25/10/2024
KARENA AKU JELEK
Part 26, Hati yang masih mencintai
“Kak.”
“Hm.”
“Apa alasan Kakak cinta sama Rianna?”
Lelaki merenggangkan pelukan, lalu membalikkan tubuh ini tepat berhadapan dengannya. Ia meletakkan tangan pada kedua pundakku dengan manik mata hitam kecokelatannya menatap penuh makna.
Meneduhkan dan menenangkan hati.
“Apa cinta itu harus memiliki alasan?”
Aku melepas pelan kedua tangan yang memegangi pundakku, lalu berbalik menatap hamparan laut biru dengan ombak yang menggulung menyentuh bibir pantai pasir putih.
“Harus, d**g! Pasti Kakak punya alasan mengapa akhirnya memilih gadis si buruk rupa sepertiku.”
Kekehan singkat terdengar dari lelaki itu, ia berjalan beberapa langkah hingga sejajar denganku.
“Sok tau! Aku sama sekali tidak memiliki alasan untuk jatuh cinta sama Adek.
Kutatap wajah tegas itu penuh tanya. “Mana bisa gitu, Kak.”
“Kalau begitu, Kakak juga mau tanya alasan Adek cinta sama Kakak?”
Aku terdiam. Sedikit terkesiap dengan pertanyaanku sendiri.
“Ya, karena dulu Kakak baik banget. Selain s**a belain saat Rianna dapat bully-an, mungkin juga katena Kakak ganteng dan pintar. Makanya tergila-gila, deh,” balasku panjang lebar dengan senyum penuh kemenangan.
“Wah, berarti nanti misal Kakak nggak ganteng lagi, gimana?”
Kembali aku bungkam. Berpikir sejenak untuk merangakai jawaban yang tepat atas pertanyaan lelaki yang kini berstatus suamiku ini. Namun, tak kutemukan jawaban yang tepat.
“Nggak mungkinlah, Kak. Wajah Kakak akan tetap ganteng.”
“Jadi nanti kalau Kakak udah tua, gimana?”
Lagi-lagi aku terdiam sesaat, kemudian menjawab sekenanya saja. Nyerah!
“Entah deh, Kak. Mungkin karena terlanjur merasa nyaman.”
“Nyaman karena apa?”
“Karena kebaikan kakaklah.”
Ia tersenyum. “Dulu Kakak sempat mengabaikan Adek ... tak menganggap Adek sebagai istri. Lantas, apa cinta Adek berubah?”
Aku menggeleng.
“Apa yang Adek sebut alasan mencintai itu hanyalah kelebihan. Bukan alasan!” lelaki itu meraih pundakku, hingga pandangan kami beradu. “Cinta itu rumit! Tak butuh alasan untuk kita jatuh pada cinta seseorang.”
Aku masih mematung. Tak memgerti atau malah belum menerima penjelasan suamiku itu.
“Lihat mereka!” ia menunjuk ke arah lelaki dan wanita tua yang saling berpegangan tangan. Sesekali saling memandang dan tertawa lepas. “Wajah mereka tak sama lagi, tetapi masih saling mencintai.”
“Ingat Ayah dan Ibu di kampung! Apa mereka pernah terlibat perdebatan atau pertengkaran?”
Lagi-lagi aku hanya mengangguk. “Terus apa hubungannya, Kak?”
“Apa setelah pertengkaran itu, membuat cinta mereka hilang?”
Sejenak aku berpikir dan mengingat-ngingat tentang hubungan ke dua orang tuaku, lalu menggeleng.
Rey tersenyum hangat. Mendekatkan wajahnya ke arahku, hingga hanya menyisakan beberapa centi saja.
“Menurut Kakak, cinta itu adalah sebuah rasa yang tanpa perlu sebuah alasan. Cinta itu ... bagaikan sebuah benih yang harus dirawat dan dipupuk sesuai takarannya. Jika tidak, maka cinta itu akan memudar."
Kutatap wajah itu penuh tanya. “Maksudnya apa, Kak?
Ia kembali menghadap ke arah pantai. Angin sepepoi-sepoi membelai wajah tegasnya, membuat rambutnya yang tertata rapi bergerak-gerak perlahan.
“Harus dirawat dengan kasih sayang, saling mengerti, dan menerima kekurangan masing-masing.”
“Lalu dipupuk?”
“Dipupuk dengan konsistensi.”
Aku meyerngitkan dahi menatap lelaki penuh kharismatik itu. Detik kemudian ia pun menatapku dengan guluman senyum yang masih sama, menghangatkan.
“Seperti tadi yang Kakak bilang, cinta itu berubah-ubah. Ia bisa saja surut dan bahkan hilang.”
Hening beberapa saat, "tetapi bila dipupuk dengan sebuah konsistensi, maka cinta itu tak akan pernah hilang.”
“Contohnya?”
“Contohnya Papa.”
Lagi-lagi aku menyerngit. “Papanya, Kakak?”
Ia mengangguk. “Papa itu tampan dan kaya raya. Ia sering menjadi incaran para wanita-wanita cantik. Saat itu, cinta Papa bisa saja beralih pada salah satu wanita itu. Wanita yang jauh lebih cantik dan jauh lebih pintar daripada Mama, tapi karena sebuah konsistensi, ia menepis semua rasa itu demi sebuah kesetiaan dan harga diri sebagai seorang lelaki. Ia menghormati istri yang telah mengorbankan segala hidupnya untuk menemani Papa berjuang dari nol.”
Kutatap wajah kharismatik itu dalam. Wajah yang dari dulu selalu berhasil membuatku terpukau atas wajahnya yang rupawan. Selain itu, ia adalah seorang lelaki yang selalu bijak dalam bertutur. Namun, dalam urusan cinta, aku yakin pemilik IQ 100 itu tak sepenuhnya menggunakan IQ-nya dalam menilai cinta.
Lelaki itu tak pernah menyadari benih-benih cinta yang besar telah bersemayam di hatinya, hingga kehilangan bertahun-tahun meyadarkannya tentang hati yang dulu pernah ia abaikan, nyatanya telah berhasil menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya.
“Semoga Bapak menurunkan kesetiaannya pada Kakak,” balasku dengan senyumam lembut.
“Tentu, Sayang.” Ia meraihku dalam pelukan, lalu mengecup mesra pucuk kepala yang kini dibalut oleh hijab.
Ketahuilah! Takdir Tuhan selalu hadir memberi kejutan ... dan aku yakin itulah bentuk kasih sayang-Nya. Kasih sayang Allah kepada hambanya yang senantiasa berusaha dan berdo'a.
***
Satu tahun yang lalu ....
Berusaha memulai sesuatu yang tak biasa, adalah suatu hal yang begitu sulit. Negara baru, universitas baru, suasana baru, teman baru, tetapi dengan hati yang masih sama benar-benar menyiksaku.
Tak dapat kupungikiri, hari demi hari kulalui begitu sulit. Bukan masalah besar, bukan tentang kampus yang baru, bukan tentang bully-an, tetapi ini tentang hati. Tentang hati yang telah ternodai oleh rindu. Rindu pada sosok lelaki yang tak kunjung memberi kabar.
“Aku mencintaimu, Rianna! Jangan pergi!
Dua kalimat dahsyat yang diucapkan Rey sebelum menjejakkan kaki ke Negeri Jiran ini, membuat hati kembali dipenuhi harap. Namun, satu bulan telah berlalu, Rey tak kunjung jua memberi kabar.
Cintaku di gantung. Saat hati melambung tinggi, di saat yang bersamaan p**a, Rey menghilang menyisakan rindu yang menyesakkan. Hanya Bu Mela dan Pak Bonden yang sesekali menanyakan kabarku melalui salah satu aplikasi chat. Bisa saja aku menanyakan kabar tentang Rey, tetapi rasa gengsi menguasai hati.
Dua bulan pun telah berlalu, lingkungan baru mulai bersahabat denganku. Semunya terasa berbeda dan mulai terkontaminasi dengan kehidupan teman-teman baru. Hanya saja, hatiku masih tetap sama. Masih merindu akan sosok Rey yang tak kunjung memberi kabar.
“Kenapa, Rey?” tanyaku lirih di suatu malam saat rasa rindu itu benar-benar nyaris seperti ingin menguliti. Mempertanyakan semua rasa ke pada gambar penikahan kami yang masih tersimpan rapat di galeri smartphone-ku.
Tidak! Aku tidak mau seperti ini. Aku harus keluar dari belenggu luka dan rindu ini.
Kutatap kembali foto pernikahan itu, lalu menekan kata hapus pada layar, dan menguatkan hati agar bisa segera melepas semua rasa tentang Rey. Tentang cintanya yang benar-benar mencoba mempermainkan hatiku.
Aku lelah!
Seiring berjalannya waktu, Rasa untuk Rey perlahan menghilang. Tak kuingat lagi tentang dirinya, bahkan nyaris lupa bahwa di seberang sana, terdapat seorang lelaki yang secarah hukum, ia masih sah sebagai suamiku.
Secara agama? Entah! Aku sama sekali tak peduli. Saat itu aku hanya ingin fokus pada mimpi-mimpiku, pada apa saja yang membuatku bahagia, kecuali tentang urusan hati. Untuk urusan itu, jelas aku masih menutup diri.
Sejak saat itu p**a aku memilih memenuhi fitrahku sebagai wanita. Gamis panjang dengan pasmina yang stylish, tetapi tetap menutup dada adalah tampilan keseharianku. Aku mulai merawat diri, menghias diri, dan memasang behel untuk memperbaiki gigiku yang sedikit tonggos.
Ya, aku melakukan semua itu tentu harus dengan tunjangan materi dan itu semua adalah hasil jerih payahku. Untuk menunjang kehidupan di negeri orang ini, aku benar-benar hidup mandiri. Di sela kuliah dan organisasi, aku memanfaatkan waktu untuk bekerja sebagai pengajar privat dari anak-anak SMA, atau bahkan mahasiswa sesuai dengan kebutuhan. Dari situlah, aku dapat menyisihkan sedikit uang untuk merawat diri.