25/08/2026
RUMAH TANPA SOSOK AYAH
# Part 3 "Berpisah Demi Sebuah Harapan"
Ada masa ketika seorang ibu harus mengatakan "iya”, padahal seluruh isi hatinya ingin berkata“jangan.”
Bukan karena ia tidak menyayangi anaknya.
Justru karena terlalu sayang, terkadang seorang ibu harus merelakan sesuatu yang paling berat dalam hidupnya:
" berpisah dengan anak yang selama ini tidur dan tumbuh di sisinya."
Hari-hari di rumah kecil kami masih berjalan seperti biasanya.
Ibu tetap menjadi orang pertama yang bangun dan hampir selalu menjadi orang terakhir yang beristirahat.
Sejak Ayah tidak lagi bersama kami, Ibu seolah mempunyai banyak peran sekaligus.
Ia menjadi ibu.
Ia menjadi pencari nafkah.
Ia menjadi tempat kami mengadu.
Dan sebisanya, ia mencoba mengisi ruang kosong yang seharusnya ditempati seorang ayah.
Kami memang tidak punya banyak.
Tetapi Ibu selalu berusaha agar keempat anaknya tetap bisa makan dan sekolah.
Sampai suatu hari, salah seorang saudara kami datang membawa sebuah tawaran.
Ia melihat bagaimana beratnya perjuangan Ibu membesarkan empat orang anak seorang diri.
Mungkin rasa kasihanlah yang membuatnya berkata kepada Ibu,
"Biar salah satu anak ikut ke Jakarta. Nanti kami bantu sekolahnya di sana. Setidaknya bebanmu sedikit berkurang."*
Ibu terdiam.
Tidak langsung menjawab.
Sebab bagi orang lain, mungkin itu terdengar seperti sebuah pertolongan.
Tetapi bagi seorang ibu, itu berarti ia harus menyerahkan salah satu anaknya untuk tinggal jauh darinya.
Awalnya, Anna yang rencananya akan dibawa ke Jakarta.
Entah mengapa waktu itu nama Anna yang lebih dahulu disebut.
Namun setelah dipikirkan kembali, Anna masih terlalu kecil.
Ia belum cukup umur untuk hidup jauh dari Ibu.
Akhirnya pilihan itu jatuh kepada anak kedua.
Namanya " Ani" , Kakaknya Anna.
Saat itu Ani baru saja naik kelas empat SD.
Usianya baru sekitar sepuluh tahun
Ya, Sepuluh tahun...
Usia ketika seorang anak seharusnya masih bebas berlari p**ang sep**ang sekolah, meletakkan tas sembarangan, mencari ibunya ketika lapar, lalu tidur dengan tenang karena tahu esok pagi wajah yang sama masih ada di rumah.
Tetapi keadaan membuat Ani harus belajar tentang kehidupan lebih cepat.
Ia akan dibawa ke Jakarta. Disekolahkan di sana.
Diberi kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang mungkin belum mampu diberikan Ibu saat itu.
Ibu tahu itu adalah kesempatan baik untuk anaknya. Namun hati seorang ibu tidak pernah bisa menghitung perpisahan dengan logika.
Malam sebelum keberangkatan terasa berbeda. Barang-barang Ani mulai disiapkan.
Tidak banyak yang dibawa.
Beberapa helai pakaian, perlengkapan sekolah, dan barang-barang kecil miliknya dimasukkan ke dalam tas.
Anna kecil hanya memperhatikan.
Saat itu mungkin Anna belum benar-benar mengerti mengapa Kak Ani harus pergi.
Yang ia tahu hanya satu.
Besok, salah satu orang yang biasanya ada di rumah tidak akan ada lagi.
Ibu berusaha terlihat kuat.
Tangannya sibuk merapikan pakaian Ani.
Dilipatnya satu per satu dengan hati-hati.
Sesekali ia memberikan pesan.
"Di sana harus nurut, ya..."
"Sekolah yang rajin."
"Jangan merepotkan saudara."
Pesan-pesan sederhana itu keluar dari mulut Ibu.
Tetapi mungkin di dalam hatinya ada kalimat lain yang tidak sanggup ia ucapkan:
"Kalau Ibu mampu, Nak, Ibu tidak ingin kamu pergi.”
Ani pun masih seorang anak. Ia mungkin belum memahami sepenuhnya mengapa dirinya yang harus pergi jauh.
Jakarta terdengar begitu besar, Begitu jauh, Dan asing.
Tetapi ia tahu satu hal...Kepergiannya mungkin bisa sedikit meringankan perjuangan Ibu.
Hari keberangkatan akhirnya tiba, Tidak ada pesta perpisahan, Tidak ada koper mewah, Tidak ada janji bahwa semuanya akan mudah.
Hanya ada seorang ibu yang mencoba tersenyum di hadapan anaknya, sementara hatinya sedang belajar melepaskan.
Sebelum pergi, Ibu memeluk Ani, Pelukan itu terasa lebih lama dari biasanya.
Seolah Ibu sedang menyimpan sebanyak mungkin rasa dari tubuh kecil anaknya sebelum jarak mengambil alih.
"Jaga diri baik-baik, Nduk..."
Suara Ibu pelan.
Ani mengangguk.
Dan mungkin pada saat itulah untuk pertama kalinya kami mulai mengerti...
Kemiskinan bukan hanya tentang tidak punya cukup uang. Kadang kemiskinan berarti seorang ibu harus rela berjauhan dengan anaknya agar anak itu mempunyai kesempatan untuk sekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Kendaraan yang membawa Ani perlahan pergi. Ibu berdiri memandanginya sampai tak terlihat lagi.
Tidak mengejar.
Tidak memanggilnya kembali.
Padahal mungkin hatinya ingin sekali melakukan itu. Karena Ibu tahu...Kalau hari itu ia memanggil,
"Ani, p**ang saja bersama Ibu..."
mungkin Ani akan berlari kembali ke pelukannya.
Tetapi Ibu memilih diam.
Demi sekolah anaknya.
Demi masa depannya.
Demi sebuah harapan kecil bahwa suatu hari nanti kehidupan anak-anaknya akan jauh lebih baik daripada kehidupan yang sedang mereka jalani.
Sejak hari itu, rumah kami kehilangan satu suara.
Tidak ada lagi Ani yang setiap hari berada di antara kami. Tempatnya masih ada, Kenangannya masih ada. Tetapi orangnya berada ratusan kilometer jauhnya, di sebuah kota bernama "Jakarta"
Dan bagi Anna yang saat itu masih terlalu kecil untuk memahami kerasnya kehidupan, kepergian Kak Ani meninggalkan sebuah pertanyaan sederhana:
“Kenapa Kak Ani harus tinggal jauh dari kita?”
Belakangan, setelah Anna tumbuh dewasa, ia baru mengerti jawabannya. Bukan karena Ibu ingin melepaskan anaknya. Bukan p**a karena keluarga kami tidak saling menyayangi.
Justru karena cinta itulah Ibu berani melakukan sesuatu yang sangat menyakitkan.
Melepaskan satu anak dari pelukannya, agar anak itu memiliki kesempatan untuk mengejar masa depan.
Sejak kepergian Kak Ani ke Jakarta, kehidupan kami kembali berjalan. Namun rumah itu tidak pernah benar-benar terasa sama. Dan kami belum tahu...
Kepergian Kak Ani ternyata menjadi awal dari banyak perubahan dalam kehidupan keluarga kecil kami.
Bersambung ke Part 4...
By Celotehan Indriyana
Celotehan Indriyana