu.

“Dibuang Di Perbatasan”
Setelah selesai urusan dengan KJRI kami dikembalikan ke Tahanan semula, tapi ada yg berbeda. Perbedaanya adalah kami sudah seperti ‘Setengah Bebas’, teman-teman banyak yang mengucapkan ‘Selamat’ kepadaku. Sebagian dari mereka ada yang meminta ‘Jatah Makan’ aku. “Pak……… Besok kan bapak bebas, nanti jatah makannya kasih saya ya……?!!!” lalu tanpa ragu jawab. “Iya, boleh….. boleh……..”

Sebenarnya jika aku tidak makanpun, aku tidak terasa lapar. Aku makan hanya untuk menjaga kesehatanku saja, dan makanan didalam Penjara cukup baik.
Pukul 09:00 pagi : Roti Paow + Minum Teh
Pukul 12:00 tengah hari : Nasi (lauk ikan/ayam/telur) +Buah
Pukul 17:00 sore : Nasi (lauk ikan/ayam/telur) + Buah + Biskuit + Minum Teh/Kopi

Jatah makanan ditahanan baik Tahanan Polis ataupun Tahanan Imigresen menjadi lebih baik, mungkin karena ‘Tragedi Sabah’. Yah, Tragedi Kematian Tahanan Imigresen (Warga Negara Indonesia) di Sabah, yang menjadi Trending Topik dan memicu Protes dari berbagai pihak terutama ‘Partai Oposisi’ di Malaysia.

Dikabarkan Tahanan meninggal akibat Penyiksaan & Kurang Gizi, disitulah imbasnya kepada kami-kami yang ditahan setelah tragedi tersebut. Kesehatan kamipun dipantau cukup baik, walau sikap kasar dengan segala umpatannya.

Dan selama dalam Tahanan aku selalu menyisakan jatah makan ataupun jatah minumanku, untuk aku berikan kepada yang lebih membutuhkan. Jika dipagi hari dapat jatah Roti Paow 2 biji + minum, aku cukup makan satu biji & seteguk atau 2teguk Teh. Selebihnya aku berikan kepada orang lain secara bergantian.

Begitu juga waktu makan siang ataupun sore, aku selalu menyisakan jatahku untuk orang lain. Begitulah setiap harinya selama aku didalam penjara, aku tidak sampai hati jika melihat orang bersedih ataupun tidak cukup makan.

Pernah aku menegur kawanku sendiri, karena ia marah kehilangan Kuenya. Dia terus menyindir orang yang diduga mencuri Kuehnya, lantas aku ngomong dengannya. “Makanan diambil untuk dimakan ya sudah biarkan saja…..!!! Kalau dia ambil lalu dibuang itu kita boleh marah. Orang ambil itu makanan karena lapar, kalau tidak lapar dia tak akan ambil.”

Si empunya Kuepun masih tidak terima aku nasehati, iapun menjawab. “Bukannya tidak boleh dimakan, tapi apa salahnya minta baik-baik……….?!!!” Kemudian akupun berkata lagi. “Itu Cuma Kue, bukan barang berharga lainnya. Lagian kita bukan ditempat yg normal, kita ini dalam Tahanan. Jika kita berada ditempat kerja meskipun itu makanan tidak boleh mencuri, minta pun tidak boleh tiap hari minta. Karena kita sama-sama kerja, klo disini kita sama-sama dalam penjara.”

Disini sepertinya bela pencuri. Tepatnya bukan bela, aku Cuma merasa kasihan saja. Tidak sepatutnya hanya makan Kue sepotong karena lapar, tapi terus diomeli dan diomeli walau tidak menyebut nama. Aku tidak sampai hati terus membiarkan begitu saja.

Detik-detik terus berlalu, walau sedetik terasa sehari jikalau kita berada didalam Jeruji Besi. Dan tibalah waktu malam terakhir didalam penjara itu, rekan dekat yang satu group denganku berkata kepadaku. “Bang tidur awal, nanti subuh cepat bangun, mandi dan terus bersiap-siap. Jangan sampai terlambat, nanti Cikgu marah.”

Sebenarnya orang seperti aku tidak perlu di ingatkan atau di nasehati, sebab sudah sama-sama tua. Walau begitu aku tetap menghargainya, walau hanya dengan jawaban yang singkat yaitu. “Iya…………”

Bersambung........

03/08/2026

Kisah Nyata / Kisah Sebenar, lanjutan.....
Part12f
"Impian Terakhir VII'

Hari berganti hari hanya menanti harapan yang tak pasti, itulah yang kualami selama dalam Bui. Walau kami cukup makan, cukup minum tetapi hidup dikurung dalam Jeruji Besi itu sesuatu banget Besty…….

Baju satu kering di badan bukan sekedar lagu, tapi itu fakta dan realita yang aku alami. Karena aku tidak punya baju untuk ganti, dan sudah berhari-hari baju yang aku pakai tidak dicuci.

Dan aku yang tidak biasa mandi beramai-ramai, terpaksa harus mandi pukul 04:00 dini hari yang sekalian cuci baju berserta celana yang aku pakai. Setelah aku cuci, baju dan celana itu aku pakai lagi. Sebab jika aku jemur, jelas itu tidak mungkin. Takutnya awal pagi-pagi Tuan atau Puan atau Cikgu datang membuat pemeriksaannya.

Aku tidak mahu semua rekan-rekan akan kena marah! Sebab seperti yang sudah-sudah ada satu orang yang buat salah, kami orang semua kena hukum. Aku pernah kena tendang sekali, gara-gara rekan kami buat salah. Lalu kami semua dihukum push up sampai 50 kali, dan aku tidak mampu lakukan itu.

Disitulah tendangan melayang didadaku, yang sakit itu bukan dadaku. Tapi yang adalah hatiku, karena tendangan yg diarahkan kepadaku tidaklah begitu kuat. Namun rasa sakit itu tetap membekas, entah sampai kapan akan sirna.

Dan setelah 2 minggu kami dikurung, kami digiring ke Pengadilan. Karena masih belum ada respon dari Majikan masing-masing, maka Pengadilan memutuskan untuk memperpanjang lagi Penahanan. Ya, Penahanan kami diperpanjang 2 minggu lagi.

Harapanku untuk keluar bebas & bisa bekerja lagi semakin tipis, namun aku masih berharap Keajaiban itu masih bisa terjadi. Dan seminggu kemudian……… Ada pemanggilan lagi untuk kami (aku dan robonganku & beberapa orang saja), aku tidak tahu untuk apa dan mahu di apakan lagi kami ini?!!! Tapi ternyata kami dihadapkan ke Mahkamah lagi.

Dan dikarenakan Majikan telah membayar Denda, maka kami mendapat ‘Ampunan’. Tapi menurutku itu bukan Ampunan, sebab kami tidak merasa bersalah. Ampunan itu menurutku orang yang bersalah, kemudian dibebaskan tanpa syarat itu baru Pengampunan.

Tapi………. Ya, Asudahlah……..!!! mereka punya aturan & peraturan serta undang-undang sendiri. Mereka punya bahasa serta pentafsirannya sendiri, toh itu Negara mereka. Jadi ya sesuka hati dia sajalah.

Harapan aku dibebaskan & dikembalikan ketempat kerja, tapi ternyata tidak……….!!! Kami dibebaskan dan dibuang ke Negara asal. Dan otomatis passport kami kena Blacklist. Hal inilah yang sangat menakutkan aku, sebab uang hasil jerih payahku tersimpan di Bank Malaysia.

Jika teman-teman aku bersorak & bersujud syukur, tapi tidak denganku. Dari depan dan belakang orang menangis memeluk aku, yang jauh menyalami aku. Tapi tiada reaksi apapun dariku, karena aku terpikirkan Tabunganku yg nilainya cukup lumayan di CIMB Bank & Hong Leong Bank.

Setelah sidang selesai, kamipun kembali digiring ke Jeruji Besi untuk menunggu proses Pemulangan. Dan 2 hari setelah itu pihak Kedutaan Indonesia yg tentu diwakili oleh KJRI (Konsulat Jendral Republik Indonesia) di Kuching. Mendatangi kami untuk membantu proses pemulangan ke Indonesia.

Disitulah aku luahkan segala masalahku, dan setelah aku beberkan semuanya. Pihak Konsulat Jendral Republik Indonesia berjanji akan berusaha membantu aku, tapi pihak juga tidak berjanji akan bisa membantu sepenuhnya.

Aku sedikit lega karena masih ada harapan untuk mengambil asset-asetku yang ada di Malaysia. Dan setelah selesai mendata kami-kami yang akan dideportasi ke Indonesia, petugas dari KJRI tersebut memberikan arahan serta nasehat untuk kami semua.

Bersambung.......

02/08/2026

Kisah Nyata / Kisah Sebenar, lanjutan....
Part11f
"Impian Terakhir VII"

Entah metode apa yang digunakan. Kami bukan Penjahat, kami bukan Pencuri, kami bukan Perampok, kami bukan Pembunuh, kami bukan Pemerkosa, tapi kenapa kami diperlakukan seperti itu.

Bukan sekedar ditelanjangi, kami disuruh membuat gerakan-gerakan tertentu dengan hitungan sampai 10 kali. Selain itu kami disuruh batuk, yang menurutku itu lebih menyerupai gonggongan Anjing. Sakit hati yang kami rasakan sebelumnya, kini bertambah sakit lagi.

Yah……… Mungkin terlalu kelelahan yang sebelumnya aku tidak dapat tidur selama 2 malam, dan disaat itu aku bisa tidur sedikit nyenyak walau ditumpuk seperti ikan dalam kaleng.

Aku bangun pukul 07:00 waktu setempat, rekan – rekan lain sudah ada yang mandi. Lalu akupun ikutan mandi karena sejak aku ditahan belum pernah mandi, itu atas sebab aku tidak biasa mandi ala kadar.

Aku terpaksa harus mandi tanpa sabun, tanpa handuk dan tanpa ganti baju. Yah, teman-teman ada duit, mereka bisa beli sabun walau harganya selangit. Teman-teman bisa pakai handuk dan ganti baju, karena mereka bawa tas & baju ataupun ada yang kirim baju ganti. Tapi tidak dengan aku, sewaktu ditangkap aku hanya bawa apa yang melekat ditubuhku ini saja.

“Baju satu kering dibadan”
Setelah selesai mandi dan nyantai sejenak, tiba-tiba Cikgu (Petugas Imigresen) dari jauh (Polen, Polen, Polen……). Aku tidak tahu, apakah yang diucapkan itu benar polen ataupun aku yang salah dengar. Dan pemberitahuan itu dimaksudkan agar kami kumpul, duduk bersila dan berbaris rapi tangan berada dibelakang.

Disitu sang ketua sel memberi hormat kepada Cikgu. “Selamat Pagi Cikgu……….” Kemudian harus diikuti oleh kami semua, dengan ucapan yang sama. Aku yang sudah sangat sakit hati itu hanya duduk & berbaris seperti rekan-rekan yang lainnya, tapi aku tidak pernah memberi Selamat atau apapun. Mereka tidak tahu jika aku tidak ikut memberi ucapan itu, karena aku selalu memakai Masker.

Jika pegawai yang jaga ada sedikit mempunyai rasa empati & simpati, maka ia akan membalas ucapan Selamat Pagi, Tengah hari, Petang ataupun Malam. Jika tidak ia cukup bertanya ada yang sakit ataupun tidak. Jika ada yang sakit mereka marah, tapi jika sakit sudah beberapa hari mereka lebih marah lagi.

Setelah pemeriksaan selesai jatah makan serta minum pagi yang berupa 2 biji Roti Paow itu dibagikan. Lalu pegawai Imigresen yang bertugas meninggalkan kami, sang ketua penjara mengucapkan ‘Terima-Kasih Cikgu’ yang tentu harus diikuti oleh kami semua. Kecuali aku dan beberapa orang yang mungkin sepemikiran denganku.

Hari-hariku dalam Tahanan Imigresen Malaysia adalah menanti pihak Majikan mengambil aku dari Penjara ini, harapan tinggallah harapan. Sudah 1 minggu lebih aku dalam Penjara, tapi tiada kabar berita dari pihak Majikan.

Ketika kami disidik oleh tim penyidik dari pihak Imigresen, aku tanyakan perihal permitted kerjaku. “Puan…… bila permitted saya siap……………?!!!” lalu ia menjawab. “Kami belum tahu lagi. Sebab borang permohonan dengan hasil test medical belum hantar lagi, Cuma insurance sahaja yg sudah dibayar.”

Disaat mendapat jawaban seperti itu aku yakin permitted kerjaku akan diurus, tapi apalacur…….?!!! Sudah hampir 2 minggu masih belum ada tanda-tanda aku akan dibebaskan.

Harapanku semakin sirna ketika mendengar. bahwa kami akan dipindahkan ke Tahanan lain tidak lama lagi. Dan benar! Sang Petugas Imigresen datang ketempat kami untuk segera bersiap-siap untuk segera dipindahkan.

Perasaan kami tidak menentu setiap kali ada panggilan, apalagi disuruhnya kami beres-beres barang masing-masing. “Mau di apakan lagi kita ini…..?!!! akan seperti apakah kita ditempat baru nanti…….?!!!” Itulah yang mengganggu kami saat itu.

Tiada pilihan lain selain harus ikut perintah, dan sesampainya ditempat baru. Kami diperlakukan sama seperti ketika masuk Sel Tahanan yaitu, “Ditelanjangi” namun kali ini lebih serem! Sebab setelah ditelanjangi kami “Harus Mandi” tepatnya bukan mandi, tapi membasahi tubuh sendiri dengan air di bak mandi.

Bersambung......

31/07/2026

Kisah Nyata / Kisah Sebenar, lanjutan....
Part10f
"Impian Terakhir VII"

Waktu itu sedang turun hujan rintik-rintik, meski tidak begitu deras namun cukup membuat tubuh kami basah. Dan entah darimana datangnya strum. Tiba-tiba tubuh kami terkena sengatan listrik, setelah kaki kami menginjak besi penutup selokan yg berada didepan Kantor Jabatan Imigresen di Pending Kuching Malaysia tersebut.

Dan dengan diiringi hujan rintik-rintik, kami dibawa oleh Jeruji Besi yang berjalan menuju ke Tahanan Imigresen Depo Semuja. Kondisi jalan raya rata-rata di Malaysia sangat bagus, keadaan lalu-lintas pun sangat normal. Tapi yang anehnya Truck yang sudah diubah menjadi ‘Jeruji Besi’ yang berjalan itu selalu direm mendadak, sehingga kami yang ditumpuk didalamnya terguncang dan terjatuh menimpa satu dan lainnya.

Bagi orang yang tidak tahan tentu mabuk perjalanan tidak bisa dihindari lagi, ada 5 orang yang mabuk dalam rombongan aku. Lagi, dan lagi, lagi……… aku kembali meratapi nasib bangsaku. “Sebegini hinakah bangsaku………?!!!”

Mungkin kurang – lebih 2 jam perjalanan yang kami tempoh dari Kuching menuju Semuja, dan setelah kami sampai ditempat yang dituju kami dengan Rantai & Borgol yang masih membelengu diturunkan seperti biasanya.

Kemudian kami digiring untuk memasuki ruangan, disitulah Borgol & Rantai yang membelengu kami dilepas. Dan tak kusangka! Tak kuduga! Disebelah ruangan kami ada ruangan khusus perempuan, dan tidak lama kemudian…….. datanglah serobongan perempuan cantik yang tidak bisa bahasa Melayu.

Serobongan perempuan cantik itu kurang lebih julahnya ada 20 orang, namun ada 2 orang perempuan yang kurang cantik. Yang 1 justru nampak gagah, dan ada Tato ditubuhnya. Dan ternyata……….. Robongan perempuan tersebut adalah 3 orang Indonesia dan yang lainnya adalah orang Thailand.

Mereka – mereka ini adalah hasil Razia Jabatan Imigresen Malaysia ke Hotel-hotel di Kuching. Mereka ditangkap karena menyalah gunakan visa kunjungan untuk menjual diri. Dan yang menyedihkan itu adalah si Penjual (Sindikat Perdagangan Orang) itu adalah Lelaki Warga Negara Indonesia, tanpa ada dokumen yang syah.

Kedatangan rombongan perempuan-perempuan Muda yang berparas sangat cantik, tentu menyita perhatian kami semua. Namun kami tidak bisa berbuat banyak, karena kami-kami dalam pengawasan Jabatan Imigresen.

Kami hanya bisa mengagumi kecantikan Bidadari-bidadari dari Bangkok ini. Jauh! Antara Bumi dan Langit ketika perempuan – perempuan Indonesia disandingkan dengan perempuan – perempuan dari Thailand.

Mereka tidak make up pun cantik, apalagi kalau sudah bermake up…..?!!! bahkan sampai – sampai kawan aku berseloroh. “Kalau kau mau makan ayam, cari ayam kampong saja. Jangan makan ayam Bangkok atau Philippines, mahallll………… kau tak akan mampu beli.”

Yah, emang bener! Ayam Bangkok & Philippines lebih berkelas, daripada ayam kampung atau ayam local. Kau pasti tak kan mampu memeliharanya. Dan dikarena saking asyiknya kami mengunjingkan ayam Bangkok, tak terasa tinggal separuh atau setengah dari kami yg belum didata. Dan jarum jam telah menunjukan pukul 00:00 tengah malam.

Kami sudah lelah & lapar, karena sejak dalam perjalanan hingga tengah malam belum diberi makan. Dan saya pun tahu, petugas Imigresen pun kelelahan. Karena mereka juga bekerja non stop hingga larut malam.

Dan menjelang pukul 01:00 pagi, kami baru diberi makan & minum. Sambil makan, kami menunggu untuk didata. Dan setelah semua selesai, kami kembali dimasukan kedalam Truck untuk dibawa kedalam Tahanan Sementara.
“Kami diperlakukan seperti Binatang”

Kebiadaban terus berlanjut, jika sewaktu didata kami harus duduk ngesot didepan mereka. Kini setelah selesai dan dimasukan kedalam Jeruji Besi yang sesungguhnya, kami disuruh buka baju dan buka celana. Kami disuruh berbaris dalam keadaan Bugil tanpa sehelai benang apapun.

Bersambung..........

Address

Deskap
Kubu
78234

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Thok Dien69 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category