Melipat Waktu

  • Home
  • Melipat Waktu

Melipat Waktu Visual perjalanan waktu melalui foto dan suasana masa lalu yang dihidupkan kembali.

⚔️ AMUKAN SANG SAMBERNYAWASerial Novel Sejarah Berbasis FaktaEpisode 6DUA API PERLAWANAN📍 Pati – Lasem – Rembang – Juwan...
13/08/2026

⚔️ AMUKAN SANG SAMBERNYAWA

Serial Novel Sejarah Berbasis Fakta

Episode 6

DUA API PERLAWANAN

📍 Pati – Lasem – Rembang – Juwana – Kartasura
📅 Tahun 1742
Dua tahun setelah Geger Pecinan Batavia dan sekitar 82 tahun sebelum Perang Diponegoro.

---

Malam turun perlahan di Jawa.

Tetapi tidak ada lagi malam yang benar-benar tenang.

Di jalan-jalan pedalaman, orang berjalan dengan suara langkah yang ditahan.

Di pesisir utara, perahu-perahu bergerak tanpa banyak lampu.

Di pasar-pasar, percakapan berhenti ketika orang asing datang mendekat.

Dan di keraton Kartasura...

para penjaga mulai lebih sering melihat ke arah jalan daripada ke arah langit.

Mataram sedang menunggu perang.

Namun tidak seorang pun tahu dari arah mana api akan datang lebih dahulu.

Ternyata...

dari dua arah.

---

📍 PATI — 6 APRIL 1742

Di Pati, para pemimpin perlawanan mengambil keputusan yang akan mengguncang takhta Mataram.

Mereka tidak lagi mengakui Pakubuwana II sebagai pusat perjuangan mereka.

Raja yang sebelumnya pernah membuka jalan bagi perlawanan terhadap VOC kini dianggap telah berbalik.

Dan bagi orang-orang yang telah mempertaruhkan hidup mereka dalam perang, perubahan itu tidak mudah dilupakan.

Mereka membutuhkan seseorang.

Bukan sekadar panglima.

Bukan sekadar bangsawan.

Mereka membutuhkan seorang raja.

Nama itu akhirnya muncul:

Raden Mas Garendi.

Ia adalah keturunan Amangkurat III.

Darah Mataram mengalir dalam dirinya.

Usianya masih sangat muda.

Tetapi dalam keadaan seperti itu, usia tidak lagi menjadi persoalan utama.

Yang dibutuhkan adalah legitimasi.

Maka pada 6 April 1742, Garendi diangkat sebagai penguasa tandingan dengan gelar Amangkurat V.

Di kemudian hari, namanya lebih dikenal sebagai:

Sunan Kuning.

Kini perlawanan memiliki mahkota.

Dan mahkota itu membutuhkan pasukan.

---

📍 LASem — PADA WAKTU YANG SAMA

Jauh di timur Pati, keadaan berbeda.

Di Lasem, api perlawanan telah memiliki akar sendiri.

Setelah tragedi Batavia, orang-orang Tionghoa bergerak ke berbagai wilayah Jawa.

Sebagian tiba di Lasem.

Di sana mereka menemukan tempat berlindung.

Penguasa Lasem, Oei Ing Kiat, yang bergelar Raden Ngabehi Widyaningrat atau Tumenggung Widyaningrat, memberikan ruang bagi para pendatang tersebut untuk menetap.

Lasem bukan sekadar kota pelabuhan.

Ia adalah tempat bertemunya berbagai dunia.

Jawa.

Tionghoa.

Pedagang.

Pelaut.

Santri.

Petani.

Dan para bangsawan pesisir.

Di tempat seperti inilah persekutuan baru dapat tumbuh.

Namun persekutuan Lasem memiliki wajahnya sendiri.

Bukan Sunan Kuning.

Bukan Kartasura.

Dan bukan semata-mata perebutan takhta Mataram.

Mereka memiliki persoalan yang lebih dekat:

bagaimana mengusir VOC dari tanah mereka sendiri.

---

TIGA NAMA DI LASEM

Di tengah ketegangan itu muncul tiga tokoh.

Yang pertama:

Oei Ing Kiat.

Seorang penguasa Lasem yang memiliki kedudukan politik dan pengaruh di masyarakat.

Yang kedua:

Raden Panji Margono.

Seorang bangsawan Jawa dari keluarga Tejakusuman.

Dan yang ketiga:

Tan Kee Wie.

Seorang tokoh Tionghoa Lasem yang dikenal sebagai pedagang sekaligus pendekar.

Ketiganya berasal dari latar berbeda.

Tetapi mereka memilih jalan yang sama.

Melawan VOC.

Dalam tradisi Lasem, ketiganya dikenang sebagai saudara seperjuangan. Perlawanan mereka kemudian dikenal sebagai bagian dari Perang Kuning.

Mereka tidak membutuhkan mahkota.

Mereka membutuhkan keberanian.

Dan mereka mempunyai cukup banyak alasan untuk mengangkat senjata.

---

📍 REMBANG — API PERTAMA

Pasukan Lasem bergerak.

Mereka tidak menyerang jantung Mataram.

Mereka menyerang jaringan kekuasaan VOC di pesisir.

Rembang menjadi salah satu sasaran.

Pasukan gabungan Jawa dan Tionghoa bergerak menuju kota.

Dari darat dan laut.

Perahu-perahu membawa orang dan senjata.

Pasukan darat bergerak melalui jalur yang lebih tersembunyi.

Mereka tidak datang sebagai satu tentara besar dengan barisan yang rapi.

Mereka datang seperti gelombang.

Muncul.

Menyerang.

Menghilang.

Kemudian muncul kembali di tempat lain.

Rembang berhasil mereka kuasai.

Kemenangan itu menyebarkan keyakinan baru:

VOC ternyata bisa dikalahkan.

Namun kemenangan pertama sering kali merupakan perangkap.

Karena setelah Rembang...

mereka memandang ke arah barat.

Juwana.

---

📍 JUWANA — JALAN MENUJU JEpara

Pelabuhan adalah urat nadi VOC.

Menguasai pelabuhan berarti mengganggu perdagangan.

Mengganggu perdagangan berarti memukul kekuasaan Kompeni tanpa harus merebut seluruh kerajaan.

Karena itulah pasukan Lasem bergerak menuju Juwana.

Tan Kee Wie memimpin kekuatan melalui laut.

Jung-jung bergerak di sepanjang pantai.

Di darat, pasukan Oei Ing Kiat dan Raden Panji Margono bergerak menuju sasaran.

Mereka mendapat tambahan kekuatan dari kelompok-kelompok perlawanan di daerah sekitar.

Untuk sesaat, pesisir utara Jawa terasa seperti berada di luar kendali VOC.

Tetapi Kompeni tidak tinggal diam.

---

LAUT MANDALIKA

Di tengah perjalanan menuju Jepara, armada Tan Kee Wie bertemu kekuatan VOC.

Laut yang sebelumnya tenang berubah menjadi medan perang.

Asap mesiu menggantung rendah.

Suara meriam memecah udara.

Jung-jung mencoba mencari ruang untuk bergerak.

Namun kapal-kapal VOC memiliki persenjataan yang lebih berat.

Satu ledakan.

Kemudian ledakan berikutnya.

Kayu pecah.

Orang-orang jatuh.

Dan di antara suara meriam itu...

Tan Kee Wie gugur.

Salah satu pemimpin utama perlawanan Lasem telah jatuh di perairan sekitar Mandalika dan Ujungwatu pada 1742.

Pasukannya tercerai.

Sebagian mundur.

Sebagian melanjutkan perlawanan.

Sebagian kembali menuju Lasem.

Tetapi api itu belum padam.

---

SEMENTARA ITU...

📍 PATI — JALAN MENUJU KARTASURA

Di sisi lain Jawa Tengah, Sunan Kuning sedang mengumpulkan kekuatan.

Tujuannya jauh lebih besar.

Kartasura.

Di sana berdiri keraton.

Di sana duduk Pakubuwana II.

Dan di sana p**a berdiri simbol hubungan Mataram dengan VOC.

Jika Kartasura jatuh...

maka yang runtuh bukan sekadar sebuah benteng.

Yang runtuh adalah wibawa sebuah kerajaan.

Pasukan Jawa dan Tionghoa mulai bergerak.

Nama-nama seperti Kapitan Sepanjang dan Tan Sin Ko atau Singseh berada dalam jaringan kekuatan perlawanan yang bergerak di wilayah Jawa Tengah. Sementara Raden Mas Garendi menjadi pusat legitimasi politiknya.

Jalan menuju Kartasura semakin penuh prajurit.

Di beberapa tempat, rakyat menutup pintu ketika pasukan lewat.

Di tempat lain, mereka memberikan makanan.

Ada yang membantu karena percaya kepada perjuangan.

Ada p**a yang membantu karena takut.

Sebab dalam perang, batas antara keberanian dan keterpaksaan sering kali sangat tipis.

---

📍 KARTASURA

Pakubuwana II menerima kabar demi kabar.

Rembang jatuh.

Pesisir bergolak.

Pati berada di tangan perlawanan.

Dan sekarang...

pasukan bergerak menuju Kartasura.

Raja yang pernah mencoba memainkan dua kekuatan—VOC dan para penentangnya—kini mulai kehilangan ruang untuk bergerak.

Ia masih memiliki keraton.

Masih memiliki gelar.

Masih memiliki pengikut.

Tetapi waktu bekerja melawannya.

Di dalam keraton, para bangsawan mulai menghitung kemungkinan.

Jika VOC kalah...

siapa yang akan memerintah?

Jika Sunan Kuning menang...

siapa yang akan selamat?

Dan jika Pakubuwana II bertahan...

berapa banyak yang harus dikorbankan?

Tidak ada jawaban yang aman.

---

SEORANG PEMUDA MENINGGALKAN ISTANA

Di tengah badai politik itu, seorang pemuda Mataram mulai mengambil keputusan.

Namanya:

Raden Mas Said.

Ia baru berusia sekitar tujuh belas tahun.

Ia bukan orang asing bagi keraton.

Ia adalah keturunan langsung keluarga penguasa Mataram.

Tetapi ia juga telah merasakan bagaimana keluarganya diperlakukan oleh politik istana.

Kini ia melihat kerajaan yang semakin bergantung kepada VOC.

Ia melihat rakyat yang terjebak dalam perang.

Dan ia melihat seorang penguasa yang kehilangan kepercayaan dari sebagian orang-orangnya sendiri.

Ketika kekuatan Sunan Kuning semakin mendekati Kartasura, Raden Mas Said akhirnya keluar dari lingkungan istana dan bergabung dengan gerakan perlawanan. Sumber-sumber sejarah menempatkan keterlibatannya dalam pemberontakan Garendi pada fase jatuhnya Kartasura pada 1742.

Belum ada nama Sambernyawa.

Belum ada kerajaan Mangkunegaran.

Belum ada perang panjang melawan VOC.

Yang ada hanyalah seorang pemuda...

yang memilih jalan yang tidak mungkin lagi ia tinggalkan.

---

DUA API

Di satu sisi:

Lasem.

Oei Ing Kiat.

Raden Panji Margono.

Tan Kee Wie.

Mereka berperang melawan VOC dari pesisir.

Tan Kee Wie telah gugur.

Namun perlawanan belum mati.

Di sisi lain:

Pati dan Kartasura.

Sunan Kuning.

Kapitan Sepanjang.

Singseh.

Para bangsawan Jawa yang membelot.

Dan kini...

Raden Mas Said.

Dua perlawanan itu tidak sepenuhnya sama.

Mereka tidak berada di bawah satu komando.

Mereka tidak memiliki tujuan politik yang identik.

Tetapi VOC melihat satu kenyataan yang mengerikan:

api telah menyala di banyak tempat.

Dan jika api-api itu bertemu...

seluruh Jawa Tengah dapat terbakar.

---

📍 MENJELANG AKHIR JUNI 1742

Dari kejauhan, Kartasura mulai mendengar suara perang.

Pasukan semakin dekat.

Para penjaga berdiri di atas tembok.

Gerbang diperiksa.

Senjata disiapkan.

Di dalam keraton, keluarga kerajaan mulai memikirkan jalan keluar.

Di luar tembok...

panji-panji perlawanan semakin banyak.

Dan di antara mereka berjalan seorang pemuda bernama Raden Mas Said.

Ia belum tahu bahwa beberapa hari kemudian ia akan memasuki ruang kosong yang ditinggalkan sebuah kerajaan.

Ia juga belum tahu bahwa pusaka Mataram akan berada di tangannya.

Dan ia tentu belum tahu...

bahwa perang yang akan dimulainya pada tahun-tahun berikutnya akan berlangsung jauh lebih lama daripada Geger Pacinan.

Malam semakin gelap.

Kartasura belum jatuh.

Tetapi takdirnya...

sudah hampir selesai.

Bersambung...

---

📜 Catatan Sejarah

Perlawanan tahun 1742 memang memiliki beberapa pusat dan tokoh yang tidak selalu berada dalam satu komando. Di Lasem, Oei Ing Kiat, Raden Panji Margono, dan Tan Kee Wie memimpin perlawanan Jawa-Tionghoa; serangan mereka menjangkau Rembang, Juwana, dan Jepara. Tan Kee Wie gugur dalam pertempuran laut di sekitar Mandalika pada 1742.

Sementara itu, di jalur Pati–Kartasura, Raden Mas Garendi diangkat sebagai Amangkurat V pada April 1742 dan kemudian memimpin gerakan yang berhasil merebut Kartasura pada akhir Juni 1742. Raden Mas Said kemudian bergabung dengan gerakan perlawanan tersebut.

Dengan demikian, “Dua Api Perlawanan” bukan berarti dua pasukan berada di bawah satu komando, melainkan dua jalur perlawanan yang berkembang dalam suasana Geger Pacinan dan sama-sama mengancam kekuasaan VOC serta tatanan politik Mataram.











📜 MAHKOTA YANG TERBELAHSerial Novel Sejarah Berbasis Fakta"Belanda tidak kembali dengan suara meriam. Kali ini mereka da...
13/08/2026

📜 MAHKOTA YANG TERBELAH

Serial Novel Sejarah Berbasis Fakta

"Belanda tidak kembali dengan suara meriam. Kali ini mereka datang membawa surat keputusan, perjanjian, dan harga sewa tanah."

EPISODE 8

TANAH YANG DISEWAKAN

Yogyakarta, 1816

Pagi itu Keraton Yogyakarta tampak tenang.

Para abdi dalem berjalan seperti biasa di halaman istana. Pedagang membuka lapaknya. Petani berangkat ke sawah. Di kejauhan, Gunung Merapi berdiri seperti biasa, tidak berubah oleh pergantian penguasa.

Tetapi di kantor pemerintahan, lembar-lembar surat mulai berpindah tangan.

Bendera Inggris diturunkan.

Kekuasaan diserahkan kembali kepada Belanda.

Enam tahun sebelumnya, orang-orang Eropa saling berebut Jawa.

Kini mereka kembali.

Bukan sebagai pasukan yang mengepung Keraton.

Melainkan sebagai pemerintah yang datang untuk mengambil kembali apa yang pernah mereka kehilangan.

Dan bagi Diponegoro, pergantian itu membawa satu pertanyaan:

Apa yang sebenarnya berubah?

Inggris telah pergi.

Tetapi apakah kekuasaan asing benar-benar meninggalkan tanah Jawa?

---

1816 — Kembalinya Belanda

Kembalinya pemerintahan Belanda mengubah suasana di Yogyakarta.

Pejabat-pejabat baru berdatangan.

Salah satu yang paling penting adalah Mayor Huibert Gerard Nahuys van Burgst, yang menjadi Residen Yogyakarta.

Nahuys bukan orang yang datang untuk sekadar mengawasi Keraton.

Ia melihat tanah sebagai sumber kekayaan.

Dan ia melihat wilayah Kesultanan sebagai ladang yang belum dimanfaatkan sepenuhnya.

Di hadapannya terbentang sawah, desa, perkebunan, dan tanah-tanah kerajaan yang luas.

Pertanyaannya bukan lagi bagaimana menaklukkan tanah itu.

Pertanyaannya adalah:

berapa banyak yang bisa diperoleh darinya?

---

1817 — Tanah Bedoyo

Pada suatu hari, Nahuys memperoleh izin untuk menyewa tanah Bedoyo di lereng selatan Gunung Merapi.

Tanah yang selama ini menjadi bagian dari lingkungan kekuasaan Keraton mulai berpindah ke tangan penyewa.

Di atas kertas, semuanya tampak sederhana.

Ada pemilik.

Ada penyewa.

Ada harga.

Ada batas waktu.

Tetapi di lapangan, tanah bukan sekadar angka.

Di atas tanah itu ada rumah.

Ada sawah.

Ada petani.

Ada bekel.

Ada demang.

Ada keluarga yang telah turun-temurun menggantungkan hidup dari sebidang tanah yang sama.

Ketika pemilik baru datang, seluruh hubungan lama ikut berubah.

---

Di sebuah desa, seorang petani berdiri di tepi sawahnya.

Ia memandang orang-orang asing yang datang bersama juru ukur.

Tali dibentangkan.

Patok ditancapkan.

Batas tanah dicatat.

Ia tidak mengerti apa yang tertulis dalam surat-surat mereka.

Ia hanya tahu bahwa orang yang sebelumnya mengurus tanah itu kini tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang berkuasa atasnya.

Dan ketika panen tiba, tuntutan baru datang.

Pajak Keraton masih harus dibayar.

Tetapi penyewa juga menginginkan hasil tanah.

Petani berada di tengah.

Ia tidak memiliki cukup ruang untuk mengeluh.

---

1817–1819 — Tanah Mulai Berpindah

Apa yang bermula sebagai beberapa perjanjian berkembang menjadi kebijakan yang jauh lebih luas.

Tanah-tanah Kesultanan mulai disewakan kepada orang Eropa dan kelompok pengusaha lainnya.

Nahuys memainkan peranan penting dalam perluasan praktik tersebut.

Dalam beberapa tahun, jumlah lahan yang disewakan meningkat tajam.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa di wilayah Yogyakarta saja terdapat puluhan bidang tanah dan desa yang masuk dalam jaringan penyewaan pada 1816–1819.

Bagi pemerintah kolonial, ini adalah sumber pendapatan.

Bagi para penyewa, ini adalah kesempatan memperoleh keuntungan.

Tetapi bagi banyak petani, perubahan itu terasa sebagai beban baru.

---

Diponegoro mulai mendengar keluhan.

Mula-mula satu.

Kemudian dua.

Lalu semakin banyak.

Orang-orang datang ke Tegalrejo membawa cerita tentang tanah yang disewa.

Tentang pajak.

Tentang pejabat desa.

Tentang orang asing yang menentukan harga hasil bumi.

Diponegoro mendengarkan.

Ia tidak selalu menjawab.

Kadang ia hanya bertanya:

"Tanah itu milik siapa?"

"Siapa yang tinggal di sana?"

"Siapa yang akan menanggung pajaknya?"

Pertanyaan-pertanyaan sederhana.

Tetapi semakin sering ia mendengarnya, semakin ia melihat sebuah persoalan besar.

---

Di Dalam Keraton

Sementara itu, Keraton menghadapi kebutuhan yang tidak sedikit.

Sultan Hamengkubuwono IV masih sangat muda.

Pemerintahan harus berjalan.

Pegawai harus dibayar.

Upacara kerajaan harus tetap berlangsung.

Hubungan dengan pemerintah Belanda harus dijaga.

Dan kas Keraton membutuhkan pemasukan.

Di sinilah persoalan menjadi rumit.

Bagi pejabat Keraton, menyewakan tanah dapat menjadi jalan memperoleh uang.

Bagi pemerintah kolonial, penyewaan tanah dapat menghasilkan pendapatan sekaligus memperluas pengaruh.

Tetapi bagi Diponegoro, tanah memiliki arti lain.

Tanah adalah tempat rakyat hidup.

Tanah adalah sumber pangan.

Tanah juga bagian dari keseimbangan lama antara raja, pejabat, dan rakyat.

Jika hubungan itu rusak, yang runtuh bukan hanya pendapatan.

Tetapi tatanan kerajaan.

---

Danurejo IV

Di tengah semua perubahan itu, Patih Danurejo IV semakin penting.

Ia berada di pusat pemerintahan.

Ia harus menjaga hubungan dengan Belanda sekaligus mempertahankan jalannya administrasi Keraton.

Danurejo memahami bahwa zaman telah berubah.

Belanda bukan lagi penguasa yang harus dilawan secara terbuka.

Mereka kini hadir di meja perundingan.

Mereka membawa surat.

Membawa aturan.

Membawa uang.

Danurejo harus berhadapan dengan mereka setiap hari.

Diponegoro melihat semua itu dari sisi berbeda.

Ia semakin sulit menerima cara pemerintahan yang mengharuskan Keraton terus menyesuaikan diri dengan kehendak orang asing.

Namun belum ada pertengkaran besar.

Belum ada penghinaan.

Belum ada selop yang terangkat.

Hanya ketegangan yang perlahan menumpuk.

---

1818 — Suara dari Pedesaan

Perubahan tidak hanya terasa di sekitar Yogyakarta.

Di berbagai tempat, hubungan lama antara penguasa tanah dan petani mulai terganggu.

Orang-orang yang sebelumnya menjadi penghubung antara pemilik tanah dan penggarap semakin kehilangan peranan.

Penyewa menginginkan hasil.

Pejabat menginginkan pajak.

Pemerintah menginginkan pendapatan.

Sementara petani hanya memiliki satu sumber untuk memenuhi semuanya:

tanah yang mereka garap.

Di Tegalrejo, Diponegoro semakin sering mendengar keluhan.

Ia mulai melihat bahwa masalah ini bukan lagi urusan satu desa.

Ia adalah masalah seluruh tatanan.

---

1819

Jumlah tanah yang masuk dalam jaringan penyewaan terus bertambah.

Orang-orang Eropa semakin berani masuk ke wilayah pedalaman.

Mereka tidak lagi hanya berdagang di kota.

Mereka mulai memiliki kepentingan langsung atas tanah.

Bagi sebagian pejabat Keraton, itu mungkin terlihat sebagai kesempatan.

Bagi Diponegoro, itu adalah tanda bahaya.

Ia mulai bertanya kepada orang-orang yang datang kepadanya:

"Jika tanah kita disewakan hari ini, apa yang tersisa untuk anak cucu kita?"

Tidak ada yang segera menjawab.

---

Pada suatu malam, Diponegoro duduk sendirian di Tegalrejo.

Lampu minyak bergoyang ditiup angin.

Di luar, suara jangkrik terdengar dari sawah.

Ia membuka sebuah kitab.

Tetapi pikirannya tidak berada di sana.

Ia teringat Keraton.

Teringat kakeknya.

Teringat ayahnya.

Teringat Sultan kecil yang kini duduk di atas takhta.

Dan sekarang, ia memikirkan tanah.

Tanah yang perlahan berpindah tangan.

Tanah yang diukur oleh orang-orang yang tidak lahir di Jawa.

Tanah yang disewakan dengan tanda tangan pejabat.

Untuk pertama kalinya, Diponegoro mulai menyadari bahwa ancaman terhadap Mataram tidak selalu datang dari tembok Keraton.

Ancaman itu kini bergerak di antara sawah-sawah.

Dan suatu hari nanti...

ia akan sampai ke halaman rumahnya sendiri.

Bersambung...

Episode 9

SELop DI WAJAH PATIH

Yogyakarta, sekitar 1820.

Ketegangan antara Diponegoro dan Danurejo IV akhirnya mencapai titik yang tidak dapat lagi ditarik kembali.

Persoalan tanah yang selama bertahun-tahun dibiarkan menumpuk akan berubah menjadi pertengkaran terbuka.

Dan sebuah selop akan menjadi saksi.

---

📚 Lentera Sejarah

1816 — Pemerintahan Belanda kembali ke Jawa setelah berakhirnya periode Inggris.

1816–1822 — H.G. Nahuys van Burgst menjadi tokoh penting dalam perkembangan penyewaan tanah di wilayah Vorstenlanden. Pada masa inilah penyewaan tanah kepada pengusaha Eropa berkembang pesat.

1817 — Tanah Bedoyo di lereng selatan Merapi menjadi salah satu tanah yang disewakan melalui kebijakan Nahuys.

1817–1819 — Jumlah tanah dan desa yang disewakan di wilayah Yogyakarta meningkat tajam. Perubahan tersebut ikut mengganggu hubungan tradisional antara pemegang tanah jabatan, pejabat desa, dan para petani penggarap.

Peristiwa-peristiwa inilah yang menjadi latar penting menuju konflik Diponegoro dengan sistem penyewaan tanah dan pejabat Keraton pada awal dekade 1820-an.























⚔️ AMUKAN SANG SAMBERNYAWASerial Novel Sejarah Berbasis Fakta---Episode 5Sunan Kuning dan Sumpah Perlawanan📍 Grobogan – ...
10/08/2026

⚔️ AMUKAN SANG SAMBERNYAWA

Serial Novel Sejarah Berbasis Fakta

---

Episode 5

Sunan Kuning dan Sumpah Perlawanan

📍 Grobogan – Pati – Kudus – Kartasura
📅 Tahun 1742
Sekitar 66 tahun sebelum Daendels datang ke Yogyakarta dan 83 tahun sebelum Perang Diponegoro.

---

Kartasura telah berubah.

Bukan karena tembok keratonnya runtuh.

Belum.

Yang lebih dulu runtuh adalah kepercayaan.

Pakubuwana II yang sebelumnya memberi ruang kepada pasukan Tionghoa dan para bangsawan yang memusuhi VOC, kini berbalik mendekati Kompeni.

Bagi orang-orang yang selama berbulan-bulan mengangkat senjata bersama Mataram, perubahan itu terasa sebagai pengkhianatan.

Perang yang semula diarahkan kepada VOC kini memiliki sasaran baru.

Kartasura.

Dan di tengah kekacauan itu, seorang pemuda dari darah Mataram mulai muncul.

Namanya Raden Mas Garendi.

---

📍 Grobogan, awal 1742

Garendi bukan orang sembarangan.

Ia memiliki hubungan darah dengan wangsa Mataram. Ayahnya, Pangeran Tepasana, adalah putra Amangkurat III.

Namun kehidupannya jauh dari kemewahan istana.

Sejak kecil ia telah terseret dalam pergolakan politik keluarga kerajaan. Ia kemudian berada di lingkungan Grobogan dan berhubungan dengan kelompok-kelompok yang menentang VOC.

Di tempat inilah jalannya bertemu dengan para pemimpin perlawanan Tionghoa.

Mereka mempunyai alasan berbeda untuk mengangkat senjata.

Tetapi musuh mereka semakin jelas.

VOC.

Dan kini...

Pakubuwana II.

---

📍 Pesisir Jawa Tengah

Di antara para pemimpin Tionghoa, dua nama semakin dikenal.

Yang pertama adalah Kapitan Sepanjang, tokoh perlawanan yang berasal dari lingkungan Batavia dan kemudian membawa perjuangan ke Jawa bagian tengah.

Yang kedua adalah Tan Sin Ko, atau Singseh, pemimpin laskar Tionghoa di wilayah Jawa Tengah.

Namun perlawanan tidak hanya bergerak menuju Kartasura.
Jauh di pesisir utara, di Lasem, seorang penguasa bernama Oei Ing Kiat, yang telah bergelar Tumenggung Widyaningrat, menghadapi persoalan yang sama.
Ketika para pengungsi Tionghoa dari Batavia tiba di Lasem, ia memberikan tempat bagi mereka untuk menetap. Di wilayah ini, orang-orang Tionghoa dan Jawa kemudian membangun perlawanan terhadap VOC.
Bersama Raden Panji Margono dan Tan Kee Wie, Oei Ing Kiat menjadi salah satu tokoh penting perlawanan Lasem.

Mereka bukan sekadar orang-orang yang melarikan diri dari Batavia.

Mereka telah membangun kekuatan.

Mereka memiliki pasukan.

Mereka mengenal jalur-jalur perdagangan dan daerah pesisir.

Dan yang paling penting...

mereka telah menemukan bahwa mereka tidak harus berperang sendirian.

Di berbagai tempat, mereka bertemu dengan orang-orang Jawa yang memiliki kemarahan yang sama terhadap VOC.

Hubungan itu tidak dibangun karena mereka memiliki satu kebudayaan atau satu kepentingan.

Justru sebaliknya.

Mereka berbeda.

Tetapi perang telah mempertemukan mereka.

---

📍 Pati, 6 April 1742

Di sebuah pertemuan yang menentukan masa depan Mataram, para pemimpin perlawanan berkumpul.

Mereka menghadapi satu persoalan besar.

Jika Pakubuwana II dianggap telah kehilangan hak untuk memimpin karena berpihak kepada VOC...

siapa yang akan menggantikannya?

Nama Tumenggung Martapura dari Grobogan sempat muncul.

Tetapi ada persoalan yang lebih besar daripada keberanian.

Wahyu keprabon.

Seorang raja Mataram tidak cukup hanya memiliki pasukan.

Ia harus memiliki darah kerajaan.

Di situlah nama Raden Mas Garendi menjadi penting.

Ia adalah keturunan Amangkurat III.

Garis darah itu membuatnya dapat diterima oleh para bangsawan Jawa yang bergabung dengan perlawanan.

Tetapi ada persoalan lain.

Bisakah seorang pemuda yang masih sangat muda dipercaya memimpin perang?

Kapitan Sepanjang memiliki kekhawatiran.

Pengalaman sebelumnya telah mengajarkan satu hal:

jangan terlalu mudah percaya kepada bangsawan Jawa.

Pakubuwana II sendiri pernah berperang bersama mereka.

Lalu berubah haluan.

Namun pada akhirnya, kepentingan mereka bertemu.

Garendi membutuhkan pasukan.

Pasukan membutuhkan seorang raja yang memiliki legitimasi.

Maka mereka memilih jalan yang tidak biasa.

Seorang pangeran Jawa akan menjadi wajah kerajaan.

Para panglima Tionghoa akan menjadi salah satu kekuatan militernya.

Dan para bangsawan Jawa yang membenci VOC akan berdiri di belakangnya.

Raden Mas Garendi kemudian diangkat sebagai Susuhunan Amangkurat V.

Kelak ia lebih dikenal sebagai Sunan Kuning.

---

Dua dunia, satu medan perang

Di bawah panji Garendi, kekuatan yang sebelumnya terpisah mulai menyatu.

Pasukan Jawa.

Pasukan Tionghoa.

Para bangsawan yang membelot dari Pakubuwana II.

Dan para prajurit yang telah lama memusuhi VOC.

Di antara mereka terdapat seorang pemuda lain.

Namanya Raden Mas Said.

Ia belum menjadi Sambernyawa.

Belum.

Tetapi ia telah belajar bahwa medan perang tidak mengenal batas-batas yang dibuat oleh istana.

Di sampingnya bergerak para prajurit Tionghoa.

Di depannya berdiri pasukan VOC.

Dan di belakangnya terdapat sebuah kerajaan yang sedang kehilangan arah.

Untuk pertama kalinya, Raden Mas Said melihat bahwa perjuangan melawan VOC dapat dilakukan bersama kekuatan yang berbeda.

Bukan karena mereka sama.

Tetapi karena mereka memiliki musuh yang sama.

---

📍 Menuju Kartasura, Juni 1742

Pasukan koalisi mulai bergerak.

Dari wilayah Pati dan Grobogan, mereka bergerak menuju jantung Mataram.

Jalur menuju Kartasura melewati wilayah-wilayah yang telah lama bergolak.

Kudus.

Demak.

Salatiga.

Boyolali.

Setiap kemenangan membuat barisan mereka bertambah.

Setiap kekalahan VOC membuat keberanian mereka tumbuh.

Di Kartasura, berita itu akhirnya sampai ke telinga Pakubuwana II.

Sunan menyadari bahwa musuh yang datang kali ini bukan lagi sekadar pasukan Tionghoa.

Bukan p**a sekadar pemberontakan daerah.

Di depan keratonnya sedang bergerak sebuah koalisi.

Mereka membawa seorang keturunan Mataram sebagai calon raja.

Dan mereka datang bersama orang-orang yang dahulu pernah berdiri di sisi Sunan.

Ancaman itu semakin dekat.

---

Pada akhir Juni 1742, pasukan gabungan Jawa-Tionghoa bergerak memasuki wilayah Kartasura.

Di dalam keraton, kepanikan mulai menjalar.

Para abdi dalem memandang ke arah luar tembok.

Para prajurit bersiap.

Dan Pakubuwana II mulai menyadari bahwa pertarungan yang selama ini ia coba kendalikan telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Bukan lagi perang antara Mataram dan VOC.

Bukan p**a perang antara Jawa dan Tionghoa.

Melainkan perebutan atas siapa yang berhak menentukan masa depan Mataram.

Dan pada tanggal 30 Juni 1742...

gerbang Kartasura akhirnya menghadapi pasukan Sunan Kuning.

Keraton Mataram akan jatuh.

Bersambung...

---

📜 Catatan Sejarah

Koalisi yang terbentuk pada 1742 bukanlah aliansi yang sepenuhnya homogen. Kekuatan Tionghoa dipimpin antara lain oleh Kapitan Sepanjang dan Singseh (Tan Sin Ko), sementara pihak Jawa mencakup Raden Mas Garendi, Raden Mas Said, serta sejumlah pejabat dan bangsawan yang berbalik melawan Pakubuwana II. Pertemuan di Pati pada 6 April 1742 menjadi titik penting dalam pengangkatan Raden Mas Garendi sebagai Amangkurat V.

Pada 30 Juni 1742, pasukan gabungan tersebut berhasil merebut Kartasura sehingga Pakubuwana II meninggalkan keraton. Peristiwa ini menjadi salah satu titik balik terbesar dalam Geger Pacinan dan sejarah Mataram.

📜 MAHKOTA YANG TERBELAHSerial Novel Sejarah Berbasis Fakta"Sebuah kerajaan tidak selalu runtuh ketika bentengnya ditembu...
10/08/2026

📜 MAHKOTA YANG TERBELAH

Serial Novel Sejarah Berbasis Fakta

"Sebuah kerajaan tidak selalu runtuh ketika bentengnya ditembus. Kadang ia mulai pecah ketika seorang anak duduk di atas takhta, sementara orang-orang dewasa berebut menentukan ke mana kerajaan itu harus berjalan."

EPISODE 7

POLITIK PECAH BELAH

Yogyakarta — 1813

Hujan turun sejak sore.

Air mengalir dari ujung genting dan jatuh berulang-ulang ke halaman Tegalrejo. Di sebuah pendapa sederhana, Pangeran Diponegoro duduk menghadap beberapa orang yang datang menemuinya.

Tidak ada singgasana.

Tidak ada pengawal bersenjata.

Hanya tikar, lampu minyak, dan suara hujan.

Namun orang-orang yang datang kepadanya bukan rakyat biasa.

Mereka membawa persoalan Keraton.

Dan semakin sering mereka datang, semakin jelas bagi Diponegoro bahwa setelah Inggris merebut Yogyakarta, perang belum benar-benar berakhir.

Perang hanya berubah bentuk.

---

17 Maret 1813

Di Yogyakarta, sebuah perjanjian ditandatangani.

John Crawfurd bertindak atas nama pemerintah Inggris.

Di hadapannya berdiri Pangeran Notokusumo.

Pangeran yang beberapa tahun sebelumnya pernah menjadi sandera Belanda itu kini memperoleh kedudukan baru.

Paku Alam I.

Inggris memberikan perlindungan kepada dirinya dan keluarganya, tanah, tunjangan, serta hak-hak pemerintahan tertentu. Wilayah kekuasaan baru itu kelak dikenal sebagai Pakualaman.

Bagi Raffles, keputusan itu memiliki arti politik.

Seorang pangeran yang dahulu berada di bawah kekuasaan Yogyakarta kini memiliki pusat kekuasaan sendiri.

Bagi Kesultanan, peta politik berubah sekali lagi.

Mataram yang dahulu terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta kini menghadapi bentuk perpecahan baru.

Diponegoro memperhatikan perubahan itu.

Ia tidak melihatnya sebagai persoalan pribadi antara dua pangeran.

Ia melihat sesuatu yang lebih besar.

Setiap kali sebuah wilayah dipisahkan, kekuasaan Keraton semakin mengecil.

---

Di tempat lain, Tan Jin Sing juga sedang menaiki tangga kekuasaan.

Ia telah menjadi salah satu orang yang paling diperhitungkan dalam pemerintahan Yogyakarta setelah membantu Inggris dalam penyerbuan Keraton.

Kini ia bergerak di antara dua dunia.

Di satu sisi, ia memiliki hubungan dengan lingkungan pemerintahan kolonial.

Di sisi lain, ia harus berhadapan dengan bangsawan Jawa yang masih memandangnya sebagai orang luar.

Namun Tan Jin Sing bukan orang yang mudah mundur.

Ia memahami bahwa zaman telah berubah.

Dan ia memilih bertahan di tengah perubahan itu.

---

2 Desember 1813

Di dalam Keraton, persoalan lain muncul.

Jabatan patih membutuhkan seorang tokoh baru.

Ada beberapa nama yang dipertimbangkan.

Salah satunya Raden Tumenggung Sumodipuro, bekas Bupati Japan.

Nama lain berasal dari lingkungan pejabat senior Keraton.

Sultan Hamengkubuwono III dan Diponegoro ikut mempertimbangkan pilihan tersebut.

Akhirnya pilihan jatuh kepada Sumodipuro.

Ia diangkat menjadi Danurejo IV.

Keputusan itu pada awalnya tampak sederhana.

Namun sejarah kemudian akan menunjukkan bahwa pengangkatan seorang patih dapat mengubah hubungan antara Diponegoro dan Keraton.

Danurejo IV masih muda.

Ia cakap.

Ia mampu berbicara dengan pemerintah kolonial.

Ia memahami tata pemerintahan.

Bagi Inggris, kualitas seperti itu merupakan keuntungan.

Bagi Diponegoro, ia adalah seseorang yang harus diamati.

Belum ada permusuhan.

Belum ada pertentangan terbuka.

Hanya sebuah jarak kecil yang mulai terbentuk.

---

9 November 1814

Kabar duka datang dari Keraton.

Sri Sultan Hamengkubuwono III wafat.

Usianya belum tua.

Namun takhta tidak boleh kosong.

Putranya, Gusti Raden Mas Ibnu Jarot, yang baru berusia sepuluh tahun, dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengkubuwono IV.

Di hari penobatan itu, seorang anak duduk di atas takhta yang terlalu besar untuk tubuhnya.

Busana kebesaran menutupi tubuhnya.

Mahkota berada di kepalanya.

Orang-orang melakukan sembah.

Tetapi anak itu belum sepenuhnya mengerti mengapa semua orang tunduk kepadanya.

Diponegoro memandang adiknya dari kejauhan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat seorang Sultan.

Ia melihat seorang anak yang harus menjalankan warisan yang berat.

---

Raffles kemudian menentukan susunan perwalian.

Pangeran Notokusumo, yang kini bergelar Paku Alam I, ditunjuk sebagai wali raja hingga Sultan mencapai usia yang dianggap cukup untuk memerintah. Dalam praktik pemerintahan sehari-hari, Ratu Ibu dan Patih Danurejo IV juga memainkan peranan penting.

Keputusan itu menimbulkan persoalan baru.

Diponegoro adalah kakak sang Sultan.

Ia mengenal adiknya jauh lebih dekat daripada kebanyakan orang di Keraton.

Namun kekuasaan formal bukan berada di tangannya.

Ia kembali melihat pola yang sama.

Orang asing menentukan siapa yang berhak mengatur kerajaan.

---

1814–1815

Di Tegalrejo, Diponegoro semakin jarang datang ke pusat istana.

Ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama para ulama dan rakyat.

Namun hubungan dengan adiknya tidak putus.

Ada saat-saat ketika keduanya masih dapat berbicara tanpa bahasa politik.

Sultan kecil itu kadang hanya menjadi seorang adik.

Diponegoro pun untuk sesaat bukan seorang pangeran yang sedang berhadapan dengan kekuasaan asing.

Mereka adalah dua saudara.

Dua anak dari keluarga yang telah terlalu lama hidup di tengah perebutan takhta.

Tetapi di luar ruang keluarga itu, orang-orang dewasa terus bergerak.

Raffles memiliki kepentingannya sendiri.

Paku Alam memiliki wilayah yang harus dipertahankan.

Danurejo memiliki pemerintahan yang harus dijalankan.

Tan Jin Sing memiliki kedudukan baru yang harus dijaga.

Sementara Diponegoro semakin yakin bahwa semua perubahan itu bukan kebetulan.

---

1815

Dari Batavia hingga Yogyakarta, kabar dari Eropa mulai mengubah arah angin.

Perang Napoleon berakhir.

Inggris tidak lagi memiliki alasan yang sama untuk mempertahankan Jawa seperti ketika mereka merebutnya dari Belanda.

Bagi Raffles, masa pemerintahannya mulai memasuki penghujung.

Namun bagi orang-orang Jawa, pergantian penguasa Eropa tidak otomatis berarti kemerdekaan.

Inggris datang.

Belanda pergi.

Belanda akan datang kembali.

Dan Keraton harus kembali menyesuaikan diri.

Diponegoro mulai memahami satu hal:

bangsa asing dapat berganti nama, tetapi kepentingannya tetap sama.

---

1816

Suasana di Yogyakarta berubah.

Pejabat-pejabat Inggris mulai bersiap meninggalkan Jawa.

Kantor-kantor pemerintahan dipenuhi surat.

Perjanjian diperiksa kembali.

Aset dan kewenangan diserahterimakan.

Raffles meninggalkan Jawa ketika pemerintahan kolonial kembali kepada Belanda. Pengembalian itu merupakan bagian dari penyelesaian pasca-Perang Napoleon.

Di Keraton, orang-orang menunggu.

Bagi sebagian bangsawan, kembalinya Belanda berarti kembalinya musuh lama.

Bagi sebagian yang lain, itu hanya berarti mereka harus belajar kembali membaca wajah penjajah yang berbeda.

Dan bagi Diponegoro...

itu berarti satu hal.

Perjuangan belum selesai.

---

Di suatu sore, Diponegoro berdiri di Tegalrejo.

Angin bergerak pelan di atas sawah.

Ia memandang ke arah selatan.

Di sana Keraton masih berdiri.

Tetapi ia tahu, kerajaan itu tidak lagi sama.

Wilayahnya telah berubah.

Para pejabatnya telah berubah.

Pusat kekuasaannya telah berubah.

Bahkan cara orang-orang memandang seorang raja pun telah berubah.

Di dalam dirinya, sebuah pertanyaan terus tumbuh.

Berapa lama sebuah kerajaan dapat bertahan apabila orang lain terus menentukan siapa yang memerintahnya?

Ia belum memiliki jawabannya.

Belum.

Namun orang-orang yang kelak akan berjalan bersamanya sudah mulai muncul satu demi satu di panggung sejarah.

Paku Alam.

Danurejo.

Tan Jin Sing.

Para bangsawan.

Para ulama.

Para petani.

Dan di balik semuanya, kekuasaan Belanda yang perlahan kembali.

Diponegoro belum mengangkat senjata.

Tetapi jalan menuju perang telah mulai terbentuk.

Bersambung...

Episode 8

KEMBALINYA ORANG-ORANG BELANDA

---

📚 Lentera Sejarah

17 Maret 1813 — Perjanjian politik antara pemerintah Inggris melalui John Crawfurd dan Pangeran Paku Alam menjadi dasar penting bagi kedudukan Pakualaman.

2 Desember 1813 — Raden Tumenggung Sumodipuro diangkat menjadi Danurejo IV. Dalam proses pemilihannya, Pangeran Diponegoro turut memberikan pertimbangan.

9 November 1814 — Gusti Raden Mas Ibnu Jarot dinobatkan sebagai Hamengkubuwono IV pada usia sepuluh tahun.

1814–1816 — Masa pemerintahan Inggris memasuki fase terakhir setelah berakhirnya Perang Napoleon dan keputusan untuk mengembalikan Jawa kepada Belanda.

























Address

Jombang Jatim

61451

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Melipat Waktu posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

  • Want your establishment to be the top-listed Arts & Entertainment?

Share