17/05/2026
Laras yang memang dasarnya iseng tingkat dewa, sengaja mendekat. Ia mencondongkan kepalanya ke arah Ismi, lalu dengan suara setengah berbisik tapi nadanya cukup nyaring untuk masuk dengan mulus ke microphone HP, Laras berkata:
"Mi! Tisu basah yang buat ngelap cairan lengket tadi kamu taruh di mana, Mi?!"
Duar.
Mata Ismi langsung melotot sebesar bola pingpong. Jantungnya rasanya mau copot merosot menembus kasur sampai ke pusat bumi. Ia langsung membekap mikrofon HP-nya sekuat tenaga dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menepuk paha Laras dengan sangat keras berulang kali.
Laras dan Dina malah mundur, jatuh ke lantai sambil cekikikan tanpa suara memegangi perut mereka yang kram.
"Eh... Ismi? Itu tadi suara siapa? Cairan apa, Mi?" Tanya Elnad dari seberang. Suaranya terdengar sangat bingung dan innocent.
Ismi panik stadium akhir.
Otaknya dipaksa loading ekstra cepat mencari alasan yang paling masuk akal di dunia yang fana ini.
"Oh! I-itu... itu temanku, Nad! Sesama pegawai toko!" Jawab Ismi terbata-bata, nyengir kuda padahal Elnad sama sekali tidak bisa melihatnya. "Itu... dia nanya tisu basah. Buat... buat ngelap manekin! Iya, manekin. Soalnya manekinnya... keringetan!"
Hening sejenak di seberang sana. Sepuluh detik yang terasa seperti satu abad bagi Ismi.
"Manekin... keringetan, Mi?" Ulang Elnad. Nada suaranya sekarang terjepit di antara rasa bingung akut dan keinginan untuk tertawa lepas.
"Iya! Eh, maksudnya kotor, Nad! Kena debu lengket dari jalan raya, jadi harus dilap pakai tisu basah biar bajunya nggak nempel kotor pas dipajang. Maklum, debu Semarang kan ganas-ganas banget, bisa bikin patung aja keringetan. Hehehe," Ismi tertawa garing. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes deras dari pelipisnya.
Kalau kebohongan bisa diukur pakai meteran listrik PLN, mungkin meteran Ismi sudah bunyi tit-tit-tit minta diisi token saking konyolnya.
Terdengar helaan napas yang disusul suara Elnad tertawa pelan di telepon. Tawanya sungguh renyah. "Ada-ada aja kamu, Mi. Manekin keringetan. Ya udah, aku nggak ganggu lama-lama deh kalau kamu masih sibuk ngurusin patung yang kepanasan itu. Nanti pulangnya hati-hati, ya. Besok-besok kita ngobrol lagi."
"I-iya, Nad. Makasih ya udah nelepon. Kamu juga hati-hati... bacanya." Ismi merutuki kebodohannya sendiri sedetik setelah kalimat itu keluar. Hati-hati membacanya? Memangnya buku Pramoedya Ananta Toer bisa menggigit jari?
Tapi Elnad hanya menjawab dengan ucapan selamat sore yang sangat hangat, sebelum akhirnya sambungan telepon terputus.
Baca kelanjutanya ya guis ~>
Ismi Dan Dunianya merupakan spin-off dari Tetralogy Karlina. Novel ini mengajak pembaca masuk lebih dalam ke kehidupan Ismi. Berbeda dengan fokus utama pada pet...