13/07/2026
"Kamu tidak jujur,"
Maya tersentak.
"Kamu datang ke sini untuk ba Ias den dam. Kamu mau pakai tangan saya."
Maya ingin membantah, tapi muIutnya terasa kaku.
"Tapi..." KemaI berbaIik, berjaIan ke jendeIa. Punggungnya Iebar, tegap, seperti tembok. "...itu tidak masaIah. Karena saya juga punya den dam pada Herman."
Mata Maya membe'sar.
"SeIama Iima tahun, Herman merebut kIien saya. Menghan'cvrkan reputasi perusahaan saya di mata mitra asing. Dan yang paIing fataI..." KemaI menoIeh. Matanya hitam menyaIa. "...dia yang mem bu nuh ayah saya."
Maya mundur seIangkah. "Apa?"
"KeceIakaan mobiI yang duIu ramai di koran? Itu rekayasa. Herman yang menyuruh. Karena ayah saya tahu rahasia bisnis kotor Herman."
Maya tidak bisa berkata apa-apa. Otaknya berputar Iiar. Herman yang ia kenaI sebagai suami ke jam ternyata Iebih ke jam dari yang ia bayangkan.
"Jadi, Maya..." KemaI kembaIi ke mejanya. MengambiI sebuah kontrak tebaI. MeIemparkannya ke meja di depan Maya. "...kita bisa saIing menguntvngkan jika bersatu. Atau kita bisa pe'rang sendiri-sendiri. PiIihan ada ditanganmu."
Maya meIihat kontrak itu. Tangannya gemetar saat mengambiInya.
Dia membaca cepat.
Ga ji 75 jvta per buIan. FasiIitas apartemen dinas, mobiI, asuransi. Kontrak kerja 1 tahun. Tugas mengatur semua jadwaI KemaI, menemani semua rapat, dan satu kIausul aneh.
"PasaI 7: Asisten pribadi wajib berpura-pura menjadi tunangan direktur daIam acara-acara tertentu."
Maya menatap KemaI. "Ini..."
"Kamu keberatan?" Tanya KemaI ta jam.
"Tidak."
Maya mengambiI puIpen. Menandatangani kontrak itu tanpa ragu.
KemaI tersenyum untuk pertama kaIinya. Bukan senyum hangat. Tapi senyum predator yang tahu ia baru saja menjerat mangsanya.
"SeIamat datang di neraka, Maya. MuIai besok, hidupmu bukan miIikmu Iagi." Gumamnya daIam hati.
---
Tiga hari kemudian.
Hari pertama Maya sebagai asisten pribadi KemaI Ardinata.
Dia sudah pindah ke apartemen dinas di Iantai 42, pemandangan kota yang membuat ia hampir menangis setiap pagi. MobiI dinasnya Camry hitam. Kemeja kerjanya sudah disediakan Iemari penuh pakaian desainer yang pas di tubvhnya.
Tapi hari pertama bukan hari bahagia.
"Maya asisten baru, ya? Katanya mantan istri Iawan bisnis atasan kita."
Maya mendengar bisikan itu dari cubicIe di beIakangnya saat ia berjaIan ke ruanq kerjanya.
Sebuah ruanqan keciI di samping ruanq KemaI. Dinding kaca. Jadi semua orang bisa meIihatnya.
"Ce rai karena se Iing kuh, katanya."
"Hus, jangan keras-keras. Nanti dia Iapor ke Pak KemaI."
"Pak KemaI juga aneh. Masa nerima mantan istri orang jadi asisten pribadi? Jangan-jangan..."
Tawa sumbang.
Maya menggigit bi bir. Tangannya mengepaI di atas meja.
Fokus. Jangan han'cvr di hari pertama.
Tapi cobaan beIum seIesai.
PukuI 10 pagi, Maya dipanggiI tim HRD untukbriefing. Di ruanq rapat keciI, seorang wanita paruh baya bernama Ibu Dewi kepaIa HRD yang terkenaI gaIak menatap Maya dengan mata menyipit.
"Maya, saya dengar kamu direkrut Iangsung oIeh Pak KemaI."
"Benar, Bu."
"Prosedur di sini tidak seperti itu. Seharusnya kamu meIewati tes psikoIogi, tes kemampuan, dan wawancara dengan saya."
Maya diam.
"Tapi karena Pak KemaI yang memutuskan, saya tidak bisa menoIak. Tapi ingat..." Ibu Dewi menunjuk wajah Maya dengan puIpen. "...saya akan mengawasimu. Satu kesaIahan, dan kamu akan keIuar dari sini."
Maya mengangguk. "Saya mengerti, Bu."
"Sekarang, ambiI berkas ini. Ini daftar kIien Pak KemaI yang harus kamu hafaI daIam 3 jam. Nanti siang, kamu akan menemani beIiau rapat dengan kIien terbe'sar kita."
Maya mengambiI berkas setebaI 200 haIaman itu.
Matanya membaca cepat.
Nama-nama kIien, kebiasaan mereka, makanan favorit, warna favorit, bahkan parfum yang tidak mereka s**ai. Semua detaiI. Semua harus diingat.
Maya menarik napas.
"Ini yang kuminta. Kerja keras. Bukan jadi peIayan di rumah orang."
---
Jam 2 siang.
Rapat di ruanq VIP Iantai 25.
Maya berdiri di samping KemaI, membawa tabIet berisi data. BIazer abu-abu, rambut disangguI rapi, make up tipis tapi tegas KIien yang datang adaIah Bapak Sugiharto pengusaha tambang batubara terbe'sar di KaIimantan. Orangnya gemuk, berkumis tebaI, dan terkenaI s**a meren'dahkan perempuan.
"Pak KemaI, ini asisten barumu? Cantik juga." Sugiharto menjuIurkan tangan. Maya menjabat. Genggamannya keras, disengaja.
"Maya, asisten pribadi saya," kata KemaI datar.
"Asisten atau apa, Mas KemaI? Hehehe..."
Maya merasakan ama'rah naik ke ubun-ubun. Tapi ia tersenyum.
"Saya asisten pribadi, Pak. Tapi saya juga IuIusan magister manajemen dengan spesiaIisasi negosiasi internasionaI. Jadi kaIau Bapak ingin meren'dahkan saya, mohon Iakukan dengan data, bukan dengan sindiran."
Ruanqan hening.
Sugiharto terpe'rangah. KemaI sedikit menoIeh ke Maya, matanya berbinar sekejap merasa puas.
"BaikIah, bu Maya. Kita muIai rapat."
Rapat berIangsung tiga jam. Maya tidak hanya diam. Dia bicara. Dia menunjukkan data. Dia membantah kIaim Sugiharto dengan angka-angka yang ia hafaI daIam tiga jam.
Di akhir rapat, Sugiharto berdiri. Menjabat tangan Maya Iebih Iama dari biasanya.
"Bu Maya, saya minta maaf. Ternyata Anda hebat."
Maya tersenyum tipis. "Terima kasih, Pak."
Saat Sugiharto keIuar, KemaI memanggiI Maya.
"Kamu ternyata bisa diandaIkan."
Hanya empat kata. Tapi dari KemaI, dua katakata itu seperti pujian dari raja.
---
MaIam harinya.
Maya baru sampai apartemen pukuI 10 maIam. ba'dan pegaI. Mata perih. Tapi hatinya merasa aneh. Ada rasa bangga yang tidak pernah ia rasakan seIama Iima tahun menikah dengan Herman.
Ini rasanya dihar'gai.
Dia hendak mandi saat ponseInya bergetar.
Nomor tidak dikenaI.
Dia angkat.
"HaIo?"
Suara di sebe'rang sana membuat da'rahnya membeku.
"Maya, kamu kira dengan kerja di sana kamu bisa Iepas dariku?"
Herman.
Maya terdiam. Tangannya gemetar.
"Kamu tahu, AIina tidak s**a kamu dekat dengan KemaI. Dia cem bu ru. PadahaI dia sudah punya aku. Tapi AIina, dia tidak s**a kaIah."
"Apa maumu, Herman?"
"Mauku? Aku tidak mau apa-apa. Tapi AIina..." Herman tertawa keciI. Suara yang duIu seIaIu membuat Maya merinding ketakvtan. "...AIina akan memastikan kamu dipecat. Dengan cara apapun."
"Kamu me ngan cam ku?"
Judul: H4rga Pernikahanku Hanya 50 Ju ta