17/09/2026
AMUKAN SANG SAMBERNYAWA
Episode 11
Detak-Detak Terakhir Di Tembok Kartasura
I. Bayang-Bayang Kelaparan di Atas Takhta
Malam jatuh terlalu pekat di Kartasura, seolah menyembunyikan kecemasan yang berdenyut di balik dinding-dinding tinggi keraton. Di dalam bilik pribadinya, Sunan Kuning—Raden Mas Garendi yang malang—duduk termangu di hadapan tumpukan laporan. Cahaya lilin yang meliuk-liuk ditiup angin November melukis bayangan tubuhnya yang kurus pada dinding ruangan. Tiga buah laporan dari para bekel dan lurah pasar terletak berantakan di atas meja kayu jati. Kalimat-kalimat di dalamnya pendek, namun menghujam seperti duri: Pasokan beras dari Grobogan terputus total. Lumbung penyangga di luar kota telah dibakar laskar Madura. Sisa bahan pangan di pasar induk hanya cukup untuk tiga hari.
Pikiran anak muda yang memikul mahkota Mataram itu bergolak hebat. Jiwa remajanya dipaksa menelan realitas yang teramat pahit. Sejak ia naik takhta sebagai Amangkurat V, ia bermimpi membawa keadilan bagi kaum bumiputera dan laskar Tionghoa yang tertindas. Namun malam ini, ia menyadari musuh paling mematikan tidak lagi berdiri di luar tembok istana membawa senapan, melainkan merayap pelan di dalam perut rakyatnya sendiri.
Garendi bangkit berdiri. Gelisah. Ia menolak untuk sekadar menunggu di atas ranjang sutranya. Tanpa pengawalan besar, ia meraih sebuah obor, melangkah membelah lorong-lorong sunyi halaman dalam keraton menuju gudang logistik utama di bagian belakang kompleks istana.
Langkah kakinya menggema sepi di atas lantai batu. Ketika ia membuka pintu kayu gudang yang besar dan berat, bau apek udara kosong langsung menyergap hidungnya. Garendi mengangkat obornya tinggi-tinggi. Cahaya api menyinari deretan gentong-gentong penyimpanan kayu yang biasanya penuh dengan beras, jagung, dan gaplek. Kini, hampir seluruh gentong itu terbuka dan menganga kosong. Sang Sunan melangkah mendekat, jemarinya yang gemetar mengetuk dinding salah satu gentong terbesar.
Teng! Teng! Teng!
Bunyi yang terdengar adalah gema kosong yang nyaring, menyerupai tawa ejekan dari takdir di tengah keheningan malam. Hanya ada segenggam sisa dedak di dasarnya. Realitas itu menghantam dadanya begitu telak hingga ia harus bertumpu pada pinggiran gentong agar tidak jatuh terjerembap. Di luar istana, pengepungan politik dan militer sedang merapat; di dalam istana, fondasi kekuasaannya sudah keropos akibat kelaparan.
II. Rapat di Ambang Kehancuran
"Kumpulkan semua pembesar, para bupati, dan seluruh komandan laskar. Detik ini juga!" Perintah itu keluar dari mulut Sunan Kuning dengan nada bergetar namun tegas, memecah kesunyian malam saat ia kembali ke bangsal pertemuan utama.
Hanya dalam waktu singkat, ruang cepuri yang terisolasi telah dipenuhi oleh sisa-sisa petinggi koalisi pemberontak. Suasana begitu tegang hingga kepulan asap rokok klembak menyan yang tebal tidak mampu mengusir bau ketakutan yang pekat. Di bawah temaram lampu gantung, duduk para bangsawan Jawa yang wajahnya gelisah, bersanding dengan para panglima Laskar Tionghoa yang pakaian tempurnya masih bernoda tanah.
Sunan Kuning berdiri di ujung meja, matanya yang tajam menatap satu per satu wajah di hadapannya. "Kita berkumpul bukan untuk membahas strategi menyerang, tetapi untuk menghadapi kenyataan bahwa lumbung kita telah kosong. Katakan padaku, Komandan, berapa lama lagi prajurit kita bisa menggenggam tombak dengan perut yang melilit?"
Kapiten Sepanjang atau Kapiten Souw Phan Ciang , panglima laskar Tionghoa yang tangguh, menggebrak meja dengan pelan namun sarat penekanan. Matanya yang menyipit memancarkan keputusasaan yang berapi-api. "Dua hari, Sunan! Paling lambat tiga hari sebelum para prajurit melemparkan senapan mereka hanya demi mencari sebutir nasi. Dan musuh tahu hal itu. Blokade ekonomi yang dilakukan kompeni dari Semarang dan penutupan jalur Bengawan Solo oleh laskar Madura telah mencekik kita tanpa perlu menembakkan satu peluru pun!"
Benturan kepentingan di dalam ruangan itu langsung meledak ke permukaan. Beberapa bangsawan Jawa mulai saling berbisik dengan mata yang melirik ke arah pintu keluar. Dialektika sejarah yang kejam sedang bekerja: kesetiaan para oportunis hanya berumur sepanjang kemenangan itu sendiri. Kini, saat kapal mulai bocor dan karam, tikus-tikus politik mulai bersiap mencari sekoci untuk menyelamatkan leher mereka sendiri dengan merancang pembelotan kepada Pakubuwana II.
III. Gemuruh dari Bengawan Solo dan Pelarian yang Getir
Di tengah perdebatan yang mulai memanas, bumi Kartasura tiba-tiba bergetar. Bukan oleh gempa, melainkan oleh rentetan dentuman meriam dari arah gerbang luar kota. Pengepungan total telah mencapai puncaknya.
Cakraningrat IV dari Madura tidak memberikan waktu bagi keraton untuk berunding. Laskar Madura yang terkenal dengan militansi pesisirnya yang beringas telah berhasil menyeberangi Bengawan Solo, merangsek maju seperti air bah yang menjebol tanggul rapuh. Bunyi tambur perang mereka bertalu-talu dari arah timur, bersahut-sahutan dengan desing peluru senapan infanteri VOC yang menekan dari arah barat dan utara.
Di atas tembok pertahanan kota, para prajurit Tionghoa dan Jawa yang kelaparan mencoba bertahan dengan keputusasaan yang mengiris hati. Setiap tembakan meriam dari atas benteng bukan lagi lambang kejayaan, melainkan jeritan perpisahan dari sebuah dinasti yang sedang menjemput ajalnya.
Di dalam ruang rapat, Kapiten Sepanjang menatap Sunan Kuning dengan tatapan mendalam. "Kartasura bukan lagi benteng pelindung, Sunan. Tempat ini telah berubah menjadi peti mati yang siap dikunci oleh musuh-musuhmu. Kita harus keluar dari sini sekarang, atau sejarah kita berakhir malam ini sebagai tawanan yang dihina."
Dengan hati yang hancur namun martabat yang dipaksa tetap tegak, Raden Mas Garendi mengambil keputusan terakhirnya. Sebelum fajar menyingsing dan laskar Cakraningrat IV meruntuhkan pintu gerbang dalam istana, Sunan Kuning bersama sisa-sisa pasukan Tionghoa yang paling setia memilih meloloskan diri ke arah selatan, menembus pekatnya malam dan rintik hujan November yang mulai turun membasahi bumi Mataram. Mereka meninggalkan takhta yang berlumur air mata, membiarkan Kartasura jatuh kembali ke tangan aliansi yang bersorak di atas puing-puing kelaparan.
Bersambung ...
Catatan dan Fakta Sejarah Utama yang menjadi fondasi penulisan Episode 11 di atas, berdasarkan rekonstruksi historiografi Babad Giyanti, Babad Tanah Jawi, dan arsip laporan VOC:
1. Krisis Pangan dan Kelaparan Akibat Blokade Total
Fakta Sejarah: Menjelang akhir tahun 1742, posisi Sunan Kuning (Amangkurat V) di Kartasura benar-benar terisolasi. Pihak VOC berhasil menutup jalur logistik dari pesisir utara, sementara pasukan bupati yang setia pada Pakubuwana II menutup jalur dari selatan.
Catatan Historiografi: Catatan kolonial menyebutkan bahwa kelaparan parah melanda dalam benteng Kartasura. Bahan pangan pokok habis karena desa-desa pertanian di sekitar Mataram mengalami gagal panen akibat perang berkepanjangan dan taktik pembumihangusan lumbung oleh musuh. Kondisi ini meruntuhkan moral bertempur koalisi Jawa-Tionghoa sebelum pertempuran pamungkas terjadi.
2. Kepemimpinan Muda Raden Mas Garendi (Sunan Kuning)
Fakta Sejarah: Saat dinobatkan sebagai Amangkurat V oleh faksi pemberontak, Raden Mas Garendi masih berusia sangat muda (berkisar antara 12 hingga 16 tahun). Ia sering kali harus menghadapi tekanan berat dari para penasihat militer senior dan para bangsawan yang memiliki agenda politik masing-masing.
Catatan Historiografi: Rapat-rapat darurat di akhir kekuasaannya dipenuhi oleh ketegangan faksional antara kelompok laskar Tionghoa yang radikal anti-VOC dan beberapa bangsawan Jawa yang mulai goyah kesetiaannya saat menyadari kekalahan sudah di depan mata.
3. Serbuan Brutal Laskar Madura Besutan Cakraningrat IV
Fakta Sejarah: Pukulan terakhir yang menghancurkan Kartasura tidak datang langsung dari VOC, melainkan dari pasukan Madura Barat yang dipimpin atau diutus oleh Cakraningrat IV. Mereka bergerak cepat menyusuri dan menguasai jalur Bengawan Solo dari arah timur.
Catatan Historiografi: Laskar Madura terkenal memiliki mobilitas tinggi dan militansi yang sangat beringas dalam pertempuran jarak dekat. Serbuan mereka ke pinggiran Kartasura pada November 1742 memicu kepanikan massal di dalam kota yang sudah melemah akibat kelaparan.
4. Peran Kapiten Sepanjang dan Evakuasi ke Selatan
Fakta Sejarah: Ketika tembok pertahanan luar mulai jebol, Kapiten Sepanjang (salah satu panglima laskar Tionghoa paling berpengaruh) mendesak Sunan Kuning untuk segera meninggalkan istana alih-alih bertahan hingga tertangkap.
Catatan Historiografi: Pada akhir November 1742, Sunan Kuning bersama sisa-sisa pengikutnya meloloskan diri keluar dari istana menuju arah selatan (daerah Prambanan hingga merembet ke Pasuruan kelak). Langkah evakuasi ini menandai kejatuhan resmi takhta Sunan Kuning di Kartasura dan berakhirnya riwayat singkat pemerintahan Geger Pecinan di pusat Mataram.