05/05/2026
Supari, satu dari ribuan warga Porong yang rumahnya ditenggelamkan lumpur Lapindo
Suatu sore tanggal 16 Agustus 2006, ketika semburan lumpur panas "produksi" Lapindo Brantas Inc. telah berlangsung tiga bulan dan tak ada tanda-tanda berhenti, Mochammad Supari sedang berada di atas tanggul penahan luapan lumpur agar tak mengarah ke kampungnya, Desa Jatirejo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.
Matanya terbelalak seolah tak percaya. Berjuta-juta meter kubik lumpur panas itu bergerak cepat menerjang tanggul yang membentengi desanya hingga bobol.
Bahaya mengancam. Supari pun bergegas berlari sambil berteriak-teriak keliling kampung agar semua warga segera meninggalkan rumah.
Dia masih menyempatkan masuk ke beberapa rumah yang sebagian sudah ditinggalkan penghuninya untuk memastikan apakah masih ada warga yang tertinggal. Tak lama kemudian terdengar suara corong masjid Jatirejo mengisyaratkan agar warga segera pergi karena tanggul jebol dan banjir lumpur telah datang.
Jerit kepanikan dan tangis ketakutan terdengar di mana-mana. Warga bubar menyelamatkan diri menuju jalan raya Porong yang letaknya lebih tinggi daripada tanah desa.
Supari kemudian kembali ke atas tanggul yang masih tersisa, menatap pergerakan lumpur berasap. Jumlah yang menyembur dari perut bumi saat itu tak lagi 50.000 meter kubik/hari, tetapi diperhitungkan para ahli sudah mencapai ratusan ribu meter kubik.
Itu pun disusul timbulnya lubang baru berjarak 800-an meter dari situ yang juga memuncratkan lumpur panas.
Supari menyaksikan dengan penuh ketegangan pergerakan lumpur. Setelah menjebol tanggul, lumpur merambah ke tempat yang lebih rendah, merambat makin tinggi, dan akhirnya menenggelamkan seluruh desa beserta isinya.
Hatinya galau menatap rumahnya yang sudah bertahun-tahun berdiri, perlahan namun pasti digelontor cairan abu-abu pekat hingga lebih separuh bagian. Dia tak bisa menggambarkan kepedihan dan kekalutan itu, sampai tanpa terasa air matanya meleleh. Sebuah sore yang tak akan pernah dia lupakan.
Derasnya lumpur tak hanya mengubur rumah, sawah, dan perkebunan, tapi juga menerjang jalan tol, jalan raya, bahkan rel kereta api jurusan Porong - Sidoarjo. Seketika, semua transportasi Malang - Surabaya PP dari berbagai arah lumpuh total.
Kisah Supari merupakan salah satu dari cerita pedih ribuan anak manusia yang menjadi korban lumpur panas Lapindo. Lumpur yang muncrat dari perut bumi sejak 29 Mei 2006 itu.
Porong berubah menjadi lautan lumpur dengan satu-dua sisa peradaban yang menyembul. Pohon-pohon meranggas kering dan mati tanpa arti. Tak ada sisa yang bisa dimanfaatkan.
Dari pengungsian di pasar Porong, Supari pindah ke rumah kontrakan yang dibiayai Lapindo, bersama dengan istri, kedua anak, serta ibunya, Semi.
Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034374550/lumpur-lapindo-merendam-peradaban-tapi-cita-citaku-tak-ikut-tenggelam